Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 193


__ADS_3

Ternyata Leo membawa Shena ke rumah sakit IUHW Mita Hospital (Minato City, Tokyo). Letaknya ada di dekat Tokyo Tower yang merupakan simbol kota Tokyo. Rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit terbaik yang juga mendapat akreditasi dari JCI (Join Commission International) Amerika. Tak heran, jika rumah sakit ini mendapat pujian tinggi secara internasional. Yang menjadi pertanyaan Shena adalah, kenapa Leo membawanya kemari? Siapa yang sakit? Jika dilihat dari rumah sakitnya yang tergolong kelas atas, pasti semua penghuni rumah sakit ini bukanlah orang sembarangan.


“Kau sudah siapkan apa yang kupesankan?” tanya Leo pada pengawal yang mengawalnya saat ia dan rombongannya memasuki pintu rumah sakit.


“Sudah Tuan muda,” jawab pengawal itu sambil menundukkan kepalanya.


Leo diam dan menggenggam erat tangan Shena yang sudah ingin meledakkan rasa penasarannya. Sayangnya, Leo masih enggan memberitahu bocoran sedikit tentang kejutan apa yang akan diberikan Leo padanya. Tanpa bertanya dulu pada bagian informasi rumah sakit ini, Leo terus saja membawa Shena dan langsung masuk ke dalam lift. Leo menekan angka 5 begitu pintu lift tertutup.


“Siapa yang kita jenguk? Apa aku kenal?” tanya Shena tak ingin menyerah walaupun Leo kadang tak mau menjawab pertanyannya. Sebab, rasa penasaran Shena sudah sampai puncak ubun-ubunnya.


“Kenal,” jawab Leo singkat, padat dan jelas bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


Suami Shena itu berhenti berjalan ketika ia tiba di depan pintu ruang VVIP yang artinya, di dalam ruangan itu pasti ada penghuninya, tapi siapa? Itulah yang menjadi tanda tanya besar bagi Shena.


Leo menghadap Shena dan menatapnya tajam, “Setelah kau tahu kejutan dariku. Kau harus memelukku dulu, oke Sayang!” secara tidak langsung, Leo mengajukan syarat pada Shena sebelum ia memberikan kejutannya.


“Memangnya kenapa kalau aku tidak memelukmu?” tanya Shena bingung. Ngasih kejutan saja harus ada syaratnya, dasar Leo.


“Kalau kau tidak mau memelukku, aku akan membawamu pulang kembali, pokoknya … peluk aku dulu sebelum kau memeluk kejutan yang kuberikan padamu.” wajah Leo terlihat serius menandakan bahwa ia tidak bercanda.


“Permintaanmu ini aneh sekali,” ujar Shena sambil tertawa.


“Janji dulu, peluk aku dulu!” seru Leo.


Tangan Shena langsung terulur dan memeluk leher suaminya. “Aku sudah memelukmu sekarang, di tempat umum lagi, kau puas?” ujar Shena menatap tajam mata Leo.


“Bukan sekarang meluknya Sayang, tapi setelah kita di dalam.”


“Tumben kau malu?” tanya Shena heran.


“Bukan malu, aku maunya kau memelukku dulu sebelum kau memeluk kejutan dariku, dan itu saat kau sudah melihat kejutannya,” jelas Leo.

__ADS_1


“Kan sama saja, apa bedanya meluk di sini dan di dalam? Kau ini ada-ada saja. Jadi nggak sih kejutannya? Kenapa malah ngajakin debat hanya karena soal pelukan?” Shena jadi badmood gara-gara permintaan aneh Leo.


“Jadi, ayo!” Leo mencium mesra kening Shena agar istrinya tidak jadi marah. Ia membuka pintu ruang dan masuk bersama-sama ke dalam.


Sesampainya di dalam, mata Shena terbelalak dan hampir saja melompat kegirangan setelah melihat apa yang ada dihadapannya. Benar dugaan Leo, Shena hampir saja berlari memeluk kejutan yang diberikan Leo tapi dengan cepat lengan Shena ditarik Leo hingga tubuh ramping itu jatuh ke pelukannya.


“Sudah ku bilang, peluk aku dulu sebelum kau memeluk kejutan dariku.” Mata Leo menatap tajam mata istrinya yang sudah mulai berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena terlalu bahagia.


Shena terdiam dan langsung mengecup pelan pipi suaminya. “Aku terkejut, benar-benar terkejut. Sekarang, aku tak hanya memelukmu, aku juga sudah menciummu, boleh aku peluk kejutanku sekarang?” air mata bahagia Shena mulai jatuh membasahi pipinya.


“Ehm, pergilah!” Leo melepas pelukan Shena dan istrinya itu berlari kecil memeluk wanita yang bersandar di ranjang rumah sakit. Wanita itu juga menangis saat Shena memeluknya dalam diam.


“Kau jahat, Ra! Kenapa kau tidak memberitahuku? Kalau … keponakanku sudah lahir, ha? Kau sudah tak menganggapku temanmu lagikah? Aku sangat merindukanmu!” isak Shena dalam pelukan wanita yang tak lain adalah sahabat karibnya, sahabat yang sangat dirindukan Shena, yaitu Laura.


“Nyonya Leopard Bay Pyordova? Bagaimana bisa aku memberitahumu kalau aku tak membawa ponsel dan sedang berjuang melahirkan keponakanmu, ha? Kau pikir aku sedang piknik apa? Sehingga saat melahirkan bisa meneleponmu?” Laura juga terisak dalam pelukan Shena. Ia juga sangat merindukan temannya ini. sudah lama pula mereka tidak bertemu.


Shena melepas pelukannya dari Laura dan memukuli Roy yang berdiri di sampingnya. “Sialan kau Roy! Kenapa kau tak memberitahuku? Harusnya kau beritahu aku lebih awal.” Tanpa peringatan, Shena menyerang Roy dengan tangannya.


“Wow … hentikan Shena!” teriak Roy mencoba menghindar dari amukan Shena.


“Suamimu bilang kau butuh banyak istirahat karena kau sedang hamil lagi! Makanya aku tak meneleponmu! Cecurut itu juga bilang kalau kalian akan segera datang kemari secepatnya begitu urusan suamimu selesai, jadi aku tak perlu memberitahumu karena kupikir kau sudah diberitahu sama dia! Kenapa kau malah memukuliku sekarang? Pukul saja si kampret itu?”


“Diam kau! Jangan cari alasan!” Shena terus saja memukuli Roy untuk melampiaskan kekesalannya, bukan hanya kesal pada Roy, tapi sebenarnya, ia juga kesal pada Leo.


Hanya saja, Shena tidak berani memukuli Leo, bisa-bisa dia dikurung sebulan di dalam kamar dan tidak diperbolehkan keluar. Mending kalau cuma di kurung sendiri, kalau Leo ikutan mengurung diri bersamanya, bisa-bisa adegan bulan tertusuk ilalang 24 non stop terjadi. Shena tidak mau ambil resiko itu.


“Woy kampret! Hentikan tangan istrimu ini? Kenapa kau jadikan aku kambing congek, ha?” teriak Roy pada Leo untuk meminta bantuan.


“Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Roy. Tadi kau sudah lihat sendiri, kan? Shena menyogokku dengan pelukan dan ciuman. Aku tak berdaya. Jadi, aku hanya bisa menonton saja.” Leo tertawa menggoda Roy.


“Dasar bucin!" geram Roy pada Leo dan beralih menatap Shena. "Kalau kau bukan istri temanku, aku pasti …”

__ADS_1


“Pastia apa?” sengal Shena sebelum Roy selesai bicara. “Kau pantas dipukuli! Seumur hidup, Laura paling takut disuntik, tapi gara-gara melahirkan anakmu, lihat tangannya! Ia harus diinfus, kan? Diinfus itu sakit, tahu! Aku tidak bisa membayangkan betapa menderitanya dia! Harusnya aku ada disampingnya, tapi apa yang kau lakukan? Kau tidak memberitahuku! Dasar bengek kau!” Shena melanjutkan serangannya lagi.


“Aku menjaga sahabatmu dengan baik, Shena. Lihat tanganku kalau kau tidak percaya!” Roy memperlihatkan lengan Roy yang penuh dengan luka bekas gigitan.


Shena tertegun dan menghentikan serangannya, ia menatap serius luka gigitan yang ada di lengan Roy. “Kenapa dengan lenganmu itu? Kau di gigit vampir?” Shena bergidik ngeri dan berjalan mundur menjauhi Roy, ia mengira kalau sebentar lagi Roy juga bakal jadi vampir juga.


Roy tahu apa yang ada dipikiran Shena dan buru-buru bicara, “Kau jangan terlau banyak melihat film yang aneh-aneh, Shena. Tertuama Twilight atau fim vampir lainnya. Kalau kau bilang lenganku digigit vampir, memang benar, dan vampir yang kau maksud itu sedang terbaring lemah diranjangnya.” Roy melirik istrinya yang langsung buang muka. Dan Shenapun cepat mengerti siapa yang dimaksud Roy.


“Laura menggigitmu? Sampai seperti itu?” tanya Shena tidak percaya. Pasti itu rasanya sakit sekali. Soalnya bekas gigitan di lengan Roy tak hanya satu, tapi ada banyak dan tak terhitung jumlahnya. Shena jadi teringat saat ia lahiran dulu, ia juga menggigit dan menjambak rambut suaminya.


“Aku tahu dia takut jarum suntik, jadi … aku suruh dia menggigit lenganku.” Roy menjelaskan betapa peduli dan sayangnya iapada Laura. “Tak hanya itu, saat Laura melahirkan putra pertama kamipun, aku juga memintanya menggigit lenganku, supaya aku bisa merasakan sakit sama seperti yang dirasakan Laura ketika berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan buah hati kami berdua.” Mata Roy terus tertuju pada Laura yang mulai perlahan balas menatapnya.


Lagi-lagi Shena tertegun, ia tidak menyangka kalau Roy bisa seromantis itu pada Laura. Iapun lega karena Roy ternyata sangat mencintai Laura melebihi nyawa Roy sendiri.


“Huh, dasar sok sweet!” geram Leo sambil menjitak kepala Roy yang sedang menatap mesra Laura.


“Kenapa kau menjitakku, heh! Mau berkelahi?” teriak Roy protes.


“Nah, kebetulan! Aku juga sedang ingin menghajar orang!”Leo memukul-mukul kedua tangannya sendiri.


“Ayo keluar!” tantang Roy.


“Ayo!” Leo balas menantang. Duo somplak itupun berjalan menuju pintu keluar tanpa peduli lagi pada pandangan aneh dari mata para istri-istri mereka. “Selamat untukmu, Ra! Dan terimalah hadiah dari kami!” ujar Leo sebelum menutup pintu ruangannya.


Tak berselang lama, pintu ruangan kembali terbuka dan sebuah kotak box besar, dibawa masuk oleh para pengawal Leo. Laura dan Shena terkejut melihat bungkusan kotak yang sangat besar tersebut.


“Apa itu?” tanya Laura pada Shena.


“Entahlah! Aku tidak tahu. Leo sengaja tidak memberitahuku kalau kau ada di sini dan baru saja melahirkan. Ini adalah kejutan yang diberikan Leo padaku. Aku sungguh tidak tahu apa-apa dan sepertinya suamiku yang nggak ada akhlak itu sudah menyiapkan ini semua tanpa sepengetahuanku. Mau kubukakan kadonya?” tawar Shena, ia juga penasaran kado apa yang diberikan Leo untuk Laura.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


Kira-kira kado apa, ya? Ada yang bisa nebak? Hehehe ….


__ADS_2