
“Jangan membuatku terlihat melanggar sumpahku di depan makam almarhum orangtuamu, Sayang. Katakan ada apa?” tanya Leo. Wajahnya terlihat serius karena tak bisa melihat Shena menangis seperti itu.
Mendengar ucapan Leo, tangis Shena malah semakin pecah dan bukannya mereda. Tambah bingunglah Leo melihat istrinya menangis tersedu-sedu dipelukannya. Tak ada yang bisa dilakukan Leo selain menungggu sampai Shena kembali tenang dan siap bercerita. Sebab, Shena kesulitan berkata-kata. Tangisan Shena sungguh membuat hati Leo menjadi trenyuh. Sebisa mungkin Leo berusaha membuat Shena nyaman saat melepaskan amarah yang dipendam istrinya.
Pelukan Leo sukses membuat Shena merasa adem. Inilah yang ia butuhkan saat ini, menangis dipelukan orang yang ia cintai membuat Shena jauh lebih rileks. Entah mengapa ia jadi mudah baperan begini, bisa saja efek hamil muda sehingga Shena jadi lebay dan mudah perasa.
“Leo,” ujar Shena setelah ia merasa lebih baik. Leopun menatap tajam mata Shena.
“Ungkapkan apapun yang ingin kau ungkapkan. Aku akan mendengarkanmu,” ujar Leo sambil membelai lembut rambut Shena.
“Dulu … aku suka melihat animasi Jepang yang berjudul detektif Conan. Almarhum ayahku mengetahui hal itu dan beliau berjanji, suatu saat nanti jika aku dewasa, ayah akan mengajakku kemari. Ke tempat Tokyo tower itu berada.” Shena beralih menatap tower yang menjadi ikon kota Tokyo didepannya. “Ayah bilang … dia akan memperlihatkan Tokyo tower Jepang seperti yang ada dalam animasi kesukaanku itu. Sayangnya, ayah … telah lebih dulu meninggalkanku dan sudah tenang di alam sana. Aku pikir, selama sisa hidupku, aku takkan pernah bisa melihat tempat yang dijanjikan mendiang ayahku, tapi dugaanku salah, kini … aku bisa melihat tower itu dari dekat, berkat dirimu. Dan aku … sangat bahagia karena pada akhirnya … aku bisa melihat tower itu, hanya saja …” mata Shena mulai berkaca-kaca lagi. Ia teringat akan masa kecilnya saat ayahnya masih hidup.
“Hanya saja apa?” tanya Leo lirih. Matanya terlihat sendu seakan ikut merasakan apa yang dirasakan istrinya.
Bukan salah Shena jika ia kehilangan kedua orangtuanya disaat masih berusia belia. Rasa bersalah Leo jadi kembali muncul dan itu membuat dirinya ikut sedih atas kepedihan yang dirasakan istri tercintanya ini.
“Aku … merindukan mendiang ayah dan ibuku Leo, aku sangat merindukan mereka. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tiba-tiba saja merindukan mereka.” Shena mulai menangis lagi dan Leo memeluk erat tubuh istrinya.
__ADS_1
“Mendiang ayah dan ibu, sedang melihatmu Sayang, mereka sekarang pasti bahagia karena apa yang kau inginkan sudah terwujud. Harusnya kau beritahu aku sejak awal kalau kau ingin datang ke tempat ini. Kau tahu? Kau membutku merasa buruk saja. Aku suamimu, tapi tidak tahu apa keinginannmu,” ujar Leo lirih dan semakin mengeratkan pelukannya.
“Kenapa kau jadi merasa buruk?” Shena melepas pelukannya dan menatap wajah tampan Leo. “Bersamamu, aku melupakan masa laluku yang menyedihkan. Bersamamu, aku lupa kalau aku bukanlah siapa-siapa dan hanya gadis biasa yang paling beruntung di dunia karena mendapatkan pangeran tampan tajir melintir sepertimu. Bersamamu aku menjadi wanita paling bahagia. Bersamamu, terciptalah kenangan-kenangan indah kita berdua dan menggantikan kenangan-kenangan buruk sebelum aku bertemu denganmu.
“Bersamamu, aku lupa kalau aku sudah tidak punya orangtua, dan bersamamu pula … aku hidup tanpa kekurangan apapun. Kau memberikan kebahagiaan lebih dari yang kubayangkan. Tidak seharusnya kau merasa buruk? Kau menyempurnakan hidupku, Leo sayang. Dan aku berterimakasih atas sega …” belum juga Shena selesai bicara, Leo sudah mendaratkan ciuman manisnya di bibir Shena. Lama juga Leo mencium mesra istrinya dengan segenap hati dan jiwanya.
“Jangan bicara lagi, kau harus dihukum karena tidak mau mengatakan lebih awal kalau kau sangat ingin datang kemari. Lain kali, kau harus mengatakan apapun keinginanmu, jangan dipendam di dalam hati seperti ini.”
“Aku bukannya tidak ingin memberitahumu apa keinginanku, setiap kali bersamamu aku jadi lupa segalanya. Sebab, tidak ada lagi yang kuinginkan selain ada didekatmu, itu saja.”
Suasana semakin bertambah sweet dikala pemandangan kota Tokyo dan towernya menjadi latar cinta mereka dan menghiasi suasana romantis pasangan sejoli ini. Sedih, bahagia, haru, dan rasa cinta yang menggebu menjadi satu padu menyelimuti perasaan Shena dan Leo.
***
Keesokan harinya, Leo dan Roy menghadiri rapat dewan direksi seperti yang sudah mereka agendakan sebelumnya. Beberapa para pemegang saham di perusahaan Leo juga ikut hadir. Mereka semua bingung karena mendadak pemilik perusahaan Pyordova tiba-tiba saja datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka semua bertanya-tanya dan mulai bergunjing ria. Namun, ada beberapa pihak oknum yang juga sudah siap memprotes kedatangan Leo.
Leo dan Roy memasuki ruang rapat bersama dan langsung disambut oleh kumpulan dewan direksi perusahaan Leo. Tanpa basa-basi, Leo menyampaikan kedatangannya dan rapatpun dimulai. Tak banyak yang dibahas dalam rapat tersebut, sebab Leo masih mempelajari medan sebelum berperang. Yang Leo lakukan saat ini adalah meminta semua laporan perusahaan diserahkan padanya hari ini juga untuk diperiksa agar ia tahu apakah ada kejanggalan atau tidak.
__ADS_1
Beberapa dari mereka, menyampaikan keluh kesah yang dihadapi dan Leo langsung memberikan solusi untuk mengatasi masalah itu. “Kalian tahu sendiri, ayahku sudah memutuskan menikmati hari tuanya tanpa ingin diganggu oleh siapapun dan menyerahkan semua perusahaan ini padaku. Aku percayakan semuanya pada kalian yang dipercaya ayah untuk terus memajukan perusahaan ini. Mulai sekarang, kita harus bekerjasama, jika ada hal yang ingin disampaikan, katakan padaku secara langsung. Dan jika diantara kalian semua ada yang bermain api dibelakangku, maka bersiaplah untuk meninggalkan dunia ini selamanya. Sekian untuk pertemuan hari ini. Kita akan mengadakan pertemuan lagi nanti. Waktu dan tempat, tunggu konfirmasi berikutnya,” tegas Leo walau ada sedikit nada ancaman didalamnya.
Setelah mengakhiri acara rapat, iapun berlalu pergi tanpa peduli pada tatapan sinis semua pihak yang menentangnya.
“Kau yakin, tak melakukan apa yang sudah kita rencanakan?” tanya Roy saat mereka berdua berjalan pergi meninggalkan ruangan.
“Belum saatnya, Roy. Aku punya rencana yang jauh lebih besar dari ini. Tapi … aku butuh bantuanmu.”
“Aku siap membantu!” ujar Roy. Sahabat Leo ini memang selalu mendukung apapun yang akan dilakukan Leo. Tak hanya sekarang, bahkan saat keduanya tinggal di Jerman dulu, Roy selalu ada untuk Leo.
Dua pria tampan yang diikuti oleh pengawal-pengawal mereka mulai keluar dari pintu ruang rapat. Dan disaat pintu lift terbuka, seorang pria dengan penampilan ala orang jalanan bersalipan dengan Leo. Mata pria tersebut terbelalak ketika melihat Leo yang cuek padanya. Tentu saja tanpa peringatan, pria yang lebih mirip gembel itu menyerang Leo dengan melayangkan tinjunya. Namun, pengawal Leo lebih sigap sehingga serangan pria gembel tadi ditangkis cepat sebelum tangannya menyentuh kulit mulus Leo.
“Dasar brengsek, kau!” teriak orang itu, luapan api kemarahan yang dirasakan pria berpenampilan kotor dan penuh dengan lumpur itu begitu besar saat menatap Leo.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1