
Leo melepas pelukannya pada Shena dan keluar dari dalam mobil mewahnya. Ia berjalan lurus ke arah polisi yang berjaga dengan tatapan tajam penuh api kemarahan. Tanpa suara ia melewati polisi yang berjaga disampingnya menuju ketengah-tengah perempatan jalan dimana pejabat kota akan melewati jalan ini.
“Hei! Apa yang kau lakukan? Menyingkir dari situ!” bentak polisi berkumis tebal pada Leo.
Polisi tersebut hendak menghampiri Leo dan memaksanya menyingkir dari tengah jalan, tapi Leo langsung menodongkan pistol kearah kepala polisi itu sehingga membuat semua orang terkejut melihat aksi Leo yang dinilai terlalu berani. Padahal, ia baru saja keluar dari gedung pengadilan atas tindakan yang sama.
“Jika kau maju selangkah saja, maka kepalamu akan meledak,” Geram Leo. Tatapan mata Leo benar-benar menakutkan.
Sialnya, polisi itu tidak berani melawan Leo meski iapun punya senjata api juga. Hal itu karena polisi tersebut meninggalkan pistolnya di pos penjagaan setelah ia ke kamar mandi tadi. Mau tidak mau, polisi berkumis tebal itu menuruti apa yang sedang Leo lakukan saat ini. Ia pun tetap bediri tegap ditempatnya sambil mengamati gerak gerik Leo.
Dari kejauhan, Leo melihat rombongan konvoi mobil pejabat kota yang melintas dihadapannya. Tanpa takut, Leo menghentikan laju kendaran rombongan tersebut dan meminta pengawal Leo untuk menyisihkan palang yang menghalangi jalan semua orang yang tadinya dihadang polisi agar bisa kembali melanjutkan perjalanannya.
Leo memberi pengarahan agar semua mobil yang terjebak macet melajukan mobilnya kembali termasuk mobil suami wanita yang hendak melahirkan itu. Leo sama sekali tidak peduli dengan tatapan kemarahan polisi dan semua orang yang berada dalam rombongan pejabat kota kearahnya atas apa yang dilakukannya karena telah berani menghadang jalan salah satu pejabat kota.
Begitu mobil dari wanita yang hendak melahirkan itu sudah lewat untuk melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit, pengawal Leopun maju mendekat kearah Leo supaya majikannya bisa masuk ke dalam mobil juga.
Sebelum membuka pintu mobil mewahnya, Leo menembakkan pistolnya pada polisi yang berdiri disampingnya. Tentu saja polisi tersebut gelagapan karena mengira Leo menembak sungguhan. Tapi ternyata, pistol milik Leo hanyalah pistol mainan yang sempat ia tunjukkan di ruang sidang.
“Ini hanya pistol mainan pak Polisi, tak perlu setegang itu.” Leo tersenyum mengejek pada polisi yang semakin emosi melihat tingkah suami Shena.
Leopun masuk ke dalam mobilnya sambil terus menatap tajam semua orang yang memandang marah ke arahnya.
__ADS_1
"Siapa orang itu? Berani sekali, dia?" seru pejabat kota itu sambil terus menatap Leo.
"Kami tidak tahu, Pak. Sepertinya orang itu wisatawan di sini," jawab pengawal pejabat kota itu.
"Suruh polisi itu membereskannya. Memangnya siapa dia? Aku tidak mau ada kejadian seperti ini lagi. Anak itu, harus dapat ganjaran setimpal atas apa yang sudah dia lakukan."
"Baik, Pak!"
***
“Kawal mobil ibu hamil yang hendak melahirkan itu kerumah sakit terdekat, polisi yang ada di belakang kita tidak akan tinggal diam dan hendak menindak kita. Hubungi yang lainnya untuk segera datang kemari.” Perintah Leo sambil memandang Shena yang tersenyum bangga padanya. Kini, Leo sudah berada di dalam mobil dan sedang mengikuti mobil wanita yang hendak melahirkan tadi.
“Baik Tuan muda,” ujar pengawal Leo dan ia pun langsung menghubungi seluruh rekan-rekannya agar datang ke lokasi mereka berada saat ini.
“Sepertinya, perjalanan pulang kita agak sedikit terganggu, Sayang. Kau tidak keberatan, kan?” tanya Leo pada Shena yang sedang bersandar dibahunya dengan santai.
“Tidak, justru aku bangga padamu jika kau bisa membereskan orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri seperti mereka itu. Tunjukkan pesonamu suamiku, aku akan baik-baik saja bersama Leo junior kita.” Sebuah hadiah ciuman manis ia berikan pada Leo dan keduanya saling tersenyum satu sama lain.
Kali ini, Leo punya alasan kenapa ia mau menerima permintaan Shena untuk ikut campur urusan orang lain. Leo hanya tidak ingin jika hal yang sama terjadi pada Shena, apalagi beberapa bulan lagi Shena juga akan mengalami seperti apa yang dialami wanita yang mau melahirkan tadi.
Berbeda dengan Leo, suami wanita tadi tidak berdaya menghadapi kekuasaan yang dimiliki oleh polisi dan salah satu pejabat tinggi itu. Jika suami wanita tadi melawan dan nekat menerobos jalan demi menyelamatkan istrinya, pastilah polisi itu akan menindak mereka secara hukum. Lagi-lagi, ketidakadilan terjadi diantara yang berkuasa dan yang lemah.
__ADS_1
Sebagai gengster yang terkenal dengan sebutan nggak ada akhlak dan tukang bikin onar, tentu saja ketidakadilan ini tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Leo. Apalagi kalau menyangkut wanita hamil. Leo tidak bisa tinggal diam begitu saja.
“Mereka semua mengejar kita, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Shena sambil memerhatikan mobil polisi yang ada dibelakang mobil Leo ini.
“Bukan kita, Sayang. Para pengawalkulah yang akan bertindak. Kalau kau tidak sedang hamil, mungkin kita akan mengulang adegan saat kita dikejar-kejar penjahat waktu itu, tapi demi keselamatanmu aku tidak mau ambil resiko. Aku akan melakukan hal sama seperti yang polisi itu lakukan. Diam dan lihat saja, peluk aku supaya perutmu tidak mengalami banyak guncangan.” Leo memeluk Shena sambil mengusap lembut perut buncitnya. “Leo junior kita sepertinya senang sekali.”
“Tentu saja, ayahnya sedang mau beraksi. Dia pasti akan jadi sepertimu kelak.”
“Tidak Sayang, dia akan jauh melebihiku.” Leo mencium mesra bibir istrinya tanpa peduli pada sang supir yang sedang mengelus dada melihat Leo dan Shena bermesraan dibelakangnya.
“Tuan muda, maaf mengganggu. Yang lainnya sudah berada di depan kita, apa perintah anda selanjutnya,” ujar pengawal Leo sambil melihatnya dari balik kaca mobil.
Leo menghentikan aktivitasnya bercumbu dengan Shena. Ia merapikan kerah bajunya dan kembali duduk seperti semula. “Suruh mereka menghalangi laju mobil polisi itu supaya kita bisa melesat jauh kedepan. Ah satu lagi, diujung jalan itu ada sebuah tol. Giring polisi itu memasuki tol dan langsung tutup saja jalannya. Jangan biarkan siapapun melewati jalan tol itu. Kita tuggu kedatangan polisi itu disana.”
“Apa yang akan kau lakukan dengan polisi itu? Terakhir kali kita melewati jalan tol, kau melenyapkan orang-orang yang berusaha mencelakai kita. Apa ... kau juga akan membunuh polisi itu?”
“Tergantung seberapa banyak dosa yang sudah ia perbuat, Sayang. Jika polisi itu sudah banyak berbuat dosa, maka tidak ada salahnya jika aku membereskan sampah agar tidak ada lagi masyarakat lemah yang terkena kotorannya.” Kata-kata Leo benar-benar mengena di hati Shena. Suaminya itu, kini benar-benar mirip dengan ayah mertuanya yang terkenal dengan quotes 'diam-diam menghanyutkan'.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1