Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 275 Ledakan


__ADS_3

Bukan tanpa alasan kenapa Leo meredakan amarah Shena meskipun ia sangat mendukung apa yang dilakukan istri tercintanya ini saat membuat emosi lawan mereka. Leo hanya tidak ingin para mafia yang ada disini salah paham akan sikap istrinya sehingga bisa jadi bumerang bagi mereka berdua.


Sementara sang Datuk, masih diam seribu bahasa. Ia tidak pernah menyangka kalau seorang Shena ternyata mengetahui kelemahannya. Akan sangat gawat kalau wanita ini memberitahu para mafia lain tentang pelanggaran etika yang sudah ia lakukan dan tutupi rapat-rapat sepanjang satu dekade lamanya.


Begitu Shena sudah tenang dan mau duduk kembali, kini giliran Leo yang beraksi. “Cepat tanda tangani berkas-berkas itu Pak tua, kami tak punya banyak waktu di sini,” ujar Leo tandas dan juga tegas. “Tidak ada alasan bagimu untuk tidak menandatangani berkas-berkas itu, karena … kau tak punya pilihan lain lagi. Begitu istriku buka suara pada seluruh mafia yang ada di sini, maka … tamatlah riwayatmu, di detik itu juga!” ancam Leo. Matanya terlihat sangat serius dan tak ada gurauan sama sekali di dalamnya.


“Kau berani mengancamku sekarang, huh. Buahahaha …” bukannya takut akan ancaman Leo, Datuk Siturejo itu malah tertawa keras. “Tuan muda Leopard,” ujar Datuk itu sambil mencoba berhenti tertawa. “Aku harap ayahmu pernah memberitahumu tentang siapa aku supaya kau tak menganggap remah diriku.” Ganti si tua bangka itu yang mengintimidasi Leo. Mafia tua itu mengangkat salah satu tangannya dan meminta ponselnya pada salah satu pengawalnya.


“Aku sudah memperingatkanmu sejak tadi, bahwa kau sudah salah memilih lawan.” Datuk mulai menelepon seseorang, ia menatap tajam mata Leo sambil meletakkan ponsel ditelinganya. “Ledakkan mobil yang mereka tumpangi, ah beritahu aku … siapa saja yang ada dalam mobil itu.” senyum licik terlihat jelas dari sudut bibir Datuk Situroja. Ia menekan tombol loadspeaker dan terdengar suara dari seberang sana menyebutkan nama-nama anggota … dari keluarga Leo.


“Ada putra sulung tuan muda Leo, putra keduanya, dan putri bungsunya beserta anggota keluarganya yang lain. Kalau tidak salah, ada nyonya Refald dan putranya, bahkan Yuna juga ada di sana. Mereka semua baru saja pulang dari rumah makan,” ujar seseorang tak dikenal suruhan dari Datuk. Sepertinya ia ditugasi untuk memata-matai keluarga Leo dan juga hendak melenyapkan mereka semua dengan meledakkan mobil yang mereka tumpangi saat ini.


Leo dan Shea terdiam menatap tajam mafia tua yang ada didepannya dengan penuh api kebencian yang membara. Kedua tangan pasutri ini saling mengepal satu sama lain. Tindakan orang yang bernama Datuk Situroja itu benar-benar tidak bisa dimaafkan lagi karena ia telah berani melenyapkan seluruh keluarga Leo dengan cara yang keji. Namun, bukan Leo kalau ia mudah terintimidasi oleh ancaman yang takkan pernah bisa dilakukan oleh musuhnya. Apalagi sampai membunuh keluarga Leo, rasanya itu sungguh tidak mungkin bisa terjadi.

__ADS_1


“Apa yang akan kau lakukan pada mereka?” tanya Shena dengan nada suara gemetar menahan kemarahan yang memuncak. Wanita cantik itu mencoba bersabar agar ia tak lepas kendali lagi seperti tadi.


“Seperti yang kau dengar, aku … akan meledakkan mereka semua! Hahahahaha …” datuk itu benar-benar terlihat bahagia seolah rencananya bakal sukses. “Aku ulangi sekali lagi, aku … akan meledakkan seluruh keluargamu tepat di depan rumah kalian. Itu akan menjadi sejarah kelam dalam kehidupan keluarga Pyordova dimana dalam hitungan detik dari sekarang, mereka semua akan menjadi abu. Hahaha … inilah aku, kau tahu? Aku tak segan-segan melakukan apa saja untuk menunjukkan siapa aku sebenarnya. Hahahaha … lihat wajahmu! Inilah balasan atas apa yang sudah kau lakukan!” tawa kakek tua itu lenyap menatap benci wajah Shena dan juga Leo.


Bukannya cemas dan khawatir, baik Shena ataupun Leo malah tenang-tenang saja mendengar seluruh keluarganya akan dihabisi oleh sampah yang ada di depan mereka.


Dengan tawa tak kalah sinis dari musuhnya, Leopun berkata, “Kau melewatkan satu orang Pak tua!” ujarnya sambil tersenyum.


Leopun melakukan hal sama seperti yang dilakukan musuhnya. Ia mengangkat satu tangannya dan meminta ponsel dari salah satu pengawal Leo. Suami Shena itu menekan tombol loadspeaker dan langsung terdengar bunyi ledakan yang sangat dasyat dari seberang sana.


Bunyi ledakan itu terdengar sangat keras di ponsel Leo dan juga di ponsel milik Datuk sendiri. Kedua ponsel berbeda kubu itu memperdengarkan bunyi ledakan yang sama persis. Artinya, Datuk memang benar-benar meledakkan mobil yang ditumpangi seluruh keluarga Leo. Menyadari hal itu, tawa lepas Datuk kembali ia tunjukkan pada Leo dan Shena karena ia telah merasa menang.


“Buahahaha ... Kau dengar itu? Ledakan bom atomku itu terdengar merdu sekali! Mobilnya beneran meledak, kan? Kau sudah tak punya anak dan calon menantu lagi, bahkan keluargamu yang lain ikut menjadi korban. Hahahaha …” kakek tua itu tertawa sangat keras dan lepas, sementara Leo dan Shena hanya diam saja. Kilatan api kemarahan yang begitu besar, sengaja merekas redam sebisa mungkin dan menikmati saja kepuasan yang sedang musuh mereka rasakan.

__ADS_1


“Ah … sebagai hadiah terakhirku atas duka kalian berdua, aku akan menandatangani berkas-berkas ini meskipun anak yang kalian barterkan denganku sudah mati.” dengan gaya tanpa merasa bersalah sedikitpun, Datuk membuka semua lembar berkas yang diberikan Leo padanya lalu menandatanganinya dengan ekspresi puas sepuas-puasnya karena si mafia itu merasa telah mengalahkan dan menjatuhkan Leo sedalam-dalamnya.


“Oey Leo, kau dengar aku?” seru seseorang dari seberang sana tepat setelah Datuk selesai menandatangani berkas-berkas.


Dengan cepat, Shena mengambil berkasnya dan menyimpannya di tempat yang aman. Rupanya, ponsel Leo masih terhubung di lokasi terjadinya ledakan. Dan suara itu, siapa lagi kalau bukan suara Refald.


“Ehm, aku dengar,” ujar Leo dengan tenang setenang permukaan air kolam. “Bagaimana keadaan di sana? Apa semuanya baik-baik saja?” Leo sengaja tetap menyalakan tombol loadspeakernya agar semua orang yang ada di sini mendengar pembicaraannya dengan Refald.


Jujur, Datuk mulai merasa ada sesuatu yang aneh saat mendengar Leo bicara seperti itu pada seseorang diponselnya. Ia sungguh tidak tahu siapa orang itu. Anak buahnya yang ia suruh mengintai keluarga Leo juga sudah tak bisa lagi dihubungi. Entah apa yang terjadi pada mereka. Pandangan mata sang Datuk jadi terpusat lagi ke arah Leo yang baru ia sadari, kalau Leo sama sekali tidak terlihat marah ataupun kalap seperti yang ia harapkan. Padahal, ia baru saja menghabisi seluruh keluarganya dengan cara yang sadis dan juga kejam.


“Mereka semua baik-baik saja,” jawab Refald dan langsung sukses membuat musuh Leo saling pandang satu sama lain. “Kau mau dengar suara mereka?” tanya Refald yang juga ikut tersenyum mengetahui apa yang ada di pikiran musuh-musuh Leo walaupun ia tak bertemu langsung dengan mereka semua.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2