Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 278 Amarah Datuk


__ADS_3

Mulut Shena menganga lebar menatap wajah tampan Leo setelah mendengar penjelasannya mengenai apa yang sedang Leo lakukan pada Datuk Situroja. Sungguh, itu sebuah tindakan benar-benar luar biasa yang pernah suaminya lakukan untuk membalas orang gila seperti mafia tua jelalatan itu. Shena tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Datuk bila ia tahu seluruh aset berharganya telah menjadi abu. Sekelebat kobaran lautan api yang maha dahsyat, langsung terlintas di pikiran Shena dan jelas-jelas itu sangat mengerikan jika dibandingkan dengan kematian.


“Wuah, daebak!” ujar Shena mengagumi ulah gila suaminya.


Membakar seluruh aset seorang mafia kelas kakap yang setara dengan ayah mertuanya adalah tindakan terbilang berani dan juga nekat serta cara yang paling elegan dari sekian cara mafia yang pernah digunakan Leo selaku gangster kelas kakap. Orang lain, takkan pernah bisa bertindak seperti Leo, sebab resikonya terlalu tinggi dan bahkan bisa mengancam seluruh keselamatan orang-orang terdekat mereka.


Namun sepertinya, Leo sama sekali tidak takut dan justru siap menanggung segala macam resiko akibat ulahnya dengan santai. Hal itulah yang membuat Shena semakin terkagum-kagum dengan keberanian suaminya yang semakin lama, semakin luar biasa.


“Kau akan semakin cinta mati padaku bila terus menatapku seperti itu Sayang,” ujar Leo tersenyum sambil membantu mengatupkan bibir Shena yang menganga lebar saat melihatnya.


“Aku memang sudah cinta mati padamu! Masa kau tidak tahu.” entah kenapa Shena jadi salah tingkah sendiri di depan suaminya. Padahal ini bukan pertama kalinya ia menyatakan cinta pada Leo.


Melihat wajah Shena jadi merah merona mengalahkan semangka, Leo mendekatkan wajahnya ke wajah Shena. Ia juga menyentuh dagu istrinya supaya mau menatap Leo lekat-lekat. Dengan hasrat cinta yang membara, Leo mencium mesra bibir ranum Shena. Mengisapnya lembut secara bergantian.


Tentu saja, Shena tak bisa menolak ciuman maut suaminya. Iapun terhanyut dalam indahnya cinta yang diberikan Leo untuknya. Hati dan pikiran Shena jadi serasa melayang-layang di udara merasakan betapa nikmat dan syahdunya suasana romantis mereka berdua ditengah-tengah ketegangan yang melanda. Sayangnya, dua sejoli pasangan erotis ini sellau tak peduli situsai dan kondsi. Dimanapun mereka berada, hanya ada cinta yang bersemi dan selalu menyelimuti aura Leo dan Shena.

__ADS_1


“Sambil menunggu kabar eksotis itu, bagaimana kalau kita berdansa dulu,” ujar Leo setelah menyudahi ciumannya. Ia sama sekali tak peduli dengan tatapan sinis orang-orang yang melihat kearahnya.


“Kenapa kita tidak pergi saja dari sini, jujur aku tidak terbiasa dengan pesta mewah sekelas dirimu. Aku lebih suka nongkrong di kedai sambil makan mi ayam dan menikmati pemandangan jalan. Kalau saja bukan demi membebaskan Yuna, aku tak mau datang ke pesta seperti ini. Ini bukan kelasku."


“Aku tahu, tapi bersabarlah sedikit Sayang. Kita belum bisa pergi dari sini karena pertunjukannya masih belum selesai dan kita harus menyeleseaikan adegan terakhir sebelum pergi meninggalkan kumpulan para sultan dan sultini. Tempat ini juga bukan kelasku, di sini terlalu sepi dan membosankan. Musiknya saja music klasik dan bikin mata ngantuk. Tapi apa boleh buat, aku ingin sekali melihat si kakek peot itu mati kaku didepanku.” Leo membungkuk setengah badan dan mengulurkan satu tangan kananya untuk meminta wanita cantik yang tak lain adalah istrinya sendiri agar mau berdansa dengannya.


“Wanna dance with me,” tanya Leo dengan suara merdu yang dibuat-buat.


“Yes, I wanna dance with you,” jawab Shena dengan tersenyum manis.


Semua orang berdansa dengan riang. Ada banyak cinta mengelilingi setiap pasangan yang berdansaa bersama selain Leo dan Shena. Mereka semua terhanyut akan indahnya lagu yang diputar. Suasana pesta jadi lebih hidup dan tak lagi membosankan. Disaat semua orang tengah berdansa dengan riang bersama pasangan mereka masing-masing, tiba-tiba dari kejauhan terdengar jeritan suara Datuk Situroja memanggil nama lengkap suami Shena.


“LEOPARD BAY PYORDOVAAA!” teriak Datuk menggelgar memenuhi seisi ruangan. Sontak alunan musikpun berhenti sehingga semua orang juga otomatis menghentikan dansa mereka dan terkaget-kaget mendengar teriakan sang Datuk.


Dari kejauhan, Nampak si tua Bangka itu perjalan cepat menghampiri Leo yang tengah asyik berdansa bersama Shena dan langsung melayangkan pistolnya tepat di kepala Leo. Dengan disaksikan banyak orang dan para mafia yang ada diseluruh penjuru dunia, Datuk Situroja menodongkan senjatanya pada putra tunggal Byon Pyordova. Artinya, Datuk telah menyatakan perang antar mafia secara terbuka.

__ADS_1


Bila semua orang terkejut dengan aksi Datuk yang terlihat kalap, maka lain halnya dengan Leo yang tetap santai menatap tajam psitol yang ditodongkan padanya sementara tangannya tetap menggenggam erat tangan Shena agar istrinya itu tak perlu khawatir ataupun panik. Suami Shena itu hanya diam dan tenang. Sama sekali tak gentar sedikitpun senjata api mematikan ditodongkan dikepalanya.


“Ada apa ini Datuk? Turunkan senjatamu. Kau tahu apa akibatnya jika kau melukai tuan muda ini,” ujar salah satu mafia yang mengenali siapakah Leo sebenarnya.


“Aku tidak peduli! Akan kubunuh bocah tengik ini!” Datuk sudah bersiap untuk menarik pelatuknya namun yang ditodongkan senjata tetap tak bergeming ditempatnya. Leo bahkan sama sekali tak terlihat takut ataupun panik seperti yang lainnya. Padahal yang ditodongkan senjata adalah dirinya.


“Aku bilang … turunkan senjatamu atau aku akan membunuhmu!” bentak orang itu dengan nada tinggi. “Ingat peraturan yang kita punya, Datuk. Kau tak bisa membunuh putra dari kolegamu sendiri. Katakan padaku apa yang terjadi? Kita akan menyelesaikannya bersama-sama.”


“Tidak akan bisa!” teriak Datuk itu penuh emosi. “Apa kau tahu apa yang sudah anak ingusan ini lakukan padaku, ha? Dia membakar habis seluruh aset, tanah, lahan serta rumah yang aku punya! Semuanya tanpa sisa. Kau dengar itu? Dia membuat semua aset berhargaku menjadi abu dalam sekejap mata! Katakan padaku! Apa kau punya solusi atas apa yang sudah ia itu, ha? Lahanku habis, lenyap talk tersisa!” mata Datu itu berapi-api dan langsung beralih menatap tajam Leo.


“Kembalikan semua asetku seperti sedia kala! Jika tidak, akan ku bunuh kau sekarang juga!” seru Datuk menggebu-gebu, berkali-kali ia memegangi tengkuk kepalanya karena merasakan nyeri disana. Namun ia tetap menodongkan senjata pada Leo dan berniat menari pelatuknya bila Leo tak juga bersuara.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2