
Leo memandang mata Shena penuh makna. Ia membimbing tangan wanita pujaan hatinya ini rebahan diatas tempat tidur sambil melihat pemandangan indah yang ada diluar jendela kamar mereka. Leo merangkul bahu Shena sambil bersandar disandaran ranjang berukuran besar.
“Keadaan saat itu sangat genting, Sayang.” Leo memulai ceritanya dan mengenang masa dimana ia sedang dalam bahaya tapi akhirnya masih bisa selamat. “Aku memang berhasil mengalahkan musuh. Sayangnya, saat aku membantu polisi yang bernama Erdhi itu keluar dari ruangan, tiba-tiba saja musuh yang tadinya kuanggap sudah mati ternyata masih hidup. Ia mengambil senapannya kembali dan menembakkan pelurunya ke arahku dan juga kearah yang lainnya secara bersamaan.
“Jika dilihat dari kecepatan peluru itu, sulit bagi kami semua untuk bisa menghindarinya. Saat itu ... ada dua orang yang melindungiku. Yang pertama, polisi bernama Erdhi. Dia bergerak cepat ke arahku dan melindungiku dengan tubuhnya. Yang kedua, adalah kakakku Refald. Entah dia muncul darimana, yang jelas ia langsung menembak musuh tersebut hingga tewas tak bernyawa dan menyelamatkan kami semua. Kau tahu sendiri kan Sayang, kalau kakakku sudah datang, tak butuh pesawat lagi untuk bisa sampai kemari. Karena itulah aku lebih dulu tiba disini daripada dirimu.”
Shena memang tidak kaget lagi jika idolanya yang juga menjadi kakak iparnya bisa melakukan aksi memukau di luar nalar manusia. Namun seperti yang sebelumnya, ada resiko yang harus Refald tanggung karena sudah melawan arus takdir yang harusnya terjadi, tapi tidak terjadi.
“Ehm, Leo ... bukankah kak Refald bilang ia tidak bisa datang? Dan juga, dia pasti kehilangan kekuatannya karena telah menyelamatkanmu dan juga yang lainnya. Lagipula, apa tidak apa-apa jika semua orang jadi tahu siapakah kak Refald sebenarnya.”
“Awalnya aku juga beranggapan seperti itu, Sayang. Saat kami semua tiba disini, semua orang sudah pingsan kecuali aku. Refald bilang, ia sudah menghapus ingatan mereka. Yang akan mereka ingat adalah semuanya pingsan dan bala bantuan datang menyelamatkan mereka dan aku. Kalau soal kekuatannya, kita harus ucapkan selamat untuk dua hal padanya. Hal yang pertama, si biksu tong sam chong itu sudah dinobatkan sebagai raja dedemit Mirza Banta. Artinya ia memiliki kekuatan mutlak dan tak lagi terikat dengan peraturan leluhurnya. Raja dedemit itu bisa menyelamatkan nyawa siapa saja yang ia kehendaki, tanpa takut kehilangan kekuatannya lagi.” Leo tertawa sendiri ketika menjelaskan apa yang terjadi dengan kakak sepupunya pada Shena.
Shena menganga lebar mendengar penjelasan panjang, lebar, dan tinggi suaminya. “Wuaaah ... daebak. Itu kabar yang benar-benar spektakuler. Saat menjadi pengeran dedemit saja, kak Refald sudah sangat luar biasa. Apalagi jika dia sekarang sudah menjadi raja ... wauw, tak heran jika kau bisa selamat tanpa mengalami luka sedikitpun. Kau berhutang nyawa banyak pada kak Refald, Sayang. Entah apa yang terjadi padamu jika kak Refald tidak ada. Dan aku juga harus mengucapkan terimakasih padanya kerena sudah membawamu kembali hidup-hidup padaku.”
“Tentu saja, Sayang. Tapi kakakku itu tidak membutuhkan apa-apa. Ia sedang sangat berbahagia karena hal yang kedua.”
“Apa maksudmu dengan hal yang kedua?” Shena mengerutkan alisnya.
“Tadi kan ada dua hal yang harus kita ucapkan padanya, Sayang. Yang pertama adalah soal kenaikan pangkat si biksu Tong itu, dan yang kedua adalah, sekarang ... kak Fey sudah melahirkan putra pertama mereka yang diberi nama Reyshinhard Refey Dilagara. Tepat disaat putranya lahir ke dunia, Refald pergi menghilang menyelamatkanku. Itu adalah pilihan paling terberat dalam hidup kakakku.” Wajah Leo terlihat serius seolah tahu apa yang dirasakan Refald bila ia ada diposisinya kala itu.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Shena yang jadi ikutan serius seperti Leo.
“Karena untuk berapa saat, Refald harus memilih antara menyelamatkanku atau menuggui putranya lahir ke dunia. Katakan padaku, Sayang. Jika kau ada di posisi kak Fey, apa yang akan kau katakan pada suamimu?” mata Leo menatap tajam manik mata Shena yang juga sedang menatapnya.
Agak lama juga Shena terdiam dan memposisikan dirinya sebagai kakak iparnya yang sedang berjuang mati-matian melahirkan buah hati mereka. Sementara disisi lain, ada adik sepupunya sedang dalam bahaya. Siapapun yang menjadi Refald pasti sulit untuk memutuskan. Namun, hal yang harus dilakukan seorang istri adalah, membantu suaminya menghadapi kesulitan dalam bentuk apapun.
“Kalau aku jadi kak Fey, aku akan meminta suamiku menyelamatkan adiknya terlebih dulu dan berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan putra pertamanya,” jawab Shena tegas tanpa ada keraguan sedikitpun.
Mendengar jawaban Shena, Leo langsung menghadiahi ciuman mautnya pada wanita yang amat sangat dicintainya ini. “Sepertinya, aku dan Refald sangat beruntung memiliki istri seperti kalian berdua. Itulah yang dikatakan kak Fey pada biksu Tong waktu itu. Kata-katanya sama seperti jawabanmu.”
“Benarkah?” tanya Shena tak menyangka.
“Ehm, itu benar Sayang. Pak Po yang memberitahuku. Refald menangis karena tak bisa mendampingi istrinya melahirkan dan membiarkannya berjuang sendirian. Namun, dewi fortuna masih berpihak pada mereka. Syukurlah putranya itu lahir lebih dulu dalam keadaan sehat walfiat tepat sebelum ayahnya keluar dari ruang persalinan. Refald adalah orang pertama yang memeluk putranya begitu ia lahir ke dunia. Setelah memberi nama pada putranya, kakakku itu langsung pergi menyelamatkan suamimu ini disaat peluru-peluru musuh hampir mengenaiku dan semua orang yang ada di ruang rahasia ciptaan ayah. Refald menghalau peluru tersebut dan menembak musuh-musuh yang masih hidup itu dengan brutal tanpa ampun. Lalu, dengan menggunakan kekuatannya ia membawa kami semua kemari.” Leo menatap sendu wajah Shena.
“Dimana kakak ipar sekarang, Leo? Bolehkah aku bertemu dengannya? Antarkan aku ke tempat kakak ipar. Aku ingin melihat keadaannya,” seru Shena menggebu-gebu dan beberapa kali menyeka air matanya yang tumpah.
“Kau yakin? Apa kau tidak ingin istirahat dulu, Sayang? Setidaknya, tidurlah dulu beberapa menit baru kita pergi menemui mereka dan yang lainnya. Aku khawatir pada kesehatanmu juga.Tidurlah dipelukanku, aku akan menemanimu.” Leo ingin Shena istirahat dulu setelah menempuh perjalanan jauh dan mengalami beberapa insiden menegangkan tadi. Barulah Leo akan mengajak Shena bertemu dengan keluarganya.
“Ehm, baiklah. Aku memang agak sedikit ngantuk. Kau tidak akan minta ritual bulan tertusuk ilalang lagi, kan? Sejujurnya, aku sangat lelah.”
__ADS_1
“Tidak Sayang, kan tadi sudah. Aku tidak serakus itu sekarang. Kau butuh ruang dengan Leo junior kita karena perutmu semakin lama, semakin membesar dan juga terlihat ... seksi!” Leo tertawa menggoda pada Shena.
“Kau mulai ngegombal lagi,” ujar Shena ikutan tertawa.
“Khusus untukmu, aku akan menggombal setiap waktu. Sini, tidurlah didadaku Sayang. Aku akan memelukmu sampai kau terlelap.” Leo mencium mesra kening Shena saat istrinya itu merebahkan kepala didadanya.
BERSAMBUNG
***
Detail kisah Fey saat lahiran ada di novel PUTRA RAJA ya ...baru aku up besok.
curhat dikit boleh gak sih? hehehehe ....
jujur aku nulis cuma karena hobi dan ingin menyalurkan dunia haluku. Jika ada yang suka dengan kisah yang aku tulis, rasanya seneng banget. Jadi sebisa mungkin, aku bakal terus nulis di NT karena aku udah nyaman disini.
Terus dukung semua karyaku ya ... love you all
__ADS_1
visual Refald saat membasmi musuh-musuhnya