Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 279 Akhir


__ADS_3

Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata betapa shocknya sang Datuk karena terperangkap ke dalam jebakan seorang bocah ingusan seperti Leo. Para mafia lain yang membaca surat pernyataan itu juga tak bisa menyalahkan Leo atas tindakan ekstrim yang dilakukan suami Shena itu.


Secara teknis, riwayat hidup sang Datuk sudah berakhir. Ia tak punya hal apapun untuk menuntut pertanggungjawaban dari Leo. Sebaliknya, Datuk harus melakukan apa yang sudah tertulis dalam perjanjian yaitu menyerahkan semua deposit yang tersisa pada Leo.


“Kau tak punya pilihan lain lagi, Datuk. Berakhir sudah semuanya. Kau … harus melakukan apa yang sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang mafia, ” ujar salah satu mafia yang paling berpengaruh dalam pesta ini. Ia pun menghimbau yang lain untuk tak ikut campur lagi urusan Datuk dan Leo, sebab … mereka punya perjanjian hitam diatas putih.


“Harusnya kalian semua membelaku? Apa pentingnya selembar kertas itu? Sampai kalian tega membiarkanku mengalami kesulitan ini sendirian? Bocah tengik ini tak kenal dan tak punya siapa-siapa saja di sini! Harusnya kalian bisa melenyapkannya untukku? Kenapa kalian malah membelanya? Apa karena dia putra Byon? Dan kalian semua takut padanya?” tanya Datuk itu masih tak terima dan mencoba mencari keadilan.


Tentu saja Shena juga tak terima nama ayah mertuanya diungkit-ungkit. Ingin sekali ia membongkar bahwa Datuk sudah banyak melakukan pelanggaran kode etiknya sebagai mafia, tapi belum juga Shena buka suara, Leo menahannya untuk tetap diam dan tidak melakukan apa-apa.


“Tetap di sisiku, Sayang. Ini bukan ranah kita,” ujar Leo tapi pandangan matanya tetap waspada menatap sekelilingnya.


“Tapi … si tua bau tanah itu berani menyangkut pautkan hal ini dengan ayah! Dia benar-benar tidak punya malu!” geram Shena.


“Aku tahu, tapi percayalah … semua orang yang ada disini adalah mafia sejati. Mereka tahu apa yang harus dan tidak harus dilakukan.” Leo tersenyum untuk menenangkan amarah Shena.

__ADS_1


Sedangkan pemimpin mafia itu berjalan mendekat ke arah Datuk sambil menatap tajam manik matanya yang gemetar karena masih merasa shock dengan kehancurannya. “Ini bukan soal bocah itu anak Byon atau bukan. Peraturan, tetaplah peraturan,” tandas pria brewok itu. “Putra Byon ini … tidak melanggar peraturan seperti yang sudah kau lakukan. Jangan kau pikir aku tidak tahu … bahwa kau juga sempat menggoda istri-istri kami. Matamu yang jelalatan itu, telah mengantarmu pada kehancuranmu sendiri.


“Sudah lama kami semua menunggu kesempatan ini untuk melihat bagaimana orang sepertimu tak bisa berdiri tegak lagi. Jika saja Byon tak melarang kami untuk menyentuhmu, maka kami semua yang ada di sini … sudah membunuhmu sejak dulu. Sekarang aku baru paham, alasan Byon melarang kami waktu itu, mungkin dia tahu … kalau putranyalah yang akan menghancurkanmu menggantikan kami. Selamat menikmati, dan sampai jumpa!” pemimpin mafia itu langsung pergi meninggalkan aula bersama dengan seluruh anak buahnya tanpa peduli lagi pada wajah pucat pasi Datuk atas apa yang baru saja ia ungkapkan.


Hancur lebur sudah hidup Datuk, matanya terbelalak dan bahkan ia tak mampu bersuara. Ia bahkan tidak percaya, seorang Datuk Situroja yang terkenal kebal dan sangat kuat akan serangan musuh-musuhnya telah dengan mudah dikecoh oleh seorang gangster turunan mafia. Sungguh kehancuran yang hakiki dan paling menggemparkan dalam sejarah hidup seorang mafia.


“Wuah, jadi … ayah dan yang lainnya sudah tahu kelakuan bejat si Datuk ini?” girang Shena pada Leo. Suaminya itu hanya mengangguk senang sambil menikmati betapa wajah Datuk sudah mirip sekali dengan mayat hidup. Kalau saja napasnya tidak kembang kempis, sudah pasti semua orang bakal mengira kalau datuk ini bukan manusia, melainkan zombi.


Ternyata, hanya dengan selembar kertas hidup Datuk sudah habis tak bersisa. Ia tak lagi punya apa-apa dan itu semua sudah direncanakan Leo setelah ia tahu apa yang terjadi pada putranya dan Yuna.


Alasan mengapa Leo dan Shena selalu membuat emosi mafia tua itu adalah untuk mengalihkan perhatiannya agar ia tak curiga pada selembar kertas pernyataan penghancuran diri sang Datuk saat si kakek tua itu menandatangani berkas-berkasnya. Usaha pasangan suami istri somplak itupun berhasil. Datuk terkecoh dan ia terjebak dalam perangkap Leo yang otaknya memang sudah diatas rata-rata. Selain jago berkelahi dan menembak, ia juga jago memainkan strategi ketika berhadapan dengan musuh-musuh Leo.


Jantung sang Datukpun mulai berhenti berdetak dan ia mengalami kejang-kejang karena tak kuat menghadapi kenyataan hidupnya yang miris dan dramatis ini. Hanya dalam hitungan detik, Datuk sudah tak punya apa-apa. taka da yang tersisa dihidupnya selain penyesalan atas sikapnya yang buruk selama ia menjadi penguasa. Untunglah, para pengawalnya masih punya hati nurani dan sigap menangkap tubuh sang Datuk sebelum jatuh menyentuh lantai. Mereka semua segera membawanya ke rumah sakit agar segera mendapat perawatan.


Sudah tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh seorang Datuk Situroja karena surat pernyataan itu, benar-benar telah membunuhnya. Ia terperangkap oleh lubang yang ia gali sendiri. Dan berakhirlah sudah nasib seorang mafia tua bernama Datuk Situroja yang sekarang sudah tidak punya apa-apa. Sampai kapanpun, ia takkan bisa menuntut apapun dari Leo atas kehancuran hidupnya karena surat perjanjian itu telah diketahui oleh seluruh mafia yang ada di seluruh penjuru dunia.

__ADS_1


“Ayo kita pergi Sayang, kita cari mi ayam kesukaanmu,” bisik Leo mesra di telinga Shena setelah semua orang pergi meninggalkan ruang pesta. Ia merangkul bahu istrinya dan berjalan keluar meninggalkan gedung megah diiringi oleh seluruh pengawal Leo dan Shena.


Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut para tamu undangan yang menyaksikan perang dingin antar Leo dan Datuk Situroja dimana Leolah yang keluar sebagai pemenangnya. Leo masih muda dan tampan, tapi ia bisa mengalahkan siapa saja yang dianggap mengganggu ketenangan hidupnya. Entah Leo sadar atau tidak, ia telah mendapat tempat tersendiri di hati para mafia kelas kakap lainnya.


Buah, memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Hanya itulah yang bisa mereka ucapkan saat bertemu dengan putra tunggal Byon Pyordova, yaitu Leopard Bay Pyordova.


Dari kejauhan, seorang pria berdiri tegap sambil tersenyum melihat kepergian pasangan sejoli begitu mereka meninggalkan gedung. Pria itu terlihat senang melihat betapa romantisnya Leo dan Shena ketika mereka berdua bersama.


“Kenapa Paman tidak menemui mereka?” tanya Refald yang berdiri dibalik punggung pria berbadan tegap itu.


“Aku hanya ingin melihat perkembangan putraku yang kini kuakui, ia telah jauh melampauiku. Kini ia sudah membuktikan padaku bahwa tanpa menggunakan namaku dibelakang namanya. Adikmu, sudah memiliki tempat tersendiri di dunia mafia. Dengan begini, jika suatu hari aku pergi, maka aku bisa pergi dengan tenang tanpa perlu mengkhawatirkan mereka,” ujar seseorang itu yang tak lain adalah Byon.


“Kau tenang saja, Paman. Umurmu masih panjang. Lea bilang, jika besar nanti, ia ingin tinggal dengan kakek dan neneknya di Jerman. Kau harus tetap jaga kesehatan sampai hari itu tiba. Kau juga harus menyaksikan perkembangan cucu-cucumu yang luar biasa. Tugasku di sini sudah selesai. Aku harus kembali ke Swiss bersama dengan keluargaku.”


“Terimakasih, Refald. Seperti biasa, kau selalu bisa diandalkan.” Byon menepuk pelan bahu Refald dan keduanya meninggalkan area ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2