
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya keluarga Byon Pyordova sampai disebuah desa terpencil yang letaknya berada di perbukitan. Seperti halnya pedesaan lainnya, bangunan-bangunan rumah disini tidak terlalu padat dan rata-rata berukuran sedang. Semua pekarangan rumah mereka ditanami dengan bunga yang hampir sama, yaitu bunga marigold. Sepertinya, bunga yang dominan warna kuning itu menjadi icon cantik dari desa tak bernama ini.
Bunga-bunga yang terdapat di hampir semua pekarangan rumah menambah kesan indah setiap mata yang memandang. Kebetulan, saat ini sedang musim semi, jadi bunga-bunga cantik itu bermekaran di semua tempat yang dilewati mobil keluarga Byon Pyordova.
“Wah, indah sekali,” gumam Shena saat melihat bunga-bunga marigold bermekaran disepanjang jalan.
“Rumah tempatmu tinggal nanti lebih indah lagi, Shena. Tempat itu dikelilingi hutan pohon sakura.” Biyanca menambahkan.
“Wah, benarkah, Ibu? Aku jadi penasaran, seperti apa tempatnya.”
“Kita akan sampai sebentar lagi, bersabarlah.” Biyanca saling melempar senyum pada suaminya seolah ada sesuatu yang sengaja mereka sembunyikan.
“Kita sudah sampai,” ujar Byon sambil menghentikan laju mobilnya.
Alasan Byon tidak menggunakan supir ketika datang kemari, karena sang pemilik desa tidak mengizinkannya membawa orang tak dikenal pemilik desa dengan alasan keamanan, kecuali jika ada orang asing atau pendatang baru yang memang tak sengaja datang ke tempat ini. Bahkan seorang Refald, juga tak bisa datang kesini tanpa izin dari pemilik desa tak bernama ini. intinya, desa unik dan misterius tak bisa didatangi sembarang orang.
Byon keluar dari dalam mobilnya diikuti istri serta anak dan menantunya. Yang dikatakan Biyanca memang benar, tempat ini dikelilingi oleh pohon-pohon sakura yang bermekaran. Sungguh tempat yang sangat menakjubkan. Mata Shena tak bisa berkedip saking terkesimanya melihat pemandangan indah dari banyaknya pohon sakura di area sekitar mereka berada.
Karena berada diperbukitan, maka cuaca di tempat ini lumayan dingin juga. Leo menanggalkan jaketnya lalu memakaikannya pada Shena yang sejak tadi melipat kedua tangannya di dada untuk menghilangkan hawa dingin yang menusuk-nusuk kulit lembutnya.
“Pakai ini, Sayang. Dan jangan jauh-jauh dariku.” Leo memakaikan jaketnya pada Shena sambil merangkul bahu istrinya kedalam pelukannya.
“Terimakasih, bagaimana denganmu?” tanya Shena ikut cemas juga. Ia tidak menyangka kalau cuaca disini begitu dingin.
“Aku tidak apa-apa, kau bisa berbagi kehangatan denganku, Sayang. Makanya aku memintamu untuk tidak jauh-jauh dariku. Aku butuh kehangatanmu,” ujar Leo dengan suara yang menggoda. Ia menempelkan dahinya di dahi Shena sambil memamerkan senyum menawannya.
Romantis sih, tapi ia tidak sadar kalu sejak tadi, tingkah laku Leo yang nggak ada akhlak itu sedang diperhatikan oleh kedua orang tuanya.
Dasar buaya laaknat! Batin Byon dan Biyanca dengan kata-kata yang sama.
“Bagaimana bisa kau punya anak seperti Leo?” bisik Byon pada Biyanca yang berdiri disampingnya.
“Kenapa kau bertanya padaku? Kau sendiri yang menebar bibit macam Leo padaku? Harusnya aku yang bertanya, bagaimana bisa kau menciptakan bibit nggak ada akhlak seperti anakmu itu!” ujar Biyanca dengan raut muka kesal bukan kepalang.
“Sepertinya dulu aku salah makan, makanya jadi dia! Untung kita cuma punya satu anak, bagaimana jika ada 10 anak macam Leo. Aku bisa mati muda sebelum tua.” Kata-kata Byon sukses membuat Biyanca sedikit tersenyum.
“Kau benar,” ujar Biyanca. Sepertinya rasa kesalnya sedikit menghilang mendengar kata-kata suaminya. Padahal sifat nggak ada akhlak Leo itu menurun dari ayahnya.
__ADS_1
Leo memerhatikan kedua orangtuanya sedang asyik berbincang-bincang sendiri. Sementara Shena ikut tersenyum saja melihat betapa sweetnya ayah dan ibu mertuanya. “Ehm, Ayah ... dimana rumah yang ayah maksud? Aku tidak melihat ada bangunan disekitar tempat ini selain pohon-pohon sakura. Apa ayah yakin kalau kita memang sudah sampai?” tanya leo ambil memerhatikan sekeliling.
“Sekitar mana yang kau maksud? Kita memang sudah sampai di depan rumah itu.” Byon tersenyum menatap Leo yang sedang sibuk celingak celinguk mencari sesuatu.
“Mana? Tidak ada apapun disini?” tanya Leo lagi, begitu pula dengan Shena ikut membantu mencari-cari rumah yang dimaksud Byon.
“Rumah itu ... ada disana?” Byon menunjuk sebuah rumah yang letaknya ada di atas bukit.
Di belakang Byon ternyata ada sebuah tangga kecil sebagai sarana menuju rumah yang dimaksud Byon. Leo dan Shena sama-sama terperangah melihat ketinggian bukit yang ada dihadapannya. Apalagi, tangga-tangga itu terlihat tinggi sekali.
“Ayah? Apa Ayah ingin menyakiti Shenaku? Bagaimana bisa dia menaiki tangga setinggi itu dalam keadaan hamil besar seperti ini? Apa ayah ingin cucu ayah lahir di atas tangga ini?” Leo agak sedikit emosi.
“Siapa yang suruh Shena menaiki tangga ini. Kaulah yang harus naik ... dengan menggendong Shena. Seperti yang kulakukan ini!” Byon menggendong tubuh Biyanca, lalu iapun berjalan mendekat ke arah tangga sebelum benar-benar menaikinya.
“Apa?”tanya Leo melongo tak percaya.
Ternyata maksud ayahnya adalah Leo harus menggendong Shena dan menaiki tangga setinggi sekitra 10 meter ini.
“Ayah? Leo bisa kelelahan jika harus menggendongku sampai ke atas sana? Apa tidak ada cara lain? Supaya kita bisa sampai kesana tanpa perlu bersusah payah?” tanya Shena penuh harap.
“Oey Leo, sampai kapan kau berdiri disitu? Tunggu apalagi? Apa kau takut? Ayahmu saja bisa mencapai atas tanpa kendala. Masa kau kalah darinya? Padahal kau masih muda. Dasar cemen!” Biyanca sengaja meledek putranya.
Tentu saja Leo tidak terima diledek ibunya seperti itu. Iapun menatap Shena dan langsung menggendong tubuh istrinya. “Berpeganglah yang kuat Sayang, dan terus tatap aku dengan penuh cinta supaya aku lebih bersemangat mengalahkan ayahku!” ujar Leo penuh semangat.
Shenapun dengan senang hati langsung memeluk leher suaminya dan memberinya kecupan manis di pipi Leo. “Kau pasti bisa Sayang, aku mencintaimu.” Shena memberikan kalimat penyemangat untuk suaminya.
“Aku juga mencintaimu, selamanya!” Leo membalas kecupan Shena dengan mencium bibir ranum istrinya.
“Hadeuh, dasar anak muda zaman sekarang,” ujar Byon dan Biyanca bersamaan. Mereka berdua hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan menantunya.
Sambil menggendong Shena, Leo berjalan pelan mendekat ke arah ayahnya dan berdiri sejajar disampingnya.
“Bagaimana kalau kita taruhan?” tantang Byon pada putranya.
“Apa taruhannya?” tanya Leo.
“Siapa yang sampai lebih dulu ke atas, dialah pemenangnya.”
__ADS_1
“Hadiah apa yang aku dapat jika aku yang menang, Ayah?” tanya Leo lagi seolah tahu bahwa dialah yang akan menang.
“Aku akan menyerahkan seluruh harta kekayaanku dan semua aset berhargaku yang tersebar diseluruh dunia ini padamu,” jawab Byon enteng.
“Itu bukan hadiah, Ayah? Siapa lagi yang mewarisi semua kekayaan Ayah kalau bukan aku? Memangnya Ayah punya anak lain selain aku, apa?” Leo malah jadi dongkol dengan ayahnya. Menang atau kalah itu sama saja. Ia tetap akan mewarisi harta ayahnya.
“Kalau kau kalah aku akan menyerahkan semua yang aku punya pada Shena,” ujar Byon lagi dan kali ini sukses membuat dongkol akut Leo dan juga Shena.
“Apa bedanya aku dengan Shena, Ayah? Kami ini sepaket sekarang?”
“Bedalah, begitu semua warisanku jatuh ke tangan Shena, dia jauh lebih kaya darimu.” Byon terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
Hadeuh, bagaimana bisa aku punya ayah seperti dia, batin Leo kesal.
BERSAMBUNG
***
Maaf upnya lama, soalnya masih sibuk banget di RL, tapi setelah ini aku usahakan up rutin.
Kasih semangat dong, dengan like dan komentarnya ... love you all.
Kira-kira, siapakah yang akan menang, ya? Leo atau Byon?
Oh iya, di episode sebelumnya, aku janji mau ngasih visual Byon dan Biyanca versi mudanya.
Dan novel mereka baru aku akan rilis pertengahan bulan depan, bersama dengan novel anak-anak Leo dan Refald. Mudah-mudahan tidak ada kendala ya ...
Byon waktu masih muda, keren kannn ... hehe ...
Biyanca waktu masih muda .. cantik kan? hehehe
Tunggu saja seperti apa kisah cinta mereka ya ...
__ADS_1