
Senjata Udav yang dijatuhkan Shena, tak sengaja ditemukan oleh salah satu pasukan Leo ketika ia memeriksa salah satu ruangan yang ia anggap sumber kebisingan dari suara girang Laura saat menemukan flashdisk yang dicari. Tanpa menunggu lama, pengawal Leo langsung mendobrak pintu masuk lalu menggeledah ruangan itu, tapi terlambat, ia sudah tak menemukan siapa-siapa didalamnya dan hanya ada wanita pingsan di atas meja riasnya.
Laki-laki itu memeriksa sekeliling, kali aja ada orang lain yang bersembunyi diruangan ini. Namun ternyata, tempat ini nihil, tidak ada orang lain lagi karena Shena dan Laura sudah berhasil keluar ke jalanan dan membaur dengan para pejalan kaki lainnya. Apalagi suasananya sudah malam, akan sulit mengenali siapakah dua wanita yang baru saja berbuat onar di kediaman orang.
“Ada apa? Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Leo dari ambang pintu begitu pengawalnya melaporkan keberadaannya di ruangan ini.
“Saya menemukan ini, Tuan muda … bukankah … senjata ini … mirip dengan senjata api yang Tuan muda punya?” pengawal itu menyerahkan pistol Shena pada Leo.
Leo langsung mengamati pistol tersebut. Sebagai pengagum senjata api, Leo hafal betul siapa saja orang yang punya pistol seperti ini selain dirinya. Sebab, pistol ini memang buatan ayahnya. Ia pun langsung menghubungi seseorang untuk mengkonfirmasikan apakah dugaannya ini benar atau salah.
Begitu mendapat jawaban yang ia inginkan dari orang tersebut, akhirnya Leo langsung tertawa lepas. Tawa Leo yang keras, mengundang banyak perhatian banyak orang termasuk Roy yang tadinya ada di lantai atas, langsung turun ke tempat Leo tertawa.
“Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau tertawa seperti itu? Apa kau sedang kerasukan setan?” tanya Roy panik melihat Leo tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
“Oey Roy, kau tahu?” mati-matian Leo mencoba menghentikan tawanya agar bisa bicara. “Istri-istri kita … baru saja ada di sini dan kita tidak tahu. Mereka selangkah maju dari kita! Benar-benar daebak!”
“Apa maksudmu?” tanya Roy masih bingung. Sebab Leo bicara sambil tertawa, jadi terdengar tidak jelas.
“Ehem.” Leo berdeham agar ia tak tertawa lagi. “Cepat geledah tempat ini dan cari benda yang kuinginkan!” suruh Leo pada pengawalnya tanpa menjawab pertanyaan Roy.
“Jelaskan padaku, Leo? Apa maksudmu Shena dan Laura baru saja ada di sini? Lalu di mana mereka sekarang? Apa mereka baik-baik saja?” tanya Roy semakin cemas mengingat kondisi rumah ini sangat berantakan. Ia takut kalau istrinya dan Shena diserang musuh tak dikenal pembuat semua orang tertidur seperti ini.
__ADS_1
“Tenanglah Roy, mereka berdua pasti baik-baik saja. Ah … aku lupa memberitahumu, orang yang membuat seluruh penghuni rumah ini tertidur adalah … istriku sendiri, lucu nggak sih? Shenaku yang manis, cantik dan baik hati, kini sudah berubah jadi mafia sepertiku. Aku benar-benar makin jatuh cinta padanya!” ujar Leo sambil tertawa lagi dan mulut Roy langsung menganga lebar.
“Hah? Yang benar? Shena … yang melakukan semua ini? Apa … Laura juga terlibat?” tanya Roy dan langsung shock meskipun ia sudah tahu jawabannya. Roy yakin 100 % Leo takkan pernah berbohong.
“Sepertinya begitu, para wanita-wanita kita … lebih tahu banyak dari apa yang kita ketahui. Dan aku tahu siapakah orang ada di balik layar ini. Aku paham betul seperti apa Shenaku, ia tak mungkin bertindak sendirian.”
“Maksudmu … ada yang membantu Shena? Siapa?” tanya Roy.
“Aku yakin biksu Tonglah yang membantunya.” Leo melirik ke arah jendela yang tadi dipakai Shena dan Laura kabur. Ia berjalan dekat jendela tersebut sambil memerhatikan sekeliling.
Tak lupa juga, Leo mengamati bagian atas hotel Raphael yang menjulang tinggi dihadapannya. Matanya terpusat pada sesuatu sehingga muncullah guratan tipis, mulai menghiasi sudut bibir Leo.
Roy semakin tertegun mendengar penjelasan mengejutkan dari Leo tentang fakta dibalik kejadian ini adalah karena ulah Laura dan Shena. “Tidak mungkin, mereka berdua … ini sungguh tidak mungkin,” gumam Roy antara percaya dan tidak percaya.
“Bagaimana dengan chipnya?” Leo berjalan ke arah pengawalnya berada dan ikut memeriksa lacinya.
“Kami masih berusaha menemukannya tapi tidak ada di mana-mana. Mungkinkah ada yang sudah mengambilnya, Tuan muda?” tanya pengawal Leo.
Sekali lagi suami Shena itu memerhatikan sekeliling ruangan yang terlihat sangat berantakan karena habis diobrak abrik oleh Shena dan Laura. Pandangannya tiba-tiba saja tertuju pada wanita yang pingsan di atas meja rias.
“Geledah tubuh wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kalau perlu, sampai ke dalam bajunya! Aku akan menunggu di luar.” Perintah Leo sungguh mengejutkan seluruh anak buahnya.
__ADS_1
Kalau biasanya Leo memerintahkan untuk membunuh dan mencincang orang, sudah biasa dilakukan para pengawalnya, tapi kali ini berbeda … tuannya itu malah menyuruh menggerayangi seluruh tubuh seorang wanita. Rasanya itu canggung sekali bagi mereka.
“Tapi tuan muda Leo … bukankah ini sama dengan peleceehan?” tanya salah satu pengawal Leo agak-agak keberatan.
“Wanita itu bukanlah orang yang patut kalian hormati, ia bahkan tak pantas disebut sebagai wanita. Ia sudah banyak melakukan banyak pelecehan dan kejahatan terhadap orang-orang tak berdosa. Kalian takkan mati bila melecehkan penjahat seperti dia!” tandas Leo.
Jujur, jawaban Leo ini benar-benar mengena dan langsung membuat pengawalnya tak bisa berkata-kata lagi. Ini bagai hukum karma bagi si wanita yang tak lain adalah Magdalena. Pelecehan seksuaal yang sering ia lakukan, kini berbalik terhadap dirinya sendiri.
“Aku beri waktu kalian 10 menit. Jika lebih dari itu, maka akan kutembak kepala kalian semua!” ancam Leo pada seluruh anak buahnya sambil beranjak keluar ruangan. “Kau bisa tetap di sini jika kau mau, Roy! Kapan lagi bisa melihat tontonan gratis!” seru Leo menggoda sahabatnya saat berjalan melintasi Roy.
“Kau gila, Leo!” pekik Roy kesal. Tentu saja Roy tidak mau tinggal. Bagaimana mungkin ia melihat tubuh wanita lain selain tubuh istrinya sendiri. Roypun pergi mengikut Leo dari belakang meninggalkan pengawal Leo yang sedang sibuk menggeledah tubuh Magdalena.
10 menit sudah berlalu, baik Leo ataupun Roy masih menunggu di luar ruangan. Leo sibuk menelepon seseorang untuk memastikan keberadaan istrinya saat ini. Tentu saja tak butuh waktu lama bagi Leo untuk mengetahui ada di mana Shena dan Laura sekarang. Tak berselang lama, para pengawal Leo juga keluar dengan tampang wajah yang sulit dijelaskan.
Maklumlah, mungkin ini pertama kalinya bagi mereka disuruh ketua gangster bukannya membasmi penjahat malah menggerayangi tubuh indah seorang wanita yang pastinya membuat mata mereka merem melek menahan birahi yang bergejolak. Apalagi, tubuh yang mereka geledah memiliki bentuk yang aduhai. Pria manapun tak mungkin tidak tergoda saat menyentuhnya. Untungnya seluruh anak buah Leo ini tahan iman sehingga mereka tak sampai melebihi batas.
“Ini Tuan, kami berhasil menemukannya,” ujar pengawal Leo terbata-bata menyerahkan chip kecil pada Leo.
“Ada apa dengan wajah kalian? Kenapa merah padam begitu?” tanya Leo sok polos, padahal ia tahu jawabannya. Sedangkan Roy mencoba untuk tidak tertawa melihat wajah-wajah aneh para pasukan Leo setelah keluar dari dalam ruangan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***