
Mendengar ucapan Leo, Shena mulai mencium bau-bau kejahilan dalam diri suaminya. Shena yakin sekali, Leo pasti sedang mengerjai laki-laki asing yang berdiri di depan Leo.
"Benarkah kau kenal dia?" tanya Pria itu pada Leo.
"Tentu saja, siapa yang tidak kenal keluarga Pyordova. Apa ... kau pernah bertemu dengannya?" tanya Leo sambil memasang wajah meyakinkan. Padahal Leo sudah tahu jawabannya. Jika orang didepannya ini tahu seperti apa tuan muda Pyordova, maka tidak mungkin orang ini tidak mengenali Leo. Sebab di keluarga Pyordova, tidak ada lagi tuan muda lain selain dirinya.
"Tidak, Tuan. Saya belum pernah bertemu dengan tuan muda. Saya hanya disuruh atasan untuk memberikan berkas kerjasama perusahaan kami yang berpusat di Jepang. Sudah berhari-hari tuan muda Pyordova tidak datang ke kantor dan informasi yang kami dengar beliau ada di kampung halaman istrinya. Untuk itulah kami datang kemari. Kebetulan, saya orang baru di perusahaan tempat saya bekerja sekarang," aku pria itu.
"Kau salah arah, Bro." Leo semakin memberikan petunjuk menyesatkan.
"Tidak mungkin, menurut google map, alamat istrinya benar lewat sini, kok." Pria itu mengotak atik ponselnya untuk memastikan bahwa ia tidak salah jalan.
"Maksudku, meskipun kau datang kerumahnya, kau tidak akan bisa bertemu dengannya. Sebab, aku sempat lihat, tadi pagi dia pergi dengan istrinya untuk kemping bersama dengan keluarga besarnya di puncak bukit itu." Leo asal tunjuk sebuah bukit tinggi menjulang yang ada disekitarnya. Entah apa yang sedang direncanakan Leo sekarang. Jelas-jelas dirinya dan Shena tidak sedang kemping.
"Di sana," lanjut Leo. "Ada villa keluarga Pyordova yang baru saja dibeli oleh tuan muda. Pergilah kesana jika kau ingin bertemu dengannya." Leo tersenyum mencurigakan. Anehnya, pria asing itu sama sekali tidak curiga pada keterangan palsu yang diberikan Leo mengenai informasi keberadaan dirinya sendiri.
"Hah? Nggak salah? Bagaimana cara kami bisa kesana? Bukit itu tinggi sekali, Tuan." Pria itu memicingkan mata mengamati bukit-bukit terjal yang ada dihadapannya.
"Mana aku tahu, kalau kau tidak mau kesana, ya tunggu saja di sini. Ini adalah jalan yang akan mereka lewati jika mereka kembali dari kemping. Hanya saja, tidak ada yang tahu kapan tuan muda dan seluruh keluarganya turun kembali. Apa kau sudah buat janji dengannya?" ujar Leo sok serius.
"Sudah Tuan, tapi Tuan muda Leo sangat sulit ditemui. Makanya saya nekat datang kemari."
"Kalau begitu lupakan saja kontrak itu. Sebaliknya kau pulang saja. Tidak ada gunanya kau disini." Leo mulai menyulut api. Ada makna tersembunyi dibalik ucapannya.
"Kenapa? Jauh-jauh saya datang kemari kenapa anda malah menyuruh saya pulang? Memangnya, siapa anda?" Laki-laki itu tidak terima jika orang yang ternyata dicarinya ini seenak jidatnya saja menyuruh pulang.
__ADS_1
"Aku salah satu orang yang pernah bekerja di perusahaannya, tapi aku tidak betah. Jadi aku mengundurkan diri, aku berkata seperti itu karena aku tahu seluk beluk perusahaan itu. Kau takkan pernah mendapatkan kontrak itu dengannya. Percayalah," ucapan Leo terdengar meyakinkan.
Wah hebat aktingnya si Leo ini, ya? Batin Shena yang sejak tadi diam saja melihat sandiwara suaminya.
"Kenapa?" Pria itu mulai kepo. "Maksud saya ... kenapa anda keluar? Banyak orang berlomba-lomba ingin masuk ke perusahaan itu tapi anda malah keluar?"
Pertanyaan konyol yang hampir saja membuat Leo dan Shena ingin tertawa. Mau keluar atau tidak, perusahaan itu tetaplah milik Leo. Sayangnya orang ini tidak nyambung sama sekali dan Leo jadi semakin ingin mengerjai habis-habisan orang ini.
"Kau belum pernah bertemu dengan tuan muda Pyordova, kan? Makanya kau tidak tahu? Wajahnya itu bengis sekali, brewoknya tumbuh memenuhi seluruh mukanya. Jika bicara suaranya seperti ngebas. Ia bahkan tidak pernah tersenyum meskipun ada pelawak sedang melawak di depannya. Dia ... adalah CEO paling jelek dan terkejam yang pernah kutemui. Makanya aku tidak betah bekerja dengannya. Udah jelek, jahat lagi! Katakaj padaku, apa kau mau bekerja dengan orang seperti itu?"ujar Leo menyembunyikan tawa melihat ekspresi terkejut pria yang ada didepannya.
"Benarkah dia orang yang seperti itu, Tuan?" tanya pria itu agak shock.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, yang penting aku sudah memberitahumu." Leo berpura-pura cuek. Padahal dalam hati, ia berharap pria ini masuk ke dalam jebakannya.
"Lalu ... apa yang harus saya lakukan supaya tuan muda itu mau menandatangani berkas ini, Tuan. Sebagai mantan anak buah, anda pasti tahu," tanyanya.
"Tidak, Tuan. Bagaimanapun juga, saya harus mendapatkan kontrak ini. Saya tidak akan kembali sebelum tuan muda menemui saya. Saya tidak ingin dipecat, istriku bisa ngamuk kalau sampai saya dipecat, Tuan."
"Ehm ... " Leo kembali pura-pura berpikir untuk mencarikan jalan keluar untuk masalah orang yang sedang ia kerjai ini. "Kalau begitu, coba saja kau naik ke bukit itu, biarkan mobilmu terparkir di sini dan titipkan penjaga kedai. Mungkin dengan ketulusanmu mendaki bukit itu, siapa tahu dia jadi trenyuh dan mau menandatangani berkasmu. Itupun jika kau mau, aku hanya memberi saran." Ada senyum kejahilan di wajah Leo, tapi pria itu tidak menyadarinya.
Laki-laki itu berpikir apakah ia menuruti saran Leo atau tidak. Jika menunggu di sini, belum tentu juga ia bisa bertemu dengan orang yang dia cari. Kalau kembali, itu juga tidak mungkin, dirinya bisa langsung dipecat dari perusahaan dan istrinya ... sang pria tidak berani membayangkan.
Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, pria tersebut harus mendaki bukit itu agar bisa bertemu dengan tuan muda yang aslinya ada dihadapannya. Sayangnya, laki-laki itu tidak tahu kalau ia sedang dikerjai Leo habis-habisan. Entah apa yang terjadi jika ia tahu bahwa Leo sedang mengelabui dirinya.
Seakan tahu kebimbangan yang dirasakan pria asing ini, Leo mendekati pria tersebut sambil membisikkan sesuatu, "Hidup itu penuh perjuangan, jika kau ingin mencapai apa yang kau inginkan, maka ... berjuanglah!" Leo menepuk pelan bahu orang itu. "Semoga berhasil!" Leo tersenyum dan iapun menggandeng tangan Shena lalu membimbingnya meninggalkan tempat ini setelah ia membayar buah semangka yang tadi sudah dimakan Shena.
__ADS_1
"Kau gila, Leo. Bagaimana bisa kau menyuruh orang itu mendaki gunung? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka?" ucap Shena pelan saat keduanya sudah ada disekat motor Leo.
"Salah sendiri, siapa suruh istrinya bertingkah menyebalkan. Sepertinya, aku harus lebih selektif lagi memilih rekan bisnis, Sayang. Aku harus tahu dulu kepribadian mereka dan seluk beluk keluarga mereka itu seperti apa. Aku tidak mau bekerja sama dengan orang-orang songong seperti mereka itu." Leo merangkul bahu Shena. "Ayo naik, kita pergi dari sini."
"Tapi nggak gitu juga kali, bagaimana kalau mereka sadar? Bahwa kau sudah mengerjai mereka?" tanya Shena ketika keduanya sedang duduk diatas motor. Leo sudah mulai bersiap melanjutkan perjalanan pulang dengan menyalakan mesin motornya.
"Kau tenang saja, Sayang." Leo mengeluarkan sebuah kunci, tapi itu bukan kunci motor ataupun mobil Leo, melainkan kunci mobil pemilik pria asing tadi.
"Itu kan kunci mobil? Kau tidak membawa mobil sekarang, itu ... punya siapa?" tanya Shena bingung.
"Mereka tidak akan bisa menemukan kota lagi, karena kau mengambil kunci mobil mereka tadi saat si pria itu lengah!" Leo melajukan motornya dengan kencang hingga Shena memeluk erat pinggang suaminya dengan erat.
"Wah, aku baru tahu pekerjaan sampingan suamiku, selain pencuri, penipu, tenyata kau seorang pencopet handal juga! Kau tak hanya gengster, tapi kau juga penjahat kelas kakap," gurau Shena dan itu langsung membuat Leo tertawa.
"Dan penjahat ini adalah suamimu!" tambah Leo.
"Sekarang bagaimana mereka?Apa kita tidak terlalu jahat?"
"Mereka pantas mendapatkannya. Semoga mereka bisa memetik hikmah dari pendakian bukit itu. Mereka tidak akan pernah bisa kembali ke kantor ataupun bertemu dengan kita untuk sementara ini, karena kunci mobilnya ada padaku. Malam ini kita akan langsung terbang ke Jepang. Aku punya kabar baik untukmu, Sayang." Leo mengalihkan pembicaraan agar Shena tak perlu lagi mengkhawatirkan orang lain.
"Kabar bagus?" tanya Shena bingung. "Apa itu?"
"Kau akan tahu setelah kita tiba di sana." Leo menambahkan kecepatan motornya supaya ia lekas sampai di rumah.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***