
Mata Shena terbelalak tak percaya mendengar apa yang dikatakan Leo padanya. Bagaimana bisa seorang laki-laki meminta seorang wanita untuk buka baju dihadapannya di tempat umum pula? Shena sangat tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran orang ini. Sekalipun mereka adalah pasangan suami istri yang sah, tak seharusnya Leo berkata seperti itu padanya.
“Tidak mau!” sengal Shena. Ia sudah memikirkan hal-hal yang bukan-bukan. Tanpa sadar Shena berjalan mundur menjauhi Leo. “Dengar tuan muda Leo, atau siapalah namamu, meskipun kita sudah menikah dan punya anak, kita … tetap tidak boleh melakukan ini, aku … belum bisa menerimamu sepenuhnya. Meskipun foto-foto mesra itu nyata … tapi aku merasa aku belum pernah melakukannya denganmu, jadi aku mohon … beri aku sedikit waktu untuk ….” Belum juga Shena menyelesaikan kalimatnya, ia tak sengaja tersandung batu dan hampir saja jatuh lagi ke dalam sungai kalau saja Leo tak segera menarik tangan Shena ke dalam pelukannya.
Untuk sesaat, Leo dan Shena saling berpelukan mesra dan itu membuat Shena sangat terkejut. Bukan karena pelukan Leo, tapi karena wajahnya secara terang-terangan bersentuhan dengan dada bidang Leo yang tak memakai pakaian. Jantung Shena serasa meledak sehingga hasrat kewanitaannya mulai muncul menguasai Shena.
Sedangkan Leo sendiri, ia sangat merindukan Shena. Bukan Shena yang sedang ia peluk sekarang, tapi Shena yang selalu tersenyum manja padanya, Shena yang selalu tertawa riang bersamanya. Shena yang selalu bersedia ia cium sukarela dan tanpa harus dipaksa, Leo sungguh merindukan kebersamaan mereka yang romantis, sweet dan juga terkadang agak intim.
“Lepaskan aku … aku … sesak napas,” ujar Shena terbata-bata.
‘Oh, maaf. Aku … hanya terbawa suasana.” Leo bergegas melepaskan pelukannya dan berjalan mundur kebelakang untuk memberi ruang pada Shena dan menyembunyikan perasaannya. “Kau … tadi salah paham padaku. Aku hanya tidak ingin orang lain melihat tubuhmu bagian dalam karena pakaianmu yang basah jadi transparan. Pakailah pakaianku. Dan tanggalkan pakaianmu. Aku tidak ingin kau sakit.” Leo berpaling membelakangi Shena sambil menyerahkan kemejanya.
“Hah?” Shena melihat dirinya sendiri, baju dalamnya memang kelihatan. “Ka-kau lihat tubuhku?”
“Iya,” jawab Leo jujur. “Aku sudah tidak terkejut karena aku sudah sering melihatnya. Jika tidak, mana mungkin kita bisa punya anak, 3 pula!”jawab Leo enteng. Ekspresi Leo yang datar membuat Shena jadi bingung sendiri.
Entah mengapa, mendengar ucapan Leo, Shena jadi merasa malu. Percuma saja ia menutupi tubuhnya di depan Leo karena suaminya ini sudah pasti melihat seluruh tubuhnya. Dan itu hal yang wajar karena keduanya sudah resmi menikah.
Sejak tadi, Shena memang salah paham terus pada Leo, padahal suaminya ini tak punya maksud apa-apa padanya. Namun, melihat sikap dan ekspresi Leo saat ini, tak dapat dipungkiri bahwa ia bisa merasakan betapa besarnya cinta Leo untuk Shena. Alhasil, walau sedikit ragu, Shena mengambil pakaian yang diberikan Leo padanya.
“Dimana aku bisa mengganti pakaianku? Tempat ini terlalu terbuka untukku!” tanya Shena lirih. Sudah tak ada kemarahan lagi disana.
Leo mengamati keadaan sekitar dan menemukan sebuah pohon besar dipinggiran sungai. “Kita kebelakang pohon itu.” Leo menunjuk pohon tersebut. “Aku akan menutupi tubuhmu dengan tubuhku selagi kau berganti baju dan berjaga-jaga kalau-kalau ada orang yang datang.”
Dan benar saja, semua mata memandang sinis Leo yang bertelanjang dada berdiri tegak memunggungi Shena. "Apa lihat-lihat? Kami berdua sudah menikah!" bentak Leo pada setiap orang yang melintasinya.
"Menikah sih menikah, tapi masa iya melakukannya di tempat terbuka begini! Dasar tidak tahu malu!" gerutu orang itu.
__ADS_1
"Berani bicara lagi kusumpal mulutmu pakai parang!" bentak Leo sambil terus menutupi tubuh Shena.
"Dasar pasangan vulgar!" umpat orang itu lagi dan berlari pergi.
"Apa!" Erang Leo kesal dan hendak berlari mengejar orang itu tapi bahu Leo dipegang kuat oleh Shena.
"Jangan pergi! Aku belum selesai. Biarkan saja mereka berkata apa, yang penting kita tidak melakukan apa yang mereka bilang."
Leopun menuruti kata-kata Shena. Ia kembali menata tubuhnya supaya tubuh Shena tak terlihat oleh siapapun.
Beberapa menit kemudian, Shena berhasil mengganti pakaiannya dan mengenakan pakaian Leo dengan penjagaan ketat suaminya. Dalam hati, Shena sangat senang sekali dan merasa nyaman serta aman saat Leo bersamanya. Kini, sedikit banyak Shena mulai memahami sesuatu, sepertinya ia … mulai tertarik pada sosok pria yang bernama Leo ini.
“Kau sudah selesai?” tanya Leo yang membelakangi Shena.
“Sudah,” jawab Shena lirih dari balik punggung Leo.
Punggungnya mulus sekali, batin Shena dan sudah mulai berhalusinasi kemana-mana. Tidak Shena, jangan gila? Sadarlah! Kenapa pikiranmu jadi mesum begitu? Shena mulai berperang pada hati dan pikirannya sendiri.
“Bagaimana denganmu?” tanya Shena.
“Bagaimana apanya?” Leo balik bertanya.
“Kau … masa mau kembali ke mobil bertelanjang dada begitu?”
“Oh, jangan khawatirkan aku. aku baik saja-saja. Ayo jalan sebelum kita kemalaman.” Leo menggandeng tangan Shena lagi dan berjalan menyusuri area perkebunan teh dimana banyak pekerja yang kabanyakan terdiri dari kaum hawa sedang memetik daun teh.
Tentu saja pekerjaan mereka jadi terhenti begitu melihat pemandangan indah melintasi mereka. Jarang-jarang di desa terpencil begini ada cowok keren bertelanjang dada dan memamerkan tubuh seksinya. Mata setiap orang jelas tak bisa berkedip saat melihat Leo lewat dihadapan mereka semua.
__ADS_1
“Sungguh kau tidak apa-apa?” tanya Shena yang sesungguhnya tak rela jika suaminya ini memamerkan tubuh bagian atasnya gratis-gratis pada semua orang yang sedang bekerja diperkebunan teh terutama bagi kaum hawa.
“Aku tidak apa-apa.” Leo tersenyum walaupun sebenarnya ia berusaha keras menahan hawa dingin yang mulai merasuki tulang-tulangnya.
“Gendong aku!” pinta Shena tiba-tiba karena ia mendengar bisik-bisik tetangga para kaum hawa yang melihat kagum kearah Leo.
“Kau yakin?” tanya Leo sekali lagi.
“Setidaknya aku bisa menghangatkan tubuhmu dan menutupi dada bidangmu itu dari mata jelalatan para kaum hawa yang ada disekitar sini. Mereka berisik sekali!” Mata Shena menatap kesal pada wanita-wanita yang memandangi Leo.
Leo tertawa dan ia langsung menggendong Shena menuju mobil mereka. Kehangatan tubuh Shena membuat Leo tak begitu kedinginan lagi. Mata elangnya terus saja menatap wajah cantik Shena yang terlihat marah pada setiap wanita yang mereka lintasi.
“Kenapa kau menatap mereka seperti itu? kau terlihat menakutkan sekali?”
“Masa sih?” tanya Shena cuek. Ia sengaja merangkul leher Leo dan sengaja pamer kemesraan pada semua orang. Shena ingin menunjukkan kalau cuma dirinyalah satu-satunya wanita yang paling dicintai Leo.
“Sungguh! Apa … kau sedang cemburu?” tebak Leo.
“Siapa yang cemburu? Aku tidak cemburu?” kilah Shena dengan ketus.
“Kau memang tidak perlu cemburu, Ssyang. Karena aku sama sekali tidak tertarik pada wanita lain manapun selain dirimu seorang. Tapi … aku suka sih kalau kau cemburu. Itu artinya … kau juga cinta padaku. Padahal aku belum sepenuhnya menunjukkan pesonaku padamu.” Leo tertawa riang. Dan langsung membuat Shena terpana dengan kata-kata narsis Leo.
“Dasar GeEr!” sewot Shena.
Ini pertama kalinya Shena melihat Leo bahagia. Sebelum-sebelumnya bahkan beberapa detik yang lalu, Shena melihat wajah Leo selalu bermuram durja seolah ada beban berat dipanggulnya. Namun sekarang tidak lagi, sepertinya suasana hati Leo sedang baik. Apa karena mereka kini menjadi dekat?
Semua mata jadi iri menatap Shena yang digendong pria seksi seperti Leo. Apalagi bagi para kaum jomblo, mereka semua hanya gigit jari melihat betapa romantisnya Leo dan Shena saat ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***