Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 261 Permintaan Yuna


__ADS_3

“Apa kau tidak punya akhlak? Bagaimana bisa kau mengajari anak kita seperti itu?” mata Shena memelototi Leo. Gigi Shena gemeretak saking geramnya.


Bukan apa-apa, ia hanya khawatir Yuna tersinggung dengan kata-kata Leo yang belum waktunya dilakukan oleh seorang anak kecil. Kalau Yeon sih bodo amat, karena ia punya karakter yang dingin seperti Refald, tapi bagaimana dengan Yuna?


Shena memerhatikan sikap Yuna yang terlihat tenang. Syukurlah ia tak tersinggung dan mengganggap Leo hanya bercanda saja.


“Itu memang julukanku, Sayang. Dan aku sangat suka sewaktu kau tadi memanggil Yeon dengan sebutan ‘anak kita’. Rasanya benih kecebongku emmmmm….” Leo tak bisa bicara karena mulutnya dibungkam erat oleh tangan Shena.


“Bisa diam nggak sih? Di sini, banyak anak-anak. Kenapa kau bicara ngelantur begitu, ha?”


Leo melepas paksa tangan istrinya lalu menggenggam erat kedua tangan Shena supaya mulutnya tak dibungkam lagi oleh istrinya. “Mereka tidak akan mengerti Sayang.”


“Siapa bilang? Anak-anak kita adalah anak-anak yang genius. Mereka bahkan mengerti istilah-istilah asing. Jangan bicara sembarangan lagi di depan mereka. Belum waktunya.”


“Tapi Sayang, Yeon tidak mirip aku. Beda dengan Rey yang pasti langsung jelalatan kalau melihat wanita cantik.” Leo masih saja memancing emosi Shena.


Lea dan Bima hanya saling pandang sambil menikmati makanannya dan melihat adegan perdebatan suami istri yang tidak jelas itu. Sementara Yeon masih saling bertatapan dengan Yuna.


“Tapi tidak seharusnya kau berkata seperti itu di depan Yuna? Masa anak seusia mereka kau suruh pangku-pangkuan? Apa kau sudah gila?”


“Iya, kalau aku tidak gila mana mungkin aku mendapatkanmu dan kita punya tidak anak-anak genius seperti mereka, hehe.” Leo malah cengar-cengir kuda.


“Apa itu lucu? Aku serius!” pekik Shena semakin kesal.


“Sayang, aku hanya menggoda mereka, supaya mereka tidak bersitegang lagi. Jangan baper begitu?”


“Siapa yang baper?” mata Shena kembali memelototi suaminya.

__ADS_1


“Kau!” ujar Leo. Jahilnya memang sudah mendarah daging dijiwa Leo dan sepertinya tak bisa dihilangkan lagi. Ia suka sekali membuat Shena darah tinggi mentang-mentang Shena sudah mulai bisa mengingat masa lalunya sedikit demi sedikit.


Shena tak bisa lagi berkata apa-apa. Leo benar-benar menyebalkan. Bisa-bisanya dia menjadikan situasi tegang ini sebagai bahan candaan. Belum juga Shena angkat bicara, tiba-tiba Yeon berdiri dengan raut wajah kesal setengah mati.


“Aku tidak lapar, kalian makan saja, aku mau pergi mencari udara segar di luar,” ujar Yeon dan ia langsung berlari pergi keluar rumah.


“Yeon!” teriak Shena ia hendak berdiri juga tapi lengannya di tahan oleh Leo.


“Sayang, duduklah! Biarkan aku yang bicara padanya. Ini salahku, aku akan membujuk Yeon kembali lagi kemari. Kalian semua makanlah dulu, ini semua buatan ibumu, Sayang kalau tidak dimakan.”


“Baik Ayah,” ujar Bima dan Lea yang memang sejak tadi sudah menyantap makanannya lebih dulu dengan lahap. Leo hendak bangkit berdiri tapi tidak jadi karena tiba-tiba Yuna menghampiri Leo dan Shena.


“Ehm, Paman, Bibi … jika tidak keberatan, izinkan aku yang bicara dengan Yeon. Dia seperti itu gara-gara aku. Aku tidak ingin semua orang yang ada di rumah ini tidak nyaman hanya kerena kehadiran orang sepertiku. Karena itu, izinkan aku meluruskan semua ini. Ada … yang ingin aku bicarakan dengan Yeon secara pribadi.” mata Yuna menatap penuh harap agar Leo dan Shena menyetujui permintaannya.


Untuk sesaat, pasangan suami istri itu saling pandang. Namun, Leo akhirnya memutuskan untuk mengizinkan Yuna bicara terlebih dulu dengan Yeon. Baru setelah itu dirinya. “Pergilah, jika Yeon tidak mau kembali, jangan dipaksa, aku yang akan mengurus dia nanti.”


“Kau yakin?” tanya Shena sebelum Yuna pergi.


“Yakin, Bibi. Bibi sendiri yang bilang padaku kalau aku harus menghadapi apapun dengan tegar. Aku akan mencoba bicara padanya.” Yuna tersenyum senang dan iapun berjalan keluar menyusul kepergian Yeon. Shena dan Leo hanya menatap kepergian Yuna sampai gadis kecil itu menghilang ditikungan.


“Cepat awasi mereka berdua. Jika ada apa-apa segera beritahu aku,” ujar Leo pada anak buahnya.


“Baik, Tuan muda.” Pengawal itupun membungkukkan badannya dan langsung berjalan cepat mengejar Yuna dan Yeon. Agar tidak katahuan, ia menjaga jarak dari kedua anak kecil berbeda jenis kelamin tersebut dan terus mengawasi mereka berdua.


Ternyata, Yeon tak berada terlalu jauh dari rumah. Ia bersandar di dinding gazebo, menghadap langsung ke hamparan perkebunan teh yang luas. Semua perkebunan teh tersebut adalah milik ibunya Yeon hadiah dari Leo.


Yuna memberanikan diri berjalan mendekati putra sulung Leo dan berdiri disampingnya. Jarak keduanya kurang lebih 2 meter saja.

__ADS_1


“Aku tahu kau membenciku,” ujar Yuna memulai pembicaraan lebih dulu. Namun Yeon tak bergeming dan tetap acuh tak acuh pada Yuna. “Aku juga tahu, kalau aku … tak pantas berada di sini, bersamamu dan seluruh anggota keluargamu.”


“Huh, kalau kau sudah tahu, kenapa kau masih saja berada di sini?” sinis Yeon.


“Itu karena aku … sangat menyukai ibumu. Aku ingin punya ibu seperti ibumu. Aku iri padamu. Kau punya segalanya, sedangkan aku tak punya apa-apa. Dan aku tak butuh apa-apa. yang aku butuhkan hanyalah kasih sayang seorang ibu, tidak lebih dari itu.” nada suara Yuna terdengar sedih.


“Kalau begitu, cari saja ibumu? Kenapa kau malah datang kemari?” cetus Yeon.


“Ibuku membuangku, lebih tepatnya menjualku pada orang yang lebih mirip kakekku daripada calon suamiku …”


“Hah?” Yeon terkejut. Kali ini sungguh-sungguh terkejut. Tubuhnya sampai menghadap tubuh Yuna. “Kau bilang apa tadi? Suami?”


Yuna menceritakan kisah hidup mirisnya pada Yeon secara garis besarnya saja. “Bibi Shenalah yang menyelamatkanku. Jika tidak, entah apa yang terjadi padaku.” mata Yuna mulai berkaca-kaca lagi dan Yeon jadi merasa sedikit tidak enak hati juga. Tapi itu bukan urusannya. Bukan salah Yeon juga kalau Yuna dibuang ibunya.


“Sungguh malang nasibku ini karena menjadi anak yang terbuang. Selama beberapa tahun terakhir, aku tak pernah tahu seperti apa rasanya tersenyum. Yang aku tahu hanyalah air mata. Namun setelah bertemu dengan bibi Shena. Duniaku berubah, ternyata tersenyum itu menyenangkan. Hatiku benar-benar merasa tenang berada didekat ibumu ...”


“Aku tak mau dengar apapun yang kau katakan,” ujar Yeon jutek dan menyela ucapan Yuna. “Dan aku juga tak mengerti apa maksud ucapanmu itu? Pergilah dari hadapanku! Kau membuang-buang waktuku saja. Siapa yang menyuruhmu bicara padaku, ha?” sengal Yeon dan langsung pergi meninggalkan Yuna begitu saja.


Yuna tak menyerah, ia mengikuti kemanapun langkah Yeon pergi. Yuna sengaja tak bersuara lagi karena ia tahu suasana hati Yeon sedang buruk. Sampai akhirnya, mereka berdua sampai di tengah-tengah hamparan padang teh dan itu tanpa mereka berdua sadari tentunya.


“Sampai kapan kau mengikutiku? Apa kau tak punya malu? Kalau aku jadi kau! Aku akan pergi dari sini dan tidak merepotkan orang lain lagi!” bentak Yeon karena sudah tak bisa bersabar lagi. ia tidak tahu kenapa Yuna keukeuh mengikutinya. Padahal ia sudah bersikap kasar pada Yuna.


“Jadikan aku pelayanmu,” ujar Yuna langsung tanpa basa basi dan tentu saja pernyataan Yuna itu membuat Yeon terkejut.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2