
Pengawal Leo masih saja baku tembak dengan beberapa musuh tak dikenal yang bersembunyi dibalik mobil-mobil dalam gedung ini. Sementara Leo, sibuk menuju mobil yang sudah disediakan untuknya dan juga Shena. Sesekali Leo menembak musuh yang terlihat olehnya dan mencoba menyerangnya. Setiap tembakan yang Leo lepaskan selalu tepat sasaran. Sayangnya, Leo tidak bisa bergerak cepat karena ia harus mengimbangi gerakan istrinya yang hati-hati agar dia tidak teluka mengingat Shena juga hamil besar.
Keduanya mulai berhenti bergerak dan bersembunyi dibalik dinding beton yang ada diparkiran mobil-mobil untuk menghindari serangan musuh. Sepertinya, Leo dan pengawalnya kalah jumlah. Bantuan yang diminta pengawal Leo juga belum datang.
“Sayang, dengarkan aku. Aku akan menggendongmu dan berlari menuju mobil itu. Tugasmu adalah menembak para kecoak-kecoak itu. Kau bisa melakukannya, kan?” tanya Leo yang sedang berhadap-hadapan dengan Shena. Suara bising tembakan, menggema dimana-mana.
“Bagaimana kalau tembakanku meleset?” tanya Shena ragu.
“Tembakanmu tidak akan meleset karena kau adalah istriku. Aku percaya padamu. Kau hanya perlu menembak ke segala arah dan jangan biarkan musuh punya peluang membalas tembakan yang kau arahkan pada mereka. Aku cuma butuh waktu beberapa detik saja. Aku yakin, kau bisa melakukannya.”
“Tapi Leo ....” sebuah ciuman manis mendarat di bibir Shena sebelum gadis itu menyelesaikan aksi protesnya.
“Kau bisa Sayang, demi aku, dan juga Leo junior kita. Istriku pasti bisa melakukannya.” Leo memberikan semangat cinta 45 pada Shena.
Karena Leo sudah berkata seperti itu maka Shena pun tidak bisa menolak atau mengelak lagi. Apalagi, Leo sangat tidak suka ditolak. Semua kehendaknya harus dituruti. Termasuk menyuruhnya menembak semua musuh-musuhnya disaat Leo sibuk berlari dan menggendongnya.
“Baiklah, akan aku coba,” ujar Shena meski ia sendiri sebenarnya tidak yakin apakah bisa melakukannya atau tidak. Namun, tidak ada salahnya dicoba.
Senyum mengembang terpampang jelas di wajah tampan Leo. Ia memberikan senjata apinya pada Shena dan langsung menggendong istrinya. Leo mencari momen pas untuk berlari menuju mobil yang menjadi incarannya. Setelah memperhatikan sekeliling, ia pun bergegas lari dan benar dugaan Leo, para musuh langsung melepaskan tembakannya ke arah Leo begitu melangkahkan kaki keluar dari persembunyian sambil menggendong Shena.
Shena yang juga melihat pergerakan mereka, mencoba melepaskan tembakan jauh lebih cepat dari musuh-musuh itu sehingga mereka kembali bersembunyi lagi agar tidak kena tembakan beruntun Shena. Entah tembakannya itu tepat mengenai sasaran atau tidak, Shena tidak peduli, yang penting musuh-musuhnya tidak punya kesempatan untuk melepaskan tembakannya kerena terlalu sibuk bersembunyi.
“Kau hebat Sayang,” puji Leo. “Sedikit lagi kita sampai.” Sekuat tenaga suami Shena itu berlari menuju mobil dan akhirnya mereka berdua tiba di samping mobil incaran Leo.
__ADS_1
Dengan gerakan super duper cepat, Leo menurunkan Shena dan langsung membuka pintu mobil tersebut. Leo kembali mengambil senjatanya dari tanga Sehna dan berbalik arah menembak para musuh yang hendak menembaknya lagi. Kali ini, peluru Leolah yang tepat mengenai jantung semua musuh-musuhnya sehingga mereka tumbang seketika.
Begitu semuanya terkapar tak berdaya, Leo bergegas masuk kedalam mobil dan lansung menyalakan mesin sementara Shena sudah memasang sabuk pengaman dari tadi. Tanpa menunggu lama, Leo melesat pergi meninggalkan gedung ini tepat saat semua bala bantuan yang tadi dipanggil oleh pengawal Leo datang.
“Mobil siapa ini?” tanya Shena.
“Entahlah, aku anay melihat kuci setir mobil ini masih menggantung dikemudi, dan jarak mobil ini paling dekat dengan kita. Jadi aku ambil saja.” Leo menjawab enteng tanpa dosa.
“Kau mencurinya?” Shena tidak percaya suaminya yang tajir melintir ini ahli juga mencuri mobil.
“Nanti akan aku ganti, Sayang. Tidak mungkin dalam kondisi kita yang terdesak antara hidup dan mati aku harus mencari pemilik mobil ini dan minta izin meminjamnya sebentar?” ujar Leo tanpa ia tahu bahwa sang pemilik mobil sedang berlari mengejar mobilnya dibelakang sambil berteriak kencang. Namun, tidak ada yang mendengar, sungguh malang benar nasib pemilik mobil yang dicuri Leo itu.
“Haduhhh, kenapa mobil pengiriman paket yang dicuri? Apa kata dunia kalau paketnya tidak segera diantar,” gerutu orang itu kehabisan napas karena tidak berhasil mengejar mobil pengiriman paketnya yang dicuri Leo.
“Gawat Leo, di depan ada banyak sekali musuh,” ucap Shena agak sedikit panik.
Tiba-tiba, pengawal suruhan ayah Refald mensejajarkan mobilnya dengan mobil yang dikemudikan Leo sambil berkata, “Tuan muda, kami akan membuka jalan untuk anda dan teruslah melaju ke tempat yang sudah diberitahukan kolonel Dilagara. Jangan pikirkan kami. Sebisa mungkin kami akan menghalangi langkah mereka.”
Leo hanya menoleh sekilas pada pengawal itu dan mengangguk setuju tanpa mengeluarkan sepatah kata. Dalam hati, suami Shena itu terus mengumpati organisasi mafia geng kapak yang sudah pasti dalang dari semua kekacauan ini. Berkali-kali, Leo mengusap lembut perut buncit Shena berharap putranya yang masih dalam kandungan itu baik-baik saja.
“Jangan gugup, Sayang. Aku bersumpah akan melindungimu dan tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun.”
Shena diam mengangguk dan memegang tangan Leo yang berada diatas perutnya. Gadis itu hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Mobil-mobil pengawal Leo, melesat cepat mendahului mobil Leo dan langsung menabrak semua mobil yang menghalangi jalan Leo sehingaa semua mobil tersebut bergeser mundur memberikan celah bagi mobil Leo supaya bisa melewati jalan itu. Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan antara kubu pengawal Leo dan juga musuh-musuhnya.
Kali ini, Leo tidak bisa berbalik arah dan membantu mereka. Sesuai kesepakatan, apapun yang terjadi Leo harus terus melaju menuju bandara tempat pesawat mereka sudah menunggu.
"Apa tidak apa-apa kira meninggalkan mereka?" ujar Shena merasa tidak enak.
"Mereka adalah pasukan khusus yang terlatih. Mereka tidak akan dikalahkan dengan mudah." Leo tetap tenang dan konsentrasi menyetir dengan kecepatan sedang. Ia tidak ingin putranya mengalami banyak guncangan.
Akhirnya, Leo dan Shena sampai ditujuan. Suami Shena itu memarkir mobil curiannya di sembarang tempat. Leo bergegas turun lalu membantu Shena keluar dari dari dalam mobil.
Keduanya berjalan beriringan menuju pesawat yang sudah siap berangkat. Namun, untuk kesekian kalinya, langkah Leo dan Shena dihadang oleh seseorang yang sejak tadi sedang dicari-cari oleh Leo.
Orang tersebut sepertinya memang sengaja menunggu kedatangan Leo. Hanya saja, ia terlihat sangat berhati-hati dan lebih gugup. Berkali-kali, ia celingukan kesana kemari untuk memastikan tidak ada yang tahu keberadaannya di tempat ini.
“Ada apa denganmu?” tanya Leo heran begitu juga dengan Shena.
“Tuan muda Leo,” ujar seseorang itu. “Jangan menaiki pesawat itu. Ikutlah denganku!” orang itu menatap tajam mata Leo dengan ekspresi yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata antara takut, geram dan juga marah.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1