
Leo hendak mengambil senjata apinya yang terjatuh, tapi para anggota geng kapak tak memberinya kesempatan pada Leo untuk memungut kembali senjatanya. Sebaliknya, mereka mencoba menahan Leo dengan terus menyerang. Meski dalam keadaan terdesak, Leo terus menghardik serangan itu dengan tangan kosong sampai akhirnya ia berhasil merebut kapak dari tangan salah satu musuh yang menyerangnya. Leo menggunakan kapak hasil rampasannya untuk membasmi semua orang yang mencoba menghalanginya. Ia berlari secepat kilat untuk menolong kembarannya dari sabetan pedang sang samurai, tapi Leo baru menyadari kalau Kun, sudah tidak ada lagi dihadapannya.
Tak hanya Leo yang merasa bingung, tapi ketua gemg kapak itu juga heran, bagaimana bisa orang yang hendak ditebasnya tiba-tiba saja menghilang dari pandangan.
“Dimana si kampret itu?” Leo celingukan kesana kemari mencari keberadaan artis idola Shena.
“Disini!” jawab Kun dari balik punggung Leo.
Suami Shena itu terkejut melihat kembarannya tiba-tiba sudah ada dibelakangnya dan yang lebih mengejutkan lagi, sebuah tembakan beruntun dari senapan M16 type semi or fully automatic assault rifle dengan peluru kaliber 5.56 mm menembus tubuh semua para anggota geng kapak tana ampun. Dan dalam sekejap, semua pasukan samurai itu tumbang tak tersisa.
Dari situ, Leo mulai tahu orang pertama yang ia lihat adalah Refald yang sedang memegang senapan buatan United States tersebut. Pantas saja Kun bisa selamat, ternyata itu adalah berkat ulah si raja dedemit Refald.
Du belakang Refald, muncul Byon yang juga memegang senapan sama. Tak kalah ketinggalan, Roypun datang dengan membawa senapan sama seperti yang lainnya. Ketiganya muncul dengan keren dihadapan Leo.
“Kakak, Ayah, Roy!” seru Leo senang. Akhirnya bala bantuan yang ditunggu-tunggu pun datang. Kalau susah ada Refald, situasi bisa berbalik sekarang.
“Ada apa denganmu, Leo? Kenapa kau lemah begitu, ha?” tanya Roy setelah ia menembakkan pelurunya pada anggota terakhir geng kapak yang masih tersisa.
“Aku tidak lemah, aku hanya kalah jumlah!” elak Leo.
“Huh, sama saja. Kalau kami tidak datang tepat waktu, kau mungkin sudah jadi daging cincang!” ledek Roy.
__ADS_1
“Dan kembaranmu itu jadi dagung rebus!” tambah Refald ikut meledek.
Baru saja Leo dan Kun hendak menjawab ledekan penyelamat mereka, tiba-tiba saja mereka berdua dikagetkan dengan teriakan keras sang samurai.
“Kurang ajar kaliaaaan!” teriak ketua geng kapak itu menggelegar melihat semua pasukannya tumbang tak bernyawa. “Lawan aku dengan pedang! Kalian semua curang!” samurai itu terlihat kalap. Ia tidak terima para musuh-musuhnya berperang menggunakan senjata yang tidak seimbang dengan senjatanya.
“Salah sendiri? Zaman sudah modern, kenapa kau masih menggunakan senjata tradisional? Sehebat apapun pedangmu, tetap saja kalah dengan senapan bertekhnologi canggih ini.” dengan berani Refald meledek samurai itu.
“Diam kau! Kapak adalah simbol keagungan geng kami. Beraninya kalian menghabisi semua anak buahku. Aku tidak akan memaafkan kalian semua. Kalau kau memang laki-laki, lawan aku menggunakan pedang!” tantang samurai itu dengan lantang.
Seketika Leo maju melompat kehadapan samurai itu setelah ia merebut kembali pedangnya yang tadi sempat diamb paksa oleh Kun.
“Kakak, Ayah, dan kalian semua yang ada disini. Jangan ada yang ikut campur selama aku bertarung dengan si gila ini!” kilatan mata gengster Leo yang sesungguhnya sudah mulai ia tunjukkan dihadapan samurai itu. Bahkan aura membunuh Leo sangat terlihat jelas dimata musuhnya. “Lawanmu adalah aku! Tidak akan aku biarkan siapapun hidup karena telah berani mencintai wanitaku apalagi sampai bermimpi merebutnya dariku. Akan aku habisi kau sekarang juga! Bersiaplah pergi ke alam baka.” Sorotan mata tajam Leo benar-benar berbeda sekarang. Kali ini, Leo benar-benar tidak akan memberi toleransi apapun pada orang yang sudah menyebabkan banyak petaka bagi keluarganya.
“Majulah!” teriak Leo menggelegar dengan semangat api 45.
Samurai itupun mengangkat pedangnya dan berlari menyerang Leo. Leo sendiri juga melakukan hal yang sama dan keduanya saling beradu pedang satu sama lain. Baik Leo ataupun samurai itu sama-sama memiliki keterampilan bermain pedang yang seimbang. Keduanya saling bertahan dan menyerang dengan ciri khas masing-masing.
Samurai itu menggunakan teknik pedang dan menyerang Leo secara membabi buta. Sedangkan Leo terus bersikap tenang menghadapi serangan gila sang samurai. Satu hal yang selalu ia ingat ketika ia berlatih dengan master Chan, yaitu harus tetap mengatur keseimbangan antara yin dan yang. Dengan begitu, Leo bisa berkosentrasi penuh dan mengalahkan musuh.
Setiap orang, pasti punya kelemahan tak peduli betapa hebatnya orang itu. Hal itulah yang sedang Leo cari dari dalam diri samurai tersebut. Si gengsters yang mendapat julukan nggak ada akhlak, tidak hanya bertarung menggunakan fisiknya, tapi juga hati dan jiwanya. Sebisa mungkin Leo harus bisa merasakan gerakan-gerakan pedang musuh yang hendak menyerang tubuhnya sehingga secara alami, tubuh Leo menghindari serangan itu dengan sendirinya.
__ADS_1
Seperti yang terjadi sekarang ini, refleks Leo melompat tinggi saat samurai itu menyabetkan pedang kearahnya dan langsung mengubah arah haluan pedang Leo saat suami Shena itu turun untuk balik menyerang sang samurai. Gerakan Leo bisa terbaca dan samurai itu bergerak ke samping kanan. Leo sendiri juga tak kalah gesit, ia pun mendaratkan satu kaki lalu bergerak secepat kilat mengikuti tubuh musuh dan langsung menendang punggung samurai itu hingga jatuh tertelungkup. Kesempatan itu ia gunakan untuk menduduki tubuh samurai tersebut dan langsung menghunuskan pedangnya.
Tanpa ampun ataupun pikir panjang lagi, Leo menancapkan ujung pedang tersebut tepat dipunggung yang pastinya menembus jantung sang samuai sampai darah segar muncrat kemana-mana. Selesai sudah pertarungan sengit antara Leo dan musuh bebuyutannya dengan dimenangkan oleh si gengster nggak ada akhlak Leo.
“Ti-tidak, i-ini ... tidak mungkin. A-aku ... a-adalah sa-murai, a-ku ... ti-dak ... mungkin ... ka-kalah dari ... orang ... sepertimu,” ujar ketua geng kapak itu sambil terbata-bata menahan sakit akibat tusukan tajam dari pedang Leo. Darah segar juga mulai keluar dari mulutnya.
“Huh, sudah berakhir. Kau kalah!” tegas Leo masih menatap tajam tubuh sekarat musuhnya. “Setelah ini, tidak akan ada lagi geng kapak yang meresahkan masyarakat. Kau dan anak buahmu sudah menyusahkan banyak orang. Kalian semua, tidak pantas berada di dunia fana ini. Bahkan di alam bakapun, kau mungkin juga tidak akan diterima karena semua orang yang kau bunuh dengan sadis, tidak akan membiarkanmu tenang disana. Ah, satu lagi yang harus kau tahu. Aku dan Shena, tidak akan pernah bisa terpisahkan. Kau tahu kenapa? Karena kami berdua saling mencintai satu sama lain. Kami akan hidup bahagia dan aku berencana punya banyak anak dengannya. Selamat tinggal, semoga kau bahagia di alam sana menyaksikan kami juga bahagia di dunia ini. Addio!” sekali lagi Leo menancapkan pedangnya kembali sehingga sang samurai itu sudah tidak bisa berkutik lagi alias koaps.
BERSAMBUNG
***
Akhirnya ... Leo menang ... yeee ... aku kasih visual mereka ya .. biar komplit halunya hehe ...
Refald dengan senjatanya
Leo dengan aksinya ... gak boleh kedip kalau lihat Leo ya ... dan yang terakhir ...
__ADS_1
visual si Samurai ... jangan teriak ya .. cukup bilang 'wauuw' saja. Hehehe ...