
Untuk sesaat, Yeon tersenyum simpul sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bukan tanpa alasan kenapa Yeon berani menstempel Yuna sebagai miliknya. Hal itu karena sebelum Yuna datang ke kamarnya, ada 1 pesan masuk melalui ponselnya dan itu berasal dari ayahnya yang nggak ada akhlak. Yeon sangat terkejut saat membaca pesan singkat Leo yang berisi bahwa Yuna adalah calon istrinya di masa depan. Sontak Yeon terkejut dan ingin menanyakannya langsung pada Leo. Namun ia terkejut karena mendapati Yuna sudah ada di depan pintu kamarnya sehingga mengurungkan niatnya menemui Leo.
Saat melihat Yuna, Yeon mulai memahami situasi yang terjadi antara dirinya dan gadis desa penyelamat hidupnya. Entah mengapa, Yeon jadi tertarik menerima perjodohan yang dilakukan kedua orangtuanya meskipun tanpa memberi tahu dulu pihak-pihak yang dijodohkan. Yeon pun mulai memikirkan segudang rencana akan seperti apa masa depan kisah cintanya dengan gadis kecil yang bernama Yuna ini.
Putra sulung Leo ini punya pemikiran untuk mensutradarai kisah cintanya dengan seorang Yuna yang pastinya bakal ditentang keras oleh Leo dan Shena. Namun, bukan Yeon namanya kalau menyerah begitu saja. Ia akan mengikuti alur perjodohan yang diatur orangtuanya sembari merangkai kisah cintanya sendiri bersama gadis manis yang terkapar di tempat tidurnya.
“Aku tidak tahu apa-apa tentangmu, tapi orang tuaku memilihmu untuk menjadi menantu keluarga ini. Rencana ayahku ini benar-benar menarik karena aku juga penasaran orang seperti apa kau ini. Disamping itu … aku juga ingin tahu, seberapa kuat ayah menghadapiku sampai aku bisa memutuskan apakah kau layak menjadi pengantinku atau tidak.” Yeon mengangkat tubuh Yuna yang tergeletak tak sadarkan diri dan membawanya ke atas tempat tidurnya. “Haaaah … kau berat sekali,” keluh Yeon sambil melenggak-lenggokkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri setelah meletakkan Yuna di atas kasur.
Tuan muda pertama dari keluarga Leopard Pyordova itu memandangi Yuna lekat-lekat tanpa melakukan apa-apa. Tidak ada alasan bagi Yeon untuk menolak perjodohan ini. Ia sangat ingin tahu perkembangan Yuna setelah ia pergi nanti. Apakah ia akan menjadi gadis rapuh dan lemah, atau menjadi lebih tangguh dari Shena. Yeon sungguh penasaran akan hal itu.
“Untuk sementara, aku akan membiarkanmu hidup sendiri sampai saatnya tiba kau menghadapi ujian dariku, Yuna. Jika kau lulus, maka aku akan mencintaimu seumur hidupku. Dan jika kau gagal … maka hubungan kita akan selesai di saat itu juga. Anggap saja perpisahan kita kali ini adalah pemanasan awal sebelum kau menghadapi ujian hidupmu yang sebenarnya.” Yeon mengusap lembut pipi Yuna yang terlihat imut dan menggemaskan. Sepertinya Yeon tidak main-main dengan ucapannya.
Kerena tidak ingin ada masalah, Yeon berdiri dan menelepon ayahnya untuk memberitahu apa yang terjadi pada Yuna. Begitu mendapat kabar dari Yeon, Leo dan Shena bergegas pergi ke kamar putranya.
“Apa yang kau lakukan pada Yuna, Yeon?” tuduh Shena begitu ia tiba di kamar Yeon. Ia panik saat melihat Yuna masih belum sadarkan diri.
“Aku tidak melakukan apa-apa? Tanya saja pada orangnya kalau ia sadar nanti,” jawab Yeon dan ia menatap ayahnya yang juga sedang melihat Yeon. Ayah dan anak itu sedang main kode-kodean.
“Lalu, bagaimana bisa Yuna ada di sini? Apa kau yang memintanya?”
“Aku bukan pria murahan Ibu? untuk apa aku menyuruh wanita asing datang ke kemarku? Dia sendiri yang datang kemari, sambil membawa nampan itu?” Yeon menunjuk nampan berisi makanan yang tadi sempat Yuna bawa dan ia letakkan di atas meja.
Meskipun heran, alibi Yeon memang kuat. Shena tidak tahu apa yang ada dalam pikiran putra geniusnya ini. Namun, mau tidak mau Shena harus percaya pada putranya dan kembali fokus pada Yuna.
“Yuna, buka matamu!” seru Shena sambil menepuk pelan kedua pipi Yuna. Ia memanggil pelayannya untuk membantu menyadarkan gadis kecil ini kembali bagaimanapun caranya.
“Apa yang kau lakukan pada calon istrimu?” bisik Leo pada Yeon saat semua orang sedang sibuk mengurus Yuna.
Mungkin Shena bisa menerima alasan Yeon, tapi tidak dengan Leo. Ia yakin, putranya ini pasti melakukan sesuatu hal yang membuat Yuna pingsan. Tidak mungkin anak kecil ini tiba-tiba tak sadarkan diri tanpa sebab apalagi saat ia ada di kamar seorang pria.
“Aku hanya bilang padanya kalau aku calon suaminya seperti yang ayah beritahukan padaku, dan dia langsung pingsan,” ujar Yeon jujur.
__ADS_1
Leo membuang napas dalam-dalam. Ia bisa bayangkan seperti apa Yeon saat memberitahu Yuna, pasti tak jauh beda dengan dirinya saat ia menyatakan cinta pada Shena dulu. Leo langsung menutup wajahnya dengan satu tangan. Ia ingin tertawa sekaligus sedih juga.
“Bagaimana kau bisa mirip sekali denganku?” gumam Leo sambil geleng-geleng kepala.
“Karena aku anak Ayah, tentu saja aku mirip dengamu, Yah. Jika tidak, mana mungkin ayah menjodohkanku dengannya. Apa yang ayah rencanakan sebenarnya? Kenapa menjodohkanku dengan Yuna?” Yeon malah balik bertanya dan pura-pura tidak terima. Padahal dalam hati, ia sangat senang.
“Tidak ada? Aku tahu kau menyukainya, makanya kau menerima perjodohan ini, kan? Lagipula, bukan aku yang menjodohkanmu, tapi ibumu. Kau tidak tahu apa yang sudah kami pertaruhkan supaya Yuna bisa bebas dari orang jahat yang membelenggunya. Ibumu dan aku, serta pamanmu, sudah mempertaruhkan banyak hal agar Yuna bisa bahagia. Dan satu-satunya orang yang bisa melengkapi kebahagiaan Yuna adalah kau … Yeon.” Mata Leo menatap lurus wajah polos Yeon seakan memperlihatkan bahwa Leo serius dengan apa yang ia katakan ini.
“Aku? Kenapa aku? Kenapa bukan Bima atau pria yang lainnya?” Yeon sunguh sangat ingin tahu dengan pertanyaan yang ia ajukan.
“Karena aku ayahmu, Yeon. Dan kau … jatuh cinta pada gadis itu, meskipun kau terus menyangkalnya, mata dan hatimu tak bisa dibohongi. Akupun juga pernah merasakan apa yang kau rasakan sekarang. Sebab ayahmu ini juga jatuh cinta disaat usiaku seumuranmu.”
“Hah? Ayah punya cinta masa kecil? Bagaimana dengan ibu? Apa ibu tahu?” tanya Yeon.
“Tahu,” jawab Leo santai.
“Apa reaksi ibu?”
“Ibu tidak marah? Atau cemburu?” nada suara Yeon semakin tinggi saking penasarannya.
“Kenapa ibumu harus marah? Dan untuk apa dia cemburu?” Leo masih belum ngeh dengan pertanyaan putranya.
“Tentu saja karena ayah punya cinta masa kecil. Aku kira ayah hanya mencintai ibu seorang, ternyata ayah tak ada bedanya dengan lelaki buaya darat diluaran sana.”
“Terimakasih atas pujianmu Yeon, aku memang buaya,” ujar Leo sangat bangga. Sepertinya persepsi tentang kata ‘buaya’ versi Leo dan ‘buaya’ versi Yeon berbeda.
“Siapa yang memuji Ayah?” sengal Yeon kesal.
“Kau bilang ayah buaya? Kau memang benar. Sebagai buaya, aku memang sangat bangga karena ibumu bilang, buaya adalah binatang paling setia pada satu pasangan saja.”
“Lalu kenapa ayah menduakan ibu?” tuduh Yeon yang bukan-bukan.
__ADS_1
“Siapa yang menduakannya?” sanggah Leo tak terima.
“Itu … ayah bilang, ayah punya cinta masa kecil.”
“Oey, Yeon. Apa pamanmu tidak memberitahumu? Cinta masa kecil ayah adalah ibumu sendiri! Kenapa kau menuduh ayahmu yang bukan-bukan! Dasar kau ini!” Leo menjitak kecil kepala putranya dan Yeon jadi agak malu sendiri karena salah paham pada ayahnya.
“Perjodohanmu bukan sembarang perjodohan," ujar Yeon lagi. "Ini sebuah takdir yang diatur dalam keluarga besar kita. Kakekmu, juga mencintai nenekmu sejak usia mereka masih anak-anak, begitupula dengan pamanmu, Refald. Ia dijodohkan dengan bibimu saat mereka masih seusiamu. Aku dan ibumu juga sepasang kekasih saat kami masih kecil dulu. Dan sekarang, adalah giliranmu.”
Yeon tertegun mendengar penjelasan panjang lebar ayahnya. Matanya menatap lurus wajah pucat Yuna yang sudah kembali sadar.
“Ayo ikut aku, Yeon.” Leo menghalagi pandangan mata Yeon saat melihat Yuna dengan berdiri dihadapan putranya.
“Kemana?” tanya Yeon kesal.
“Kau akan tahu nanti.” Leo tersenyum penuh makna dan langsung mendorong putra pertamanya ini keluar dari ruangan.
BERSAMBUNG
***
Teruntuk semua yang sudah baca karyaku ... aku hanya ingin memberitahu, kalau aku nggak akan pindah lapak. Sebab, aku nyaman nulis di aplikasi ini, mudah dan juga nggak ribet.
Apalagi sekarang aplikasinya diperketat sehingga meminimalisir plagiator agar tidak bisa memplagiat karya author yang sudah susah payah mikir untuk menciptakan sebuah kehaluan yang bisa menghibur pembaca.
Jujur, aku nulis tujuannya hanya untuk menyalurkan hobi dan kehaluan yang entah sudah ada ditingkat berapa. Kalau ada yang suka Monggo, kalau nggak suka juga tidak apa-apa. Tidak ada pemaksaan untuk membaca hasil tulisanku yang amburadul dan nggak jelas ini.
Dan alasan terpenting kenapa aku bertahan di Noveltoon, karena ada kalian yang mendukungku, memahamiku kalau aku ini fans fanatiknya mas Kun Kun, hehe.
Tanpa dukungan kalian, aku nggak mungkin bisa semangat seperti sekarang. Pokoknya, I love you all
aku sayang kalian semua ...
__ADS_1
maaf edisi curhat 🤭🤭🤭