
Shena berhenti berjalan ketika melihat Laura duduk sendirian di pinggir sebuah danau indah tak jauh dari restoran tempat mereka makan tadi. Sebagai sesama wanita, Shena sangat mengerti seperti apa perasaan sahabatnya saat ini. Sakit, terluka, kecewa dan juga marah, bercampur aduk dan berkecamuk memenuhi relung hati Laura.
Namun, bukan ini yang Shena inginkan dari sahabatnya. Istri Leo itu tak ingin Laura terlalu lama terlarut dalam kesedihan. Sebagai istri dan seorang ibu, Laura harus tetap bangkit dan bertahan menghadapi segala prahara rumah tangga yang menerpa. Dan Shena, tak bisa membiarkan ini terus berlarut-larut tanpa melakukan apa-apa.
Ada banyak hal yang ingin dilakukan Shena terutama untuk memperbaiki hubungan Roy dan Laura. Meskipun berat, tidak ada salahnya mencoba. Iapun sudah menemukan titik temu perkaranya dan harus segera bertindak sebelum keduluan suami-suami mereka. Pelan, Shena mendekat ke arah Laura dan duduk disampingnya sembari menikmati panorama alam yang indah di tepian danau menakjubkan ini.
“Aku juga pernah ada di posisimu saat ini, Ra. Rasanya … duniaku runtuh seketika, apalagi membayangkan Leo tidur dengan wanita lain di ranjang selain denganku. Sungguh … rasanya … aku ingin mati saja.” Shena memulai percakapan dengan mengenang hal yang pernah terjadi padanya dulu. Sontak saja, Laura terkejut dan menoleh pada sahabatnya.
“Apa? Kau bilang apa? Leo … menduakanmu?” pekik Laura. Awalnya ia terkejut dan tidak percaya, tapi Laura mulai kembali emosi begitu menyadari apa yang terajdi padanya saat ini. “Biadap sekali mereka. Seenaknya saja mempermainkan wanita atas nama cinta!” geram Laura. Saking emosinya, ia tidak sadar kalau ibu satu anak itu sudah berdiri tegak.
“Tapi ternyata aku salah, Ra!” lanjut Shena sehingga membuat Laura kembali bingung.
“Apa maksudmu?” tanya Laura.
“Leo, ah … maksudku, suamiku Leo … takkan pernah mengkhianatiku. Sekalipun ribuan wanita mengejarnya dan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkannya, cinta Leo hanya untukku. Hanya akulah satu-satunya wanita yang ada di hati dan hidupnya. Rupanya, wanita jalaang itu telah menjebak Leo dengan menempelkan lisptik di kerah baju suamiku sehingga aku terbakar api cemburu, sama seperti yang kau alami saat melihat foto-foto Roy.”
“Jangan bertele-tele Shena. Katakan apa yang ingin kau katakan sebenarnya?”
“Aku melihat tatapan mata suamiku, Ra. Tatapan mata itu tidak pernah berbohong. Jika ia bilang tidak, maka itulah yang terjadi. Artinya, Leo dijebak. Dan tak menuntut kemungkinan, Roy pun juga sama. Bisa saja ia dijebak seperti halnya Leo dulu.”
Laura mengerutkan alisnya menatap Shena. Sedikit banyak ia mulai memahami maksud ucapan sahabatnya ini. Namun, Laura jadi penasaran, apa yang dilakukan Shena ketika dihadapkan dengan situasi seperti ini. Sebab, hingga sekarang baik Shena dan Leo masih terlihat romatis dan baik-baik saja. Bahkan, Laura tidak menyangka kalau Shena pernah ada di posisinya seperti sekarang.
__ADS_1
“Lalu, apa yang kau lakukan waktu itu? Bagaimana kau dan Leo masih bisa baik-baik saja seperti tak terjadi apa-apa?”
“Hanya karena sebuah lipstick, takkan pernah bisa menghancurkan kehidupan rumah tannggaku, Ra. Begitu pula denganmu. Foto-foto itu tidak ada artinya bila dibandingakan dengan kebersamaan kalian berdua selama ini. Apalagi, kau juga punya Rai sebagai pelengkap kebahagiaan kalian. Jangan goyah hanya karena kehadiran para ulat bulu. Basmi saja mereka seperti yang pernah kulakukan. Dan itulah tugas kita sebagai istri dan juga sebagai seorang wanita yang amat sangat dicintai dan mencintai suaminya.” Shenapun menceritakan kejadian saat ia menghancurkan madam Agne yang kala itu hendak merebut Leo darinya. Alhasil, ulat bulu itu berhasil disingkirkan oleh Shena.
Penjelasan Shena akhirnya membuka pintu hati dan mata Laura untuk lebih memercayai suaminya. Mungkin apa yang dikatakan Shena ini benar. Bisa saja, Roy memang dijebak dan untuk mencari tahu kebenarannya, ia harus mendatangi langsung para ulat bulu itu untuk memastikan kebenaran dari foto-foto tersebut.
“Apa kau punya rencana?” tandas Laura menatap tajam mata sahabatnya.
“Banyak.” Shena menyeringai penuh makna. “Pertama-tama, kita pergi ke Paris,” ujar Shena pada Laura.
“Paris? Ada apa di sana? Dan kenapa kita ke Paris?”
“Sebab, wanita yang tidur dengan suamimu tinggal di sana. Sedangkan wanita seksi yang mengirim kotak-kotak menyebalkan itu bernama Senorita.”
“Aku adalah istri dari Leopard Bay Pyordova, Ra. Tidak ada yang tidak aku ketahui mengenai seperti apa musuh kita. Aku banyak belajar dari suamiku Leo. Bagaimana cara melawan musuh dan menghancurkannya. Kita berdua akan tunjukkan pada ulat bulu itu kalau mereka sudah salah memilih lawan.”
“Wuah, Shena … kau sudah mirip seperti suamimu. Kapan kita berangkat ke Paris?” tanya Laura.
“Sekarang, barusan aku sudah pesan jet priadi untuk membawa kita kesana secepatnya. Lebih cepat lebih baik.”
“Hah? Secepat ini? tanpa persiapan?” tanya Laura.
__ADS_1
“Iya, untuk sesaat kita menghilang dulu dari para suami kita. Dengan begitu, musuh akan mengira kita benar-benar sedang bertengkar dengan mereka. Dan juga ... siapa bilang tanpa persiapan? Selama perjalanan mencarimu kesini, aku sudah mengatur semuanya."
“Cerdas! Kau brilliant banget Shena. Kenapa hal itu sama sekali tidak terpikirkan olehku!” Laura terlihat girang. Sayangnya hal itu tidak terjadi lama, ia pun kembali merasa sedih seolah ada yang mengganjal dihatinya.
“Ada apa, Ra? Kenapa wajahmu jadi sedih lagi?”
“Bagaimana kalau Roy memang benar-benar sudah tidur dengan wanita itu? Artinya, aku menikah dengan pria yang sudah tidak perjaka! Sial banget sih aku!” Laura menutup kedua wajahnya karena frustasi dan sedikit tidak rela.
“Aku rasa, Roy masih perjaka sebelum menikah denganmu,” sergah Shena mematahkan asumsi Laura.
“Jangan sok tahu untuk menghiburku. Memangnya kau pikir dirimu itu cenayang apa?”
“Aku tidak sedang menghiburmu, dan aku memang bukan cenayang. Aku bicara sesuai logika. Kalau diperhatikan, Roy tertidur sangat lelap di foto itu seperti tak sadarkan diri. Jika seseorang benar-benar selesai berhubuhungan seperti itu dan berfoto, kenapa harus menunggu Roy tertidur? Kalau benar mereka melakukannya atas dasar suka sama suka, harusnya Roy dengan senang hati berswafoto bersama, kan? Lagipula, Leo ada di sana waktu itu, ia pasti bakal melakukan sesuatu jika benar Roy tidur dengan wanita lain. Sekalipun si playboy itu sibuk berkencan.”
Penjelasan Shena sangat masuk akal. Bisa saja, foto-foto yang tadi Laura lihat itu hanyalah jebakan yang sudah direncanakan pihak-pihak tertentu untuk menghancurkan Roy dan Leo. Mereka sengaja menunggu kesempatan yang tepat untuk mempublikasi masalah ini sekarang.
“Kau benar Shena, Roy memang salah. Tapi wanita seperti mereka tak bisa dibiarkan begitu saja. Kita harus bikin peritungan dengan wanita-wanita itu agar mereka tak lagi merusak rumah tangga orang lain,” seru laura tak lagi terlihat sedih lagi.
“Bagus! Ayo berangkat sekarang. Kita tunjukkan pada mereka kalau kita juga punya taring dan gigi yang jauh lebih kuat.” Shena pun ikut bersemangat.
Kedua wanita cantik ini langsung pergi menuju bandara dengan tujuan ke Paris. Mereka tidak tahu kalau suami-suami mereka, juga pergi menuju ke tempat yang sama, yaitu kota romantis, Paris.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***