
Operasi Shena bisa dikatakan sukses tanpa mengalami kendala apapun. Hal itu membuat Leo menjadi lega sekaligus senang karena wanita yang amat ia cintai itu tak jadi pergi meninggalkan dirinya. Leo mengatupkan kedua tangannya di wajah tanda rasa syukur karena nyawa Shena masih bisa diselamatkan.
Mata Leo tak pernah berhenti memandang istrinya yang sedang dalam proses perawatan setelah operasinya berjalan dengan lancar. Leo teringat akan kenangannya dulu. Hal sama, juga pernah terjadi dulu. Shena berlari menghadang timah panas yang saat itu terarah padanya. Dengan berani wanita pujaan hatinya ini menjadikan tubuhnya sebagai tameng agar peluru yang ditembakkan ke arah Leo, tak menembus tubuhnya. Dan sebagai gantinya, malah menembus perut Shena.
Kenangan itu adalah kenangan terburuk sepanjang hidup Leo. Dan kini, kejadian mengerikan itu terulang lagi. Untuk kedua kalinya Shena mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Leo.
"Kenapa kau lakukan itu lagi Sayang? Kau sudah berjanji padaku takkan mengorbankan nyawamu demi aku lagi? Kau mengingkari janjimu! Apa yang harus aku lakukan jika kau benar-benar pergi meninggalkanku?" Mata Leo mulai berkaca-kaca menatap tubuh istrinya yang terbaring lemah di meja operasi.
"Aku akan pergi untuk memberitahu yang lainnya kalau Shena sudah berhasil melewati masa kritis." Refald menepuk pelan bahu Leo dan pergi keluar ruang operasi lebih dulu tanpa menambah pembahasan lain.
Sepertinya, suami Fey itu tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Leo hanya mengangguk diam tanpa menoleh lagi pada Refald. Tatapan mata Leo tak pernah berpaling dari Shena.
Bertepatan dengan perginya Refald, salah satu dokter yang mengoperasi Shena, datang menemui Leo untuk melaporkan kondisi Shena saat ini.
"Tuan muda, operasinya memang berjalan dengan lancar. Tapi saya masih belum bisa memastikan efek apa saja yang di dapat nyonya Shena pasca operasi ini. Dan untuk mengetahui itu, kami harus menunggu istri Tuan muda sadar kembali. Barulah kami bisa menyimpulkan kondisi Nyonya Shena. Sebab, kondisi saraf otak kirinya mengalami sedikit kerusakan, tapi kami berhasil mengatasinya atas saran dari tuan muda Refald. Pertolongan pertama yang dilakukan kakak anda telah menyelamatkan Nyonya Shena dari bahaya." Dokter itu menjelaskan semua yang ia ketahui saat ini.
Dokter ini bukanlah dokter biasa. Ia adalah sahabat Refald sewaktu mereka tinggal di Jerman dulu. Sama halnya dengan Refald ia juga istimewa. Jadi, sedikit banyak ia tahu siapa Refald dan seluruh keluarganya. Leo juga mengenali dokter ini sejak lama. Karena itulah Leo langsung mengerti.
"Baik, Dok. Terima kasih atas semuanya." wajah Leo terlihat datar tanpa ekspresi. Ada rasa bersalah yang begitu besar bersemayam di lubuk hatinya yang terdalam, tapi Leo tak bisa mengungkapkannya.
"Sama-sama Tuan muda, setelah ini Nyonya Shena akan dipindahkan keruangannya. Sebaiknya, anda tunggu saja diluar," saran dokter itu.
"Tidak, aku akan tetap disini. Aku tak bisa meninggalkan istriku barang sedetik saja," kukuh Leo dan tak bergeming dari tempatnya.
__ADS_1
Tak ada yang bisa dilakukan dokter itu jika Leo sudah berkata demikian. Semua orang di dunia ini tahu siapa Leo dan Refald sekarang. Tidak ada yang berani membantah ucapan mereka kalau masih ingin hidup panjang. Apalagi beberapa waktu lalu, Leo telah mengeksekusi banyak musuhnya dengan cara yang tak terduga.
****
Malam harinya, Rey pergi menyelinap keluar ruang kamarnya setelah memastikan kalau semua orang sudah tertidur lelap. Ia berjalan mengendap-endap dengan membawa ransel hitam besar. Dengan hati-hati, putra tunggal Refald itu mencoba membuka pintu keluar.
"Mau kemana kau?" tanya seseorang yang sedang duduk di kursi ruang tamu dalam keadaan gelap gulita.
Tentu saja Rey sangat tahu dan hafal betul siapa pemilik suara merdu itu. Siapa lagi kalau bukan suara Refald, ayahnya sendiri.
"A-ayah!" ujar Rey lirih. "Aku ... aku hanya ingin keluar mencari udara segar." Rey beralasan walaupun Refald sudah tahu apa niat Rey sebenarnya.
Derap langkah kaki Refald berjalan menuju Rey dan ia langsung mengambil ransel hitam putranya. Tanpa suara, Refald mengeluarkan isi tas ransel hitam itu seluruhnya tanpa sisa. Semua barang seperti tali karmenter, lakban, gunting, dan alat pemukul bola kasti ada dalam tas ransel Rey.
"Aku hanya ingin memberi pelajaran anak laki-laki dari keluarga Sano itu, Ayah! Dialah yang menyebabkan bibi Shena kecelakaan!"
"Itu bukan salah siapapun Rey. Ini adalah takdir yan harus dijalani bibimu. Meskipun bukan karena anak itu, Bibimu akan tetap mengalami insiden ini. Berhenti bertindak gegabah dan jangan lakukan apapun. Saat ini, Shena sudah berhasil melewati masa kritis dan kita hanya tinggal menunggu dia sadar kembali. Lupakan dendammu itu dan sebaiknya kau tetap bersama Lea, Bima dan Yeon. Mereka semua membutuhkanmu."
"Baik, Ayah." Rey merasa ucapan Refald ada benarnya.
Dengan lemas, Rey menuruti ucapan ayahnya. Ia berjalan kembali ke kamar dengan hati dongkol karena niatnya sudah ketahuan. Mau tidak mau, suka tidak suka Rey harus tidur lagi malam ini walaupun ia sudah tidak bisa tidur lagi.
***
__ADS_1
Sementara di rumah sakit, Leo duduk di samping Shena yang masih terbaring lemah diranjangnya. Sampai saat ini, Shena belum juga sadarkan diri dan Leo tak pernah meninggalkan Shena lebih dari 10 menit.
"Sayang, bangunlah. Ini sudah lebih dari 12 jam. Jangan buat aku khawatir lagi." Leo mengusap-usap lembut tangan Shena. Selang infus masih menempel ditangan kiri istrinya.
Syukurlah Leo memiliki orang-orang yang bisa dipercaya untuk mengurus semua pekerjaannya yang tertunda. Berita tentang kecelakaan Shena sudah tersebar luas tapi Refald sudah mengatasinya untuk mencegah orang-orang memanfaatkan situasi ini dengan bantuan keluarganya.
Sedangkan Roy, mengurus segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan Leo dikantor. Laura juga bolak balik datang kerumah sakit sekedar melihat Shena ataupun menggantikan Leo bila ia ingin keluar sebentar.
Fey sendiri dengan sabar menjaga anak-anak Leo dan Shena agar rasa shock mereka berkurang. Hanya saja, naafsu makan mereka jadi berkurang dan lebih banyak diam. Rey yang paling tua diantara mereka semua mencoba menghibur adik-adiknya dengan bermain bersama dan pastinya tetap dalam pengawasan ketat Fey. Semua keadaan diluar rumah sakit tetap aman terkendali sehingga Leo tak perlu mencemaskan apapun kecuali Shena sekarang.
Namun, rasa cemas tentang Shena akhirnya berkurang tatkala Shena mulai menggerakkan jari telunjuknya. Leo segera bangun dari tempatnya dan mengusap lembut kepala Shena.
"Sayang, kau sudah sadar? Kau bisa dengar suaraku?" tanya Leo was was, sebab mata Shena masih terpejam.
Perlahan tapi pasti, Shena mulai membuka mata dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Leo. Laki-kaki itu tampak cemas melihat dirinya.
"Siapa kau?" tanya Shena bingung.
"Hah?" ujar Leo tak kalah bingung dari Shena. Ia menatap tajam manik mata Shena begitupula sebaliknya.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1