Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 172


__ADS_3

Siulan preman kampung saat melihat kecantikan Shena membuat darah Leo mendidih. Seketika ia berhenti berjalan sambil mengepalkan kedua tangan. Napas Leo sudah naik turun karena marah. Ia tak terima kalau ada yang berani bersikap kurang ajar pada Shena. Jangankan bersiul, ada yang melirik Shena saja, Leo tak rela.


Sontak Leo melepas genggaman tangannya dan balik badan hendak menghajar para preman itu. Namun, Shena berlari menghadang langkah Leo sehingga suami Shena itu berhenti berjalan.


"Minggir, Sayang. Jangan halangi aku!" tandas Leo dengan sejuta kilatan api kemarahan yang besar.


"Jika kau terlibat perkelahian hari ini, maka kau akan di diskualifikasi. Aku tidak masalah selama itu memang yang kau inginkan. Tentukan pilihanmu sekarang." Mata Shena menatap lurus wajah marah Leo yang menajam menatap gerombolan preman-preman kampung itu. Sedangkan yang ditatap,tak tahu menahu dan malah memalaki orang-orang yang ada di dalam kedai.


"Tak ada yang perlu kupilih." Leo mengambil ponselnya lalu menelepon anak buahnya. "Segera kemari dan bereskan sekumpulan lalat yang meresahkan masyarakat. Lakukan dengan hati-hati tanpa ada yang tahu. Jangan bunuh mereka dulu, tunggu sampai kontesku selesai." Leo menutup sambungan teleponnya dan berjalan pulang bersama Shena.


Awas kalian semua! batin Leo kesal tanpa perduli pada tatapan mata Shena yang terus melihatnya.


Dari kejauhan Leo mengamati pasukannya datang dan langsung berkelahi dengan preman-preman itu. Tanpa menunggu hasil siapakah yang menang diantara 2 kubu itu, Leo mengajak Shena kembali pulang ke rumah.


Shena tahu suasana hati suaminya sedang buruk karena ia tak bisa berkelahi gara-gara terikat pada aturan kontes yang nanti malam bakal Leo tunjukkan. Sebagai istri, Shena jadi tidak enak hati. Sebab semua ini terjadi gara-gara dirinya.


"Kau mau aku buatkan sesuatu?" tanya Shena saat keduanya sudah berada di dalam kamar.


"Tidak, istirahatlah! Kau perlu banyak istirahat." Leo menyelipkan rambut Shena dibelakang telinganya dengan mesra.


"Kalau begitu temani aku. Aku ingin tidur dipelukanmu."


"Kau tidak takut aku memakanmu?"


Shena menggeleng, "Kalau kau ingin, kita bisa lakukan, tapi pelan-pelan." Shena merebahkan kepalanya di dada Leo dan kedua tangannya melingkar erat di pinggangnya.


"Sebenarnya aku ingin, tapi suasana hatiku sedang buruk sekarang. Hanya saja, dipeluk olehmu seperti ini membuatku sedikit rileks."


"Kalau begitu tunggu apalagi? Ayo kita ...."

__ADS_1


Leo mencium mesra bibir Shena. "Tidak sekarang, Sayang. Aku tidak ingin main bulan tertusuk ilalang denganmu karena emosi. Aku tak mau menjadikanmu pelampiasan amarahku. Maafkan aku." Leo mencium kening Shena dan mengajaknya berbaring di tempat tidur sambil berpelukan. Hanya berpelukan saja.


"Kau tidak perlu minta maaf," ujar Shena sambil bermain-main dengan kerah baju Leo. "Justru akulah yang harusnya minta maaf. Semua ini terjadi karena aku. Kau harus melakukan banyak hal karena aku ...."


"Karena kau adalah duniaku, Sayang. Hidupku berwarna sejak kau ada bersamaku. Sudahlah, jangan bicara apa-apa lagi. Tidurlah!" Leo memeluk tubuh Shena dengan erat.


Beberapa menit kemudian, napas teratur Shena mulai terasa di dada Leo. Artinya, istri tercintanya ini sudah mulai tertidur lelap. "Cepat sekali kau tertidur, Sayang. Baru juga beberapa menit. Kau pasti kelelahan." Leo mencium kening istrinya sambil mengusap pelan perut rata Shena.


Istrinya ini memang lebih terlihat cantik kalau lagu hamil. Tak salah jika setiap.pria yang melihat Shena jadi terpesona. Bersamaan dengan itu, ponsel Leo berdering dan itu dari pengawalnya.


"Ehm ... begitu ... pergilah. Biar nanti sisanya aku yang urus!" Leo mematikan ponselnya dan tiba-tiba saja, Leo mendapat panggilan dari Refald.


"Hei Tom Sam Chong! Kau tidak lihat ini jam berapa?" sengal Leo begitu menjawab panggilan kakaknya.


"Jangan berlagak sok! Aku tahu kau tidak tidur!" balas Refald dari seberang sana.


"Kalau iya memang kenapa? Kau tak terima?" Refald sengaja memanas-manasi Leo yang sedang kalut.


"Aku sedang malas berdebat denganmu. Kalau tak ada yang penting, sebaiknya tutup teleponnya karena aku ingin tidur dengan istriku."


"Ada hal yang ingin kuberitahukan padamu, terkait keadaan kampung halaman istrimu. Sebenarnya, aku ingin memberitahumu setelah kontes kita selesai. Namun sepertinya, mereka semua sudah tidak bisa dibiarkan lagi ...."


"Apa maksudmu? Mereka siapa?" tanya Leo mulai memasang wajah serius.


Refald menjelaskan panjang lebar tentang apa yang ia tahu dan hal apa saja yang harus dilakukan. Leo mendengarkan dengan seksama setiap kata-kata yang keluar dari mulut kakaknya meskipun hanya melalui sambungan telepon.


Tangan Leo mengepal kuat seakan menahan amarah yang begitu besar. Ingin rasanya berteriak tapi ia tak ingin membangunkan Shena. Alhasil, Leo mengambil jaketnya dan pergi keluar diam-diam saat istrinya benar-benar tertidur pulas.


***

__ADS_1


Tidak ada yang tahu kemana perginya Leo, sebab hari masih gelap saat suami Shena itu pergi meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan siapapun. Sementara Shena terbangun dan langsung bingung mendapati suaminya sudah tidak ada disampingnya. Leo juga tak ada dimana-mana. Hati Shena semakin was-was memikirkan apa yang terjadi dengan Leo karena tidak biasanya suaminya bersikap seperti ini.


"Kenapa malah jadi Leo yang melarikan diri, sih? Apa dia balas dendam padaku?" ujar Shena setelah ia tak menemukan keberadaan suaminya, padahal ia sudah mencari Leo kesana kemari tapi tak kunjung bertemu juga.


"Ada apa, Shena? Kenapa wajahmu cemas begitu?" tanya Biyanca yang sudah berdiri dibelakang Shena sambil menggendong Yeon.


"Apaaa ... Ibu melihat Leo? Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi dia tidak ada. Ponselnya juga mati, jadi aku tidak bisa menghubunginya. Aku ... agak sedikit khawatir."


"Suamimu baik-baik saja. Mungkin ada urusan yang harus ia selesaikan. Kau jangan cemas. Dia akan kembali sebentar lagi. Ayo kita sarapan. Kau harus banyak makan supaya nutrisi cucu keduaku juga terpenuhi. Jangan cemaskan cecunguk gila itu." Biyanca mengajak Shena untuk sarapan bersama.


Sebenarnya, Shena tidak punya ***** makan setelah apa yang terjadi semalam. Ia takut Leo masih marah meski nyatanya bukan itu yang terjadi. Namun, Shena tak bisa menolak ajakan Biyanca karena ia tak mau mengecewakan dan mencemaskan mertuanya. Alhasil, Shena lebih banyak melamun dan hanya memainkan makanannya saja. Mendadak, Shena mengalami morning sickness dan ia langsung berlari ke kamar mandi.


"Hueek! Hueeek!" Shena memuntahkan seluruh isi perutnya sehingga tubuhnya lemas seketika. "Seandainya Leo ada di sini," gumam Shena lirih. Ia terus memikirkan ada dimana suaminya sekarang sambil membersihkan mulutnya.


Biyanca menyerahkan Yeon pada Byon yang jadi kikuk sendiri menggendong Yeon kecil. Setelah puluhan abad lamanya, baru kali ini ia menggendong kembali seorang balita yang tak lain adalah cucunya sendiri. Sementara Biyanca sibuk membantu Shena.


"Syukurlah kau tidak mirip ayahmu, Yeon. Kau lebih mirip pamanmu, Refald." Byon tersenyum bahagia melihat betapa tampannya cucu pertamanya ini. "Cepatlah besar dan jadilah anak yang baik, oke! Jangan suka buat onar seperti ayahmu!"


"Seperti Paman juga! Paman kan suka buat onar waktu masih muda dulu!" Seru Refald yang tiba-tiba saja datang. Ia duduk di dekat Byon sambil menatap wajah imut keponakannya. "Hai Yeon, kakekmu ini bengal sekali waktu sekolah, sama seperti ayahmu! Sebaiknya kau meniru aku saja. Jangan tiru mereka, oke! Kita tos!" Refald mendekatkan tangannya di dekat wajah Yeon kecil dan ajaibnya, anak Leo itu menyentuh telapak tangan Refald seakan mengerti dan setuju dengan apa yang dikatakan pamannya.


Sontak Refald dan Byon terkejut dengan hal luar biasa yang dilakukan oleh seorang balita seperti Yeon.


"Bagus kau memang keponakanku." Refald tersenyum puas. Ia mencubit lembut pipi tembem putra pertama Leo itu. "Kau menggemaskan sekali. Paman janji akan mengajakmu keliling pengunungan Alpen jika kau sudah besar nanti."


Ucapan Refald langsung mendapat lirikan tajam dari Byon. Namun Refald tidak peduli. Sudah dapat dilihat kalau sudah besar nanti, Yeon bakal mirip siapa. Mungkin putra sulung Leo ini satu-satunya keluarga Pyordova yang tidak suka jadi mafia.


BERSAMBUNG


****

__ADS_1


__ADS_2