
Kejadian yang menimpa Agne, sudah dilaporkan pada Leo oleh pengawalnya. Benar apa dugaan suami Shena itu, Agne terpaksa melenyapkan dirinya sendiri atas tekanan dari Byon dan Biyanca dengan menerjunkan diri ke dasar jurang. Tidak ada yang tahu kejadian itu selain orangtua Leo dan pengawalnya. Cara mafia yang dipakai keluarga Pyordova untuk menyingkirkan musuh-musuhnya memang terdengar mengerikan tapi sangat rapi sehingga terbebas dari jeratan hukum. Apalagi hilangnya Agne, tidak ada yang tahu. Jika tidak ada saksi mata, maka keluarga Pyordova tak bisa dihukum atas apa yang mereka lakukan walaupun itu untuk menghukum musuh-musuhnya.
Sementara orang-orang Agne yang sudah Leo bantai di vila juga telah dibereskan dengan rapi oleh pengawal-pengawal Leo sehingga tidak ada yang tahu menahu soal kejadian itu. Kini keluarga Leo sudah bisa tenang kembali setelah menyingkirkan semua musuh-musuh yang mencoba cari gara-gara dengan mereka. Justru kepolisian mungkin malah berterimakasih karena telah membantu mengurangi sampah masyarakat tang meresahkan banyak orang.
Disaat Leo berada di luar bersama dengan pengawalnya, ia melihat bibi Shena datang bersama dengan Yeon dalam gendongannya. Tentu saja Leo sudah bisa menebak apa yang terjadi setelah ini.
"Gawat, perang dunia keempat bakal terjadi setelah ini," gumam Leo pada dirinya sendiri.
"Ada yang bisa saya lakukan, Tuan?" tanya pengawal Leo.
"Tidak!" Jawa Leo tanpa menoleh kearah pengawalnya. "Pergilah dan tetap perketat penjagaan."
"Baik Tuan muda. Saya permisi!" Pengawal Leo itupun menundukkan kepala lalu pergi melakukan apa yang sudah diperintahkan Leo padanya.
"Dimana Shena, Leo? Apa yang terjadi padanya?" tanya bibi Egha dengan ekspresi cemas begitu ia sampai di depan ruangan Shena.
"Leo tidak langsung menjawab dan mengambil alih Yeon dari gendongan Egha ke dalam gendongannya.
"Sini ... ikut ayah dlu, Yeon!" ujar Leo sambil menggendong putranya yang menggemaskan itu. "Shena sudah baik-baik saja, jangan khawatir?" Leo tetap berdiri di depan pintu dan itu membuat Egha merasa aneh.
"Kenapa kau masih berdiri disitu? Kau menghalangi jalan!" cetus Egha.
"Bibi ... mau masuk?" tanya Leo sok polos.
"Tentu saja! Minggir dari pintu itu, kau menghalangi jalanku!" Egha menggeser paksa tubuh suami Shena supaya menyingkir dari pintu, tapi Leo tidak ingin bergeming dari tempatnya. "Apa yang kau lakukan? Minggir! Kenapa kau menghalangi pintu? Kau tak ingin aku bertemu dengan Shena kah?" Egha mulai kesal karena Leo tak mengizinkannya masuk ke dalam.
"Bukan begitu, Bi. Hanya saja
...."
__ADS_1
"Hanya saja apa?" Sela Egha. "Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian berdua sehingga Shena harus berakhir disini. Tadi dia bilang kalau ia ada urusan padahal ia baru saja datang tanpa beristirahat atau makan dulu. Begitu kau memberitahuku soal Shena, secepat kilat aku langsung datang kemari. Tapi kenapa kau tak membiarkanku menemui keponakanku?" Egha mulai berkaca-kaca. Sungguh ia khawatir kalau Shena kenapa-kenapa.
"Aduh, bagaimana menjelaskannya, ya Bi. Masalahanya di dalam ada ..." belum juga Leo menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam dan seseorang muncul dari balik pintu tersebut.
"Ada apa Leo? Kenapa ribut-ribut? Siapa yang datang?" tanya seseorang itu yang ternyata adalah Biyanca.
Betapa terkejutnya mertua Shena ketika melihat siapa wanita yang berdiri di hadapannya begitu pula sebaliknya. Dua wanita paruh baya itu saling menatap satu sama lain dengan ekspresi keterkejutan mereka masing-masing.
"Kau!" seru kedua wanita itu bersamaan.
Mata mereka beradu pandang dan saling melotot. Setelah beberapa dekade berlalu, kini akhirnya mereka dipertemukan kembali.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Biyanca agak sedikit tidak welcome. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau ia sangat tidak suka ada Egha di sini.
"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan di sini?" Egha balik bertanya. Padahal mereka berdua ini sama-sama sudah tahu apa yang membuat mereka berdua datang kemari.
"Huh, tentu saja untuk menjenguk menantu kesayanganku!" Biyanca masih memelototi Egha.
Biyanca tersenyum bangga pada Leo yang sudah mengira kalau ini memang akan terjadi bila ibunya bertemu dengan bibi Shena.
"Bagus dong! Shena sudah baik-baik saja! Sekarang pergilah!"
"Tidak! Aku harus memastikan sendiri kalau dia memang baik-baik saja! Apa hakmu mengusirku! Shena! Ini Bibi Sayang ... apa kau dengar aku?" seru Egha sambil melongokkan kepalanya untuk melihat Shena yang hanya bisa tepok jidat mendengar pertengkaran mertua dan bibinya. Sedangkan Byon masih tetap tenang ditempatnya dan malah bersibuk ria menjawab semua panggilan yang masuk ke ponselnya daripada mengurusi perdebatan emak-emak.
"Tidak bisa!" Biyanca tidak terima jika Egha menemui Shena.
"Aku bibinya! Aku berhak menemui Shena! Kau tak bisa menghalangi jalanku!" sengal Egha dengan kesal.
"Dan aku mertuanya yang sudah Shena anggap sebagai ibunya sendiri. Kau itu kan dulu jahat padanya? Kenapa sekarang sok perhatian begitu? Pergi kau!" usir Biyanca dengan marah.
__ADS_1
"Tidak! Sebelum Shena sendiri yang mengusirku, aku tidak akan pernah meninggalkan tempat ini." Egha juga bersikukuh untuk tetap di sini sampai ia bisa melihat Shena.
"Hedeuh ... perang dunia keempat telah dimulai," gumam Leo lirih dan tiba-tiba saja Yeon tertawa lucu menatap wajah tampan ayahnya.
Tawa Yeon yang terdengar menggemaskan itu seketika menghentikan perdebatan Biyanca dan Egha. Dua wanita itu langsung menoleh pada Yeon dengan mata berbinar-binar senang.
"Wah Yeon, kau bisa tertawa juga?" seru Biyanca dan Egha bersamaan. Dan lagi-lagi mereka saling pandang untuk menunjukkan api peperangan yang membara.
"Ini cucuku!" ujar Biyanca.
"Ini juga cucuku!" Egha tak mau kalah.
"Kau itu cuma bibinya!" tandas Biyanca lagi.
"Tapi aku juga keluarganya. Darah keluarga Bonscha juga ada dalam diri anak ini." yang dikatakan Egha benar.
"Kau pernah membuat hidup menantuku menderita! Jangan berlagak sok baik di sini!" Biyanca mulai mencari-cari kesalahan Egha.
"Kau sendiri juga bukan ibu mertua yang baik? Bagaimana bisa kau membiarkan Shena pergi dari rumahmu di tengah malam begitu? Mertua macam apa kau?" serang Egha. Ia tak boleh lemah dihadapan Biyanca walaupun nyatanya memang benar.
"Jangan seenaknya bicara kalau kau tidak tahu faktanya!" teriak Biyanca mulai marah.
"Kata-katamu itu juga berlaku untuk dirimu sendiri!"
Tak ada yang mau mengalah diantara perdebatan Biyanca dan Egha. Keduanya saling serang kejelekan mereka masing-masing sehingga semua orang yang berlalu lalang di depan pintu ruangan Shena memperhatikan mereka berdua. Sementara Leo, hanya melongo melihat dua wanita beradu mulut untuk hal yang tidak jelas.
"Hei kalian berdua, hentikan adu mulut kalian? Apa kalian tidak malu dilihat banyak orang?" Tanya Leo.
"Diam kau!" sengal Biyanca dan Egha bersamaan.
__ADS_1
BERSAMAAN
***