
Tangan pria yang mencoba menyerang Leo langsung dicekal oleh para pengawal Leo. Mereka tak membiarkan pria yang telihat mengenaskan itu mencoba mendekati Leo lagi. Awalnya Leo terkejut karena mendapat serangan dadakan dari orang tak dikenal, tapi ia langsung tersenyum setelah mengenali siapa orang yang ada dalam cekalan para pengawal suami Shena itu.
"Kau terlihat buruk sekali," komentar Leo memancing kemarahan pria itu lagi. "Suatu keajaiban kau masih hidup dan bisa sampai kemari.
Roy yang ada didekat Leo juga terkejut karena mantan pegawainya yang dulu sangat kompeten itu jadi berakhir tragis begini.
"Lepaskan aku! Akan kubunuh pria berengsek ini!" Seru pria itu menggebu-gebu. Ia bahkan mencoba mendekat dan berusaha menyerang orang yang tak bergeming berdiri dihadapannya.
Pengawal Leo semakin menekan kuat kedua bahu pria itu sehingga dia duduk berlutut dihadapan Leo. Ia terus memberontak tapi jelas dia kalah tenaga dengan pengawal Leo yang memiliki kekuatan fisik diatas rata-rata. Terpaksa orang itu memilih diam daripada buang-buang tenaga.
"Kenapa kau membohongiku, ha? Apa kau tahu betapa menderitanya aku?" teriaknya lagi.
"Tahu, karena itulah aku sengaja menyesatkanmu kesana," sela Leo tenang setenang permukaan kaca jendela.
"Apa?" mata pria itu melotot pada Leo. "Kenapa? Memangnya apa salahku? Aku bahkan tidak mengenalimu, kau tahu apa akibat dari perbuatanmu? Aku dan istriku terperosok ke dalam jurang menganga, istriku keseleo dan dia tak bisa berjalan dengan normal. Berhari-hari lamanya aku dan istriku kelaparan di tengah hutan. Untunglah kami bisa sampai ke tepi jalan dan ada truk kambing menawarkan bantuan pada kami. Aku dan istriku terpaksa tidur dengan kambing-kambing itu selama perjalanan menuju ke kedutaan Jepang untuk mencari bantuan dan perlindungan."
Semua orang yang ada di dekat pria itu mulai sadar kalau mereka memang mencium bau kambing yang menyengat. Rupanya bau itu berasal dari orang ini.
"Berapa hari kau tidak mandi, ha?" bentak Leo.
"Semua ini salahmu!" pria itu balas membentak.
"Kau yang bau kambing kenapa aku yang kau salahkan?" protes Leo.
"Karena kaulah yang menyebabkan semua ini. Harusnya Aku tak menurutimu. Dasar berengsek kau! Aku sudah memikirkan cara untuk balas dendam padamu jika kita bertemu lagi. Terimalah ini!" Pria itu mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya untuk bangun menyerang Leo tapi lagi-lagi usahanya digagalkan oleh pengawal Leo. "Lepaskan aku! Aku akan membunuhnya." Pria itu terus saja berontak.
"Lepaskan dia," perintah Leo. Ia agak mual juga dengan bau kambing yang melekat ditubuh orang ini. "Apa kau tidak ingin mandi, ha? Kau benar-benar sudah mirip kambing sekarang. Pergi mandi dulu sana! Baru kita bicara lagi. Bagaimana pesawat itu bisa membawamu kemari? Aku tak bisa membayangkan betapa tersiksanya orang-orang yang duduk satu pesawat denganmu."
"Semua ini gara-gara kau! Bos besar memanggilku kemari dalam waktu cepat dan tiket pesawat yang ia kirimkan membuatku tak sempat membersihkan diri. Bahkan istriku yang terluka masih kutinggalkan disana! Semua ini karena ulahmu! Kau sengaja membuatku menderita, untuk apa, ha? Kau punya dendam apa padaku!" teriak pria itu pada Leo dengan amarah yang memuncak.
__ADS_1
Pengawal setia Leo yang mendengar teriakan itu jadi kesal sendiri dan spontan mengeluarkan pistolnya hendak menembak kepala orang yang berani membentak atasannya. Namun Leo memberi kode agar orang-orangnya tak bertindak gegabah.
"Turunkan senjata kalian," perintah Leo lagi.
"Tapi, Tuan muda ... dia ..."
"Tidak apa-apa, dia hanya marah padaku." Leo menjelaskan dengan tenang. Pengawal itupun menuruti perintah Leo dan memasukkan kembali senjatanya didalam saku jas mereka.
Pria itu terkejut mendengar pengawal yang mencekalnya memanggil Leo dengan sebutan 'tuan muda'. Artinya, orang yang dibentaknya bukanlah orang biasa. Bersamaan dengan itu beberapa orang yang tak lain adalah para pemegang saham datang bergerombol karena mendengar keributan.
"Ada apa ini?" tanya orang-orang yang baru saja datang bersamaan.
Pria yang melihat bos besarnya ada diantara pria bergerombol itu langsung berteriak histeris karena mengira ia datang untuk menjemput dan menolongnya dari cekalan anak buah Leo.
"Bos! Ini aku!" seru pria yang dicekal pengawal Leo. Tidak ada yang tahu siapa pria yang berpenampilan bak gembel jalanan itu.
"Siapa kau? Kenapa memanggil kami bos?" tanya salah satu orang yang berdiri di belakang Leo. "Jangan sembarangan bicara, enak saja ngaku-ngaku kami sebagai bosmu. Kenal saja nggak!" kilah orang itu dan berjalan mendekat ke arah Leo. "Ehm, Tuan muda, sebaiknya anda pergi saja. Biar kami yang mengurus orang ini," ujar orang itu pada Leo.
"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri, lagipula aku punya urusan pribadi dengannya. Kalian semua pergi saja," tegas Leo tanpa menoleh pada orang yang mengajaknya bicara.
"Tapi ...."
"Apa kau memang mengenal orang ini? Sudah kubilang aku bisa mengurusnya. Kenapa kau masih disini?" Leo menatap tajam pria paruh baya yang berbicara padanya.
Kalau Leo sudah seperti itu, tak ada yang berani membantah Leo lagi. Orang-orang itu terpaksa pergi masuk ke dalam lift sambil melirik tajam orang yang ada dicekalan pengawal Leo. Tatapannya aneh dan mengandung makna mencurigakan.
"Mereka tidak akan pernah mau membantumu lagi," ujar Leo begitu pintu lisft tertutup. ia pun meminta pasukannya mematikan cctv tempat ia berdiri sekarang. "Sebaliknya ... kini nyawamu dalam bahaya." Leo tersenyum sinis melihat wajah melas dihadapannya. Anehnya pria itu diam saja dan tak bereaksi apa-apa seolah sudah tahu kalau ini bakal terjadi.
"Aku tahu seperti apa mereka itu. Sudah kuduga kalau bakal begini jadinya," gumam pria itu pasrah setelah mengalami kekecewaan yang begitu besar.
__ADS_1
"Jadilah orangku, maka kau akan aman." entah kenapa Leo malah menawarkan jasa.
"Setelah apa yang kau lakukan padaku? Kau tahu betapa aku ingin sekali membunuhmu?" pria itu tertawa saja mendengar tawaran Leo.
"Tahu, tapi kau tak punya pilihan lain lagi sekarang. Begitu kau keluar dari pintu perusahaan maka, nyawamu akan melayang, tapi ... jika kau setuju bekerja sama denganku, maka kau ... akan selamat. Ah, aku juga akan membantumu melunasi hutang-hutangmu asal kau mau bekerjasama denganku."
"Dalam hal apa?"
"Ehm ... apa ya ... katakan saja membasmi kecoak yamg menyebabkan kuman," jawab Leo ngasal.
Pria itu menatap tajam mata Leo. Ia tidak tahu apakah Leo bisa dipercaya atau tidak setelah ia dikerjai Leo habis-habisan hingga ia berada dititik terendah seperti ini.
"Katakan padaku, apa motifmu menyesatkanku? Apa kau dendam karena istriku menabrak Istrimu waktu itu?"
"Salah satunya itu, tapi bukan itu saja tujuanku mengerjaimu habis-habisan. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa kesombongan dan kecongkakan sama sekali tak dibutuhkan bagi orang yang tak punya kekuasaan. Kalian berdua terlalu dibutakan oleh gemerlapnya duniawi tanpa mau menyadari kalau ada hal yang lebih penting bila dibandingkan dengan uang. Hidup itu tidak mudah, kau tak bisa mencapai apa yang kau inginkan dengan cara instan. Perlu kerja keras dan pengorbanan. Yang kau lakukan itu salah, makanya aku mengajarimu cara bertahan hidup yang benar, karena kau bukan orang jahat seperti orang-orang yang baru saja meninggalkanmu."
Sungguh pria itu langsung tertegun mendengar penjelasan Leo. Ia sama sekali tak pernah berpikir sampai kesitu. Baginya, uang itu segalanya. Istrinya juga sangat mencintainya karena awalnya dulu dia kaya. Namun, karena kebiasaan hidup istrinya yang wah, ia harus mengalami pasang surut keuangan. Akhirnya pria ini lupa akan jati dirinya yang sesungguhnya karena terlalu dibutakan oleh harta dan wanita.
Bertemu Leo, merupakan pukulan telak yang langsung menyadarkan pria bernama Bob ini. Ia baru mengerti arti hidup yang sesungguhnya setelah melewati rintangan menuju tempat ini. Padahal sebelumnya ia tak pernah mengalami kendala apapun saat bepergian kemana-mana. Namun, selama perjalanan kembali ke negara Jepang ini, merupakan hal tersulit yang pernah ia lakukan selama hidup di dunia dan itu ia rasakan setelah bertemu dengan orang seperti Leo.
"Sebenarnya, siapa kau?" tanya pria itu.
"Kau akan tahu nanti. Sekarang pergi bersihkan dirimu. Ikuti anak buahku dan lakukan apa saja yang diperintahkan sampai waktunya tiba. Setelah itu, barulah kau bisa menikmati arti hidup yang sesungguhnya." Leo pergi meninggalkan pria yang terlihat lemas itu. Tapi ia balik badan untuk menyampaikan sesuatu. "Ah satu lagi, sebaiknya jangan hubungi istrimu dulu sampai urusanmu disini selesai. Kau baru boleh jemput dia nanti. Aku akan mengganti semua biaya kerugianmu." Setelah bicara seperti itu, Leo masuk ke dalam lift bersama Roy dan beberapa pengawal yang tersisa.
Roy hanya diam tanpa suara karena ia sudah tahu seperti apa rencana Leo ketika hendak menangkap ikan besar.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1