
Dari kubu Elise, mereka semua yakin, dengan datangnya saksi terakhir ini, mereka bisa menjatuhkan Leo dan membuktikan bahwa Leo benar-benar bersalah. “Saatnya kau berakhir dibalik jeruji besi Leo,” gumam Elise diikuti senyum mengembang dari jaksa penuntut.
Namun, bukan Leo namanya kalau ia menyerah begitu saja meski saksi kunci sudah dihadirkan didepan mata. Masih ada cara mafia lainnya yang harus Leo keluarkan dalam persidangan kali ini.
Cara ini juga pernah digunakan salah satu anggota mafia italia saat berhadapan dengan musuh yang sangat bengis dan kejam dimana, hukum bisa dipermainkan oleh orang-orang jahat. Meski cara itu berakhir tak sesuai dengan rencana sang mafia, tapi tetap sukses menghebohkan ruang sidang. Cara yang sama juga akan digunakan Leo dan pastinya, cara inilah yang paling ia tunggu-tunggu dari sekian cara yang sudah ia lakukan.
Leo menatap pengacara Abas dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia harus mengeluarkan jurus pamungkasnya sebelum beraksi. Abas pun mengerti dan ia menoleh ke arah belakang. Pangacara muda itu memberi kode kepada seseorang untuk melakukan apa yang sudah mereka rencanakan.
Seseorang tak dikenal itupun mengerti dan mulai membuka karung kecil yang ada di dalam saku celananya. Begitu karung kecil itu dibuka, puluhan Yellow Jackets atau yang biasa disebut si jaket kuning berterbangan dimana-mana. Binatang yang bernama lain tawon itu merupakan salah satu jenis lebah penyengat yang lumayan berbahaya juga. Tawon-tawon itu mengudara dan langsung menyengat hakim, jaksa penuntut, Elise dan juga saksi yang duduk di bangku saksi. Siapa lagi kalau bukan mantan menejer hotel yang dipecat Leo. Keempat orang itu menjadi sasaran empuk lebah Yellow jakets.
Tentu saja semua orang jadi panik dan berhamburan pergi keluar ruangan karena takut disengat. Padahal walaupun mereka duduk diam, tawon-tawon itu tidak akan menyengat mereka semua. Sebab, tawon itu hanya mengincar orang-orang yang hendak menjatuhkan Leo dan Shena.
Alasan tawon-tawon itu hanya mengincar keempat orang tersebut, karena dimeja tempat mereka duduk sudah dilumuri madu nektar yang merupakan makanan kesukaan tawon Yellow jakets. Otomatis, madu itu sudah menempel di bagian tubuh dan pakaian keempatnya.
Binatang itu sangat agresif dan bisa menyengat berkali-kali. Mereka manganggap orang-orang yang duduk dibangku tersebut berusaha mengganggunya dengan mencuri madu kesukaannya. Makanya, keempat orang itu menjadi sasaran utama sengatan lebah si jaket kuning.
Sedangkan Leo dan Abas hanya tertawa tanpa suara ditempat duduk mereka masing-masing. Mereka tidak takut tersengat karena sudah memakai lotion anti lebah sebelum memasuki ruang sidang. Lotion yang sama juga sudah Leo berikan pada Shena. Jadi mereka bertiga aman dari lebah-lebah menyengat itu.
Sementara Shena masih melongo melihat beberapa orang didepannya berlari kesana kemari untuk menghindari sengatan lebah. Mereka semua terlihat berbeda seperti anak kecil yang dikejar-kejar emaknya dengan teflon atau panci saat ketahuan berbuat nakal.
“Aku tidak percaya ini?” gumam Shena mati-matian menahan shocknya. Tiba-tiba sebuah kecupan manis mendarat dibibir Shena dan itu berasal dari ciuman suaminya.
“Ayo kita pergi Sayang, sepertinya sidang hari ini ditunda sementara karena sang hakim dan jaksa penuntut sedang sibuk di sengat lebah,” ujar Leo sambil menggamit lengan istrinya dengan mesra pergi meninggalkan ruang sidang. Sementara, dibelakang mereka sedang heboh beberapa orang berteriak minta tolong kesana kemari akibat dikejar-kejar dan disengat lebah.
“Sebenarnya ada apa ini?” tanya Shena tidak mengerti dan juga masih bingung kenapa hanya orang-orang itu saja yang disengat tawon, sedangkan dirinya dan yang lainya tidak. Kini keduanya sedang berjalan beriringan dikoridor gedung.
“Lebah itu tahu siapa orang yang jahat dan yang bukan Sayang,” jawab Leo seenaknya. Ia mencium kening Shena agar istrinya itu tidak lagi tegang. “Kau mau makan es krim, Sayang? Aku ingin eskrim coklat stroberry.” Leo tak henti-hentinya tersenyum memandang wajah cantik Shena.
“Kau benar-benar luar biasa, Leo. Menurutmu, sampai kapan sidangnya ditunda?” tanya Shena yang lebih fokus dengan kejadian tadi daripada menerima tawaran suaminya makan es krim. Shena mengakui betapa kerennya Leo hari ini.
__ADS_1
“Sampai para petugas lebah berhasil menangkap lebah-lebah itu. Sambil menunggu, bagaimana kalau kita kencan?” lagi-lagi, Leo mencium mesra istrinya tanpa peduli ada dimana mereka sekarang.
“Kau benar-benar gila, Leo! Kau berhasil mengacaukan sidangnya? Apa yang akan mereka lakukan jika sampai mereka tahu kaulah dalang di balik semua ini.”
“Tidak akan pernah ada yang tahu, Sayang. Kau tenang saja oke! Ini sangat mengasyikkan, bukan?” Leo merangkul bahu istrinya sambil berjalan ke kafe es krim terdekat dari gedung pengadialn ini.
Sementara Abas dan beberapa pengawal Leo sudah pergi entah kemana. Mereka tidak terlihat lagi di sekitar Loe dan Shena.
“Kemana pengacara dan pengawalmu, tadi?” tanya Shena sambil celingukan kesana kemari mencari pengacara dan pengawal Leo. Padahal beberapa saat lalu, mereka semua ada dibelakang Leo dan Shena.
“Mereka memberikan ruang pada kita untuk berkencan sembari menunggu sidang dimulai lagi.” Lagi-lagi Leo menjawab seenaknya tanpa memberitahu Shena rencana apalagi yang sudah disusun suami nggak ada akhlak Shena kali ini.
***
“Katakan padaku, kaukah yang memanipulasi kesaksian para saksi itu, kan? Bagaimana caranya? Apa kau mengancam mereka?” tanya Shena saat keduanya sedang berada di dalam kafe sambil menikmati es krim mereka masing-masing.
“Lebih tepatnya membantu menyelesaikan masalah mereka, Sayang.” Leo menjawab sambil terus menikmati es krim kesukaannya.
“Aku menjanjikan kehidupan yang layak untuk bapak itu berserta anaknya jika dia mengacaukan kesaksiannya sendiri. Ia memang memiliki ingatan yang buruk, karena itulah bapak-bapak itu meminta surat keterangan amnesia pada dokter. Sebenarnya, ia mengingat detail peristiwa waktu itu. Namun, ia sengaja melupakannya. Aku akui ... akting pegawai cleaning service itu lumayan bagus.” Leo tersenyum manis pada Shena sambil menyuapi istrinya es krim dengan sendoknya.
“Lalu, bapak-bapak itu setuju?” tanya Shena lagi setelah memakan es krim dari tangan suaminya.
“Tidak ada alasan baginya untuk menolak kebaikanku, jika sampai dia melanggar, maka sebaliknya, nyawa seluruh keluarganya bisa melayang ditanganku.”
Shena langsung emosi mendengar Leo bicara seperti itu. “Itu artinya kau mengancamnya, bodoh! Apanya yang dibilang kebaikan. Sejak kapan mengancam itu dikatakan baik?” Shena jadi darah tinggi dengan tingkah konyol suaminya ini.
Kapan tobatnya ini orang, ya? Jangan-jangan Leo juga mengancam semua orang yang ada di ruang sidang? Batin Shena.
“Selama bapak-bapak itu tidak melanggar aturan mainku, apa yang aku lakukan ini akan terus disebut kebaikan, Sayang. Karena aku tidak langsung menghabisinya.”
__ADS_1
“Kau benar-benar gengster, Leo! Mana ada yang namanya mengancam seseorang itu disebut kebaikan? Yang ada itu namanya kejahatan. Kau selalu seenaknya dan suka bikin peraturan sendiri,” geram Shena. Ia sangat emosi, tapi memang seperti itulah sifat Leo. Pandai mengintmidasi dan membuat kesal orang. “Lalu, bagaimana dengan saksi kedua? Ancaman apa yang kau berikan padanya?” selidik Shena.
“Sudah kubilang, itu bukan ancaman, Sayang. Aku membantu menyelesaikan masalah mereka.” Leo masih bersikukuh dengan pendapatnya.
“Oke-oke!” Shena malas berdebat dengan Leo. “Bantuan apa yang kau tawarkan?” Shena yakin jawaban Leo pasti tak beda jauh dengan jawaban yang pastinya berakhir dengan pengancaman.
“Kalau dia tidak mengacaukan kesaksiannya, maka kehamilannya akan aku laporkan pada keluarganya bahwa wanita muda itu sudah haml diluar nikah dengan kekasihnya.”
Shena langsung tersedak mendengar penjelasan Leo. “Apa?” pekik Shena. Semua orang yang ada di kafe jadi beralih menatap tajam Shena.
“Tenangkan dirimu, Sayang. Kenapa kau jadi heboh begitu?” Leo masih menikmati es krimnya sambil memelototi orang-orang yang melihat Shena.
Tatapan mata Leo menyiratkan pada orang-orang itu agar tak lagi melihat istrinya atau nyawa mereka bakal melayang saat itu juga. Alhasil, semua orang takut dengan tatapan maut Leo. Mereka kembali berbalik badan ke posisi semula dan melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Bahkan sebagian dari mereka lebih memilih pergi daripada nyawanya melayang akibat intimidasi dari Leo.
“Aku akan memenangkan sidang ini Sayang. Kau jangan khawatir oke. Percayalah padaku.” Leo mengenggam kedua tangan istrinya supaya Shena kembali tenang.
“Aku percaya padamu, tapi cara yang kau gunakan benar-benar membuatku jantungan. Aku jadi kasihan sama mereka karena harus berhadapan dengan gengster sepertimu. Kau lebih menakutkan dari ayah.”
“Aku memang harus melebihi ayahku supaya bisa melindungimu dan keluarga besar kita nanti. Jangan jantungan dulu, Sayang. Aku harus mendapatkan imbalan darimu atas apa yang sudah aku lakukan untukmu?”
“Imbalan?” Shena merasakan firasat yang buruk kalau Leo sudah bicara seperti itu.
“Ehm, aku mau kau menyerahkan tubuhmu padaku malam ini.” Leo menyeringai nakal pada Shena. Istrinya itu, hanya bisa menghela napas panjang. Ia sangat tahu kemana arah pembicaraan Leo kali ini.
Sudah kuduga, ujung-ujungnya pasti bakal berakhir begini. Dasar suami nggak ada akhlak, batin Shena kesal.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1