
Semua orang yang ada ditempat makan ini hampir saja berbondong-bondong menyerang pria berjas hitam itu kalau saja beberapa satpam mall tak datang tepat waktu dan mengamankan pria malang tersebut. Satpam-satpam itu langsung mengamankan sang menejer untuk segera dibawa kekantor polisi terdekat lalu dimintai keterangan.
“Ayo ikut kami ke kantor polisi, Pak!” ujar satpam itu mencekal tangan menejer dari arah kanan dan kiri.
“Bukan aku pelakunya pak! Coba periksalah cctv, sungguh bukan aku pelakunya! Kalian semua tidak bisa memperlakukanku seperti ini. Jika aku terbukti tidak bersalah, maka kalian semua akan aku tuntut atas pencemaran nama baik!” teriak menejer itu meronta-ronta tapi tidak ada yang memedulikan teriakannya.
“Sambil menunggu laporan dari sistem keamanan, sebaiknya anda tetap ikut kami ke kantor polisi dan jangan membantah, atau kami akan melakukan tindak kekerasan. Akan lebih baik jika anda bersikap kooperatif,” ancam satpam itu.
Tak ada yang bisa dilakukan menejer distro itu selain menuruti perkataan satpam yang mencekalnya. Walau dalam hati, ia benar-benar marah dan emosi, tapi tidak tahu harus ia lampiaskan pada siapa. Amarahnya terus saja bergejolak dan seakan mau meledak.
Pria ber jas hitam itu tidak terima, seorang menejer distro ternama, dituduh melakukan aksi pelecehan ditempat umum yang jelas-jelas bukan ia pelakunya. Sayangnya semua saksi dan alibi, mengarah padanya karena posisinya tidak ada pria lain selain dirinya saat berdiri dibelakang wanita seksi yang menuduhnya. Pria malang itu merasa dijebak, tapi ia tidak tahu bagaimana cara kerja penjebakan ini. Sungguh semua yang dialaminya, sama sekali tidak masuk akal.
Sementara Shena, sejak tadi hanya diam berdiri sambil mengamati situasi. Betapa malangnya nasib sang menejer songong itu. Apa yang ia alami ini, bagaikan mimpi buruk yang takkan pernah bisa menejer itu lupakan seumur hidup.
Sudah dituduh melakukan pelecehan seksual, digampar orang, gawainya rusak parah dan tak menuntut kemungkin, ia bakal dipecat dari pekerjaannya karena telah menimbulkan citra buruk pada distro tempatnya bekerja. Hal itu karena orang-orang yang menyaksikan kejadian di sini pasti takkan tinggal diam. Beberapa dari mereka sudah merekam adegan menegangkan tadi dan menguploadnya di medsos. Dalam waktu sekejap, berita hangat ini menjadi buming.
“Wuah … daebak. Ini sungguh wauw, Kak. Kau membuat menejer itu jadi artis dadakan terkenal di medsos. Beritanya heboh dimana-mana! Dan lihat … distro itu mulai didatangi banyak wartawan yang meminta keterangan atas aksi pelecehan tadi. Ini belum ada setengah jam loh,” ujar Shena takjub melihat kabar terbaru dimedsosnya.
“Apa yang dia tanam, dia sendiri yang menuainya. Salah sendiri, siapa suruh dia berurusan dengan kita.” Fey menatap pria ber jas hitam itu digelandang paksa keluar dari mall ini dengan diiringi suara sorakan para pengunjung yang mengetahui kejadian tadi.
__ADS_1
“Aduh, gawat!” seru Shena tiba-tiba sambil membaca pesan diponselnya.
“Ada apa?” tanya Fey bingung melihat ekspresi Shena.
“Leo bilang, dia sudah ada di sini!” mata Shena terbelalak, ia sungguh tak menduga Leo bakal datang secepat ini.
Ibu muda itu mengamati sekitar dan mencari-cari keberadaan pengawal Leo yang pastinya sudah melaporkan insiden tadi pada suaminya. Padahal, Shena berharap bisa bersenang-senang lebih lama dengan kakak iparnya tanpa harus diganggu suaminya. Tak berselang lama, ponsel Feypun berdering dan itu dari Refald. Hal yang sama juga dirasakan Fey sekarang.
“Kau dimana, Honey. Aku datang menjemputmu,” ujar Refald setelah Fey mengangkat panggilannya.
“Tanpa kuberitahupun, kau sudah tahu dimana posisiku sekarang.” Fey menutup panggilan telepon suaminya begitu saja. “Dasar tukang pamer!” gerutu Fey.
“Hadeuh, mereka berdua sedang membuat kehebohan diluar sana!” ujar Fey kesal.
Awalnya, Shena tidak mengerti, tapi begitu melihat banyak wanita berlari tergesa-gesa menuju pintu keluar mall. Shena akhirnya paham penyebab mereka beraksi seperti itu.
“Mereka berdua sama saja. Apa yang harus kita lakukan sekarang, haruskah kita kabur dari mereka?” entah apa yang merasuki Shena sehingga ia punya pikiran jail seperti itu. Mau coba kabur dari Leo? Mana bisa?
“Kita punya suami-suami yang ekstrim. Sejauh mana kita kabur, mereka berdua pasti bisa menangkap kita dengan mudah. Biarkan saja mereka. Kita tunggu dan duduk manis saja di sini.” Apa yang dikatakan Fey memang benar. Apalagi Refald memiliki kekuatan diluar nalar manusia. Kabur dari Refald itu hanyalah mimpi, sebab tak ada tempat bagi Fey untuk bersembunyi dari cengkeraman cinta suaminya.
__ADS_1
Tiba-tiba, datang seorang wanita bergaya stylist lengkap dengan barang-barang branded melekat ditubuhnya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita yang memakai kacamata unlimited itu datang menghampiri Fey yang masih saja menikmati minumannya sambil mengamati babysitternya bermain dengan Rey.
“Shiyuri! Kaukah itu?” sapa wanita itu. Ia menggandeng pria tampan yang terlihat seperti anak sultan dengan gaya khas glamornya.
Fey mengamati wanita yang menyapanya. Ia mencoba mengingat-ingat siapakah wanita yang sudah mirip emas berjalan ini.
“Kau siapa?” tanya Fey heran karena wanita itu mengetahui nama Jepang Fey.
“Kau tidak ingat aku? Aku saja masih bisa mengenalimu walau puluhan tahun kita tidak bertemu. Sebab, gayamu ini daridulu tidak berubah, ya? Penampilanmu masih saja sama seperti dulu, tapi wajahmu tetap familiar dimataku,” ujar wanita itu terkesan meremehkan.
Shena hendak bicara tapi Fey melarangnya dengan memberikan kode mata agar Shena tidak ikut campur dengan situasi ini. tak ada yang bisa dilakukan Shena selain diam karena Fey yang meminta. Pandangan mata Shena tetap teralih pada kehebohan yang terjadi diluar mall akibat kedatangan duo pria sultan yang tak lain adalah suami Shena dan Fey sendiri.
“Melihat dari gaya bicaramu, aku hanya punya satu teman SD yang mirip denganmu sewaktu aku masih di Jepang dulu. Kau … si cantik Kristin, iya kan?” tebak Fey masih dengan ekspresi datar.
“Yap … tepat sekali! Kenalkan, ini suamiku, seorang CEO ternama yang jika disebutkan nama perusahannya kau pasti bakal pingsan. Dia tampan kan?” gadis itu tersenyum senang sambil menggandeng erat tangan orang yang wanita itu akui sebagai suami. “Dia juga seorang anak sultan tajir melintir yang memliki banyak sekali cabang perusahaan besar yang tersebar di seluruh penjuru dunia.” Wanita yag bernama Kristin itu terus membangga-bangakan siapa sosok suaminya dengan gaya khas centilnya.
Sedangkan Fey dan Shena hanya bengong melihat betapa noraknya wanita ini, bahkan gaya pakaian Kristin terkesan dipaksakan dan sama sekali tidak cocok. Atasan dan bawahan sungguh tidak mecing sekali. Entah wanita centil ini mengerti fashion atau tidak, yang jelas gaya busananya … enggak banget!
BERSAMBUNG
__ADS_1
***