Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 156


__ADS_3

Sungguh Biyanca tidak tahu, masalah apa yang sedang dihadapi oleh Shena dan Leo. Ini pertama kalinya dalam sejarah pernikahan mereka, Leo dan Shena seolah sedang ada perang dingin. Namun, untuk menjaga agar Shena tak semakin stress, Biyanca diam-diam mencari tahu sendiri apa yang sedang dialami Shena. Kenapa ia tak mau melihat ataupun bicara pada Leo walaupun Shena tak mau berterus terang padanya.


"Ya sudah, aku akan tidur denganmu, malam ini. Tenangkan dirimu dan istirahatlah. Apa kau butuh sesuatu? Kau mau kubuatkan susu?" tawar Biyanca dan Shena hanya menggeleng lemah. Ia tak punya tenaga lagi untuk bicara.


Fakta tentang suaminya yang menemui Agne tanpa sepengetahuan Shena membuat hati Shena sedikit hancur. Tak biasanya Leo bersikap seperti itu. Siapapun orang yang ditemui Leo, suaminya itu pasti memberitahunya terlebih dulu dan bahkan langsung mengajaknya ikut. Namun kali ini berbeda. Leo, terkesan menutupi pertemuan mereka berdua. Itu yang tidak bisa Shena terima.


"Sepertinya kau harus makan atau minum sesuatu. Lihat dirimu, kau pucat bagai mayat," komen Biyanca lagi. Iapun bangun dari tempat tidurnya dan hendak berjalan pergi keluar. Tetapi satu tangannya dicekal oleh Shena.


"Ibu mau kemana? Tetaplah di sini bersamaku." tanya Shena lirih.


"Aku akan mengambilkan sesuatu untukmu. Kau tak boleh tidur dulu sebelum perutmu terisi. Aku akan segera kembali." Biyanca mengusap lembut rambut Shena dengan penuh kasih sayang tapi matanya melirik tajam Leo seolah memberi peringatan keras pada putranya.


"Temani Shena sebentar, jangan biarkan dia pergi dari sini atau kucincang tubuhmu jadi kepingan debu!" cetus Biyanca pada Leo. Putranya itu tak menyahut dan hanya diam saja menatap wajah pucat istrinya.


"Maafkan aku, Shena. Aku ... bisa jelaskan apa yang terjadi sebenarnya ...."


"Aku tahu dia sangat seksi dan begitu menggoda. Lelaki manapun yang melihat wanita itu, tidak akan bisa tahan dengan pesonanya." Shena sengaja memotong kata-kata Leo. "Tak terkecuali dirimu."


"Shena ...."


"Kalau kau menyukainya, katakan saja," sela Shena lagi. "Aku tidak keberatan."


"Aku hanya mencintaimu!" Leo berusaha meyakinkan Shena. "Apa kau tidak percaya padaku?"


"Aku ingin percaya! Tapi bekas lipstik itu ... terlalu menempel jauh dilehermu. Itu bukan sekedar tabrakan biasa. Paling tidak kau harus memeluknya supaya lipstik itu bisa sampai dikerah bajumu sedalam itu."


"Tapi aku tidak memeluknya?" nada suara Leo agak meninggi.

__ADS_1


"Kau tidak memeluknya? Tapi lipstik itu berlari sendiri ke lehermu? Dan menempel sendiri juga dilehermu? Kau ingin aku percaya itu?"


"Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana bisa lipstik itu menempel di kerah bajuku, Sayang. Percayalah! Aku tak melakukan apa yang kau tuduhkan?"


"Lalu, kau melakukan apa?" mata Shena menatap tajam mata Leo. "Apa yang kau lakukan, padanya? Kau tak mau memberitahuku?"


"Aku ... menampar wajahnya," jawab Kun lirih.


"Apa?" mata Shena semakin menajam.


"Dia meneleponku untuk segera datang menemuinya karena dia bilang ada yang ingin dibicarakan." Leo mulai menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. "Awalnya, aku tidak mau menemuinya tapi, aku rasa wanita seperti itu takkan mudah menyerah dan akan terus menggangguku. Jika tidak bisa hari ini, besok lusa dan seterusnya, ia pasti akan mencoba menggangguku lagi.


"Jadi, kuputuskan saja menemuinya dan memberi pelajaran padanya supaya tidak menghubungiku lagi. Tanpa sengaja, saat kami berdua berdiri berhadapan bersama, seseorang menabraknya dan wanita itupun jatuh menabrakku. Tapi aku dengan cepat mendorong tubuhnya menjauh dariku. Dan langsung menampar wajahnya dengan sangat keras. Selebihnya, kau tahu sendiri seperti apa aku, Sayang. Aku mencaci makinya tepat dihadapan semua orang. Itulah kronologi kejadian yang sebenarnya." Leo menjelaskan panjang, lebar dan tinggi apa yang dilakukan oleh Leo diluar sana saat bertemu dengan wanita itu.


Shenapun terdiam dan tak bersuara lagi. Hatinya sedang berkecamuk antara marah dan cemburu, tapi juga merasa lega walau ada sedikit rasa kecewa pada suaminya ini.


"Bagiku, tak ada wanita lain yang lebih cantik dan lebih seksi darimu, Sayang. Aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita manapun selain dirimu. Harusnya kau tahu itu. Jangan pernah kau meragukan cintaku padamu, Shena. Sekarang kau sudah tahu, apa yang terjadi sebenarnya. Jangan marah lagi padaku, oke." Leo menggenggam erat tangan istrinya. Tapi suasana hati Shena masih sangat buruk dan tak ingin dekat-dekat dengan Leo untuk sementara.


"Leo ...," ujar Shena.


"Ehm, apa Sayang?" Leo menatap mesra Shena.


"Bisa tinggalkan aku sendiri? Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku."


"Tapi ... kenapa? Kau kan sudah tahu kebenarannya? Aku ..."


"Tolong, aku mohon. Aku ingin sendiri untuk malam ini. Aku butuh waktu ... untuk menata hatiku kembali. Seandainya kau jadi aku, apa kau bisa menerima semua ini? Kau pergi seharian tanpa memberi kabar sementara aku disini menunggumu dengan cemas. Begitu kau pulang, kau langsung mengejutkanku dengan semua ini? Bagaimana perasaanmu jika kau jadi aku?" mata Shena mulai berkaca-kaca lagi. Leo sendiri juga tak bisa bicara apa-apa.

__ADS_1


Leo sadar kalau dia juga salah. Karena rasa egoisnya yang tinggi, Leo tak memikirkan perasaan istrinya. Apalagi, Shena juga sedang hamil muda, dan pastinya sangat sensitif akan hal - hal kecil yang terjadi disekitarnya. Harusnya Leo tak membuat kesalahan dan lebih mengerti perasaan Shena.


"Maafkan aku, Sayang. Lain kali, aku tidak akan mengulangi kejadian ini lagi. Takkan kutinggalkan lagi kau sendiri. Istirahatlah! Kalau kau butuh sesuatu, panggil saja aku." Leo mencium kening Shena sambil menggenggam erat tangannya. Sedangkan Shena sendiri hanya bisa memejamkan mata untuk mencoba melupakan semua ini.


"Kau yakin tak ingin tidur bersamaku malam ini?" tanya Leo sekali lagi dan Shena menggelengkan kepalanya.


"Tolong, biarkan aku sendiri."


"Tapi ... masa kau tega membiarkanku tidur sendirian, Sayang?"


"Kau bisa tidur dengan ayah kalau kau tidak mau tidur sendiri." nada suara Shena terdengar datar dan dingin.


"Ya sudah, tapi hanya untuk malam ini saja, ya?"


Shena tidak menyahut dan memilih untuk diam. Ada banyak sekali hal yang sedang ia pikirkan terlepas pada apa yang dialami suaminya.


Biyanca datang dengan pelayan istananya yang sedang membawa makanan untuk Shena. Sejak tadi pagi, Shena belum makan apa-apa gara-gara menunggu kabar dan kedatangan suaminya. Namun yang ditunggu-tunggu malah tidak merasa.


"Makanlah ini, Shena. Aku dengar kau belum makan apa-apa sejak pagi. Ini tidak baik untuk kesehatanmu dan janin yang kau kandung."


Tanpa pikir panjang Leo mengambil makanan yang ada di atas nampan dan menyuapkan makanan itu untuk Shena.


"Ayo, makanlah Sayang. Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kau makan sesuatu. Buka mulutmu!" pinta Leo serius.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2