
Sebuah layar tancap tiba-tiba saja diturunkan. Beberapa anak buah Leo bersiap memutarkan video kejutan untuk para cacing-cacing yang haus akan kekuasaan ini sehingga mereka tega berbuat keji membunuh pewaris tunggal yang tak lain adalah putra rekan kerjanya sendiri.
Tak ada yang bisa dilakukan orang-orang penghuni pesta ini selain diam dan menyaksikan apa yang akan dilakukan Leo dan anak buahnya terhadap mereka. Namun, orang-orang ini bukanlah musuh yang mudah diremehkan. Mereka sangat kuat dan punya jaringan koneksi yang luas, bahkan hukumpun tak kuasa menghadapi orang-orang laknaat ini. Sebab itulah Leo tak ingin melibatkan polisi manapun saat ia memulai eksekusi. Sebagai gantinya, ia akan menghukum orang-orang ini dengan caranya sendiri atas apa yang sudah mereka lakukan.
"Apa yang ingin kau tunjukkan? Konsermu yang menjijikkan itu?" Tanya Ben meledek Leo disertai tawa rekan-rekannya. "Tuan muda sepertimu sama sekali tidak pantas memimpin perusahaan. Kau cuma bisa bermain-main dengan wanitamu bahkan gengster sepertimu melakukan hal yang tidak pantas untuk dilakukan. Apa yang kau banggakan? Kami semualah yang lebih pantas menjadi pemilik perusahaan yang sudah susah payah kami bangun bersama dengan ayahmu dan kau menghancurkan semua itu dengan konsermu yang memalukan? Tidakkah kau berpikir kalau kau tidak pantas mendapatkan semua ini?" Pria tua yang bernama Ben itu mulai mengutarakan pemikirannya tentang Leo yang masih ia anggap sebagai anak ingusan.
Leo memberi kode pada anak buahnya untuk menunda dulu pemutaran videonya. Ia agak tersinggung dengan apa yang dikatakan petinggi perusahaan sekaligus sahabat ayahnya ini, sebab yang Bento katakan benar-benar membuat Leo hampir kehabisan kesabaran.
"Heh, pak Tua Hoka-Hoka Bento. Pikirmu ... kenapa sampai detik ini kau dan semua bonekamu masih kubiarkan hidup hingga sekarang. Itu karena aku tak ingin kau mati dengan mudah. Selain itu aku masih menghormatimu sebagai rekan bisnis ayahku. Namun, yang kau lakukan itu sudah diluar batas kesabaranku, karena itulah aku berniat menunjukkan padamu sebuah kematian paling mengerikan dan mengenaskan yang tak pernah kau bayangkan seumur hidupmu.
"Apa kau tidak tahu? Kesukaan seorang pria, pasti dibelakangnya ada seorang wanita yang hebat. Ayahku bisa sampai sekarang, karena ada ibuku di sisinya. Aku bisa jadi seperti ini karena aku memiliki Shena. Sedangkan kau? Huh, kau saja tak bisa mencintai dirimu sendiri, bagaimana bisa kau mencintai orang lain? Sebab itulah Istrimu pergi meninggalkanmu? Wanita mana yang betah hidup dengan orang sepertimu?" Ganti Leo yang membuat Pria yang bernama Ben itu naik pitam.
"Beraninya kau ...."
"Kau tak tahu apa artinya cinta jadi kau tak berhak menghakimiku atas apa yang kulakukan demi wanita yang ku cintai." Leo memotong ucapan Bento. "Jangankan cuma konser, jantung dan hatiku pasti akan kuberikan jika Shena yang memintanya. Karena aku sangat mencintainya. Gelar gengster dan segala hal yang kupunya, tidak ada apa-apanya tanpa Shena disisiku."
Roy terbengong-bengong melihat Leo bersikap sok romantis dengan berbicara tentang cinta dihadapan musuh-musuhnya. Sungguh ini nggak nyambung sama sekali. Apa hubungannya kisah percintaan Leo dengan orang-orang yang hendak membunuhnya?
"Oey, bodoh. Kenapa kau menceramahi mereka dengan kata-kata cinta yang bikin aku muntah, ha? Kau pikir musuhmu itu para musafir cinta yang butuh pengertian tentang cinta apa? Bengek kau!" Bisik Roy di telinga Leo.
__ADS_1
"Diam kau! Jangan ikut campur!" Balas Leo, tapi matanya tetap tertuju pada semua orang yang menatapnya dengan tatapan aneh dan sulit untuk dijelaskan.
Semua orang saling pandang mendengar ocehan Leo yang bikin puyeng kepala itu. Namun, bukan saatnya meladeni ocehan Leo yang sudah seperti sang pujangga cinta. Sebaliknya, mata mereka tertuju pada layar tancap yang sudah dipasang anak buah Leo sejak tadi.
"Sebenarnya, video apa yang ingin anda perlihatkan pada kami, tuan muda Leo? Apakah benar itu video konser anda?" tanya Mike, si kaki tangan Bento.
"Aku sama sekali tak kepikiran bakal memperlihatkan bagaimana konserku kepada kalian. Sebab, aku khawatir kalian akan terpesona dengan performaku dan beralih jadi fans fanatikku." Leo benar-benar membuat kesal orang-orang itu dengan bersikap narsis yang berlebihan. Bahkan Roy pun bergidik ngeri melihat Leo yang sok narsis itu.
"Dasar nggak waras!" gumam Roy lirih. Ia berdiri agak menjauh dari Leo agar tidak ketularan gila.
Leo menatap puas wajah-wajah aneh didepannya sembari memberi kode pada anak buah Leo supaya segera memutar videonya. "Lakukan sekarang," ujar Leo melalui headset yang terpasang ditelinganya.
Rupanya video itu berisi tentang bagaimana proses pembunuhan Leo dilakukan. Dimulai dari penembakan Leo saat ia dan Shena ada di taman Tokyo tower, percobaan pembunuhan saat Leo ada di ruang VVIP nya. Dan yang terakhir, percobaan pembunuhan terhadap istri Leo, yaitu Shena.
Sayangnya, usaha yang mereka lakukan itu tidak membuahkan hasil apapun. Leo dan Shena yang dikabarkan tiada. Ternyata baik-baik saja dan tak mengalami luka sedikitpun. Sebaliknya, dalam video yang diputar itu, memperlihatkan bahwa pembunuhan terhadap Leo dan Shena telah berhasil dilakukan.
Dan di akhir video itu juga memperlihatkan pesta fora para orang-orang yang merayakan kematian Leo dan wajah mereka terpampang jelas satu persatu. Tak hanya itu saja, selain pesta, rasanya tak lengkap bila tidak ada wanita. Para petinggi dan pemegang saham yang terlibat konspirasi kudeta, menghadirkan beberapa wanita penghibur untuk menghibur mereka semua dengan aksi yang tak pantas untuk diperlihatkan di depan umum.
"Apa itu?" teriak semua orang saat adegan vulgar mereka bersama para wanita penghibur terekam dalam video itu.
__ADS_1
"Itu adalah adegan yang diambil saat kelian semua menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuhku. Kejadiannya baru kemarin loh. Aku harap kalian tidak lupa." Leo bantu mengingatkan.
Semua orang langsung heboh sendiri. Keringat dingin mulai membasahi mereka lagi. Dengan adanya video itu, mereka tidak bisa mengelak atas apa yang dituduhkan Leo pada mereka. Namun, meskipun Leo membawa bukti video itu ke jalur hukum, itu sama sekali tidak berpengaruh pada mereka. Sebab semua orang yang ada disini telah kebal dengan hukum.
"Apa tujuanmu memperlihatkan video itu? Kau tahu sendiri, takkan ada yang bisa memenjarakan kami meskipun kau menyerahkan bukti video itu ke polisi." Bento tersenyum puas karena ia merasa menang telak tanpa perlu bertindak.
Leo tersenyum kecut menanggapi apa yang dikatakan si pak tua hoka-hoka Bento. "Huh, siapa yang akan memberikan video itu ke polisi. Jika itu kulakukan, untuk apa aku repot-repot datang kemari dan mengepung kalian semua disini. Itu sangat membuang-buang waktuku yang berharga. Tapi ... seperti yang sudah kukatakan dari awal, aku ... akan memberikan kematian paling mengerikan yang tidak akan pernah bisa kalian bayangkan sebelumnya." Leo mulai bersikap serius lagi. Ia menatap wajah-wajah pucat orang-orang yang ada dihadapannya satu persatu. "Kenapa? Kalian mulai takut? Penderitaan kalian bahkan belum dimulai tapi kalian sudah gemetaran seperti itu," ledek Leo.
"Kami tidak takut!" teriak Ben dan bersamaan dengan itu, pasukan tersembunyi Bento datang dan mulai menyerang Leo beserta seluruh pasukannya dari segala penjuru arah.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan, mulai terdengar menggema dimana-mana. Semua orang jadi berhamburan mencari tempat perlindungan. Seluruh pasukan Leo yang sudah siap siaga juga membalas tembakan musuh mereka. Adegan baku tembakpun dimulai.
"Akhirnya," ujar Leo tenang sambil berlari mencari tempat persembunyian yang aman untuk menghindari tembakan senapan musuh-musuhnya.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1