
Hal mengejutkan juga masih dialami Shena setelah Leo membawanya pergi menjenguk bibinya Eghatia yang kini hidup sebatang kara karena putri dan suaminya pergi meninggalkannya tanpa sebab. Mata Shena kembali berkaca-kaca saat Leo menghentikan mobilnya tepat di depan rumah bibi yang kini sudah mulai beruban meski tidak terlalu banyak. Kenangan akan masa lalu Shena tiba-tiba terlintas dibenaknya dan itu membuat Shena menangis tanpa suara.
“Maaf, jika aku tiba-tiba membawamu datang kemari, kalau kau keberatan dan belum siap bertemu dengannya, kita bisa kembali lain waktu.” Leo mengelus pelan rambut Shena yang sedang menggendong Yeon.
“Bagaimana kau bisa tahu apa yang aku rasakan, Leo? Padahal aku tidak bilang apa-apa padamu?” Shena menatap wajah suaminya.
“Simple Sayang. Karena aku sangat mencintaimu. Bahkan setiap hembusan napasmu, aku bisa merasakannya. Jangan tanya alasannya karena aku sendiri tidak bisa menjabarkannya. Mungkin cintaku padamu terlalu besar sehingga aku selalu tahu apa yang kau rasakan meskipun kau tidak mengutarakannya padaku. Yang utama bagiku saat ini adalah kebahagiaanmu, Sayang. Aku sudah berjanji di depan makam mertuaku bahwa aku akan selalu membahagiakanmu selamanya, dan itu juga merupakaan janji ikatan pernikahan kita.” Leo mengecup kening Shena dengan mesra, bahkan Yeon pun ikut tergolek ditengah lelapnya ia tertidur.
Shena benar-benar terharu sekarang, ia tidak bisa lagi menggambarkan betapa bahagianya memiliki Leo disisinya. “Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu Leo. Apa yang harus aku lakukan untukmu supaya kau juga bahagia bersamaku.”
“Kau cukup melahirkan banyak anak untukku, Sayang?” Leo tertawa pelan tanpa suara. Ia yakin Shena pasti keberatan dengan keinginannya.
“Baiklah, tunggu sampai aku selesai memberikan ASI ekslusif untuk Yeon, baru kita program anak lagi.”
“Benarkah? Kau tidak keberatan?” Leo terkejut Shena langsung menyetujui keinginannya, padahal Leo tadi cuma bercanda dan hanya asal bicara.
“Ehm, aku milikmu selamanya. Sebisa mungkin, aku akan menuruti semua yang kau inginkan tanpa syarat.” Shena tersenyum dan tentu saja ia mendapat ciuman manis dari suaminya.
“Aku mencintaimu, Shena.” Leo menyudahi ciumannya karena tiba-tiba Yeon terbangun. “Sini, berikan Yeon padaku, kau bisa temui bibimu sekarang.”
Shena mengangguk senang dan menyerahkan Yeon pada Leo. Ibu satu anak itu membuka pintu mobil dan berjalan pelan mendekat ke rumah bibinya.
__ADS_1
Sejak dulu hingga sekarang, rumah ini tidak berubah, hanya sedikit kusam karena kurang terawat mengingat bibinya mungkin sudah tak punya banyak tenaga untuk merawat rumah ini sendirian. Hati Shena bergetar tatkala ia melihat bibinya keluar dari rumah untuk menjemur makanan yang sengaja ia keringkan di depan terasnya. Bibinya itu sibuk memilah-milah makanan kering dan basah pada sebuah ranjang kayu usang yang usianya mungkin jauh lebih tua dari usia bibinya sendiri.
Sungguh miris kehidupan bibi Shena setelah ia keluar dari penjara, ia sudah tidak punya siapa-siapa sama seperti Shena. Bedanya, Shena masih memiliki orang-orang luar biasa yang mencintainya dengan setulus hati, sedangkan bibinya hanya seorang diri. Hal itu semakin membuat Shena menjadi merasa bersalah meski dulu perlakuan bibinya ini sangat kejam padanya. Namun, sebagai keluarga satu-satunya yang dimiliki Shena, ia tidak bisa membiarkan adik almarhum ayahnya hidup menderita seperti ini.
“Bibi,” sapa Shena memberanikan diri. Ia berdiri tepat dibelakang bibinya yang sedang sibuk menjemur makanan kering.
Seketika Eghatia langsung terkejap mendengar suara yang tidak asing lagi baginya. Ia menoleh dengan cepat ke arah sumber suara itu, berharap bahwa pendengarannya tidak salah.
“Ka-kau ... kau ... Shena?” tanya bibi Egha. Matanya mulai berkaca-kaca. Berkali-kali bibi Shena itu mengusap-usap matanya untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi.
“Iya, ini aku, Bi. Bagaimana kabar Bibi?” tanya Shena yang juga ikut berkaca-kaca melihat betapa buluknya bibinya sekarang, sangat jauh berbeda dengan Eghatia yang dulu.
“Pergi kau dari sini, dan jangan pernah kembali lagi kemari! Kau puas dengan keaadaanku sekarang? Dulu aku jahat padamu, dan kini aku sudah mendapat balasan setimpal atas perbuatanku padamu. Kau boleh tertawa sepuasmu, tapi aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Bibi Eghatia menangis sesenggukan saat mengatakan kalimat itu.
Sungguh ia menyesal karena dulu telah memperlakukan keponakannya dengan sangat tidak baik. Kini ia terlalu malu bertemu dengan Shena. Sebab itulah Eghatia mengusir Shena dari sini.
“Aku datang kemari bukan untuk menertawakan Bibi, aku kemari karena aku merindukanmu, Bi. Aku tahu kau dulu jahat padaku, tapi di dunia ini cuma kaulah satu-satunya keluargaku yang aku punya, aku tidak bisa melupakanmu begitu saja, Bi. Aku tidak ingin Bibi seperti ini. Maafkan aku karena baru bisa menjenguk Bibi sekarang. Harusnya aku datang lebih awal, tapi ada banyak hal yang terjadi padaku sehingga aku baru bisa kemari hari ini. Tolong bukakan pintu rumahmu untukku, Bi.” Shena terus menangis dan berharap bibinya mau memaafkannya meski Shena tidak salah apa-apa.
Seketika, Egha terkejut mendengar kalimat ambigu yang diutarakan Shena. Dengan cepat ia mengusap air matanya dan membuka pintu rumahnya. Ia berjalan cepat mendekati Shena untuk memeriksa keadaan keponakannya yang terlihat cantik sekali dengan balutan gaun motif bunga-bunga tanpa lengan.
“Apa yang terjadi padamu? Apa tuan muda itu menelantarkanmu? Apa kau baik-baik saja? Dimana tuan muda itu sekarang? Aku akan menghabisinya jika sampai berani menyakitimu.” Rupanya, bibi Shena salah paham dengan pernyataan Shena barusan. Wanita paruh baya itu mengira Leo menelantarkan Shena sehingga keponakannya itu datang kemari mencarinya.
__ADS_1
“Tidak Bi, Leo dan seluruh keluarganya sangat menyayangiku lebih dari apapun. Dia juga ada disini, kami tidak hanya datang berdua, tapi bertiga.”
“Apa? Bertiga? Apa tuan muda itu menduakanmu?” pekik bibi Eghatia mulai emosi. Sepertinya, ia salah paham lagi.
“Bukan, Bi. Bibi lihat saja sendiri.” Shena menoleh ke arah Leo yang berjalan pelan sambil menggendong bayi Yeon.
Bibi Shena langsung mengatupkan kedua tangannya di depan mulutnya yang menganga karena terkejut melihat Shena, keponakannya yang dulu sempat ia telantarkan, kini sudah menjadi seorang ibu.
“Shena, kau ... apa dia ... anak kalian? kalian berdua ... sudah menikah?” mata bibi Shena mulai berkaca-kaca lagi. Ia langsung terduduk lunglai di hadapan Shena dan menangis tersedu-sedu.
Eghatia tidak menyangka, kini Shena sudah berkeluarga. Masih teringat jelas diingatan Shena, pesan almarhum kakaknya untuk menjaga dan melindungi Shena hingga ia menikah, tapi bukannya melaksanakan apa yang diminta almarhum kakaknya, Egha malah menyia-nyiakan Shena. Bahkan ia baru tahu, kalau keponakannya sudah menikah dan punya anak.
BERSAMBUNG
***
yang penasaran sama anknya Leo dan Shena. Nih aku kasih visualnya .. jangan bilang mas Kun Kun ya .. hehe ...
__ADS_1