Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 226 Rutinitas


__ADS_3

Begitu tiba disekolah, Shena langsung menghadap keruang BK di mana kedua putranya berada. Ia sungguh terlihat khawatir sekaligus kesal dengan Yeon dan Bima. Kakak beradik itu tak kapok-kapok bikin ulah disekolahnya. Hampir setiap hari baik Shena ataupun Leo harus mengunjungi sekolah karena ulah kedua putra mereka yang selalu saja buat masalah.


"Kali ini kekacauan apalagi yang dilakukan putra-putra saya ini, Mister?" tanya Shena begitu ia tiba di dalam. Yeon dan Bima hanya menunduk tanpa berani menatap wajah kesal Ibunya.


"Lihatlah anak-anak itu, miss Leo." Guru BK itu menunjuk anak-anak yang berjejer rapi ditempat duduknya yang ada disebelah kanan Shena berdiri. Anak-anak itu babak belur akibat dihajar oleh Yeon. "Mereka jadi seperti itu, akibat ulah dari putra sulung anda."


Shena menatap ngeri wajah-wajah anak-anak itu. Matanya terpejam agar emosi Shena tidak meledak keluar. Akan runyam jadinya jika sampai emosi Shena keluar di sini sekarang. Shena sendiri juga tak mau gegabah dan mencoba mencari tahu, apa alasan putranya memukuli anak-anak itu.


"Apa yang terjadi, Yeon. Kenapa kau memukuli teman-temanmu sampai seperti itu?" tanya Shena.


"Mereka menuduhku merebut pacar-pacar mereka, Bu. Aku sudah jelaskan kalau aku tak melakukannya. Para gadis ganjen itu lah yang selalu tebar pesona di padaku. Aku tak suka dituduh-tuduh?" jawab Yeon polos.


"Apa? Kenapa anak seusia kalian sudah pacaran?" tanya Shena heran melihat anak-anak zaman sekarang.


"Bukan aku Bu, tapi mereka." Yeon mencoba membela diri.


"Tapi kau tak seharusnya membuat mereka jadi babak belur begitu? Bagaimana kalau orangtuanya tidak terima? Kau bisa dituntut?"


"Sebelum menuntutku, aku juga akan menuntut mereka. Mereka tahu kalau ayah dan ibu tidak akan membelaku meskipun aku putra dari keluarga Sultan. Bahkan pak tua ini sengaja memanggil Ibu hanya untuk cari muka! Banyak kok kakak kelas diluar sana berkelahi bahkan sampai masuk rumah sakit tapi orang tuanya tak pernah dipanggil olehnya, tapi giliranku dan Bima, hanya kesalahan kecil saja, si tua bangka ini pasti langsung memanggil kalian berdua. Padahal para guru disini sudah menghukum kami atas apa yang kami lakukan!" Protes Yeon.


"Yeon! Bicaramu, kau masih kecil tapi beraninya kau tidak sopan pada gurumu?" tegas Shena karena ia tidak enak pada guru BK yang berdiri di dekat meja kerjanya karena ucapan tidak sopan Yeon.


"Aku bicara apa adanya Ibu? Kenapa Ibu malah membelanya? Dan bukannya membelaku? Apa Ibu tidak percaya padaku?" bentak Yeon.


Dan sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Yeon. Tamparan itu berasal dari tangan Leo yang baru saja datang dan melihat putranya membentak Shena.


"Bicara yang sopan pada ibumu atau kucincang kau hidup-hidup!" geram Leo dan Shena langsung terpaku. Ini pertama kalinya ia menampar wajah putranya sendiri meskipun tamparan itu tidak terlalu keras.


"Cincang saja? Aku tak minta dilahirkan kedunia ini!" Teriak Yeon marah sambil menangis, lalu ia pergi berlari keluar.


"Yeon!" teriak Shena. Ia hendak mengikuti putranya tapi tangannya dicegah oleh Leo.


"Biarkan dia sendiri dulu, Sayang. Anak itu perlu belajar mana yang baik dan tidak baik dilakukan," ujar Leo pada Shena dengan tatapan penuh makna. Ia pun beralih menatap giri BK yang sejak tadi diam tanpa suara. "Maafkan atas semua yang dilakukan putraku pada anak-anak ini, Sir. Juga ucapannya yang tidak sopan pada anda. Mengenai Bima, berikan saja hukuman yang pantas untuk apa yang sudah ia lakukan."


"Bima sudah dihukum, Sir. Tapi ... putra kedua anda ini malah berjoget ria sehingga teman-temannya tak bisa konsentrasi pada pelajaran mereka," terang guru BP itu dan Leo hampir saja tertawa tapi ia tahan sekuat-kuatnya agar tawanya tidak muncrat keluar.


Dasar jahil, batin Leo sambil melirik Bima. Kejahilan Bima ini mengingatkan Leo akan sisi dirinya yang lain.


"Baiklah, Sir. Begini saja ... untuk hari ini, izinkan saya membawa pulang putra-putra saya kerumah dan menghukum mereka dengan cara saya sendiri."

__ADS_1


"Baik, Sir. Terimakasih karena sudah meluangkan waktunya datang kemari." Guru BK itu melihat Leo terus saja menggenggam erat tangan Shena yang sangat mencemaskan Yeon. "Tolong anda isi berkas-berkas ini dan tanda tangani." gitu BK tersebut memberikan sebuah buku besar yang wajib diisi oleh Leo.


Tanpa suara, Leo mengisi data di buku besar itu sambil tersenyum mencurigakan. Setelah selesai, ia mengajak Bima dan Shena keluar bersama-sama dari ruang BK.


"Ayah ...."


"Aku tahu, Bim. Kau tenang saja, ayahmu ini bukanlah orang bodoh seperti yang mereka kira," Leo menyela kata-kata putra keduanya seolah tahu apa yang ada dipikiran Bima.


"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Shena karena sepertinya, cuma dirinya saja yang tidak mengerti.


"Nanti kujelaskan, Sayang. Ayo kita cari Yeon dulu." Leo semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Shena seolah enggan untuk dilepaskan. "Bima, tunggu kami di mobil oke," ujar Leo pada putranya.


"Baik, Ayah ... tapi ... ayah tidak marah?" tanya Bima bingung.


"Marah, tapi melihatmu bikin ulah, aku seperti melihat cerminan diriku sendiri pada kalian berdua." Leo mengusap lembut kepala putranya.


"Tapi kenapa Ayah menampar kak Leon? Dia ... seperti itu karena anak-anak nakal itu yang cari gara-gara lebih dulu!" Bima membela kakaknya.


"Aku tahu, aku akan bicara pada kakakmu nanti, pergilah!" suruh Leo dan tumben Bima langsung menurut.


"Aku akan menemani Bima dan menunggumu membawa Yeon ke mobil. Lea sedang sendirian disana."


"Ehm. Aku akan pergi cari Yeon dulu." Leo mencium kening Shena dan berlalu pergi mencari Yeon yang ternyata ada di loteng salah satu gedung sekolahnya. Putra sulung Leo yang suka berkelahi itu sedang menyendiri disana.


Bahkan ayah Leo, kakek dari Yeon sendiri sampai kualahan menghadapinya dan meminta bantuan Dilagara yang tak lain adalah ayah Refald untuk mengatasi kenakalan yang Leo buat. Alhasil, jadilah Leo yang sekarang dan dipandu langsung oleh Refald. Suami Shena itu sama sekali tidak menyangka kalau sifatnya ini telah menurun pada kedua putranya dan itu cukup membuat Leo pusing kepala.


"Yeon," panggil Leo dan putranya itu hanya diam. "Ayo pulang," ujar Leo lagi.


"Hanya itu? Setelah ayah menamparku, dan ayah hanya berkata seperti itu?" pekik Yeon masih marah.


"Kau pantas mendapatkannya, aku tak pernah mengajarkanmu bicara kasar pada ibumu apapun yang terjadi. Bukan karena aku sangat mencintainya, tapi karena aku tahu bagaimana perjuangannya saat ibumu melahirkanmu dulu, ia bertaruh nyawa demi dirimu. Karena kau adalah buah pertama dari cinta kami berdua. Suatu saat jika kau sudah dewasa, kau pasti akan mengerti." Leo memeluk tubuh putranya yang tercengang mendengar ucapan Leo.


"Jadi ... ayah tidak marah karena aku memukuli anak-anak itu? Tapi ayah marah karena aku membentak Ibu? Sebab itulah ayah menamparku?"


"Ehm, Ibumu sudah banyak berkorban untuk kita. Jangan pernah kau menyakiti hatinya. Sebab, dia adalah wanita paling berharga untuk kita semua. Kau akan paham jika kau sudah pernah kena lemparan sandalnya," gurau Leo. "Mengenai kekacauan yang kau buat, aku sudah tidak kaget lagi. Kau putraku. Sedikit banyak jiwa gengsterku menurun padamu. Kau pasti punya alasan kenapa kau memukul mereka meskipun itu dilarang di sekolah ini.


"Bagaimanapun juga, tindakanmu ini tidak bisa dibenarkan dan bukan berarti kau boleh melakukan apapun yang kau suka walaupun kau putra seorang sultan. Ayo pulang, kita bicara saja di rumah. Ibu dan adik-adikmu, sudah menunggumu di bawah." Leo berdiri dan menggandeng tangan mungil Yeon.


Tak ada yang bisa dikatakan Yeon lagi. Ia jadi bingung sendiri, sebenarnya ayahnya ini membela siapa, sih? Tadi marah-marah dan sekarang malah bersikap sok baik padanya.

__ADS_1


Namun, apa yang dikatakan Leo itu memang benar. Segala macam bentuk tindak kekerasan sangat dilarang disekolah ini walaupun tujuannya hanya untuk membela diri. Apalagi Yeon masih menempuh pendidikan dasar, tidak baik bagi seorang anak seusia Yeon terus menerus melakukan kekerasan apapun alasannya.


****


Malam harinya, Leo sedang sibuk bertelepon ria dengan seseorang yang entah itu siapa. Ia terlihat sangat serius membicarakan suatu hal. Ini sudah hampir mau tengah malam tapi Leo tak kunjung selesai bicara dengan seseorang yang meneleponnya sejak usai makan malam tadi.


"Baiklah, aku serahkan semuanya padamu. Kita bertemu lagi di acara festival tahunan di sekolah putraku dua hari lagi. Aku harap semuanya sudah pasti." Leo menutup sambungannya begitu melihat tangan Shena melingkar erat di perut Leo.


"Kau bicara pada siapa? Serius sekali?" tanya Shena dari balik punggung Leo.


"Kau cemburu?" Leo tersenyum.


"Nggak, siapa yang cemburu? Aku hanya ingin tahu saja."


"Tapi ... aku ingin kau cemburu," ujar Leo mulai menggoda Shena.


"Kau ini aneh sekali, orang tidak cemburu malah disuruh cemburu, gimana sih?"


"Sudah lama kau tidak posesif padaku. Bagaimana kalau ... yang meneleponku tadi adalah wanita?"


"Benarkah? Kau suka dia?" tanya Shena dengan tenang.


"Satu-satunya wanita yang kusukai cuma kau seorang, Sayang. Tidak ada yang lain lagi."


"Itulah alasan kenapa aku tak cemburu, karena aku tahu, hanya akulah wanita yang ada dihatimu." Shena memeluk erat tubuh suaminya dari belakang.


Leo melepas pelukan istrinya dan balik badan menghadap Shena. "Apa anak-anak sudah tidur semua?" tanya Leo mengubah topik pembicaraan. Kalau diteruskan bakal panjang.


"Sudah. Mereka semua terlalu lelah hari ini."


"Besok jangan suruh Bima dan Yeon ke sekolah dulu."


"Kenapa? Apa ada masalah?"


"Tidak ada, aku hanya tidak ingin mereka buat onar lagi selagi aku disibukkan dengan urusanku. Lebih baik mereka berdua ada di rumah sehingga membuatku tenang," jelas Leo.


"Ya sudah kalau begitu, terserah kau saja. Sebaiknya kita tidur sekarang, ini sudah larut malam. Besok, kau juga harus bekerja."


Tanpa memberi aba-aba, Leo menggendong tubuh istrinya dan meletakkannya diatas kasur. "Kita main bulan tertusuk ilalang dulu, baru aku bisa semangat lagi menjalani hari-hariku bersamamu." Leo tersenyum dan tanpa menunggu persetujuan dari Shena, ia langsung melancarkan aksinya melakukan ritual rutinitas malam mereka yang sudah biasa mereka lakukan, yaitu bulan tertusuk ilalang.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2