
Shena menoleh ke arah sumber suara itu yang ternyata adalah Roy. Ia baru saja datang dan membuka pelan pintu ruangan. Suami Laura itu terkejut melihat Shena masih terjaga dan malah duduk disamping suaminya.
"Roy," seru Shena agak terkejut juga. Tengah malam begini kenapa suami sahabatnya itu malah datang kemari dan bukannya istirahat bersama dengan Laura diruangannya.
"Istirahatlah Shena, biar aku yang menggantikanmu berjaga."
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku akan tetap disini, bersama Leo."
"Aku rasa, kau sebaiknya pergi menemui putramu," usul Roy.
"Kenapa? Ada apa dengan Yeon," tanya Shena was was.
"Aku ... mendengar tangisan suara Yeon disebelah. Kesanalah dan istirahatlah disana bersama Yeon. Sepertinya, putramu juga membutuhkanmu." wajah Roy terlihat sedih, tapi sengaja tidak ia perlihatkan pada Shena.
Shena menangis mengingat Yeon, karena kondisi Leo, seharian tadi ia belum sempat menengok putranya. Untunglah ada bibi pengasuh yang merawat Yeon seperti putra kandungnya sendiri. Meskipun begitu, Yeon tetap membutuhkan perhatian Shena dan Shena yakin, putranya bisa merasa apa yang Shena rasakan sekarang, sebab seorang bayi itu sangat peka terhadap orangtuanya terutama ibunya.
"Kau sendiri, kau juga punya bayi, kenapa malah datang kemari?" tanya Shena heran melihat Roy meninggalkan Laura dan bayinya sendirian di ruangannya.
"Sudah ada ayah yang membantuku merawat putraku, Lauralah yang memintaku kemari untuk menggantikanmu menjaga Leo. Pergilah, aku akan langsung memberitahumu jika Leo sudah sadar nanti."
Shena tak bisa bicara, ayah dan ibu mertuanya masih dalam perjalanan kemari. Disisi lain, ia mencemaskan Yeon juga, tapi Shena juga sangat berat meninggalkan suaminya yang sampai detik ini, masih belum sadarkan diri. Tak dapat dipungkiri, ucapan Roy ada benarnya, Yeon membutuhkan Shena sekarang, untuk itulah Shena memutuskan menenangkan Yeon dulu, baru ia kembali lagi kemari.
"Aku akan melihat Yeon dulu, Leo. Cepatlah sadar, Yeon pasti sangat merindukanmu." Shena mencium mesra suaminya dengan lembut. Setelah itu, Shena pergi menuju ruangan Yeon yang sedang menangis digendongan bibi pengasuhnya.
Tangisan putra sulung Leo dan Shena langsung terhenti begitu melihat Shena datang. Dengan cepat Shena mengambil tubuh mungil Yeon dan menenangkannya.
"Halo Yeon, kau merindukanku? Maafkan ibu Sayang, sini tidur dengan ibu, oke. Tidurlah yang nyenyak. Besok, kita akan bertemu dengan ayahmu. Semoga saja, malam ini ayahmu sudah sadar." Shena menimang-nimang putranya.
Tak perlu menunggu waktu lama, Yeon langsung terlelap di pelukan Shena seakan mengerti apa yang dikatakan ibunya. Shena sedikit merasa tenang saat memeluk tubuh Yeon yang kian hari, semakin pesat pertumbuhannya. Hanya saja, pikiran Shena tak bisa lepas dari bayang-bayang suaminya meskipun ia bersama dengan Yeon sekarang.
Pukul 04.00 pagi, Shena baru bisa tertidur lelap bersama Yeon. Tidur Shena begitu lelap sampai ia tak sadar dengan apa yang terjadi diluar ruangannya.
__ADS_1
Mata Shena baru terbuka lebar saat mendengar suara tangisan Yeon yang menangis dengan keras. Hal itu membuat Shena agak sedikit pusing karena ia sangat kurang tidur. Bibi pengasuh yang ada didekat Shena cuma bisa menenangkan Yeon agar tidak menangis lagi.
"Maaf Nyonya, tangisan tuan muda Yeon membangunkan anda," ujar bibi pengasuh sambil menggendong Yeon.
"Tidak apa-apa, Bi. Kenapa Yeon menangis, apa dia lapar?"
"Barusan saya sudah memberikan susu, Nyonya. Tadinya, tuan muda baik-baik saja, tapi entah mengapa tiba-tiba saja dia menangis," terang bibi pengasuh itu.
"Sini, berikan Yeon padaku. Mungkin saja ia merindukan ayahnya."
Shena meraih tubuh Yeon dari gendongan pengasuhnya. Hanya saja, Shena merasa ada yang aneh dengan pengasuh Yeon ini. Tak biasanya ia gugup dan tangannya berkeringat saat bersentuhan dengan Shena. Hal itu membuat Shena jadi penasaran.
"Kenapa Bi? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanya Shena sembari menenangkan putranya yang memang langsung diam begitu Shena memeluknya.
Bibi itu tak berani menjawab, wajahnya terus menunduk antara apakah ia buka suara atau tidak. Kedua tangannya ia tautkan satu sama lain untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Katakan, Bi. Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba saja aneh begitu?" tanya Shena lagi.
"Iya, katakan Bi. Jangan membuatku penasaran."
"Yeon sudah tenang, Nyonya. Biarkan dia bermain dulu, baru saya akan memberitahu anda," ujar bibi pengasuh Yeon dengan gugup.
Shena memerhatikan keadaan Yeon. Mata putranya itu tertuju pada sebuah mainan yang ada di ranjang bermainnya. Iapun menuruti usulan pengasuh Yeon dan meletakkan putranya di bak bayi agar ia bisa bermain-main disana.
"Sekarang, katakan Bi. Ada apa?" Shena menatap lurus mata wanita paruh baya itu.
"Nyonya, pagi tadi ... tuan Leo, masuk ke ruang ICU karena mengalami sesak napas. Beliau masih belum sadar dan sekarang ... masih dalam perawatan dokter ...."
"Apa? Bagaimana bisa? Semalam ia masih baik-baik saja. Bagaimana bisa suamiku masuk ruang ICU lagi?"
"Saya juga tidak tahu, Nyonya ... tapi, itulah yang terjadi. Tuan muda Leo ...."
__ADS_1
Belum juga pengasuh Yeon itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Shena sudah berlari kencang menuju tempat suaminya berada dengan wajah tegang setengah mati.
"Tidak, Leo!" isak Shena sambil berlari keruang ICU yang dimaksud pengasuhnya.
Sesampainya di ruangan itu, Shena tertegun karena sudah banyak orang berkerumun di depan ruangan. Laura dan Roy bahkan sudah ada disana bersama seluruh anak buah Leo.
"Ada apa ini?" tanya Shena masih dengan tubuh tegang saking shocknya.
Laura yang melihat kedatangan Shena, langsung berjalan cepat dan memeluk erat tubuh sahabatnya.
"Apa yang terjadi, Ra? Dimana Leoku?" tanya Shena dengan nada suara gemetar. Sejauh ini Shena yakin kalau Leo pasti baik-baik saja.
"Dia ada diruang ICU," jawab Laura lirih. Matanya mulai berkaca-kaca merasakan tubuh tegang Shena.
"Kenapa dia masuk ruang ICU? Dia baik-baik saja semalam, Leo hanya tinggal sadar saja. Apa yang dia lakukan didalam sana?" teriak Shena.
"Tenanglah Shena. Suamimu baik-baik saja. Dokter sudah mengusahakan yang terbaik untuk Leo." Laura mencoba menenangkan Shena.
"Bagaimana aku bisa tenang, Ra? Aku tak bisa tenang sampai suamiku memanggil kata Sayang padaku. kau tidak bisa menyuruhku tenang! Apa yang terjadi pada Leo? Kenapa ia harus dibawa ke ruang ICU lagi." Tubuh Shena merosot dipelukan Laura sambil menangis pilu. Laura sendiri juga ikut menangis bersama Shena.
"Leo mengalami sesak napas disaat ia tak sadarkan diri, Shena. Saat ini Leo sedang menjalani CT scan untuk mengetahui apa ada yang salah dengan organ vitalnya. bersabarlah, semua dokter dirumah sakit ini sedang mengusahakan yang terbaik untuk suamimu Leo. Kita hanya tinggal menunggu kabar dari dokter.”Laura memeluk erat tubuh Shena. Kesedihan yang dirasakan sahabatnya juga merupakan kesedihan Laura juga.
Shena tidak bisa percaya mendengar kondisi Leo yang belum saja membaik. Tapi ia juga tak berdaya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dalam pelukan Laura, Shena menunggu kabar dari dokter. Ini sudah lebih dari 2 jam tapi tak ada satupun dokter yang keluar.
Untunglah hal itu tak berlangsung lama. Pintu ruang ICU terbuka dan mata dokter itu tertuju pada Shena. Sambil menundukkan kepala dokter itu mendekati Shena untuk memberi tahu bagaimana kondisi Leo saat ini.
"Maafkan kami, Nyonya Shena. Kami semua sudah melakukan apa yang terbaik untuk tuan muda Leo ..." dokter itu tak bisa meneruskan kalimatnya lagi.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1