
Yuna sudah terlihat rapi dan lebih fresh dari sebelumnya. Ia berjalan bersama Shena yang juga terlihat sangat anggun dengan pakaian kasualnya yang tidak mencerminkan seorang istri sultan sama sekali. Dibandingkan memakai barang-barang branded layaknya keluarga sultan pada umumnya, Shena malah memilih memakai baju yang ia beli sendiri dari pasar. Menurutnya, itu lebih nyaman dan memperlihatkan kepribadian Shena sendiri ketimbang harus memakai pakaian mahal.
Pantas aja Leo semakin kaya raya karena ia tak perlu mengeluarkan biaya hidup banyak untuk mencukupi kebutuhan Shena yang kelewat sederhana dan apa adanya. Istrinya itu tak suka menghamburkan uang dan lebih sering disumbangkan ke yang membutuhkan. Dimata keluarga Leo, Shena memang pasangan yang tepat untuk seorang Leopard Bay Pyordova. Kesederhanaan inilah yang sangat disukai Yuna dan semakin kagumlah ia pada sosok seorang Shena.
Leo benar-benar menepati janji yang ia ucapkan semasa ia pacaran dengan Shena. Si gengster itu tak mengizinkan Shena bekerja meskipun keduanya sama-sama memiliki gelar sarjana. Leo hanya menjadikan Shena sebagai Nyonya Shena Leopard Pyordova, menantu satu-satunya di keluarga mafia Pyordova dan ibu dari anak-anak Leo. Kehidupan Shena yang dulunya tragis, kini berbuah manis. Sebab itulah Yuna, menjadikan Shena sebagai patokannya dan semangatnya dalam menjalani pahit getirnya hidup sebagai rakyat jelata.
“Kita jalan kaki saja ya, Bi. Rumahku, tak jauh dari sini.” Yuna terkagum-keagum melihat wajah cantik Shena yang terlihat awet muda walaupun ia sudah memiliki 3 anak yang luar biasa.
“Tentu, aku baru saja mau menawarimu untuk berjalan kaki saja. Tapi jika kau masih merasa kurang sehat, aku bisa memboncengmu memakai sepeda pancalku.” Shena tersenyum manis melihat kening Yuna berkerut mendengar tawarannya.
“Sepeda pancal?” tanya Yuna.
“Ehm, sepeda pancal. Ayah mertuaku yang membelikannya supaya aku bisa menggunakannya berkeliling di sekitar sini. Ayo … aku akan mengantarmu dengan sepeda itu.” Shena terlihat antusias dan ia langsung menuntun Yuna menuju bagasi rumah Shena.
Dan benar saja, sepeda gunung keren milik Shena masih terparkir rapi dibagasi. Ia meminta pengawalnya untuk membersihkan dan memeriksa apakah sepeda itu masih layak digunakan atau tidak. Setelah dirasa tidak ada masalah dengan sepedanya. Shena langsung membonceng Yuna memakai sepeda pancalnya kembali pulang ke rumah Yuna.
***
Saat menikmati lemon jus yang baru saja disajikan. Yeon langsung terperangah melihat sesosok wanita sedang bersepeda membonceng gadis kecil yang tampak tak asing lagi bagi Yeon. Tidak salah lagi, wanita yang Yeon lihat adalah ibunya sendiri, dan gadis kecil yang duduk dibelakangnya adalah Yuna. Keduanya tertawa riang saat bersepeda melihat Yeon menatap tajam kearah mereka.
“Ayah, itukan ibu … astaga … apa yang sedang ibu lakukan?” tanya Yeon terkejut dan Leo langsung mengikuti arah pandang mata putranya.
__ADS_1
Berbeda dengan Yeon yang langsung terkejut melihat ibunya mengendarai sepeda pancalnya dan berboncengan dengan Yuna. Leo malah tersenyum terpesona melihat aura kecantikan yang dimiliki istrinya.
“Ibumu cantik, semakin hari … dia semakin cantik saja,” ujar Leo sambil terus menatap Shena. Istri tercinta Leo itu sudah mulai berhenti di depan rumah sederhana yang ternyata rumah tersebut adalah rumah keluarga jahat Yuna.
“Rupanya apa yang dikatakan paman Refald benar,” gumam Yeon sambil geleng-geleng kepala dengan ekspresi wajah datar.
“Memang pamanmu bilang, apa?” tanya Leo tapi matanya tak pernah beralih dari gerak gerik istrinya.
“Paman bilang kalau ayah benar-benar tergila-gila pada ibu,” gumam Yeon menatap ayahnya yang terus saja melihat Shena sambil senyam senyum sendiri.
“Kalau itu … pamanmu memang benar. Aku tak hanya tergila-gila pada ibumu, aku bahkan sudah cinta mati padanya. Kalau kau sudah besar nanti, kau juga akan merasakan hal sama seperti yang ayahmu rasakan.”
“Tidak mau! Aku tidak mau jadi gila seperti ayah, cinta sih cinta, tapi nggak gitu juga kali, Ayah. Sadar dong, Yah. Usia ayah sekarang sudah berapa?”
“Aku sama sekali tidak mengerti seperti apa jalan pikiran orang dewasa,” ujar Yeon berdiri dan hendak menghampiri Shena, tapi langkahnya di cegah oleh Leo.
“Kau mau kemana?” tanya Leo.
“Mau menemui ibulah,” jawa Yeon santai.
“Belum saatnya, tunggulah sebentar lagi, kita akan ke sana bila ibumu membutuhkan kita.” Nada suara Leo terdengar sangat serius sehingga membuat Yeon tak bisa membantah.
__ADS_1
Dan benar saja dugaan Leo, baru juga Yuna turun dari boncengan Shena, tiba-tiba dari dalam rumah sederhana itu, ada seorang wanita datang berlari ke arah Yuna sambil membawa sapu lidi dan hendak memukulkan sapu tersebut pada Yuna. Untung Shena cepat tanggap sehingga sapu tersebut tak jadi mengenai tubuh Yuna yang memang langsung bersembunyi di balik punggung Shena.
"Apa yang kau lakukan? Siapa kau?" tanya wanita tua itu. Ia menatap wajah marah Shena yang sok menjadi pahlawan kesiangan Yuna.
"Aku takkan pernah membiarkanmu menyakiti Yuna. Aku masih mengampuni nyawa kalian karena aku memandang kalian adalah satu-satunya keluarga Yuna. Namun jika sampai kau macam-macam dengannya, maka jangan salahkan aku bila kubuat kau membayar mahal atas tindakan kejam yang kau lakukan padanya," tandas Shena. Matanya memerah dan menatap tajam wanita yang ada dihadapannya.
"Yuna! Cepat masuk ke dalam, dan masaklah masakan untukku Baru kita akan bicara lagi nanti," pinta wanita tua itu yang tak lain adalah ibu dari Yuna sendiri.
Namun belum juga Yuna menjawab, Shena langsung menyela kalimatnya. "Yuna, tetaplah bersamaku dan jangan turuti kemauan orang ini. Sepertinya, ia tidak tahu siapa orang yang sudah ia perintah seenak jidatnya ini. Hari ini akan kupastikan bahwa wanita ini takkan pernah bisa bersikap kasar padamu lagi. " Manik mata Shena menatap tajam ibu Yuna yang terkejut mendengar ucapan Shena.
"Heh, Nona ...."
"Nyonya," ralat Shena tak terima dipanggil 'nona'. "Aku sudah menikah."
"Terserah! Aku tidak peduli kau sudah menikah atau belum dan dengan siapa kau menikah, bodo amat. Yang penting sekarang, pergilah dari sini dan jangan ikut campur urusan orang lain! Pergi sana!" usir wanita itu dengan kasar.
Namun bukan Shena namanya kalau mudah goyah hanya karena usiran orang ini. Shena maju selangkah mendekat ke arah wanita tua yang sangat jutek itu.
tubuh Shena lebih tinggi dari ibu Yuna sehingga ia agak sedikit menundukkan wajahnya menatap lekat-lekat wajah marah yang menengadah membalas tatapan mata Shena.
"Dengarkan aku baik-baik, Nyonya. Aku bukan orang lain bagi Yuna. Urusan Yuna, urusanku juga, segala hal yang berhubungan dengan Yuna, itu juga berhubungan denganku. Kau tahu kenapa? Karena dia ... adalah calon menantuku," tandas Shena tegas dan juga sukses membuat ibu Yuna terkejut sampai mulutnya menganga lebar.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***