Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 209


__ADS_3

Yang ditakutkan Shena memang benar. Laura langsung pingsan begitu tahu sahabat dekatnya telah pergi menyusul kepergian suaminya. Seketika dunia Laura langsung runtuh karena tak kuasa menerima kenyataan bahwa Shena telah pergi meninggalkannya selamanya.


Satu jam sudah berlalu, Laura mulai sadar dari pingsannya. Namun ia langsung menangis sesenggukan begitu mengingat apa yang telah terjadi pada sahabat dekatnya.


"Kau sudah sadar Ra," ujar Roy yang duduk disamping istrinya.


"Apa ... yang sedang terjadi Roy. Ini pasti cuma mimpi, kan?" tanya Laura pada suaminya.


Roy terdiam dan tak tahu harus bilang apa. Ia menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal karena bingung bagaimana menjelaskannya pada Laura.


"Antarkan aku ke tempat Shena sekarang, Roy. Meskipun aku tak bisa sepenuhnya memercayai kenyataan ini. Setidaknya, aku harus menemani sahabatku. Siapa tahu ada keajaiban datang dan Shena kembali hidup."


Wajah Laura terlihat stres berat. Ia bahkan tidak tahu apa yang sedang ia katakan. Laura memaksakan diri bangun dan turun dari ranjang, padahal kondisinya sangat lemah.


"Kau mau kemana?" cegah Roy.


"Mau menemui Shena. Aku harus bicara padanya supaya mau kembali padaku. Aku yakin dia pasti mau mendengarkanku. Tidak mungkin Shena meninggalkanku dengan cara seperti ini. Huh ini lucu sekali, kan?" ujar Laura datar. Rasa shocknya benar-benar membuat Laura seperti orang gila dan kehilangan akal sehatnya.


"Ra, sadarlah. Kau ngelantur sekarang," ujar Roy ikut sedih juga. Padahal ia tahu seperti apa fakta sebenarnya, tapi ia tak mungkin memberitahu Laura sekarang.


"Lepaskan aku, kalqu kau tak mau mengantarku kesana, biarkan aku pergi sendiri." Laura menepis kasar tangan suaminya.


Melihat istrinya tetap kukuh dan tak mau mendengarkannya, Roy terpaksa menggendong paksa Laura yang berjalan gontai hendak meraih gagang pintu dan menidurkannya diatas ranjang.


"Turunkan aku! Apa yang kau lakukan?" bentak Laura.

__ADS_1


"Dengarkan aku baik-baik, Ra. Kondisimu sekarang sedang tidak stabil. Kau butuh banyak Istirahat ...."


"Bagaimana aku bisa istirahat mendengar berita kematian sahabatku? Aku bahkan dilarang melihat wajahnya untuk terakhir kalinya? Kenapa? Ada apa dengan rumah sakit ini? Aku sahabatnya, setidaknya biarkan aku bertemu dengan Shena." Laura mulai menangis dan Roy langsung memeluknya.


"Aku tahu seperti apa perasaanmu, Ra. Beri aku waktu sedikit lagi. Kita berdua akan menemui sahabat-sahabat kita begitu dokter memberikan izin. Untuk saat ini, kita tidak bisa menentang wewenang rumah sakit. Lagipula, kau juga harus menjaga kesehatanmu. Demi putra kita." Ucapan Roy ada benarnya juga, yang terpenting bagi Laura sekarang adalah kesehatannya karena ia baru saja melahirkan.


Laura terpaku, ia masih belum bisa terima fakta mengejutkan ini. Berita kematian Shena dan Leo bagai pukulan telak untuk Laura. Baginya, Shena adalah satu-satunya sahabat terbaiknya. Sejak ibunya meninggal, Laura kehilangan kasih sayang seorang ibu dan cinta seorang teman. Kepergian ibunya membuat Laura kesulitan berinteraksi dengan teman sesama wanita karena perbedaan budaya dimana posisi Laura sebagai pendatang dan berdarah Jepang.


Namun, semenjak bertemu dengan Shena, hidup Laura yang tadinya suram kembali berwarna. Istri Roy itu telah menemukan sahabat sejatinya yang selalu ada untuknya. Laura pun tak pernah merasa kesepian lagi karena Shena selalu menemaninya. Keduanya saling berbagi rasa dan duka sepanjang mereka bersama. Dan yang membuat Laura kagum pada Shena adalah rasa pedulinya terhadap sesama. Sahabat Laura itu selalu lebih mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Karena itulah bagi Laura, Shena adalah orang yang istimewa.


Tapi kini, hati Laura benar-benar hancur melihat sahabat terbaiknya itu juga pergi meninggalkannya. Bukan pergi berlibur atau bertamasya, tetapi pergi untuk selama-lamanya. Sungguh Laura tak tahu apa yang akan terjadi padanya setelah Shena tiada.


"Aku janji, begitu suasana diluar terkendali aku akan membawamu ke suatu tempat yang akan membuatmu senang," ujar Roy melepas pelukannya setelah melihat Laura sedikit tenang. "Maafkan aku kalau aku tak bisa menemanimu lebih lama, karena ada banyak hal yang harus aku urus. Kau tak keberatan jika kutinggal sendiri disini. Jam 3 sore nanti aku akan menjemputmu."


Laura diam dan enggan menjawab ucapan Roy. Ia seolah tak punya tenaga lagi untuk bicara. Mungkin yang dikatakan Roy itu benar, diluar sana sedang heboh pemberitaan kematian Leo dan Shena yang begitu tiba-tiba. Banyak yang merasa aneh sebenarnya, dan tak sedikit pula yang meminta untuk mengotopsi jasad Leo dan Shena agar tak menimbulkan pro dan kontra, tanpa ada yang tahu bahwa jasad kedua pasangan suami istri itu hanyalah boneka buatan yang kalau di negeri Jepang biasa dikenal sebagai robot manusia.


***


Keduanya dengan santai tiba disebuah desa terpencil untuk rehat sejenak dari perjalanan yang masih dirahasiakan Leo dari Shena. Kebetulan, bensin mobil mereka habis sehingga Sopir Leo juga sedang sibuk mengisi bensin di pom bensin.


"Kau mau makan sesuatu, Sayang?" tanya Leo pada Shena. Sebab, ia mendengar bunyi yang tidak asing ditelinganya.


Tanpa sadar, perut Shena memang keroncongan karena dari semalam ia belum makan apa-apa. Dan itu semua gara-gara sandiwara Roy-Leo sehingga membuatnya kehilangan selera makan. Efeknya, jadi terasa sekarang.


"Apa saja yang penting enak dimakan," jawab Shena. Ia benar-benar lapar. Mereka berdua tetap di dalam mobil untuk menghindari orang-orang yang mengenalinya mengingat nama mereka sudah menjadi trending topik diberbagai media pemberitaan.

__ADS_1


"Oke, tunggu disini. Akan kubelikan sesuatu untukmu." Leo mengamati keadaan sekitar.


Setelah dirasa aman, suami Shena itupun keluar dari dalam mobil menuju MC Donald yang letaknya ada diseberang jalan. Leo memakai kacamata hitam dan juga jaket hitam untuk menyamarkan diri agar tak ada seorangpun mengenalinya.


Seperginya Leo, Shena merasa harus memenuhi panggilan alam. Sebenarnya, ia ingin menunggu Leo kembali dan memintanya untuk menemaninya ke toilet. Namun, Shena sudah tak kuat menahan lagi.


"Anda mau kemana, Nyonya?" tanya sopir Leo ketika melihat Shena keluar dari pintu mobil.


"Aku harus ke toilet, katakan pada Leo, suruh segera menyusulku kesana jika ia kembali." Belum juga pengawal Leo menyahut ucapan Shena, istri Leo itu langsung berlari cepat menuju toilet umum yang tersedia di pom bensin.


Begitu selesai dengan panggilan alam Shena, iapun segera keluar dari toilet dan tiba-tiba saja ada yang membekapnya dari belakang dan menyeret paksa tubuh Shena ke belakang gedung toilet yang kebetulan sangat sepi. Sekuat tenaga Shena memberontak tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan orang tak dikenal ini.


Mulut Shena langsung dilakban dengan gerakan cepat tanpa memberi celah pada Shena untuk melarikan diri. Akibatnya, Shena tak bisa berteriak dan meminta bantuan.


Sial banget sih aku hari ini! Lagi-lagi diculik, batin Shena kesal.


Sheba didudukkan di sebuah kursi yang terbuat dari kayu jati. Seluruh tubuh Shena juga diikat dengan tali. Tak hanya itu, tangan dan kaki Shena diikat dengan erat agar Shena tak bisa melarikan diri.


"Tangkapan yang bagus," ujar pria asing itu dengan sinis.


Shena panik, tapi juga penasaran siapa pria yang berani menculiknya. Pria itu berdiri dihadapan Shena dan terus menatap wajah Shena dengan ekspresi aneh. Ia hendak mendekati wajah Shena tapi tiba-tiba saja ada orang memukul kepala orang asing itu dari belakang sebelum ia benar-benar dekat dengan wajah Shena. Alhasil orang itu ambruk tepat dibawah kaki Shena dengan darah mengucur deras dikepalanya.


"Kau tidak apa-apa, Sayang?" tanya orang yang memukul pria asing tersebut.


BERSAMBUNG

__ADS_1


****


__ADS_2