Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 32 Sidang Dimulai


__ADS_3

“Leo benar-benar keterlaluan, sebenarnya dia itu kenapa, sih? Seenaknya saja menuduhku yang bukan-bukan seperti itu?” Shena berdiri di depan kulkas untuk mengambil sebuah minuman. Karena marah, tenggorokannya jadi kering. “Ternyata, cemburu itu benar-benar menakutkan.” Shena meneguk minumannya dan menutup kembali pintu kulkasnya. Ia tersentak kaget karena Leo tiba-tiba sudah berdiri disampingnya. “Astaga naga! Kau mengagetkanku saja!” seru Shena sambil memegang dadanya. Jantungnya berdetak dengan kencang karena terkejut.


Leo memegang tangan Shena yang menempel di dada istrinya lalu memindahkan tangan itu ke dada Leo sendiri sambil berkata, “Jantungku juga berdetak dengan kencang, Sayang. Aku terlalu mencintaimu sampai tidak bisa terima jika ada orang lain menatap wajah cantikmu ini selain aku. Ingin rasanya aku mengurungmu disuatu tempat supaya cuma aku saja yang boleh memilikimu, tapi aku tahu itu tindakan tidak benar dan paling egois.”


“Kau pikir aku juga tidak merasakan hal yang sama? Kau begitu populer dikalangan wanita? Setiap kali mereka menatapmu ingin sekali aku mencongkel semua mata mereka, tapi aku tidak melakukannya karena aku tahu, kau hanya milikku seorang, dan aku juga tahu ... kau tidak akan pernah berpaling dariku, sebab kau hanya mencintaiku. Aku harap kau juga begitu, Leo. aku mencintaimu. Sudah hampir setahun kita hidup bersama. Jangan pernah beranggapan kalau aku bakal berpaling darimu setelah apa yang kita lewati bersama selama ini.”Shena memerhatikan tangannya sendiri yang menempel di dada suaminya.


Sebuah ciuman manis mendarat dibibir Shena dan Leo terus menatap manik mata indah Shena setelah selesai menciumnya. “Orang bilang, cemburu itu tanda cinta Sayang. Kita berdua sama-sama dilanda cemburu satu sama lain, artinya kita berdua memang saling mencintai sehidup semati sampai akhir. Kau mau hidup bersamaku selamanya, Sayang?” Leo mencium kedua punggung tangan Shena. Matanya bersinar penuh cinta yang ia pancarkan khusus untuk Shena.


“Ehm, tentu saja aku mau, kau memang benar ... sepertinya, virus cintamu sudah menyerangku sehingga aku hanya bisa mencintaimu.” Shena merebahkan kepalanya di dada Leo dan Leo sendiri memeluk erat tubuh istrinya sambil terus mengusap perut buncit Shena.


“Mau main bulan tertusuk ilalang lagi?” goda Leo.


“Kau ini!" Shena memukul pekan dada suaminya. "Apa cuma itu yang ada diotakmu? Biarkan Leo junior bergerak bebas tanpa was-was dikunjungi ayahnya terus, berikan ruang padanya. Kau kejam sekali!” wajah Shena kembali cemberut.


“Bercanda Sayang, aku tahu kau kelelahan. Baiklah, Leo junior ... sepertinya ayahmu tidak bisa mengunjungimu dalam waktu dekat sampai ibumu kembali vit lagi. Jangan rewel, oke!" Leo mencium perut buncit istrinya dengan kebahagiaan yang tak terkira. Kita harus segera kembali ke hotel, Sayang. Bersiap-siaplah, aku mau buat onar di ruang sidang.”


Shena melepaskan diri dari pelukan Leo dan menatap wajah sumringah suaminya. “Bagaimana dengan Roy dan Laura? Kenapa rumah ini sepi sekali? Aku tidak melihat mereka dimana-mana.”


“Mereka sudah pergi duluan Sayang, lagian Roy sedang menikmati momen indahnya bersama Laura karena sahabatmu itu sedang berbadan dua, sama sepertimu.” Leo merangkul bahu Shena dan mengajaknya pergi bersiap-siap.


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Leo dan Shena sampai di hotel bintang lima milik Leo sendiri. Beberapa staf langsung menyambut kedatangan mereka. Keduanya langsung menuju kamar VVIP tempat Leo dan Shena menginap sebelumnya. Shena merebahkan dirinya diatas kasur untuk melepaskan lelah setelah perjalanan jauhnya. Sedangkan Leo langsung menelepon seseorang untuk mengecek kembali persiapan sidang yang akan berlangsung besok pagi.

__ADS_1


“Kau sudah siapkan semuanya? Oh ... pastikan semua sesuai berjalan dengan rencana? Apa tuntutannya ... ehm, 25 % saham. Serakah juga rupanya. Ah satu lagi ... belikan aku mainan. Harus sama persis. Dan juga ... kirim semua daftar nama saksi-saksinya padaku. Hari ini jangan ganggu aku. Aku mau berduaan saja dengan istriku.” Leo langsung menutup sambungan teleponnya.


“Apa yang sedang kau rencanakan, Leo?”tanya Shena dari atas tempat tidur.


“Tidak ada, aku hanya menggunnakan cara mafia.” Leo duduk disebelah Shena sambil mengusap lembut perut Shena.


“Sebenarnya itu cara seperti apa, sih?”Shena benar-benar penasaran dengan cara mafia yang dibilang Leo.


“Kau akan melihatnya besok, Sayang. Tidak seru kalau kau kuberitahu sekarang. Berbaringlah! Kau harus banyak-banyak istirahat. Jangan lupa minum vitaminnya. Karena tadi kau ngambek, kau belum minum dan makan apapun. Tunggu disini, aku akan memesankan makanan untukmu. Setelah makan dan tidur, kita mandi bersama.” Leo bangun dari tempatnya dan langsung pergi keluar. Shena hanya bengong saja melihat Leo yang terlalu perhatian padanya.


“Sepertinya aku memang tidak akan pernah lepas dari penjara cinta Leo, dan juga semua kegilaan yang dia lakukan sejak pertama kali kami bertemu,” gumam Shena.


***


Meski ini bukan yang pertama kali keluarga Leo terlibat kasus, tetap saja kasus yang sedang menimpanya selalu sukses mengundang banyak perhatian khalayak dan jadi incaran media massa. Apalagi lawan Leo kali ini bukan dari kalangan pebisnis atau sekelompok orang jahat yang kasusnya selalu dimenangkan oleh pihak Leo.


Lawan Leo sekarang adalah penegak hukum, seorang hakim pula. Hal inilah yang menarik perhatian masyarakat, mereka semua bertaruh siapakah yang akan memenangkan kasus ini. Sebab, yang menjadi tertuduh adalah Leo dan Shena. Selama ini, keluarga Leo terkenal tak terkalahkan. Apa jadinya sekarang jika yang menjadi lawannya adalah seorang hakim ternama yang juga memiliki kekuasaan tak kalah besar dari keluarga Pyordova. Tidak ada yang tahu siapakah yang bakal memenangkan kasus ini.


Begitu Leo dan Shena sampai di depan gedung pengadilan. Mereka berdua langsung dikerumuni banyak reporter dan wartawan yang meminta keterangan mengenai kasus yang sedang mereka hadapi saat ini. Para pengawal Leo langsung sigap melindungi Leo dan Shena dari kerumunan saat keduanya keluar dari mobil limosin hitam milik keluarga Pyordova. Leo memeluk erat bahu Shena agar istrinya itu tidak gugup menghadapi banyaknya media massa yang berusaha mengorek informasi darinya.


Leo meminta Shena agar tetap diam dan terus berjalan serta tidak memedulikan semua wartawan yang mengajukan banyak pertanyaan padanya. Mereka berdua terus melangkah maju dan baru bisa bernapas lega setelah memasuki gedung karena semua wartawan dilarang masuk ke dalam.

__ADS_1


“Jangan gugup, Sayang. Percayalah padaku, kita hanya akan bersenang-senang di ruang sidang. Tapi sebelumnya, pakailah lotion ini, supaya kulitmu yang mulus itu tidak rusak. Sini aku pakaikan, ya?” Leo membantu mengusapkan lotion yang ia bawa ke sekujur kulit Shena baik dari tangan, kaki, dan juga wajah.


“Untuk apa lotion ini? Tadi di hotel aku juga sudah pakai.” Shena mencium bau lotionnya. “Baunya harum,” ujar Shena masih terus mengendus tangannya yang baru dibalur lotion oleh Leo saat keduanya berada diluar ruang sidang.


“Ini untuk memuluskan kulitmu, Sayang. Aku khusus membelikannya untukmu. Sejak kau hamil, kau sudah jarang pergi ke salon. Jadi, kuputuskan akulah yang merawatmu dari ujung rambut sampai ujung kaki baik diluar ataupun didalam tubuh seksimu ini.” Leo tertawa sambil mengusap lembut pipi istrinya.


“Kau mulai menggombal lagi. Sebaiknya, kita masuk kedalam. Jangan sampai kita terlambat hanya karena rayuan mautmu itu.” Shena menggamit lengan Leo dan mengajaknya masuk ke ruang sidang.


Semua orang sudah menunggu kedatangan Leo dan Shena diruangan. Begitu mereka masuk, hakim yang tidak lain adalah ayah dari wanita yang digampar Shena, memulai acara persidangannya.


Abas, selaku pengacara keluarga besar Leo yang bertugas menggantikan ayahnya, juga sudah siap dimejanya untuk menangani kasus ini. Shena dan Leo juga sudah duduk manis disampingnya.


Semua hadirin yang berada di ruang sidang berdiri serentak dan memberi hormat pada hakim yang sudah mulai berdatangan dan duduk ditempatnya.


“Kita mulai sidang kasusnya,” ujar hakim itu mengetuk satu ketukan palu.


BERSAMBUNG


***


__ADS_1


__ADS_2