
Tak hanya Leo dan Shena saja yang bisa beromantis ria, Yeon pun juga tidak mau kalah. Setelah pertunangan ini, ia dan seluruh keluarganya akan segera kembali ke Swiss untuk menjalani hari-hari mereka di salah satu tempat terindah di dunia. Artinya, ini adalah hari terakhir Yeon bisa melihat Yuna dan mereka berdua bakal berpisah cukup lama. Ia sendiri tidak tahu apakah nanti dirinya bisa bertemu lagi dengan gadis ini atau tidak, sebab takdir seseorang tidak ada yang tahu.
Bagi Yeon, Yuna adalah gadis istimewa. Ia seorang gadis kecil yang tanpa pikir panjang, rela mati demi melindunginya. Seorang gadis kecil, yang amat sangat mengagumi ibunya, gadis kecil ini, lebih memilih hidup menderita dibandingkan bahagia bersamanya. Yuna benar-benar sosok gadis kecil yang berbeda dengan gadis-gadis kecil lain seumurannya, dan baru pertama kali inilah Yeon bersimpati pada sosok seorang Yuna.
Biasanya, putra sulung Leo dan Shena ini tidak peduli dan cuek saja pada gadis-gadis teman sebayanya walaupaun kebanyakan dari mereka, terus saja cari perhatian pada Yeon. Namun, hal berbeda ia rasakan pada Yuna, gadis itu langsung menarik perhatian Yeon disaat pertama kali mereka berjumpa.
Alasan Yeon menerima pertunangan ini adalah karena ia ingin tahu, apakah Yuna memang benar-benar ditakdirkan untuknya atau tidak. Selain itu, ia jelas tidak mungkin bisa menolak karena ayah dan ibunya pasti akan menggunakan berbagai macam cara supaya Yeon menyetujui pertunangan ini tanpa syarat. Dan sekarang, Yeon ingin memastikan alasan Yuna bersedia bertunangan dengannya terlepas dari siapa Yeon dan keluarganya.
“Kenapa kau menerima pertunangan ini?” tanya Yeon yang sedang berdiri disamping Yuna. Gadis cantik yang baru saja menjadi tunangannya ini, sengaja menjauhi kerumunan dan memilih menyendiri dipojokan sambil menatap cahaya bulan. “Padahal … diantara kita … tidak ada hubungan apa-apa. Bagaimana jika setelah kita terpisah nanti, aku jatuh cinta pada wanita lain dan kau jatuh cinta pada pria lain pula? Apa yang akan kau lakukan?” Yeon menatap Yuna untuk menanti sebuah jawaban.
Yuna masih betah menatap bulan dan tak segara menjawab pertanyaan tunangannya. Ada segudang rasa yang sedang dirasakan gadis ini dan ia berusaha menata diri dan juga hati. “Aku … akan minta bibi Shena dan paman Leo membunuhku,” jawab Yuna tegas dan tentu saja mengagetkan Yeon. Sambil tersenyum, Yuna memberanikan diri menatap wajah tampan Yeon.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Yeon datar, ia langsung menyembunyikan rasa keterkejutannya begitu Yuna melihat ke arahnya.
“Karena aku sudah berani mengkhianatimu. Wajar jika bibi dan paman membunuhku. Cincin ini … adalah simbol bahwa aku hanya boleh mencintaimu seorang. Meskipun sekarang aku belum bisa, tapi aku akan berusaha mencintai tunanganku dengan segenap hati dan jiwaku. Aku hanya butuh waktu, dan aku rasa waktu yang diberikan paman dan bibi sangat lebih dari cukup untuk membuatku mencintaimu. Begitu kau kembali nanti, tidak ada pria manapun yang berhak mendapatkan cintaku selain dirimu. Aku janji.” Mata Yuna menatap manik mata Yeon dengan tajam. Tentu saja, tunangannya itu tercengang mendengar betapa romantisnya jawaban Yuna.
“Itu kalau kau … bagaimana kalau … ada wanita lain berhasil merebut hatiku. Secara setelah ini, kita tidak akan pernah bisa bertemu dan berkomunikasi lagi dalam jangka waktu lama. Tak menuntut kemungkinan, aku menemukan wanita yang jauh lebih baik darimu di luar sana?” pertanyaan Yeon terlihat menyakitkan, sepertinya ia sengaja mengoberak abrik perasaan Yuna terhadapnya.
Yeon menantikan wajah sedih gadis kecil yang ada dihadapannya lalu memintanya untuk tidak meninggalkannya. Namun, diluar dugaan, reaksi Yuna tak seperti yang Yeon perkirakan. Tunangannya itu malah tersenyum manis pada Yeon. Ia bahkan berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan wajah Yeon yang jauh lebih tinggi dari Yuna.
“Seandainya itu yang terjadi, bawalah gadis yang berhasil merebut hatimu padaku. Pertemukan aku dengannya. Jika dia jauh lebih baik dariku, maka aku … akan merelakan dia untukmu dan mendoakan kalian bahagia, tapi jika … gadis itu … tidak lebih baik dariku, maka aku … akan merebut hati dan dirimu darinya.” Kata-kata Yuna sama sekali tak bisa ditebak. Untuk gadis seusianya, Yuna benar-benar bijak.
“Apa motifmu sebenarnya? Apa … kau melakukan semua ini … hanya untuk menyenangkan ibuku? Karena dia menyukaimu dan menginginkanmu menjadi menantunya? Makanya kau bertekad beruasaha menjadi pendampingku?” tanya Yeon. Ia ingin tahu apakah Yuna punya mkasud lain sehingga gadis itu bersikukuh untuk menjadi bagian dari keluarganya.
__ADS_1
“Yeon, aku tahu apa yang ada dipikiranmu. Aku sadar diri dan juga tahu diri. Kita berdua itu berbeda kasta. Kau ada di langit tertinggi dengan segala kesempurnaan yang ada. Sedangkan aku ada dibawah bumi dan tak punya apa-apa. Coba pikir? Bagaimana bisa gadis sepertiku bersanding denganmu? Entah apa yang dilihat bibi Shena dan paman Leo dari orang sepertiku sehingga mereka memilihku menjadi menantu. Kau dan aku sama-sama tak bisa menolak atau lari dari keinginan mereka. Karena itulah tak ada pilihan lain lagi bagi kita berdua selain menerima perjodohan ini.
“Jujur, aku bersedia bertunangan denganmu karena aku ingin memiliki ibu seperti ibumu. Namun aku tidak mau dianggap cewek matre yang menyetujui pertunangan ini hanya demi harta kekayaan yang kalian punya. Sebab itulah aku tak ingin ikut bersama kalian dan memutuskan tinggal di sini menjadi diriku sendiri. Aku ingin buktikan pada dunia bahwa wanita sepertiku bisa menjadi hebat seperti bibi Shena.
“Dengan begitu, aku bisa menegakkan kepalaku sebagai calon istrimu. Aku juga akan buktikan pada dunia, kalau aku juga bisa jadi orang sukses sehingga orang lain takkan merendahkanku bila suatu hari nanti kau menikahiku. Dan aku tidak akan pernah memaksa, jika suatu hari nanti kita dewasa, dan aku bukanlah tipe wanita yang kau suka. Maka kau bisa meninggalkanku untuk mencari wanita yang lebih baik dariku.” Nada suara Yuna terdengar lembut. Sama sekali tidak ada keraguan dalam dirinya. Sebaliknya, Yuna terlihat tegar dan pantang menyerah.
Sedangkan Yeon tak bisa berkata-kata. Ucapan Yuna membuatnya tertegun akan keteguhan hati gadis cantik yang ada dihadapannya ini. Yuna punya prinsip hidup tinggi. Sekali lihat saja, Yeon sudah tahu kalau impian Yuna pasti bakal tercapai. Dan saat itu tiba, maka ia akan memberikan kalung pemberian ayahnya yang baru saja ia terima kepada Yuna sebagai simbol cinta mereka berdua.
“Terimakasih atas penjelasanmu, Yuna. Aku sangat terbantu, senang bisa menjadi tunanganmu dan sampai bertemu lagi setelah kita dewasa nanti. Selama aku pergi, jaga dirimu baik-baik.” Yeon tersenyum manis pada Yuna dan berbalik badan meninggalkan tunangannya dengan hati riang gembira.
“Senang menjadi tunanganku? Apa maksudnya itu?” gumam Yuna menatap punggung Yeon yang terus menjauh meninggalkannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***