
Pernyataan Datuk sukses membuat semua orang yang ada di pesta ini tercengang-cengang. Mereka tak percaya, seorang pria muda biasa bisa melakukan hal gila seperti itu. Mereka yang tak mengenal Leo, jadi bertanya-tanya siapakah Leo hingga ia berani membuat marah seorang Datuk Situroja yang terkenal paling tak kenal kompromi diantara semua mafia yang ada di sini.
Jika seorang anak muda berani bertindak nekat seperti itu, artinya pria yang ditodongkan senjata oleh datuk bukanlah orang sembarangan. Dan memang benar, seperti halnya Byon, Leo juga pantang mundur dalam mengahdapi musuh-musuhnya.
Para tamu pesta pun langsung meminta anak buah mereka untuk mencari tahu siapakah sosok Leo sebenarnya. Dan hasilnya … nihil, mereka tak memperoleh informasi apapun selain seorang pengusaha kaya raya.
Hal itu kerena Leo sudah meminta Xiaonai untuk membantu menyembunyikan identitas aslinya agar tak bisa diakses atupun diretas oleh siapapun serta memberi kode pada orang-orang yang mengenalnya untuk tutup mulut. Tak ada satupun orang yang berani membantah keinginan Leo jika ingin berumuir panjang.
Semakin heran dan penasaranlah orang-orang akan sosok suami Shena ini. Namun, diantara mereka semua, tak ada yang berani bersuara karena mereka tak tahu menahu apa yang terjadi sebenarnya sehingga Leo bisa sampi membakar habi selurh harta benda yang dimiliki Datuk Situroja. Tak ada api jika tak ada yang menyulutnya. Leo pasti punya alasan kuat mengapa ia menjatuhkan Datuk hingga sampai kedasar-dasarnya.
“Benarkah Tuan muda? Anda melakukan apa yang dituduhkan Datuk Situroja? Semua asetnya, telah anda musnahkan?” tanya pria paruh baya ber jas silver dengan dasi kupu-kupu warna serupa melekat sempurna di kerah bajunya.
Leo tak segera menjawab pertanyaan penengahnya. Sebaliknya, Leo semakin mendekat kearah senjata itu dan dengan cepat ia merebut kembali senjata api yang dipegang sang Datuk sehingga beralih ke tangannya. Namun Leo tidak menembakkan balik senjata itu, ia malah mengamati senjata mematikan itu disetiap sudut dan sisinya.
“Desert Eagle Mark XIX, ini adalah pistol kesukaanku,” ujar Leo masih sambil mengamati pistol yang dipegangnya. “Aku yakin, kau membelinya dari perusahaan ayahku. Apa jadinya jika peluru yang ada dalam pistol buatan ayahku ini menembus tubuh putranya sendiri? Wauuw … perang dunia mafia … pasti bakal terjadi.” Leo meniup ujung pistol itu sebagai bentuk intimidasi.
Bukan tanpa alasan mengapa Leo berkata demikian. Secara tidak langsung, ia memberitahu semua orang apa yang akan terjadi jika si kakek tua bangka ini benar-benar mengangkat senjata untuknya, sebab ia bukanlah pengusaha kaya biasa, melainkan putra tunggal dari seorang pemilik perusahan senjata terbesar di Jerman sekaligus seorang mafia yang paling ditakuti musuhnya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Leo barusan, Semua orang mulai kembali membicarakan sosok Leo yang sudah memberikan petunjuk tentang siapa dia sebenarnya. Mereka yang langsung tahu, jadi tercengang antara percaya dan tidak percaya bahwa putra tunggal sekaligus pewaris tahta keluarga mafia Byon Pyordova hadir dalam pesta kaum sultan ini.
“Perusahaan senjata? Jangan-jangan … kau …” seseorang yang berdiri paling dekat dengan Leo tak bisa berkata-kata setelah menyadari siapakah Leo.
Begitupula dengan yang lainnya. Refleks, mereka semua mundur selangkah demi selangkah untuk mengingat sosok seorang Leo. Hanya Shena, pria berjas silver, dan Datuk Situroja saja yang berada ditengah-tengah mereka.
“Benar … aku … adalah Leopard Bay Pyordova. Putra tunggal dari Byon Pyordova. Dan wanita cantik yang berdiri disebelahku adalah, Nyonya Shena Leopard Pyordova.” Akhirnya, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia memperkenalkan dirinya secara resmi bersama Shena kepada seluruh mafia. Mata Leo, menatap tajam Datuk yang juga memandang Leo dengan kobaran api kebencian tiada tara.
Karena ulah putra Byon ini, kini Datuk sudah tak punya apapun lagi. Tentu saja, si kakek tua bangka itu minta ganti rugi atas apa yang sudah Leo lakukan terhadapnya. Sayangnya, Leo menolak tuntutan sang Datuk. Ia tak merasa harus mengganti rugi apapun.
“Kenapa kau tak mau ganti rugi? Jelas-jelas kau telah melanggar kesepakatan barter kita. Artinya kau harus membayar 2 kali lipat dari harta bendaku yang sudah kau musnahkan!” seru Datuk menggebu-gebu.
Si tua bangka ini rupanya masih belum sadar diri. Sudah jelas kalau ia juga melanggar banyak peraturan mafia tapi masih berani bersikap sok bijaksana seolah dia bersih sendri. Shena yang diam hanya menatap sinis wajah kakek bau tanah itu. Ia menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan kebusukan yang dilakukan seorang Datuk Situroja.
Dibalik itu, Datuk tetap bersi keukeuh kalau Leo telah melanggar kesepakatan barter dan semua mafia yang ada di sini pasti tidak akan tinggal diam begitu saja. Sebelum Leo membayar ganti rugi, maka ia tak bisa keluar hidup-hidup dari sini. Itulah keyakinan yang diyakini Datuk.
“Aku tak perlu mengganti rugi apapun atas semua yang aku lakukan padamu, Pak tua.” Leo tetap tak gentar sedikitpun meskipun ia dikepung oleh kumpulan mafia kelas kakap yang menganggap dirinya bersalah karena menyalahi aturan. "Kau tahu kenapa? Karena kau … telah menandatangani surat perjanjian bahwa apapun yang aku lakukan terhadap hidupmu, adalah atas persetujuan dirimu sendiri.” Kilatan mata Leo semakin menajam dan membuat semua orang jadi saling pandang dalam diam.
__ADS_1
“Apa maksud ucapanmu? Kapan aku menandatangani perjanjian yang kau maksudkan itu?” sanggah Datuk. Kepalanya semakin berkunang-kunang dan napasnya jadi kembang kempis serasa sesak di dada. Ia kembali mengingat berkas-berkas yang sudah ia tanda tangani tadi diruangan tersendiri. “Jangan-jangan ….” Datuk mulai menyadari kesalahan dan keteledorannya.
Dengan senyuman sinisnya yang menawan, Leo berkata, “ Iyah … berkas-berkas itu. Kau … telah menandatangani berkas sekaligus perjanjiannya. Harusnya kau tadi mengecek ulang sebelum memberikan tanda tangan, Pak Tua. Jangan asal coret tinta saja.” Leo tersenyum senang karena ia memang sudah menang telak.
Datuk langsung tertegun. Tubuhnya mematung tak percaya bahwa dirinya telah jatuh sejatuh-jatuhnya hanya karena sebuah tanda tangan.
Dan untuk membuat jantung Datuk itu semakin cepat berhenti berdetak, Leo kembali mengeluarkan berkas yang sejak tadi sudah diamankan oleh Shena. Ia kembali membuka berkas itu dibagian paling belakang. Leo menunjukkan bukti surat perjanjian mereka yang sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak antara Leo dan Datuk dihadapan semua orang.
Isi dari surat pernyataan itu menyatakan bahwa Datuk bersedia dengan sukarela jika Leo melakukan tindakan apapun sebagai konsekuensi karena Datuk telah merusak ketenangan hidup sang gangster. Tak hanya itu, seluruh deposit milik Datuk telah beralih fungsi menjadi milik Leo. Surat perjanjian tersebut, jelas-jelas sudah ditanda tangani oleh Datuk yang berkasnya memang dijadikan satu dengan berkas pembebasan Yuna.
“Kurang ajar kau! Kau menjebakku! Kau tak memberitahuku kalau ada surat perjanjian semacam itu! Kau curang! Ini penipuan!” teriak mafia tua itu tak terima.
Tensi darah Datuk langsung naik dan jantungnya terasa sakit. Ia hendak menyerang Leo tapi ditahan oleh orang-orang mafia yang ada di sini.
“Ck ck ck … salah sendiri! Siapa suruh kau sibuk melenyapkan seluruh anggota keluargaku? Jadi kena batunya, kan kau? Coba kalau kau tak macam-macam dengan keluargaku dan lebih fokus pada barter kita. Hal seperti ini, takkan pernah terjadi,” ledek Leo dengan bahasanya yang menjengkelkan membuat semua orang yang mendengar kalimat Leo, jadi ngeri sedap gimana gitu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***