Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 253 Belanja


__ADS_3

Senyum mengembang menghiasi sudut bibir Shena kala ia terbangun di pagi hari. Ia memandangi wajah tampan suaminya yang tertidur pulas sambil memeluknya dengan erat. Keduanya sama-sama tak memakai sehelai benangpun dan hanya berlindung di bawah selimut hangat mereka. Shena mengenang malam-malam syahdunya yang terjadi semalam dan entah mengapa ia merasa sangat bahagia kerena bisa melayani suaminya dengan baik.


“Kau sangat tampan sekali,” gumam Shena lirih sambil membelai lembut pipi Leo. Tangan Leo masih melingkar erat diatas pinggang Shena sedangkan tangan satunya lagi, digunakan bantal oleh Shena.


Dengan sangat hati-hati, Shena mendekat ke wajah Leo dan hendak mencuri ciuman dari Leo. Namun, baru juga kedua bibir mereka bersentuhan, kedua mata Leo terbuka lebar dan itu sangat mengagetkan Shena. Sontak Shena terbangun tapi Leo langsung menarik tubuh Shena dan merebahkannya lagi. Leo mengunci tubuh istrinya dengan tubuhnya supaya tak bisa bergerak.


“Mau apa kau, wahai pencuri?” tanya Leo menirukan kata-katanya dulu. Ia menatap tajam mata indah Shena sehingga untuk kesekian kalinya, Shena menjadi gugup.


“Aku bukan pencuri,” jawab Shena sok jutek. Ia sungguh malu sekali pada Leo karena sudah ketahuan dan tertangkap basah.


“Kau mau mencuri ciumanku, kan? Ini … kuberikan padamu.” Leo langsung mencium Shena tiba-tiba sehingga membuat jantung Shena berdetak dengan sangat kencang. Pagi-pagi buta, Shena sudah diajak senam jantung oleh Leo.


Ciuman maut suaminya ini benar-benar memabukkan, Shena sungguh tak bisa mengendalikan dirinya lagi. Entah darimana datangnya hasrat kewanitaannya, mendadak Shena merasakan sensasi birahi yang memuncak sehingga tanpa sadar, ia telah membangunkan etalibun milik Leo jadi berdiri tegak dan minta untuk segera dicelupkan ke dalam wadahnya. Tanpa banyak berkata, keduanya mengulang kembali adegan ranjang yang terjadi semalam dan membuat mereka berdua bangun kesiangan dan sangat terlambat keluar kamar.


***


Karena kondisi Shena kian hari kian membaik, Leopun memberitahu seluruh keluarga bersarnya perihal perkembangan kondisi terkini Shena. Semuanya merasa senang mendengar kabar bahagia ini terutama ketiga anak-anak mereka, yaitu Yeon, Bima dan Lea. Oleh sebab itu, mereka bertiga berencana untuk menemui orangtua mereka di Indonesia. Kebetulan, ketiganya sedang memasuki musim liburan sekolah sehingga mereka bisa kembali berkumpul dengan Leo dan Shena.


Hal itu juga membuat Shena dan Leo senang, dan untuk menyambut kedatangan anak-anak mereka, Shena berencana untuk membuat masakan yang disukai ketiga anaknya. “Katakan padaku, makanan apa yang disukai anak-anak?” tanya Shena pada Leo.

__ADS_1


“Mereka semua sama sepertimu, sangat suka mi ayam, terutama buatan ibunya. Aku heran, memamg apa bedanya dengan mi ayam buatanku. Kau sendiri yang bilang kalau mi ayam yang kubuat untukmu itu sangat enak, tapi anak-anak lebih suka buatanmu daripada buatanku.” Wajah Leo agak sedikit manyun dan Shena tersenyum melihat wajah suaminya, ternyata bisa imut juga. Ditambah lagi, Leo sengaja memeluknya erat dari belakang dan bersandar manja dibahunya.


“Masakan seorang ibu memang jauh lebih terasa enak bagi anak-anak mereka, karena tangan ibu selalu dipenuhi dengan cinta, Sayang. Undang ayah dan ibu juga kemari. Aku ingin bertemu dengan mereka.”


“Tentu, aku juga akan mengundang keluarga besar kita yang lain. Tapi untuk sekarang, kita biarkan Yeon, Bima dan Lea menghabiskan waktu lebih dulu bersama kita. Mereka pasti sangat merindukan kita berdua. Kita sudah lumayan lama meninggalkan anak-anak kita bersama paman dan bibinya di Jerman.”


“Iya, kau benar. Kalau begitu, temani aku berbelanja, aku akan menyambut kedatangan putra-putriku dengan makanan kesukaan mereka dan aku sendirilah yang harus menyiapkannya. Mereka pasti sangat senang.” Shena balik badan dan melingkarkan kedua tangannya dileher suaminya sementara Leo memeluk erat pinggang Shena.


“Tentu, senang bisa melihatmu kembali seperti dulu, Sayang. Aku sangat mencintaimu.” Leo mencium mesra Shena dan menempelkan dahinya di dahi Shena.


“Aku juga,” sela Shena. “Sudahlah, jangan cium aku terus. Sekarang antar aku ke pasar.” Shena menyeret tangan Leo.


“Iya … sekarang, ayo …!” Shena tersenyum senang dan Leo tak kuasa menolak ajakan istrinya.


Sesampainya di pasar, Shena membeli semua barang-barang yang ia butuhkan untuk menyambut kedatangan anak-anaknya. Ingatan Shena memang belum sepenuhnya pulih, tapi ia sudah bertekat akan menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarga kecilnya. Sebab itulah Shena memutuskan untuk bersikap seperti dulu di depan anak-anaknya nanti agar Yeon, Bima dan Lea tak lagi mencemaskan keadaan dirinya. Dan pastinya, dibantu oleh suaminya, Leo.


Ada begitu banyak barang yang dibeli Shena sehingga Leo kualahan membawakan barang-barang belanjaan istrinya. Wajah tampan Leo bahkan sudah tak terlihat akibat tertutup barang-barang belanjaan Shena. Namun, Shena sepertinya masih belum mau berhenti berbelanja. Ia mengingat-ingat apa saja yang dibutuhkan dan terus mengajak suaminya mengelilingi setiap toko dan kedai penjual barang-barang yang dikehendaki Shena.


“Hadeuh, harusnya … aku bawa pengawal tadi,” gerutu Leo sambil bolak balik membenahi barang-barang yang ia bawa gar tidak berjatuhan.

__ADS_1


“Apa? Kau bilang apa?” tanya Shena.


“Tidak apa-apa. Eh, Sayang. Sepertinya ini sudah terlalu banyak. Aku tak bisa membawa lebih banyak lagi. Bagaimana kalau kuletakkan dulu barang-barang ini di mobil dan kembali lagi kemari?” ujar Leo dari balik kardus.


“Iya, cepatlah, aku akan menunggumu di sini,” ujar Shena setuju.


Karena ini di desa. Tidak ada swalayan ataupun mall di tempat ini dan hanya ada pasar tradisional saja. Tidak ada troli ataupun keranjang bawaan yang biasa digunakan konsumen untuk membantu membawakan barang-barang belanjaan mereka. Alhasil sebagai gantinya, Leolah yang menjadi ganti troli tersebut. Itulah alasan Shena mengapa ia meminta suaminya menemaninya berbelanja supaya bisa membawakan barang-barang yang ia beli.


Sembari menunggu suaminya kembali, Shena melihat-lihat daftar belanjaannya untuk memeriksa apa saja yang sudah ia beli. Apakah ada yang kurang atau tidak. Saat sedang serius mengamati kertas kecil yang dipegangnya, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan suara keributan yang terjadi tak jauh dari tempat Shena berdiri.


Seseorang keluar mencengkeram tangan seorang anak perempuan yang pernah dilihat sebelumnya di balkon rumah Shena sendiri. Orang yang tak lain adalah pemilik tokok, memarahi anak itu habis-habisan dan hampir saja menggamparnya kalau saja Shena tak segera menahan lengan bapak-bapak itu.


“Apa yang anda lakukan? Kenapa memukul anak ini? Apa salahnya?” tanya Shena marah.


“Jangan ikut campur! Pergi kau!” teriak bapak-bapak itu dan Shena langsung memiting kuat lengan orangtua yang sudah mulai beruban itu.


“Aku tidak mau ikut campur urusanmu! Tapi bila menyangkut anak kecil, aku tidak bisa diam melihat saja. Dia masih anak-anak, tak seharusnya kau memarahinya dengan kata-kaat kasar begitu dan bahkan mau memukulinya. Kau bisa dikenai pasal undang-undang perlindungan anak jika kau berani menyakitinya!” tandas Shena. matanya merah karena marah melihat tindakan kurang terpuji orang ini.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2