
Tubuh Shena serasa lemas. Kejadian ini mengingatkannya saat Leo memaksanya menjadi kekasihnya dengan menggunakan Laura. Namun, sekarang pria tak dikenalnya ini menggunakan Leo untuk membuatnya menerima permintaan orang gila yang sampai saat ini masih diyakini Shena sebagai orang suruhan Leo.
Apa yang harus aku lakukan, Leo? Haruskah aku ikuti permainanmu? Jerit Shena dalam hati sambil mengamati tubuh suaminya.
Entah Leo itu beneran sekarat sungguhan atau hanya pura-pura, Shena bingung membedakannya karena terlalu sering dijahili oleh Leo sendiri. Pandangan matanya tak pernah lepas dari Leo.
"Putuskan sekarang atau kau akan kehilangan Leo selamanya. Dan juga sahabatmu, " ujar pria itu dengan suara basnya.
"Apa maksudmu?" tanya Shena dengan amarah yang memuncak.
"Lihat sebelah kirimu." Orang itu menunjuk arah kiri Shena.
Diujung loteng sebelah kiri tempat Shena berada, sedang berdiri seorang wanita berambut panjang, matanya ditutup dan tangan diikat dibelakang. Kedua telinganya dipasang earphone dan sepertinya wanita itu sedang mendengarkan lagu yang diputar.
"Itu Laura, sahabatmu." Pria itu bantu menjelaskan. "Ia takkan bisa mendengar suaramu kecuali lagu yang ia dengarkan. Aku hanya akan menyuruh rekanku untuk mendorong tubuh gadis itu dan ... boom ... dia akan terjatuh! Kau mau aku menyuruh rekanku mendorongnya sekarang?"
"Apa kau sudah tidak waras?" Teriak Shena menggelegar. Kali ini ia tidak peduli jika harus mati tertembak. Jadi, Shena memaksakan diri berbalik badan ke belakang untuk melihat siapakah orang yang sudah berbuat hina seperti ini.
Shena terkejut karena ia sungguh tak bisa mengenali orang itu. Dia memakai masker dan topi hitam. Wajahnya sama sekali tak terlihat. "Kau itu siapa, sih? Apa yang kau inginkan?" Teriak Shena lagi.
"Aku hanya ingin kau menikah denganku. Bersiaplah dari sekarang. Aku akan menunggumu di bawah!"
"Aku tidak mau! Meskipun aku harus mati, aku tidak akan pernah menikah dengan orang sepertimu. Siapapun kau! Jangan harap bisa menggantikan Leo!"
"Baik, sepertinya kau terlalu menganggap remeh aku." Orang itu memanggil pengawalnya.
Tak berselang lama, dua orang berbaju serba hitam datang lalu berdiri disamping kanan dan kiri orang itu untuk menunggu perintah. Shena sama sekali tak mengenal wajah-wajah pengawal itu. Mereka bukan anak buah Leo.
"Lempar orang sekarat itu," perintah pria yang berdiri di hadapan Shena dan seketika, tubuh Shena langsung terbujur kaku.
"Siap, Bos!" Jawab dua pengawal itu bersamaan.
"Tidak!" Shena mencoba menghalangi langkah pengawal itu agar tidak mendekati tubuh Leo yang tergeletak di lantai.
"Apa yang kau lakukan? Berhenti! Jangan sentuh Suamiku!" Teriak Shena sambil menangis.
"Sebentar lagi kau tidak punya suami," sahut pria itu.
"Hentikan mereka. Jangan lukai Leo lagi," isak Shena mulai panik.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita menikah. Begitu kau jawab iya, maka mereka akan membantu calon mantan suamimu itu pergi kerumah sakit untuk mendapat perawatan. Aku hitung sampai tiga! Satu ... dua ... ti-,"
"Baik," ujar Shena lirih sambil menangis tersedu-sedu.
"Kau bilang apa? Aku tidak dengar!"
"Baik ... aku ... akan ... menikah ...." Shena sudah tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia jatuh terkulai di tanah dan menangis sejadi-jadinya. Dalam hati ia menjerit dan terus memanggil nama Leo, berharap Leo sadar dan menolongnya keluar dalam situasi aneh ini.
"Bagus, sekarang ayo kita pergi. Kita akan menikah sekarang."
"Kenapa ... tidak tunggu ... beberapa hari lagi," isak Shena.
Mati-matian Shena mencoba agar tidak menangis. Ia berharap jika pernikahannya di tunda, siapa tahu Leo sudah sadar dan membantunya keluar dari jeratan orang asing ini.
"Kalau ditunda, suamimu keburu pulih dan mengacaukan pernikahan kita. Aku sudah menyiapkan gaun untukmu. Ayo pergi." Orang itu hendak meraih tangan Shena tapi langsung ditepis kasar oleh Shena.
"Jangan sentuh aku! Meskipun aku tak punya tenaga lagi, aku masih bisa jalan sendiri." Shena berusaha kuat dan bangun.
Dengan gontai, ia berjalan terlebih dulu sambil melihat Leo yang sedang diperiksa keadaannya oleh dua pengawal orang gila ini. Sedangkan Laura, sudah dibawa pergi. Shena baru sadar kalau mulut sahabatnya ditutup dengan lakban, makanya ia tidak bisa bersuara.
"Ayo cepat jalan!" seru orang itu menutupi tubuh Leo dari pandangan mata Shena.
Ini hanya mimpi. Ini tidak nyata. Mana mungkin aku menikah dengan orang asing gila itu? Ini pasti cuma mimpi, batin Shena meyakinkan dirinya sendiri.
***
Beberapa jam berlalu, Shena sedang dirias di meja rias dan menggunakan gaun pengantin yang memang sudah disiapkan seperti yang dibilang oleh pria gila itu. Wajah Shena sembab karena kebanyakan menangis. Sang perias jadi bingung karena harus berkali-kali mengulang memoles make up karena setiap habis di make up riasannya jadi rusak karena air mata Shena tak bisa berhenti mengalir.
"Nyonya, berhentilah menangis, kami kesulitan merias wajahmu. Bos pasti marah besar jika kita tidak lekas keluar dari ruangan ini." Perias Shena mulai protes. Sebab ia juga lelah karena daritadi tak selesai-selesai merias wajah cantik Shena.
"Bodo amat, siapa yang peduli dengan riasanku!" isak Shena. Dan untuk kesekian kalinya, riasan Shena berantakan lagi.
Perias Shena langsung menyerah. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana.
"Aku mau ke toilet," ujar Shena tiba-tiba.
"Hah? Pakai gaun begini mana bisa ke toilet. Kita harus bergegas keluar."
"Aku sudah tidak tahan, masa kau ingin aku ngompol disini?" cetus Shena marah.
__ADS_1
"Astaga!" perias itu menepuk jidatnya sendiri.
Wanita berbadan gempal itu memanggil rekan-rekannya untuk membantu Shena membawakan gaunnya ke toilet.
Dengan wajah jutek, Shena pergi ke kamar mandi dan dikawal pasukan ketat. Sebenarnya, Shena hanya ingin mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menyerang orang gila itu begitu ada kesempatan, setelah itu ia merencanakan kabur dari tempat ini dan menyelamatkan suaminya.
Mata Shena tertuju pada sikat gigi yang entah milik siapa itu, terpajang rapi didinding kamar mandi. Shena bergegas menyembunyikan sikat itu dibalik gaunnya yang kelewat lebar dan panjang.
"Apa sudah selesai?" tanya perias Shena yang langsung membuka pintu kamar mandi. Untung saja Shena sudah selesai menyembunyikan sikat gigi yang bakal ia jadikan sebagai senjata untuk menyerang pria asing itu.
Belum juga Shena menjawab pertanyaan periasnya, terdengar derap langkah seseorang sedang menaiki tangga menuju keruangan ini. Itu adalah suara kaki pria berbaju hitam dan memakai masker yang tak lain adalah orang yang memaksa Shena untuk menikah dengannya.
"Sedang apa kalian disini?" tanya orang itu.
"Kami hanya mengantar nona Shena ke toilet yang lebih besar dibandingkan toilet yang ada dikamar rias, Bos." wanita berbadan gempal menjelaskan.
"Ini kan kamar pengantin? Tak seharusnya kalian masuk ke kamar ini tanpa izin dariku!" seru pria itu marah.
"Tapi ...."
"Keluar dari sini! Cepat!" teriak orang yang dipanggil 'Bos' dengan lantang.
"Baik, Bos!" ujar perias dan beberapa rekannya bersamaan. Mereka semua keluar berbarengan karena tak ingin kena amuk bosnya.
Shena yang sejak tadi menunduk, ikutan pergi keluar tapi lengannya di tarik paksa oleh pria yang akan menjadi suami kedua Shena.
"Kau mau kemana?" tanya pria itu.
Shena menepis kasar cekalan tangan orang yang tak ia kenal itu sambil berkata, "Keluar dari sini. Sudah kubilang, jangan coba-coba menyentuhku."
Shena menatap pria bermasker itu dengan tatapan mata tajam. Tak disangka, pria itu malah tertawa berbahak-bahak sampai sebuah alat pita suara yang ada dimulut pria itu keluar dan jatuh ke tanah. Suara tawa pria asing yang tadinya ngebas, kini berubah jadi suara tawa seseorang yang sangat ia kenal.
Shena terkejut dan buru-buru ia membuka paksa masker yang dipakai orang itu. "Leo!" teriak Shena hingga matanya melotot seolah ingin keluar.
"Ups, hai Sayang." Leo cekikikan tanpa merasa bersalah sedikitpun.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1