
“Bagaimana caraku membuat Shena kembali mengingat semuanya, Kak? Melihatku saja dia tidak mau?” tanya Leo pada Refald. Hati Leo serasa sakit melihat kondisi Shena.
“Kita semua yang ada disini akan meyakinkannya bahwa kau benar-benar suaminya. Untuk anak-anakmu, mereka akan kubawa ke Jerman dan tinggal sementara di sana bersama Rey sampai keadaan Shena membaik. Sementara itu, bawalah dia ke tempat-tempat yang menyenangkan terutama tempat yang menyimpan banyak kenangan indah kalian berdua. Saranku, bawa dia kedesa kelahiran Shena terlebih dulu.
"Ketahui dulu seperti apa reaksinya di sana. Jika lebih baik, tetaplah tinggal di desa sampai dia punya perasaan lagi padamu. Karena ia melupakanmu, maka buatlah dirinya yang sekarang jatuh cinta padamu seperti dulu.” Refald memegang kedua bahu Leo agar tak lagi patah semangat demi kesembuhan istrinya. “Percayalah pada cintamu dan cinta kalian berdua Leo. Semuanya pasti baik-baik saja.” Refald beralih menatap Shena begitupula dengan Leo.
Suami Shena itu tak punya pilihan lain lagi selain mengikuti saran yang diberikan Refald. Ada luka dikepala Shena dan ia tak bisa dipaksa ataupun ditekan, apalagi untuk mengingat semuanya. Semua saran Refald memang benar, untuk membantu mengingatkan Shena akan kenangan-kenangan masa lalunya, ia harus datang ke tempat-tempat yang menyimpan banyak kenangan mereka.
Dengan hati yang hancur, Leo berjalan pelan mendekati ketiga anak-anaknya. Berat rasanya jika Leo harus meninggalkan putra putrinya disaat mereka sangat membutuhkan kasih saying kedua orangtua. Namun apa mau dikata? Kesembuhan Shena kali ini adalah prioritas utama. Leo percaya bahwa anak-anaknya takkan kekurangan kasih sayang meskipun ia dan Shena tak ada disamping Yeon, Bima dan Lea karena seluruh keluarga besarnya akan menyayangi mereka semua lebih dari yang Leo dan Shena berikan.
“Maafkan ayah, Sayang … kalian bertiga, sementara ini harus tinggal dengan paman dan bibimu di Jerman. Ayah akan membawa ibu kalian ke tempat yang bisa menyembuhkannya dari sakit yang ia derita sekarang. Ayah janji … ayah akan membawak ibu kalian kembali dan pada saat itu, kalian semua bisa memeluknya dengan erat seperti dulu.” mata Leo berkaca-kaca saat berlutut menghadap ketiga putra-putranya dan mengatakan ini semua.
Yeon, Bima dan Lea menangis bersama dipelukan Leo. Anak-anak Leo itu juga tak tahu harus berkata apa. Mereka merasa apa yang terjadi pada ibunya, tak luput dari kenakalan yang sudah mereka buat sehingga Shena harus menjadi seperti ini. Ketiga anak-anak Leo juga tak punya pilihian lain selain menerima keadaan ini. Meskipun Leo dan Shena sering pergi meninggalkan mereka keluar kota, baru kali ini ketiganya merasa sangat kehilangan. Sebelumnya, mereka sudah terbiasa ditinggal pergi kedua orangtuanya.
__ADS_1
“Apa ibu marah pada kami, Ayah?” tanya Bima sesenggukan.
“Tidak, Bimashena. Ibumu tidak marah pada kalian semua. Justru ibumu sangat menyayangi kalian melebihi nyawanya sendiri. Ayah yakin, begitu ibumu sembuh, satu-satunya orang yang ingin ia peluk adalah kalian bertiga. Karena bagi ibu kalian, kalian semua adalah belahan jiwanya. Doakan saja, supaya ibu kalian bisa lekas sembuh supaya kita semua bisa berkumpul bersama lagi.” Leo mengusap kepala ketiga anak-anaknya dengan penuh kasih sayang yang tak terkira.
“Bagaimana kalau kami merindukan kalian?” tanya Yeon lirih. Dari kedua adiknya, cuma Yeon yang berusaha tegar. Yeon berpikir, pasti Shena tidak suka bila ia terpuruk hanya karena sekarang ibunya itu sedang sakit.
“Pamanmu akan membawa kalian pada kami, Yeon. Tidak ada laranagn bagi kalian untuk bertemu kami selama keadaan ibumu membaik. Kami berdua, pasti juga akan sangat merindukan kalian bertiga.” Leo mencium kening putranya sambil berkata, “Kau yang paling tua Yeon, jaga adik-adikmu salama ayah dan ibu tidak ada. Jangan nakal disana, patuhi apapun yang dikatakan paman dan bibimu. Kau harus berjanji padaku. Buatlah ibumu bangga begitu ai kembali nanti.” Mata Leo menatap tajam putra sulungnya.
Ekspresinya yang selalu tanang memang mirip sekali dengan Refald. Sebisa mungkin Yeon berusaha terlihat kuat didepan Leo agar ayahnya tak terlalu mengkhawatirkannya dan fokus saja pada kesembuhan ibunya. Anak itu pergi kepelukan pamannya Refald dan disitulah, baru tangis Yeon pecah, untunglah Refald segera mengajaknya pergi dan menenangkannya.
Sedangkan Bima, masih saja menangis begitu pula dengan Lea. Ini adalah hari terakhir anak-anak menggemaskan ini berpisah dengan orangtuanya dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Entah kapan mereka bisa bertemu dengan kedua orangtuanya lagi.
Si bungsu Lea juga tak tahu harus berkata apa karena dialah yang paling kecil disini dan belum paham betul pada situasi yang tengah terjadi. Yang ia tahu, ibunya sedang sakit dan ayahnya berusaha untuk menyembuhkannya. Namun, tak dapat dipungkiri kalau Lea juga sedih melihat keadaan keluarganya tak seperti dulu lagi. Leo memeluk kedua putra putrinya ini untuk menenangkan keduanya agar tak bersedih terus menerus.
__ADS_1
“Ayah dan ibu akan segera kembali. Ayah janji. Anggap saja, ayah ada pekerjaan kantor yang harus dikerjakan sehingga terpaksa meninggalkan kalian. Kalian akan tinggal dengan Rey. Ayah yakin kakakmu itu akan menjaga kalian dengan sangat baik. Benar kan, Rey?” Leo beralih menatap Rey yang sejak tadi berdiri diam.
Putra Refald itu berjalan pelan mendekat ke arah Leo dan mengangguk pelan. “Aku akan menjaga adik-adikku dengan baik, Paman. Paman jangan pikirkan mereka dan fokuslah pada kesembuhan Bibi Shena,” tandas Rey dan Leo langsung memeluk keponakan kesayangannya. Entah kenapa, kata-kata Rey membuat hati Leo menjadi lega.
“Terimakasih Rey. Bima dan Lea hanya menurut padamu, dan ingat, jangan buat kekacauan lagi. Jangan buat masalah yang membuat ayahmu marah. Karena untuk sementara ini, aku tak bisa melindungimu jika ayahmu menghukummu karena kenakalan yang kau lakukan.” Leo memberi wejangan sedikit pada Rey. Sebab, Rey ini sangat mirip dengannya dulu.
“Aku akan jadi anak baik selama Paman tidak ada. Tapi … aku tidak janji … jika suatu hari, Paman dan bibi kembali, aku mungkin balik jadi anak nakal lagi. Sebab aku tak bisa merubah diriku, Paman. Inilah aku dengan segudang kekacauan yang ada dalam diriku. Aku tak bisa menghilangkannya, tapi bisa menundanya.” Rey malah meyakinkan Leo soal seperti apa dia yang mirip dengan paman nggak ada akhlaknya ini.
Kata-kata Rey mengingatkan Leo pada dirinya sendiri yang tak pernah kapok berbuat kenakalan disaat ia remaja dulu. Satu-satunya orang yang bisa mengatasi kenakalan Leo adalah pamannya, yaitu Dilagara, yang tak lain adalah kakek Rey sendiri, ayah kandung dari Refald.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1