
Udara segar dipagi hari, membuat perasaan Shena yang tadinya kesal menjadi fresh kembali. Ia sangat menyukai tempat ini dan juga segala hal yang ada di sini seolah jiwanya telah menyatu dengan rumahnya. Mungkin saja itu karena rumah ini adalah rumah yang dibangun sendiri oleh almarhum ayah Shena yang juga merupakan dermawan di desa ini.
Anak perempuan manis tadi sudah kembali amsuk ke dalam rumah dan samar-samar Shena mendengar suara bentakan dan teriakan beberapa orang. Hal itu membuat Shena sedikit terkejut, ia ingin turun dan datang menemui anak perempuan tadi dan mencari tahu apa yang terjadi. Namun, niatnya itu ia urungkan karena tiba-tiba saja ada seseorang memeluknya dari belakang.
“Sarapan dulu, Sayang. Setelah itu … kita pergi jalan-jalan,” bisik Leo ditelinga Shena sambil memeluk erat istrinya dari belakang.
Shena tersentak kaget, tapi ia mencoba terbiasa diperlakukan seperti ini oleh Leo. Suaminya itu sudah berpakaian lengkap dan terlihat sangat tampan.
“Ehm, aku … pergi mandi dulu.” Shena melepas pelukan Leo dan hendak pergi, tapi lagi-lagi satu tangan Shena ditarik hingga ia jatuh kepelukan Leo lagi.
Kali ini, keduanya saling bertatapan satu sama lain. Mereka saling mengungkapkan cinta melalui tatapan mata masing-masing.
“Lepaskan aku … aku … harus mandi dulu …” ujar Shena agak canggung dan juga gugup dengan perasaannya dan situasi yang tiba-tiba saja jadi aneh ini.
“Oh, iya … aku akan menunggumu di sini.” Buru-buru Leo melepas pelukannya dan tersenyum manis pada Shena. “Cepat mandinya, karena aku sudah lapar.”
“Bagaimana kalau kau makan dulu?”
“Tidak, aku sudah terbiasa makan bersamamu. Kau juga … kau tidak akan mau makan jika aku belum pulang kerja, kau selalu menungguku dan kita selalu makan bersama-sama.” Leo memberitahu Shena tentang kebiasaan yang biasa mereka lakukan selama menjadi pasangan suami istri.
“Begitu, ya? Kalau begitu … akan aku percepat mandiku supaya kita bisa sarapan bersama. Aku pergi dulu,” ujar Shena tersenyum manis pada Leo.
Satu jam kemudian Shena sudah terlihat rapi dan jauh lebih fresh dari yang tadi, Leo menyambut hangat Shena dan mereka berdua menuju ruang makan bersama. Selama sarapan, Leo menceritakan banyak hal yang membuat hati Shena senang. Terutama masa-masa bagaimana Leo jatuh cinta pada Shena, lalu menembaknya tapi ditolak mentah-mentah oleh Shena sehingga Leo terpaksa harus menggunakan cara terekstrim yang gila, walau pada akhirnya Shenapun jatuh cinta padanya. Semua itu ia ceritakan lagi pada Shena.
“Kau tak perlu mengingat apapun, Sayang, aku tak ingin kepalamu sakit lagi. Kau cukup dengarkan saja apa yang aku ceritakan tentang kita dan katakan bila kau tak ingin mendengarnya.” Leo mencoba menyuapi Shena.
“Aku suka semua yang kau ceritakan. Ternyata kisah cinta kita memang tidak biasa.” Raut wajah Shena terlihat sedikit sedih. “Bagaimana aku bisa mengingatnya? Aku sama sekali tak ingat apapun."
__ADS_1
“Tidak masalah jika kau tidak mengingatnya. Yang penting kau tahu seperti apa kehidupan kita mulai dari pacaran, hingga kita menikah dan punya tiga anak.” Leo menggenggam erat tangan Shena sambil tersenyum penuh cinta.
Karena Leo sudah bicara seperti itu, Shena jadi teringat sesuatu hal yang sangat ingin ia tanyakan. “Oh iya … ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apa kau tak keberatan menjawabnya?” tanya Shena hati-hati karena pertanyaannya ini agak sedikit intim.
“Tanyakan apapun yang ingin kau ketahui, akan aku jawab semuanya.”
“Ehm … sebenarnya, seperti apa malam pertama kita?”
“Uhuk-uhuk!” Leo langsung terbatuk-batuk saat ia meminum air dari gelasnya. “Ehem, hem!” Leo mulai berdeham mendengar pertanyaan istrinya.
“Kenapa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Shena panik dan memukul pelan punggung Leo.
“Tidak apa-apa.” Leo mulai bersikap biasa lagi. “Kau sungguh ingin tahu?” Leo malah balik bertanya. Ia menatap wajah Shena yang memang terlihat sangat ingin tahu seperti apa malam syahdu mereka berdua di malam pertamanya dulu.
“Aku tidak yakin, tapi aku penasaran.” Wajah Shena langsung merah padam. Dasar bodoh kau Shena? Apa yang kau tanyakan itu, ha? Jerit Shena dalam hati.
“Cukup! Hentikan!” Shena berdiri karena tidak kuat mendengar penjelasan Leo yang agak-agak vulgar itu.
“Lah, tadi … kau sendiri yang ingin tahu,” ujar Leo jadi bingung sendiri.
“Lain kali saja! Sepertinya aku belum siap mendengarnya.” Shena memejamkan matanya dan Leo langsung mengerti.
“Baiklah, kita tak perlu bahas itu. Sudah selesai sarapannya, kan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”
“Ehm.” Shena mengangguk senang. Untunglah Shena tidak marah pada Leo. “Tunggu!” ujar Shena lagi.
“Ada apa Sayang?”
__ADS_1
Shena ragu apakah ia harus bertanya lagi soal anak perempuan kecil yang ia lihat tadi atau tidak. Namun, Shena tidak yakin Leo juga tahu, sebab baik dirinya dan Leo sama-sama baru saja datang kemari. Jadi ia mengurungkan niatnya bertanya pada Leo.
“Tidak jadi! Lain kali saja,” ujar Shena lirih dan berjalan lebih dulu meninggalkan Leo dibelakang.
***
Beberapa hari telah berlalu. Leo dan Shena menjalani kehidupan baru mereka bak pasangan pengantin baru. Meskipun begitu, tak ada yang berubah dari Shena, ia tetap belum bisa mengingat apapun dan terus saja merasakan sakit dikepalanya jika ia memaksakan diri mengingat setiap kenangan yang diceritakan Leo. Kalau sudah seperti itu, Leo tak bisa berbuat apa-apa dan hanya meminta Shena untuk istirahat total di rumah.
“Jangan paksakan diri lagi. Aku tak ingin kau kenapa-napa,” ujar Leo bersimpuh dihadapan Shena.
“Kenapa aku tak ingat apapun, Leo? Aku sudah berusaha keras, tapi tetap saja tidak bisa ingat apa-apa? Aku sungguh ingin mengingat semuanya.” Shena menelungkupkan wajahnya dikedua tangannya dan Leo langsung memeluk erat tubuh Shena untuk menenangkannya.
“Kita punya banyak waktu Sayang. Aku akan selalu menemanimu sepanjang sisa hidupku. Sekarang tidurlah, aku akan memelukmu sampai kau tertidur. Ingat, kau tidak boleh banyak pikiran atau cedera diotakmu bisa lebih parah.” Leo membantu Shena berbaring dan menata bantal untuk Shena. Ia menemani istrinya hingga Shena tertidur lelap dalam pelukannya.
Begitu Shena tertidur, Leo bermaksud pergi menemui seseorang. Tentu saja ia meminta pada pengawalnya untuk menjaga ketat Shena jangan sampai ia sendirian atau pergi kemanapun tanpa izin darinya.
“Jangan biarkan Shena keluar dari rumah sebelum aku datang,” ujar Leo pada pengawalnya yang berjaga di rumah Shena.
“Anda mau kemana Tuan muda? Setidaknya, kalau Nyonya bertanya, saya bisa menjawabnya.”
“Bertemu banyak orang. Akan aku jelaskan sendiri nanti padanya. Pinta dia untuk menungguku dulu jika ingin keluar. Aku pergi sebentar saja dan akan segera kembali.”
“Baik, tuan muda!” pengawal itu menundukkan kepalanya. Ia hanya mengamati Leo yang menyalakan mesin mobil dan melesat pergi meninggalkan rumah.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1