
Saat Shena dan Leo sedang beruwu-uwuan di dapur, bibi Shena malah asyik sibuk menimang-nimang Yeon yang mulai bangun dari tidurnya. Wanita paruh baya itu benar-benar senang dengan putra Shena. Sebab, bayi mungil Yeon tidak menangis dan malah bertingkah menggemaskan seolah ingin mengajaknya bicara. Suara khas ala bayi yang berusia hampir 2 bulan membuat Egha benar-benar merasa terharu.
“Aku pasti akan merindukan suara ini jika kau tidak ada disini, Yeon. Cepat tumbuh besar dan jadilah anak yang baik, ya? Seperti ibumu yang punya hati mulia bak malaikat tak bersayap. Semoga kelak, kau mendapat pasangan yang sama baiknya seperti ibumu.” Bibi Shena tersenyum bahagia melihat tingkah Yeon yang mulai menggerakkan tangan dan kakinya.
Sementara itu, Leo bergegas keluar rumah untuk menemui semua pengawalnya yang sejak tadi menunggu diluar. Ia memerintahkan semuanya untuk merapikan tempat tinggal bibi Shena supaya bisa dihuni dengan layak. Semua anak buah Leopun langsung bergerak cepat melaksanakan perintah bosnya.
Apa yang dilakukan anak buah Leo, sukses mengundang perhatian warga sekitar tempat tinggal bibi Shena. Soalnya, seluruh barang-barang yang ada di dalam rumah Egha dikumpulkan jadi satu disuatu tempat dan diganti dengan yang baru. Kebetulan barang-barang yang dipesan Leo langsung datang di hari itu juga. Barang-barang tersebut adalah perabot yang diperlukan seperti kasur, meja, kursi dan beberapa bahan-bahan penting lainnya.
“Apa sedang ada acara uang kaget?” tanya salah satu tetangga bibi Shena pada teman-temannya setelah melihat pengawal Leo yang memakai setelan jas hitam senada, sedang mondar mandir kesana-kemari mengamati dan menyusun perabot yang diperlukan dalam rumah bibi Shena.
“Entahlah, jika memang ini acara uang kaget, kenapa tidak ada pak brewok disana? Yang ada hanyalah pemuda tampan yang menyegarkan mata,” jawab ibu-ibu ganjen yang sejak tadi memerhatikan Leo saat memandu pergerakan anak buahnya.
"Dasar kau ini! Tak sadar diri. Udah tua juga, masih aja cari yang bening-bening," ujar temannya.
"Itu artinya mataku sehat walafiat, karena masih bisa melihat yang seger-seger."
“Bukankah itu Shena? Keponakan Egha yang dulu pernah ia telantarkan?” tunjuk salah satu ibu-ibu yang lainnya.
“Iya, kau benar. Aku hampir tidak mengenalinya karena ia semakin lama semakin cantik saja. Tunggu, siapa bayi yang digendong Egha itu? Apa mungkin ... itu anak Shena? Jadi benar dia sudah menikah? Lalu dimana suaminya?” tanya tetangga Egha yang keponya kebangetan.
__ADS_1
“Disini!” jawab Leo cepat. “Akulah suami Shena yang kalian bilang cantik itu. Apa ada masalah?” Leo malah balik bertanya.
“Hehe ... tidak ada,” jawab salah satu tetangga Egha karena merasa tidak enak dengan Leo. Mereka tidak menyangka rupanya telinga Leo tajam juga.
Tentu saja para ibu-ibu kepo itupun terpana melihat betapa tampannya suami Shena, apalagi kalau dilihat dari dekat. Lucunya, ibu-ibu yang terpesona akan ketampanan Leo, langsung kaget karena Shena memiliki suami luar biasa tampan, cool, dan kece seperti Leo. Saking terkejutnya, ia pun akhirnya pingsan tepat dihadapan Leo dan teman-temannya yang lain. Para rekan-rekannya pun jadi bingung dan terpaksa membawa pergi ibu-ibu yang pingsan itu menjauh dari Leo.
“Hadeuh, kenapa ini orang pakai acara pingsan segala, sih?” celetuk salah satu ibu-ibu yang membopong tubuh temannya.
Leo hanya tersenyum sinis menyaksikan tingkah konyol tetangga bibi Shena. Ia pun kembali masuk ke dalam dan bicara pada Egha.
“Untuk sementara ini, Bibi pakai saja semua barang yang sudah aku bawakan untuk Bibi. Besok, rumah ini akan dibongkar dan dibangun yang baru. Selama proses pembongkaran, bibi tinggal saja dirumah Shena yang lama. Rumah itu sudah menjadi milik Shena,” terang Leo. Shenapun langsung menghampiri Leo dan memeluk pinggang suaminya.
“Tidak Shena, aku malah tidak akan pernah bisa tidur bila harus tinggal disana karena rasa bersalahku pada almarhum kakak. Biarkan aku tinggal disini dan menjalani hukumanku selama aku hidup. Agar, jika aku bertemu ayahmu nanti, aku bisa menatap wajahnya dan meminta maaf padanya.” Egha beralih menatap Leo yang berdiri disamping Shena. “Kau tidak perlu melakukan semua ini, Tuan muda. Aku sudah nyaman tinggal di rumah sederhana ini. Keponakanku mau memaafkanku saja itu sudah lebih dari cukup untukku, aku tidak membutuhkan yang lain lagi sekarang.”
Shena semakin terharu melihat ketulusan bibinya yang benar-benar menyesali perbuatannya dimasa lalu. Sungguh Shena tidak mungkin membiarkan bibinya hidup sengsara lagi setelah ini, tapi ia bingung bagaimana cara mengungkapkannya.
“Ini bukan hanya demi dirimu, Bibi. Aku melakukan ini untuk Shena dan putraku. Mereka mungkin akan sering berkunjung kemari untuk melihat keadaan Bibi. Aku tidak mau mereka tidak nyaman selama berada disini nanti. Terutama Yeon, dan mungkin anak-anakku yang lain. Sebab, aku berencana punya banyak anak dengan Shena. Rumah ini tidak akan cukup jika anak-anakku nanti datang kemari, jadi aku harus mengubah rumah ini lebih luas dan senyaman mungkin. Aku harap Bibi tidak keberatan.” Leo bicara blak-blakan pada bibi Shena terutama soal rencananya punya banyak anak.
Dasar nggak ada akhlak! Tapi entah kenapa kau sungguh keren, Leo. batin Shena sambil menatap Leo.
__ADS_1
“Baguslah kalau begitu, keluarga kalian pasti bakal ramai kalau kalian punya banyak anak. Yeon juga tidak akan kesepian.” Senyum Eghatia memudar saat mengingat masa kecil Shena yang juga kesepian saat kedua orangtuanya tiada.
Bukannya memberikan perlindungan dan menghibur hati Shena yang sedang berduka, ia malah membuat keponakannya hidup bagai di neraka. Tak terasa, Egha kembali menangis kala mengingat betapa buruknya masa kecil Shena gara-gara dirinya. Sepertinya, kata maaf saja tidak akan cukup menggantikan perlakuan buruknya pada Shena. Seakan mengerti seperti apa perasaan bibinya, Shena melepas pelukannya dari Leo dan beralih memeluk Egha.
“Bibi, jangan menangis lagi. Biarlah yang lalu terus berlalu terbawa angin. Kita tidak perlu mengingat kenangan buruk itu lagi. Bibi harus hidup lebih lama supaya nanti bisa menyaksikan pernikahan Yeon jika ia sudah dewasa. Sebab, Bibi adalah nenek satu-satunya dari pihak ibunya. Jangan sedih lagi ya, Bi.” Shena mencoba menghibur bibinya yang masih saja merasa bersalah padanya.
Eghatia hanya mengangguk pelan, ia kembali berkaca-kaca karena masih saja menyesali perbuatannya. Apalagi, bayi Shena ini sungguh menggetarkan hatinya.
“Shena!” tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria yang familiar ditelinga Shena. Orang itu muncul dari balik pintu dan langsung memeluk Shena tanpa permisi dulu pada Leo. Sontak saja, Leo langsung kebakaran jenggot.
BERSAMBUNG
***
Pasti sudah tahu siapa tuh yang berani meluk Shena. hehehe ....
Ganti cover lagi, boleh gak ya ... lagi iseng soalnya.
__ADS_1