
Perintah Leo yang meminta pengawalnya menggeledah tubuh seorang wanita benar-benar membuat semua pasukannya merasa adem panas karena menahan hasrat yang tak bisa mereka salurkan. Selama proses penggeledahan, mereka semua hanya bisa mati-matian menahan birahi agar tak tergoda kala kedua tangan mereka menggerayangi seluruh tubuh Magdalena.
Jika ada yang khilaf, rekan yang lain saling mengingatkan untuk tahan iman. Sampai akhirnya setelah 10 menit berlalu, mereka semua berhasil menemukan chip yang terselip dalam bagian sesnsitif wanita yang bernama Magdalena ini. Begitu chipnya ketemu, mereka semua menutup tubuh wanita itu dengan kain sprei lalu mengikatnya di kursi agar tak bisa kabur ketika dirinya sadar.
Seluruh pasukan Leo keluar ruangan bersama-sama dengan bermandikan peluh akibat terlalu tegang di dalam. Untunglah para pengawal Leo ini masih punya akhlak, tak seperti bosnya yang gila dan edan, sehingga mengeluarkan perintah bengek seperti itu. Jika saja mereka semua sama nggak ada akhlaknya dengan Leo, mungkin wanita yang bernama Magdalena sudah jadi bubur di dalam.
Leo dan Roy mati-matian menahan tawa melihat ekspresi para pengawalnya yang sudah seperti cacing kepanasan. Apalagi mereka semua masih bersikap sok keren di depan Leo.
“Maaf, Tuan muda. Saya … izin ke kamar mandi dulu!” salah satu pengawal Leo itu langsung bergegas pergi ke toilet tanpa menunggu persetujuan Leo.
“Saya juga Tuan,” seru yang lainnya dan ikut menyusul temannta ke toilet.
“Saya juga!” yang lainnya juga ikutan.
“Saya juga Tuan! Permisi!” semua anak buah Leo berebut berlari masuk ke dalam toilet.
“Ada apa dengan mereka?” tanya Roy masih pura-pura tidak mengerti.
“Jangan pura-pura tidak tahu, mereka sedang membuang hasrat yang tak bisa disalurkan. Kasihan kecebong-kecebong itu terbuang sia-sia,” jawab Leo sambil tertawa.
__ADS_1
“Kau sinting!” komentar Roy sambil geleng-geleng kepala merasa iba pada seluruh pengawal Leo akibat ulah bengek majikannya.
Leo kembali bersikap biasa dan memerhatikan chip kecil yang ada ditangannya. Ia juga menunggu seluruh anak buahnya selesai menyalurkan hasrat mereka di dalam toilet. Setelah selesai, Leo memerintahkan pasukannya untuk membawa Magdalena ke markas Faid untuk dieksekusi seperti rekan-rekannya yang lain.
“Mr. Faid, aku sudah ada di lokasi, kau bisa bereskan kekacauan yang terjadi di sini? Aku agak sibuk setelah ini … iya … menangkap pembawa flasdish yang kucari … tidak ... aku sdah tahu siapa orang itu, aku sendiri yang akan menyelesaikannya, ah, hentikan pencarian istriku karena aku sudah menemukannya, kuserahkan semua ini padamu. besok begitu urusanku dengan istriku selesai, aku akan menemuimu.” Leo menutup panggilannya sambil tersenyum senang.
“Benarkah kau sudah menemukan Shena? Di mana? Apa Laura benar-benar bersamanya?” tanya Roy khawatir.
“Sepertinya yang perlu kau cemaskan adalah flasdishk itu Roy. Isi dari flasdishk itu adalah kebenaran video dari chip ini. Jika sampai istrimu melihat adegan ranjangmu yang sesungguhnya, maka … habislah kau. Tapi jika kau memang di jebak. Kau masih bisa aman. Sekarang katakan padaku? Bernarkaj kau sudah tak perjaka lagi saat menikah dengan Laura?”
“Aku tidak begitu ingat, tahu-tahu aku … itu sudah lama sekali. Kenapa kau baru tanya itu sekarang, ha?” Roy badmood jika dipaksa mengenang masa lalu yang menyakitkan.
“Woy, kampreet! Katakan padaku di mana Laura dan Shena sekarang? Kita harus rebut fd itu dari mereka sebelum Laura melihatnya. Apa kau senang rumah tanggaku berantakan, ha?” teriak Roy menyusul kepergian sahabatnya. Namun, yang diteriaki malah terus ngeluyur berjalan santai menuju hotel Raphael yang ada di seberang jalan tak jauh dari lokasi Leo berada.
***
Tangisan Laura sungguh membuat hati Shena ikutan trenyuh juga mendengarnya. Sebagai sesama wanita, ia sangat mengerti seperti apa perasaan sahabatnya sekarang ketika tahu bahwa suaminya adalah seorang playboy kelas kakap melebihi Leo. Jika Shena jadi Laura, pasti ia juga akan melakukan hal sama seperti yang dilakukan Laura.
Memaafkan memang mudah, tapi melupakan kesalahan itulah yang agak susah dilakukan dan pastinya butuh waktu lama untuk bisa menyembuhkan hati yang terluka. Shena mengusap pelan punggung Laura agar ia tenang kembali. Persahabatan yang terbina sejak mereka masih duduk di bangku kuliah membuat Shena dan Laura sama-sama saling mencurahkan hati dan perasaan mereka masing-masing.
__ADS_1
Berkat persahabatan ini pula, akhirnya mereka berdua mendapatkan pangeran-pengeran tampan mereka dan hidup bahagia hingga sekarang meskipun badai sedang menimpa biduk rumah tangga Laura dan Roy yang berimbas ke Shena dan Leo juga. Namun, Shena percaya kalau badai ini bakal berakhir secepatnya.
“Kau jangan bersedih Ra. Kita sudah mendapatkan flasdisknya, sekarang kita tinggal lihat apakah Roy memang sebejaat itu atau tidak. Tapi kita tidak bisa lama-lama di sini, ayo kita segera pergi dari sini sebelum Leo dan Roy menemukan kita.” Shena mengintai sekitar rumah Magdalena yang terlihat sepi dan tak ada pergerakan.
Sekali lagi Shena menggunakan teropong untuk memastikan apakah Leo dan pasukannya masih ada di sana atau tidak. Namun sepertinya, Leo sudah pergi dan rumah itu terlihat kosong tanpa Shena tahu bahwa suaminya dan Roy telah menuju ketempatnya berada.
“Tapi Shena, bagaimana kalau Roy memang benar-benar melakukannya? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu … apakah aku harus menerima kenyataan ini atau tidak? Aku tidak yakin hubungan kami akan kembali baik seperti dulu meskipun aku … tetap memilih bersamanya.” Laura masih saja galau dan memang berat sih. Tak banyak wanita yang bisa mengikhlaskan suaminya pernah tidur dengan wanita lain meskipun itu sudah lama terjadi.
“Yang lalu biarlah berlalu, Ra. Roy mencintaimu melebihi apapun. Itu yang terpenting sekarang. Kalian berdua hanya butuh waktu untuk melupakan semua ini dan membuka lembaran hidup yang baru … yang lebih bahagia dari sebelumnya dan ciptakan adik untuk Rai.” Disaat seperti ini, sempat-sempatnya Shena membicarakan soal anak dengan Laura, yang ada malah dia sendiri yang bakal digempur Leo sampai punya banyak anak lagi.
“Biar kau tak galau terus,” lanjut Shena sambil menarik tubuh ramping sahabatnya. “Ayo kita pergi dari sini dan melihat flasdisk ini di tempat lain. Setelah itu, baru kita pikirkan lagi apa yang harus dilakukan begitu kita selesai melihat video rekaman aslinya.” Shena menyeret Laura yang tak punya tenaga menuju pintu keluar ruangannya setelah menyabet semua tas dan mengalungkannya di bahu Shena.
Baru juga Shena buka pintu kamar hotelnya dan hendak keluar, Leo sudah ada di depan pintu sambil menyandarkan salah satu tangannya di dinding pintu kamar yang di buka istrinya.
“Hai Sayang, apa kau merindukanku?” tanya Leo dengan memamerkan senyum menawannya sambil mengedipkan sebelah mata pada Shena yang langsung menganga melihat kedatangannya.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1