Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
Episode 66 Tangga Cinta


__ADS_3

Byon dan Biyanca saling melempar senyum satu sama lain mengingat kenangan masa muda mereka saat mendaki bukit ini dengan menaiki anak tangga satu persatu. Setiap pijakan yang mereka lalui bersama, ibarat sebagai bentuk rintangan hidup yang sudah mereka lalui sepanjang hidup mereka.


Ada banyak hal yang terjadi diantara mereka berdua sebelum Byon dan Biyanca benar-benar bisa bersama dan bersatu membangun mahligai rumah tangga yang bahagia terlepas dari segala hal yang melekat di dikehidupan mereka. Kebahagiaan mereka jadi lengkap dengan hadirnya Leo ke dunia dan kini semakin lengkap karena sang putra semata wayang akan segera memberi mereka cucu pertama.


Status Byon sebagai salah satu keturunan bangsawan dan juga mantan seorang mafia, serta Bii yang hanya putri seorang pelayan keturunan China, membuat kisah cinta mereka tak semulus seperti kisah cinta Leo dan Shena. Byon dan Biyanca harus melalui banyak hal yang tak terduga bahkan kematian sekalipun membayangi kehidupan mereka. Namun akhirnya, kekuatan cinta keduanya bisa membawa Byon dan Biyanca bersama hingga detik ini.


“Kau siap Bii, sudah puluhan tahun lamanya kita tidak datang kemari. Mari kita mengenang masa muda kita,” ujar Byon pada istrinya. ‘Bii’ adalah nama panggilan kesayangan Byon pada wanita yang ia cintai sejak usianya masih anak-anak.


“Aku akan selalu siap untukmu, Suamiku. Apapun yang terjadi, aku akan terus bersamamu selamanya sampai maut memisahkan kita.” Biyanca tersenyum manis pada suaminya. Meski sudah termakan usia, kemesraan antara Byon dan Biyanca tak pernah pudar. Sampai kapanpun pasangan suami istri memang sudah berjanji akan selalu bersama sehidup semati.


Pemandangan yang sama juga terjadi pada Leo dan Shena. Pasangan muda mudi ini sudah mulai bersiap-siap. Ini bukan pertama kalinya Leo harus menghadapi cobaan besar dalam hidupnya setelah ia menikah dengan wanita pujaan hatinya yang juga sudah ia cintai sejak Leo masih anak-anak. Kisahnya hampir sama dengan ayah dan ibunya. Kini, Leo tak hanya harus bisa melindungi dirinya sendiri tetapi ia juga harus melindungi Shena dan semua keluarganya dari bahaya yang mengancam mereka.


Dengan mendaki bukit ini, merupakan permulaan awal Bagi Leo apakah ia bisa mengatasi semua rintangan dalam hidupnya. Sebab, Leo sudah bukan anak remaja yang suka berbuat apa saja. Ditambah sebentar lagi, Leo bakal menggantikan ayahnya, dan sebagai putra satu-satunya dari mantan Mafia, Leo harus jadi lebih kuat dari siapapun.


“Sayang, kau ingin aku menang, atau kalah?” tanya Leo menatap lurus wajah Shena dalam gendongannya.


“Tentu saja kau yang menang,” jawab Shena tanpa ragu.


“Kenapa? kalau aku kalah, harta warisan ayah akan jatuh ke tanganmu dan pastinya kau lebih kaya dariku.”


“Aku tidak butuh harta kekayaan ayah, yang aku butuhkan hanyalah dirimu. Kau segalanya bagiku, sekarang.” Shena tersenyum manis pada Leo dan Leopun membalasnya dengan satu kecupan manis tak kalah dari gula madu.


"Kau memang istriku." Leo mengecup kening Shena dengan mesra.


Perlombaan pun dimulai, ayah dan anak ini berlompa-lomba menaiki tangga yang tingginya kurang lebih 10 m dengan menggendong istri mereka masing-masing. Yang lebih kasihan adalah Leo karena ia menggendong Shena ketika sedang hamil besar, otomatis ia juga harus lebih hati-hati saat melangkah agar ia tidak jatuh dan bisa berakibat fatal. Karena itu, Leo memilih santai dan memperlambat langkahnya. Alhasil, Leo jadi tertinggal dari ayahnya. Walau Byon jauh lebih tua dari putranya, tapi kemampuan fisiknya masih sama seperti saat Byon muda dulu.


“Leo, apa tidak apa-apa membiarkan ayah mengalahkanmu?” tanya Shena karena suaminya ini santai sekali saat menaiki anak tangga satu persatu.


“Aku tidak mau buru-buru, Sayang. Pelan tapi pasti, itulah prinsipku dalam menghadapi cobaan hidup ini. Selama ada kau bersamaku, aku tidak peduli dengan hal yang lainnya.”

__ADS_1


“Baiklah, tidak masalah meski kau kalah. Jika ayah memberikan harta warisannya padaku, maka akan aku kembalikan lagi padamu. Aku hanya khawatir kau kelelahan.” Shena mengusap wajah suaminya yang mulai berkeringat dan Leo tersenyum manis pada Shena.


“Kau tahu betapa aku sangat mencintaimu, Sayang. Jika aku jatuh miskin apa kau masih mau bersamaku?”


“Aku akan selalu mencintaimu meski kau berubah jadi jelek dan tidak punya apa-apa. Karena aku mencintaimu apa adanya, bukan ada apanya. Seperti ibu yang selalu mencintai ayah. Aku ingin kita nanti sama seperti mereka berdua, selalu bersama-sama dalam suka maupun duka sampai hari tua.” Shena melihat punggung ayah mertuanya yang sedang menggendong istrinya.


Awalnya, Leo tidak terima Shena berani mengatainya jelek dan tidak punya apa-apa. Sebab, dilihat dari segi apapun, Leo merasa kalau dirinya itu sangat tampan dan ia memiliki kekayaan tak terhingga, tapi ia pun akhirnya trenyuh saat Shena mengatakan ingin bersamanya sampai hari tua dalam suka maupun duka.


“Aku jadi semakin jatuh cinta padamu, Shena. Aku beruntung memilikimu disisiku.”


“Akulah yang beruntung karena suami nggak ada akhlakku ini sangat sangat sangat mencintaiku melebihi apapun.” Shena dan Leo saling melempar senyum. “Apa kau lelah? Haruskah kita istirahat sebentar.


“Tidak! Aku tidak boleh berhenti. Ini bukanlah apa-apa apalagi kalau aku mendapat ciuman manis darimu disetiap tangga yang yang aku pijak.”


“Maksudmu ... kau ingin aku menciummu sebanyak tangga yang kau naiki ini?” tanya Shena. Leo benar-benar nggak ada akhlak.


“Aku pantas mendapatkannya, itu adalah hadiahku.” Leo melirik Shena dengan kilatan mata elangnya.


“Dan si playboy nggak ada akhlak yang kau maksud adalah suamimu sekaligus calon ayah dari anak kita.” Shena langsung menghadiahi kecupan manis dipipi Leo sambil tersenyum mengiyakan. “Lagi! Disini!” Leo memonyongkan bibirnya, ia tidak bisa menunjuk dengan jari karena kedua tangannya menggendong Shena.


Shena sendiri juga tak bisa menolak karena setiap kecupan yang diberikannya bagaikan amunisi yang memicu semangat Leo agar bisa sampai ke puncak tangga.


Perlombaan antara ayah dan anak, sudah dipastikan siapa pemenangnya mengingat Leo sudah tertinggal jauh dari Byon. Namun, di detik-detik terakhir Byon hendak mencapai puncak tangga, tiba-tiba saja ia menurunkan Bii dan terduduk lunglai di anak tangga sambil ngos-ngosan.


“Maafkan aku Bii, sepertinya ... aku sudah tua. Tenagaku ternyata tak sekuat dulu. Aku tidak sanggup lagi, jika aku paksakan, kita berdua bisa jatuh ke bawah,” ujar Byon masih mencoba mengatur napasnya kembali.


Bii pun mengerti dan duduk di samping suaminya. “Kau memang sudah tua, tapi cintamu padaku masih sama kuatnya seperti dulu. Istirahatlah sejenak dipangkuanku, kau sudah berjuang keras suamiku. Seperti biasa, kau sangat keren dan luar biasa. Mari kita sama-sama melihat bagaimana perjuangan putra kita untuk sampai ke puncak tangga ini.


Byon terkekeh sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Biyanca. “Cecunguk kita itu sudah dewasa sekarang. Dia tumbuh jadi lebih baik dari yang kuperkirakan, dan juga ... siapa yang mengajarinya mesum seperti itu? Bisa-bisanya dia meminta istrinya menciuminya disetiap anak tangga? Untung tidak ada orang disekitar sini.” Byon memerhatikan Leo yang sedang bersenda gurau dengan Shena seolah tak merasa lelah atau terbebani sedikitpun. Putranya itu menaiki tangga selangkah demi selangkah seolah setiap tangga yang ia daki sangat berarti baginya.

__ADS_1


Langkah Leo terlihat stabil, sesekali ia hanya membenahi posisi Shena agar tubuhnya tetap seimbang. Tak semua orang bisa menaiki tangga cinta ini. Jika Leo dan Shena benar-benar saling mencintai setulus hati dan segenap jiwa raga mereka. Maka keduanya pasti bisa mencapai puncak tanpa mengalami kendala.


“Ayo Ayah, kenapa berhenti disini?” tanya Leo saat ia sudah tiba di depan ayah dan ibunya duduk.


“Kau duluan saja, aku akan menyusulmu nanti,” ujar Byon.


“Tidak Ayah, jalanlah dulu. Aku akan ada di belakang Ayah.”


“Kalau kau ada dibelakangku, artinya kau kalah. Kau punya kesempatan untuk memenangkan taruhan kita.


“Aku tidak peduli. Kalah atau menang, warisan ayah tetap jadi miliku. Shena bilang, akan menyerahkan harta yang ayah berikan padanya kepadaku kalau aku kalah. Lagipula, aku masih bisa mendaki lagi tangga ini. Tidak masalah bagiku jika hari ini aku gagal menang dari ayah.” Leo tersenyum sambil menatap Shena yang sangat bangga pada ucapan suaminya.


Begitu pula dengan Byon dan Biyanca. Sebelumnya, mereka tahu, kalau putranya ini sangat benci dengan kekalahan, tapi kali ini Leo sudah berubah. Putra semata wayang mereka sudah benar-benar dewasa. Ia tak lagi bertingkah bagai anak kecil seperti sebelumnya. Ada rasa bangga tersendiri bagi Byon dan Biyanca melihat perkembangan Leo yang sangat pesat.


Akhirnya, Byon kembali menaiki tangga besama-sama dengan Leo dan mereka sampai disebuah gerbang pintu berukuran besar yang hanya terbuat dari kayu.


“Rumah siapa ini?” tanya Leo.


“Kau akan senang setelah bertemu dengannya,” jawab Byon penuh makna.


BERSAMBUNG


****


kenapa aku gemes banget lihat mereka ya .... jadi semangat nulis kisah Byon dan Biyanca


terus dukung semua karyaku. .love you all


__ADS_1


Byon dan Biyanca saat masih muda



__ADS_2