
Shena dan Leo saling pandang, ia sendiri juga tidak tahu penjelasan apa yang harus mereka berikan, tak hanya kepada Yeon, tapi juga pada Bima dan juga Lea. Ketiga putra putrinya ini memang penasaran akan sosok gadis asing yang datang bersama dengan kedua orangtua mereka.
“Dia gadis kecil yang baik, untuk sementara … dia akan tinggal bersama kita sampai ayahmu menyelesaikan urusannya,” terang Shena dengan suara lemah lembut.
“Apa?” pekik Lea agak terkejut. Putri bungsu Leo ini tak terbiasa hidup dengan orang asing yang tidak dikenalnya.
“Ibu? tidakkah Ibu keterlaluan? Kami baru saja tiba di sini dan Ibu sudah membawa orang asing kemari? Ibu tidak sayang kami!” Lea yang masih kecil dan belum begitu mengerti salah paham akan maksud ucapan Shena. Ia mengira Shena akan membagi kasih sayangnya dengan anak asing itu dan mengabaikan dirinya.
“Lea, bukan seperti itu, Ibu menyayangimu lebih dari nyawa ibu sendiri. Anak itu butuh bantuan kita, sebagai sesama, kita harus membantunya. Kasih sayang ibu takkan berkurang padamu Sayang. Kau adalah putri kesayanganku, dan Ibu menyayangimu. Kau juga harus baik padanya oke, kasihan dia … dia tak punya apa yang kau punya terutama kasih sayang orang tua.” Shena mencoba memberi penjelasan pada Lea supaya mengerti.
“Tapi, Ibu …”
“Lea …” ujar Leo cepat. Ia tidak ingin rengekan Lea membuat Shena jadi tertekan. “Kami berdua menyayangimu, kau akan mengerti kebaikan hati ibumu suatu hari nanti. Jika kau ingin ibumu sembuh dan tidak sakit lagi, tetaplah mengerti apa yang terjadi dalam situasi ini, Sayang. Kalian bertiga baru saja datang. Istirahatlah di kamar dulu, nanti kita bicara lagi. Ayah dan ibu akan buatkan makanan kesukaan kalian bertiga.” Leo mengusap lembut kepala anak-anaknya. “Yeon, ajak adik-adikmu ke kamar,” pinta Leo pada putra sulungnya.
“Baik Ayah,” ujar Yeon, tapi matanya melirik tajam Yuna yang sudah tidak menangis lagi. Iapun mengajak adik-adiknya pergi. “Ayo Bim, Lea. Ikut aku …” mata Yeon beralih menatap dua adiknya seolah memberi kode, ada yang harus ia bicarakan pada adik-adiknya.
Melihat tatapan mata kakaknya, Bima dan Lea akhirnya menurut. Ketiga anak-anak menggemaskan itupun pergi berlalu begitu saja meninggalkan Leo dan Shena.
“Apa kau bak-baik saja, Sayang?” tanya Leo penuh perhatian pada Shena. Matanya tak pernah berhenti menatap ketiga anak-anaknya yang sudah mulai hilang ditikungan.
“Tidak apa-apa,” jawab Shena lirih meskipun ada sesuatu yang membuat Shena merasa tidak enak hati melihat sikap Lea yang tak percaya akan betapa sayangnya ia padanya.
__ADS_1
“Yuna, kau juga harus istirahat. Mungkin suasana di sini masih belum bisa membuatmu nyaman, tapi aku harap kau bisa memahami kami. Aku akan segera menyelesaikan masalahmu supaya kau bisa hidup lebih tenang tanpa takut diganggu oleh siapapun. Untuk sementara, kau tinggal di sini. Bibi pengasuh akan menjagamu dan memenuhi semua kebutuhan yang kau inginkan.” Leo meminta pengawalnya untuk segera membawa Lea ke dalam.
Gadis itu masih belum bisa berkata apa-apa. Ia memang mirip Yuca, sebuah bunga yang hanya mekar 1000 tahun lamanya. Dan gadis kecil itu, sama sekali tak bereaksi apa-apa.
“Kasihan sekali Yuca, diusianya yang masih belia, ia harus menanggung beban hidup seberat ini. Bahkan tidak ada senyum diwajahnya.” Shena mulai buka suara setelah semua oang meninggalkan dirinya dan Leo hanya berdua saja.
“Dia mengingatkanku akan kehidupan seseorang,” ujar Leo sambil menatap tajam Shena.
“Apa … orang itu … adalah aku?” tebak Shena.
Jawaban Shena langsung membuat Leo memicingkan mata. “Bagaimana kau tahu? Apa kau mengingat sesuatu lagi?” Leo malah balik bertanya.
“Tidak, hanya saja aku merasa … ada kesamaan diriku dengan Yuna. Tapi aku tidak tahu apa itu. Aku pernah melihatnya mencuci dan menjemur pakaian waktu itu. Rumahnya ada disekitar sini.” Shena memberitahu perihal pertemuan pertamanya dengan Yuna kala itu.
“Kau tenang saja Sayang. Suatu hari nanti, anak itu akan mendapatkan kebahagiaan sama seperti yang kau dapatkan sekarang, yaitu hidup bahagia bersamaku. Dia akan mendapatkan pangeran yang akan melindunginya nanti. Kita berdoa saja untuknya." Leo tersenyum menatap Shena dan mengajaknya masuk ke dalam bersama-sama. Sambil bermesraan, mereka berdua menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangan anak-anak mereka.
***
Sementara di dalam kamar, Yeon mendengar cerocosan adiknya yang agak tidak suka dengan keberadaan Yuna di rumah ini. Si bungsu Lea terus mondar mandir kesana kemari sambil ngedumel dan marah-marah sendiri.
“Aku tidak habis pikir? Ada apa dengan ibu? Kenapa seenaknya saja bawa orang asing kemari? Dan kakak lihat wajah gadis itu? Aneh sekali, kan?” gerutu Lea sambil memanyunkan mulutnya.
__ADS_1
“Setidaknya ibu terlihat lebih baik dari yang di rumah sakit itu,” ujar Bima. “Aku juga tidak suka kalau ada anak lain yang menjadi perhatian ibu, tapi sepertinya yang dikatakan ibu memang benar, anak itu butuh bantuan orangtua kita? Aku pernah dengar dari bibi Laura, kalau ibu kita itu adalah malaikat tak bersayap yang suka sekali membantu semua orang yang membutuhkan bantuannya. Bahkan kerena sifat ibu yang seperti itulah ayah bisa mendapatkan ibu!” Bima terlihat sangat bangga membicarakan kebaikan hati ibunya sendiri.
“Oh iya? Memangnya bibi Laura bilang apa?” tanya Lea.
“Ehm … kalau tidak salah dulu dia bilang, ibu takkan bisa menolak cinta ayah demi melindungi teman-teman sekelasnya termasuk bibi Laura sendiri. Kira-kira itu maksudnya apa, ya?” tanya Bima bingung.
“Artinya, ayah mengancam ibu, jika sampai ibu menolak cinta ayah, maka teman-teman ibu bisa dalam bahaya,” terang Yeon yang sejak tadi hanya diam mendengar obrolan adik-adiknya. Ucapan putra sulung Leo ini memang tidak salah dan sesuai fakta.
“Hah? Apa maksudnya? Katanya cinta, kok dipaksa!” tanya Lea dan Bima dengan pertanyaan yang hampir sama.
“Huh, anak-anak seusia kalian mana mengerti arti cinta, jangan sok bersikap dewasa sebelum waktunya.” Yeon tidak sadar kalau kata-kata itu ajuh lebih pantas ditujukan untuk dirinya sendiri ketimbang pada adik-adiknya.
“Dasar tak sadar diri, yang bersikap sok dewasa di sini itu kau! Bukan kami!” sengal Bima dan ia lebih memilih tidur diatas ranjangnya.
“Dan kau Lea,” ujar Yeon pada adik bungsunya. “Berhenti menggerutu tidak jelas! Kau hanya iri saja. Padahal ibu sudah bilang, kalau ia hanya menyayangi kita. Apa kau tidak percaya pada ibumu sendiri?
Lea tak bisa menjawab, kakaknya itu sungguh membuat Lea tak bisa berkata-kata lagi. Hari ini ia malas berdebat dengan siapapun karena moodnya sedang buruk.
“Aku mau ke kamarku saja, aku semakin bingung kalau kak Yeon sudah mulai bicara.” Lea langsung nyelonong keluar untuk pergi kekamarnya sendiri sebelum mendapat wejangan panjang lebar dari Yeon. Sebab, Yeon ini sebelas dua belas dengan Refald.
Begitu Lea pergi, Yeon pun juga ikutan pergi meninggalkan Bima sendirian di dalam kamar. Sepertinya Bima tidak sadar kalau ia sedang sendirian karena ia langsung terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal.
__ADS_1
BERSAMBUNG
****