
Pagi-pagi buta Leo sudah berdiri dibalkon kamarnya. Ia sedang sibuk berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Shena yang baru saja selesai menengok putramya langsung heran karena tak biasanya suaminya itu bangun sepagi ini apalagi langsung menerima panggilan telepon kecuali ada hal penting yang mendesak. Sambil membawakan kopi untuk suaminya, perlahan Shena mendekat kearah Leo.
“Oke, lakukan saja seperti yang sudah kita rencanakan … ehm, sepertinya begitu … akan kututup teleponnya. Kabari aku jika semuanya sudah siap. Hari ini aku mau menghabiskan waktuku dengan istri tercintaku.” Leo menutup sambungannya dan berbalik arah menatap Shena sambil tersenyum simpul.
“Siapa yang kau ajak bicara pagi-pagi begini? Bahkan matahari saja masih belum terbit,” tanya Shena sambil menyerahkan secangkir kopi untuk Leo.
“Bagaimana kau tahu kalau aku sudah bangun dan membawakan kopi untukku, hm?” Leo menerima cangkir kopi tersebut dan meletakkannya dipagar balkon. Ia memeluk pinggang Shena erat dalam dekapannya dan mencium mesra kening istrinya.
“Aku lihat, lampu kamar sudah menyala saat aku keluar dari kamar Yeon tadi. aku pikir kau pasti sudah bangun jadi kubuatkan kopi untukmu. Kau belum jawab pertanyaanku? Siapa yang kau ajak bicara pagi-pagi buta begini? Dan langsung menutup sambunganmu saat aku datang? Kau takut aku memergokimu bicara pada wanita lain?” ujar Shena sambil memasang wajah cemberut.
“Sepertinya aku mencium aroma kecemburuan dari istriku. Kau takut aku selingkuh?” goda Leo sambil tersenyum.
“Tidak, aku tahu kau tidak akan pernah dan tidak akan bisa menduakan aku, karena kau hanya mencintaiku.”
“Kau tahu itu, tapi kau masih cemburu.”
“Aku tidak bilang kalau aku cemburu? Kau saja yang menuduhku begitu? Aku hanya penasaran kenapa kau menutup panggilanmu begitu aku datang? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?”
“Tidak ada, tadi itu hanya rekan kerja. Selama aku ada disini, aku memintanya mengurus segala hal yang tidak bisa kulakukan. Anggap saja, dia kaki tanganku.”
__ADS_1
“Siapa? Apa aku mengenalnya?”
“Kau akan tahu nanti, kalian pasti akan segera bertemu. Bagaimana pertandingan selanjutnya? Apa kau yakin temna-temanmu bisa memenangkannya?” Leo mulai mengelihkan pembicaraan supaya istrinya tidak terlalu penasaran lagi dengan pekerjaan yang Leo lakukan sekarang.
“Pertandingan kali ini, tidak begitu berat seperti pertandingan sebelum-sebelumnya. Teman-temanku pasti bisa mengatasinya. Kau jangan khawatir. Mereka harus memecahkan teka-teki.”
“Apa kau yakin mereka bisa melakukannya?”
“Kau belum tahu siapa mereka. Sewaktu sekolah mereka bertiga dijuluki sebagai 3 serangkai dalam kontes lomba cerdas cermat. Tidak ada yang bisa mengalahkan otak aneh mereka. Dari luar, mereka seperti orang-orang yang tidak berkompeten, tapi sebenarnya mereka bertiga sangat jenius. Itulah sebabnya diantara kami semua, mereka bertiga terpilih menjadi pegawai pemerintahan melalui serangakaian tes yang sulit. Toh akhirnya mereka bertiga lolos semua mengalahkan ribuan calon pegawai yang terdaftar. Aku yakin, kali ini mereka bertiga pasti bisa memecahkan teka-teki yang diberikan dalam pertandingan nanti.” Shena memerhatikan suaminya yang hanya diam dengan tatapan mata kosong saat ia berbicara. “Leo … kau dengar aku?” Tanya Shena.
“Iya, aku dengar. Kalau begitu, hari ini aku bisa santai. Biar teman-temanmu saja yang menghadapi tim Aryani. Aku dengar, aku sudah lolos seleksi kontes menari memlaui video yang kita kirim. Apa kau keberatan jika aku meminta Kun yang menggantikanku? Wajahku dan dia sama. Jadi, tidak mungkin ada yang curiga.”
“Tidak, itu namanya curang.” Shena langsung tidak setuju. “Kau juga tak kalah keren dengan kembaranmu, kenapa kau tidak tunjukkan saja pesonamu?”
“Keberatan sih, tapi aku percaya … satu-satunya wanita yang kau cintai didunia ini hanyalah aku. Tak peduli seberapa banyak wanita yang jatuh cinta pada pesonamu, cintamu tetap hanya untukku.” Leo langsung memberikan hadiah ciuman manis pada istrinya.
“Aku mencintaimu, Sayang.” Leo memeluk Shena dengan mesra.
“Aku juga, kau hidupku dan juga segalanya bagiku. Aku bisa seperti sekarang karena aku memilikimu disisiku. Entah apa yang terjadi padaku jika saat itu kau tidak memaksaku menjadi kekasihmu, aku sungguh tidak bisa membayangkannya.” Shena melepas pelukan suaminya dan berjalan kesamping Leo.
__ADS_1
Dengan wajah sedih, Shena menatap pemandangan indah yang ada disekitar rumahnya. Tak terasa, waktu sudah berjalan begitu lama, begitu pula dengan kisah cintanya dengan Leo. Sekelebat kenangan-kenangan indah keduanya terlintas dipikiran Shena.
“Kenapa wajahmu sedih begitu? Kau bilang kau juga mencintaiku? Tapi wajahmu terlihat tak bahagia bersamaku. Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Leo sambil memeluk Shena dari belakang. Leo menyandarkan kepalanya dibahu Shena dan menikmati pemandangan indah bersama wanita pujaan hatinya.
“Aku merindukan ayah dan ibu.” Shena mulai mengungkapkan kegundahan hatinya pada Leo. “Ada dimana mereka sekarang? Aku sungguh ingin bertemu mereka Leo. Aku teringat pertama kali mendapat pelukan hangat dari mereka tepat disaat mereka ingin menikahkan kita. Kau tahu Leo? Waktu itu, aku merasa … aku menemukan kembali orangtuaku yang sudah lama pergi. Pelukan ayah dan ibu kembali membuatku hidup.
"Itulah kenapa walau aku tahu fakta yang terjadi tentang kematian kedua orangtuaku, aku tak bisa membencimu ataupun ayah dan ibu. Sebab, bagiku, kalianlah keluargaku yang sekarang. Cukup sekali aku kehilangan orangtuaku karena sebuah kecelakaan,. Dan aku tidak ingin kehilangan orantuaku lagi untuk yang kedua kalinya. Aku tidak ingin kehilangan mereka, Leo. Aku sangat merindukan mereka.” Air mata Shena mengalir mengingat kenangan saat Byon dan Biyanca selalu memanjakan dan menyayanginya bukan sebagai menantu, tetapi sebagai putri mereka sendiri.
“Aku pastikan kau akan segera bertemu dengan mereka kembali Sayang. Jangan menangis lagi, oke. Aku tidak suka melihatmu menangis. Kau jadi sangat jelek karena aku tidak bisa mencium kedua pipi lembutmu ini.” Leo membalikkan tubuh Shena supaya menghadapnya. Ia mengusap sisa bulir air mata yang membasahi pipi indah Shena. “Sudah kubilang padamu, aku akan membawa ayah dan ibu kemari. Sesegera mungkin, bagaiamanapun caranya akan aku bawa mereka untukmu. Bersabarlah sedikit lagi, Sayang. Aku tidak pernah mengingkari janji yang kubuat untukmu.” Leo memeluk Shena untuk menenangkan istrinya. Ia menatap lurus perkebunan teh yang ada dihadapannya seolah sedang memikirkan sesuatu yang tidak diketahui oleh Shena.
“Sebenarnya, dari dulu … aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Tapi karena ada begitu banyak hal yang terjadi, aku baru ingat sekarang. Begitu Yeon bangun nanti, bisakah kau mengantarku kesana? Aku akan mengajak bibi Egha juga,” ujar Shena yang sudah mulai tenang kembali.
“Kemana?” Tanya Leo penasaran.
“Ketempat yang seharusnya kita datangi sejak dulu. Aku ingin minta maaf pada seseorang yang dulu pernah mencintaimu dengan segenap hati dan jiwanya. Meski kau hanya bisa mencintaiku, dan cintamu tak bisa dibagi dengan siapapun, tetap saja … aku harus minta maaf padanya karena tak bisa membuatnya memilikimu.” Shena menatap tajam wajah suaminya yang juga menatapnya lekat-lekat.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1
simak video visual Leo saat di balkon hanya di igku ..