
Beberapa menit telah berlalu, Shena mulai terjaga dari pingsannya. dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah suaminya, Leo. Pria tampan itu terus saja menatapnya dengan sejuta kecemasan diwajahnya.
“Kau tidak apa-apa, Sayang? Apa yang kau rasakan? Kau butuh sesuatu? Katakan saja.” tanya Leo sambil mengusap lembut rambut Shena dan menggenggam erat tangannya.
Shena mencoba bangun dari tidurnya dibantu oleh Leo. “Ehm, aku tidak apa-apa. Mungkin aku terlalu lelah.” Shena masih memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
“Kau mau aku antar istirahat di kamar?” tanya Leo penuh perhatian. Matanya tak berhenti menatap wajah istrinya.
“Makanlah dulu, Shena. Kau sedang hamil, jadi kau harus banyak makan,” ujar idola Shena yang tentu saja membuat istri Leo itu langsung tertegun mendengar suara merdunya.
Gila! Itu beneran suara Kun Kun nggak sih? jerit Shena dalam hati, tapi matanya tak pernah berhenti menatap Leo. Shena yakin idolanya itu sedang ada dibelakangnya saat ini.
“Dia ada dibelakangmu? Kau tidak mau melihat idolamu?” cap Leo dengan lembut.
Deg!
Diluar dugaan, Leo malah menyuruh istrinya melihat artis idolnya. Sebenarnya, Shena sendiri juga masih belum percaya. Tidak mungkin seorang Leo mengizinkannya melihat laki-laki lain selain dirinya, itu sangat mustahil. Namun, Sekali lagi Shena menatap wajah Leo dengan seksama untuk memastikan apakah yang dikatakan suaminya barusan itu serius atau tidak. Dan ternyata, Leo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia juga masih menggenggam erat tangan Shena.
Izin yang diberikan Leo malah membuat Shena jadi semakin bingung mengingat kejadian waktu itu. Leo sempat membuat onar acara artis idolanya hanya karena ia ingin melihat konser orang yang kini ada di belakang Shena. Tapi sepertinya sekarang sudah berbeda, tidak ada kemarahan diwajah Leo. Suaminya itu malah tersenyum menatap Shena.
“Kau tidak marah?” tanya Shena hati-hati.
“Tidak!” jawab Leo singkat.
“Kenapa?”
“Sama seperti Arga bagimu. Aku menganggap si pirang itu juga seperti Arga. Lagipula, bibi Eshild juga berjasa bagi pernikahan ayah dan ibuku sehingga terciptalah aku. Kalau kau ingin tahu bagaimana proses aku tercipta, tanyakan pada idolamu itu.” Leo menatap idola Shena yang juga menatapnya.
“Hah?” Shena semakin bingung dan tidak mengerti. Ia mecoba melihat wajah artis idolanya yang benar-benar mirip dengan Leo. Hanya penampilan dan warna rambutnya saja berbeda. Selebihnya, semuanya sama.
“Ayahmu juga berjasa bagi kedua orangtuaku sehingga terciptalah aku, Leo. Kau bisa menceritakan kisahnya pada istrimu nanti jika kau mau,” ujar artis idola Shena sambil tersenyum.
__ADS_1
“Ada apa, ini? Kenapa kalian malah membahas proses terciptanya kalian dari orangtua kalian masing-masing? Lalu bagaimana denganku? Siapa yang berjasa pada orangtuaku sehingga terciptalah aku?” sindir Shena.
“Tentu saja ayah mertuamu sendiri Sayang, kau tidak ingat? Ayah menodongkan pistol pada ibumu agar mau menerima cinta ayahmu. Jika saja waktu itu ayah tidak datang tepat waktu, kau tidak akan tercipta untukku. Dan kita ... tidak akan bersama seperti ini, sekarang.” Leo tersenyum manis pada Shena. Awalnya, ia hanya menempelkan dahinya di dahi Shena tetapi dalam sekejap mata, Leo langsung menurunkan kepalanya dan mencium mesra istrinya tepat di depan mata kembarannya.
“Benar-benar nggak ada akhlak!” gumam artis idola Shena sambil geleng-geleng kepala. Ia sudah tidak kaget lagi melihat sikap Leo yang mengumbar kemesraan dimana-mana.
“Hei kalian? Apa kalian tahu siapakah orang yang berjasa dalam proses terciptanya, diriku? Bisa beritahu aku? Aku juga ingin tahu.” Roypun tak ingin kalah dari para lelaki yang ada dihadapannya.
Leo bangun berdiri sambil memapah Shena lalu mengajak istrinya berjalan melewati Roy sambil berkata, “Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang!” Leo menatap tajam Roy sambil tersenyum sinis. Sementara Shena dan idolanya saling tertawa mendengar jawaban nyeleneh Leo.
“Dasar bengek kau, Leo! Rumput siapa yang kau maksud, ha?” bentak Roy.
“Ayo kita makan, Sayang! Kau pasti sudah lapar, makan yang banyak ya Sayang, agar Leo Junior kita semakin kuat,” ujar Leo tak menggubris ocehan Roy dan malah berlalu melewatinya menuju ruang makan.
“Rumput tetangga juga boleh.” Artis idola Shena itupun ikut menepuk bahu Roy.
“Sialan kalan berdua. Tak hanya kembar, tapi sifat kalian ternyata sama saja!”
Shena melihat Laura sedang menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Leo menarik kursi untuk Shena dengan hati-hati supaya istrinya bisa duduk dengan tenang. Setelah itu, baru ia duduk disamping Shena. Roypun juga melakukan hal sama seperti yang dilakukan Leo pada Shena. Ia mendudukkan Laura dan bersikap sok romantis di depan semua orang.
“Salah sendiri kenapa kau tidak mengajak pacarmu kemari!” cetus Leo.
“Dia sedang sibuk dan aku tidak mau mengganggu waktunya. Salah siapa juga aku harus berada disini untuk mengawasi seseorang,” balas Kun menyerang Leo.
Dengan malas, Leo menarik kursi untuk idola Shena dari tempat ia duduk. Shena langsung heran karena suaminya itu mau saja melakukan apa yang diminta artis idolanya seolah Kun adalah orang penting juga bagi Leo.
Apa hubungan kedua orangtua mereka begitu dekat, sampai Leo mau saja menarikkan kursi untuk orang yang pernah tidak disukainya? Batin Shena.
“Terimakasih, Leo.” idola Shenapun ikut tersenyum senang, tapi ia langsung mendapat tatapan tajam dari Shena. Sekarang, sepertinya Shenalah yang cemburu padanya karena Leo sudah mulai bersikap baik tak seperti sebelumnya.
“Sama-sama.” Leo menjawab dengan jutek dan mulai menyendokkan makan untuk Shena.
__ADS_1
Baiklah, nanti saja aku tanyakan pada Leo apa yang terjadi antara Leo dan idolaku ini, pikir Shena.
Saat sedang asyik mengunyah makana yang ia makan, tiba-tiba Laura merasa mual lagi dan ia langsung berlari kedapur. Gadis itu mutah-muntah dan membuat bingung semua orang yang ada diruang makan. Roypn ikut berlari mengikuti Laura serta membantunya memijat tengkuk istrinya.
Hueeeek! Hueeeek!
Terdengar suara mutahan dari belakang. Shena menatap Leo yang juga menatapnya. Keduanya pun punya pemikiran yang sama.
“Kau tidak apa-apa, Sayang?” tanya Roy khawatir.
“Apa kau tidak lihat, ha? Tubuhku rasanya tidak enak sekali.” Laura mengusap mulutnya dengan handuk bersih setelah membasuh wajahnya. Ia berdiri bersandar dimeja wastafel.
“Istirahatlah dikamar sebentar, ayo aku antar.” Roy memapah Laura menuju kamar mereka, tapi Leo dan Shena berdiri menghalanginya.
“Jadi, kau menyembunyikan sesuatu dari kami, ha?” tanya Leo mulai interogasi.
“Apa maksudmu?” tanya Laura.
Laura menatap Roy yang juga menatapnya. Begitu juga Shena yang sejak tadi diam melihatnya.
Ada apa ini? batin Laura karena ia memang tidak tahu apa maksud kata-kata Leo.
BERSAMBUNG
****
Kun
__ADS_1
Leo
hehehehe ...