
Keesokan paginya, seluruh keluarga besar Leo dan Shena sarapan bersama diruang makan yang luas. Yuna dan juga ketiga anak Leo hadir dalam satu meja. Hanya saja, suasananya sedikit canggung dari biasanya. Hening dan tidak ada suara apapun kecuali bunyi sendok yang beradu dengan garpu. Bima dan Lea saling pandang dan saling senggol-senggolan kaki. Entah apa yang sedang mereka perebutkan. Kedua anak Leo itu tidak bisa diam daritadi.
Sementara Yeon, bersikap sok cuek pada keributan nggak jelas yang diciptakan oleh kedua adik-adiknya. Sesekali, Yeon mencuri pandang ke arah Yuna yang sedang menikmati sarapannya tanpa menoleh pada sekeliling. Sepertinya ada banyak sekali hal yang ia pikirkan tapi sengaja tidak ia ungkapkan.
Kalau sang kepala keluarga berserta istrinya, jangan ditanya lagi. Leo dan Shena sama-sama saling mengamati gerak gerik anak-anak mereka. Perhatian Shena terpusat pada Yeon dan Yuna. Sementara Leo, mengamati tingkah lucu Lea dan Bima.
Bukan Leo namanya kalau ia tak membuat Shena kesal. Disaat makan bersama saja, Leo masih bisa genjen pada Shena. Entah suaminya itu dapat ilmu keganjenan darimana, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Leo melepas sandal mewahnya dan mencoba menggoda Shena dengan mengelus pelan betis istrinya menggunakan jempol kaki.
Tentu saja aksi ganitnya itu ia lakukan tanpa sepengetahuan anak-anak mereka kecuali bila mereka duduk di bawah meja. Shena yang geram akan ulah genit suaminya jadi emosi juga. Semalaman sudah digempur habis-habisan oleh Leo dan sekarang masih saja kurang.
Dengan kasar, Shena menendang keras kaki suaminya yang mencoba menggodanya sekuat-kuatnya hingga Leo jatuh terjerembab ke bawah meja tanpa sebab. Kepalanya bahkan sampai terantuk meja sehingga meja makan jadi begetar hebat dan mengagetkan keempat anak yang makan bersamanya.
“Ada apa, Ayah? Kenapa ayah bisa jatuh? Ada gempa, kah?” tanya Bima sok polos. Matanya tertuju ada Leo yang mencoba membenahi posisinya sambil meringis-ringismenhan sakit dikakinya.
“Lebih dari itu, Bim. Ayah diserang torpedo yang sangat kuat … auch,” Rintih Leo karena tulang kakinya serasa amat sakit akibat tendangan maut Shena. Tentu saja penjelasan Leo yang ambigu itu tak dapat dimengerti oleh Bima ataupun yang lainnya.
“Rasakan, makanya jangan ganjen! Duduk diam, napa?” gumam Shena sambil tersenyum senang melihat suaminya yang melirik tajam kearahnya.
“Ayah kenapa?” bisik Lea pada Bima.
“Entahlah, tanyakan sendiri saja padanya.” Bima kembali menikmati sarapan tertundanya akibat guncangan yang sempat melanda.
“Eh kak, berikan ini padanya?” pinta Lea pada Bima sambil memberikan kotak kecil berbalut pita warna pink.
“Kau saja yang berikan!” desak Bima pada Lea.
__ADS_1
“Tidak, kau saja, kau kan lebih tua dariku,” bisik Lea pada kakaknya.
“Tapi kan kau yang jutek padanya? Sana pergi! Berikan sendiri!”
“Aku tidak berani,” aku Lea menatap tajam Yuna yang tetap tenang menikmati sarapannya dalam diam.
Lebih tepatnya, Yuna sedang melamun. Raganya memang ada di sini, tapi hati dan pikirannya entah ada di mana.
“Kau tinggal berikan saja, jika tidak … kak Yeon akan sangat marah padamu,” ujar Bima menakut-nakuti Lea. Mendengar ucapan kakaknya yang satu itu, si kecil Lea langsung turun dari meja kursinya dan berjalan mendekat ke arah Yuna lalu memberikan kotak kecil itu padanya.
“Ini untukmu, maafkan aku karena kemarin aku bersikap kasar padamu, dan juga terimakasih … karena sudah mau menyelamatkan kakakku,” ujar Lea malu-malu dengan wajah polosnya yang menggemaskan.
Shena yang melihat betapa manisnya putri kecilnya jadi terharu. Akhirnya Lea, bisa juga melihat kebaikan hati Yuna.
“Tapi … kau mau terima hadiah ini, kan?” tanya Lea penuh harap.
“Baik tuan putri, aku terima, tersenyumlah dan jangan sedih begitu.” Yuna menerima hadiah pemberian Lea. Lea yang terlihat senang langsung berlari kepelukan ibunya.
“Kau hebat sekali, Sayang. Ini baru putri kecilku yang paling lucu.” Shena menggendong Lea kecil ke dalam pangkuannya sambil terus menciumi kedua pipi mungil putrinya.
Yuna sangat senang melihat wajah bahagia Shena saat menggendong Lea. Ada senyum di sudut bibir Yuna melihat betapa harmonisnya keluarga ini. Tak dapat dipungkiri lagi, dalam hati Yuna, ia juga menginginkan keluarga yang seperti ini. Sebuah keluarga yang hanya dipenuhi dengan kasih sayang tanpa ada dendam dan benci. Dan Yuna belum pernah mendapatkan kasih sayang itu dari keluarganya.
Sejauh ini, yang Yuna dapat hanyalah kepedihan dan amarah serta dendam yang memuncak. Namun, saat bertemu dengan Shena, rasa dendam itu perlahan menghilang terkikis oleh waktu. Dari Shena, Yuna belajar banyak tentang arti sebuah keluarga. Gadis malang itu, menundukkan wajahnya dan menyembunyikan air mata yang hampir saja keluar dari kelopaknya.
Seandainya keluargaku seperti ini, aku pasti hidup bahagia. Sangat bahagia, batin Yuna sambil mengusap sisa bulir air mata yang jatuh bebas membasahi pahanya.
__ADS_1
“Yuna,” panggil Leo.
Buru-buru Yuna bersikap normal dan berusaha tersenyum dihadapan semua orang. “Iya Paman, ada apa?” tanya Yuna.
“Ikutlah dengan Yeon dan yang lainnya ke Swiss, kami akan mengurus segela sesuatu yang kau perlukan untuk tinggal di sana bersama kami, nanti.” Leo terlihat serius saat mengatakan kalimat yang mengejutkan semua orang tgermasuk Yuna dan Yeon.
“Ayah ….” Seru Yeon terkejut, ada sejuta kebahagiaan tersembunyi di balik wajah jutek Yeon ketika mendengar keputusan ayahnya.
“Diam, Yeon. Aku tak ingin mendengar pendapatmu dulu, aku ingin tahu apa jawaban Yuna,” ujar Leo tanpa menoleh pada putranya.
Bagai disambar petir, Yuna sama sekali tak menyangka kalau ia akan mendapatkan kesempatan emas dan sangat ia nanti-natikan selama ini, yaitu tinggal dengan keluarga yang sempurna seperti keluarga Leo dan Shena. Hati Yuna benar-benar bahagia tapi juga sekaligus sedih.
“Kami tidak memaksamu, Yuna. Kami hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Semua keputusan ada ditanganmu, dan apapun keputusan yang kau ambil, kami akan selalu menghargai itu,” terang Leo lagi.
Shena sendiri sudah tidak bisa berkata-kata. Suaminya Leo, memang selalu tahu apa yang ia inginkan dan butuhkan termasuk mengajak Yuna untuk tinggal bersama mereka dan menjadi bagian dari keluarga ini. Sekarang, hanya tinggal menunggu keputusan apa yang diambil Yuna.
Tawaran Leo untuk tinggal bersamanya membuat Yuna semakin menangis karena terlalu bahagia. Siapa yang tidak ingin tinggal dengan Leo dan Shena. Hanya saja ... Yuna merasa ini bukanlah hal yang terbaik untuk Yuna. Sebagai orang asing, ia sadar diri dimana posisinya saat ini. Sebab itulah Yuna sudah mengambil keputusan penting dalam hidupnya sejak jauh-jauh hari.
BERSAMBUNG
****
Kisah Yeon dan Yuna dewasa akan ada di novel baruku. Tapi di sini, akan aku tuliskan kisah Yeon dan Yuna kecil serta lanjutan seperti apa kisah Leo dan Shena hingga akhir bulan. Baru lanjut ke novel Yeon dan Yuna.
Semoga tidak bosan baca kisah mereka ya ... love you all ...
__ADS_1