
Bagaikan petir disiang bolong, tubuh Shena langsung terbujur kaku mendengar apa yang dikatakan dokter begitu ia keluar dari ruang ICU. Mata Shena berkaca-kaca dan tanpa sadar bulir air mata itu membasahi wajah cantik Shena.
Tak ada kata yang keluar dari mulut wanita cantik itu. Pandangan matanya juga kosong seakan hidupnya serasa hampa seketika. Entah kenapa dada Shena serasa sesak seolah ingin meledak tapi tak bisa diledakkan.
Laura tak sanggup melihat kondisi Shena terlihat sangat memilukan. Istri Roy itu sungguh tak tega dan hanya bisa menutup mata. Kesedihan Shena sudah mencapai batas maksimalnya. Seperti halnya Shena, Laura pun tak tahu apa yang harus ia lakukan. Bibirnya seakan terkunci rapat dan tak bisa berkata apa-apa.
Dengan amarah yang tak bisa digambarkan, Shena menguatkan diri untuk maju melangkah memasuki ruang ICU dimana suaminya berada. Ia ingin memastikan bahwa apa yang ia pikirkan salah besar.
"Tidak mungkin." Shena mulai tersenyum pada dirinya sendiri meskipun air matanya mengucur deras membasahi pipi tirusnya.
Mata wanita cantik itu terpaku pada tubuh seseorang yang terbaring lemah di atas ranjangnya. Air mata Shena semakin deras mengalir kala ia semakin dekat dengan tubuh orang yang amat sangat dicintainya ini. Tangan Shena gemetaran saat ia mencoba menyentuh wajah suaminya. Mata Leo terpejam dan tubuhnya tak bergerak. Wajah tampan suaminya sangat pucat seperti mayat.
"Le-Leo," ujar Shena lirih.
Suara Shena bahkan terdengar serak dan ia kesulitan berkata-kata. Sebisa mungkin Shena menekan semua perasaan yang ia rasakan atas apa yang ia lihat ini.
"Leo ...," gumam Shena lagi. "Bangun. Kau ... jangan bercanda, ini sama sekali tidak lucu. Cepat bangun, Leo." Shena tertegun karena tak melihat ada gerakan dalam tubuh suaminya. "Cepat bangun! Kau, tak bisa meninggalkanku sendiri, kau sudah janji padaku. Kenapa kau mengingkari janjimu, ha? Kenapa kau tinggalkan aku? Bangun Leo, jika kau pergi ... ajak aku bersamamu. Jangan pergi seperti ini!" tangisan Shena sudah tak bisa dibendung lagi.
Air matanya mengalir deras jatuh membasahi tubuh suaminya. "Kembalilah padaku, Leo. Aku sangat merindukanmu. Aku rindu kau memanggilku. Aku sangat merindukanmu, Leo. Kenapa kau pergi meninggalkanku? Apa yang harus aku lakukan tanpamu? Aku harus bagaimana?" Shena sudah menangis sesenggukan memeluk tubuh suaminya. Ia bahkan tak tahu apakah saat ini ia masih sadar atau sudah pingsan.
Sampai akhirnya sebuah tangan menyentuh punggung Shena dengan lembut dan memaksanya untuk memisahkan diri dari tubuh suaminya.
"Jangan sentuh aku. Aku akan terus memeluk suamiku sampai ia sadar kembali." Shena menepis tangan itu dengan kasar sambil terus memeluk erat tubuh Leo tanpa mau menoleh pada orang yang menyentuh punggungnya dari belakang tanpa suara.
__ADS_1
Namun tangan itu kembali menyentuh punggung tangan Shena lagi dan mencoba menarik tubuh wanita cantik itu agar menjauh dari tubuh Leo yang terbujur kaku. Tangan dan seluruh bagian tubuh suami Shena ini sudah dingin seperti es.
Semakin keraslah Shena menangis karena masih belum percaya bahwa orang yang amat dicintainya ini telah tiada. Shena tak bisa percaya pada apa yang ia lihat sekarang.
"Kenapa tubuhmu jadi dingin begini? Kau tak mungkin pergi. Kau itu kuat, hanya satu peluru tak mungkin membuatmu mati begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata padaku," Isak Shena disela tangisannya. "Bangun Leo, kau tak bisa meninggalkanku seperti ini. Kau janji padaku untuk mengajakku ke tempat-tempat yang kuinginkan. Kenapa kau malah pergi ke tempat yang tak bisa ku jangkau? Kembalilah padaku, Leo. Aku ingin kau kembali padaku. Apa kau tak ingin melihat adik Yeon lahir? Jawab aku Leo! Katakan sesuatu, jangan diam saja!" Teriak Shena di sisa-sisa tenaganya sambil terus berderai air mata.
Sebuah tangan terulur lagi dan meraih bahu Shena. Kali ini, tangan itu benar-benar ingin Shena menjauh dari tubuh kaku pucat pasi itu.
"Aku bilang jangan sentuh aku! Jika kau berani menyentuhku sekali lagi, akan aku bunuh kau!" ancam Shena pada orang yang berdiri di belakang Shena. Iapun enggan mencaritahu siapa orang yang berani menyentuhnya.
Istri Leo yang sedang berduka itu tak sadar kalau sudah tidak ada siapa-siapa di ruangan ini selain dirinya dan tubuh kaku Leo yang terbaring diranjangnya. Dan orang yang berdiri dibelakang Shena juga diam saja tak bersuara.
Namun, peringatan dan ancaman Shena barusan sama sekali tak diindahkan oleh orang yang sejak tadi berusaha menjauhkan tubuh Shena dari tubuh kaku Leo. Orang itu malah berani menggenggam tangan kiri Shena sehingga semakin emosilah Shena dan hendak memarahi orang yang terus saja mengganggunya. Iapun balik badan dan sketika mulut Shena langsung menganga lebar menatap siapa orang yang ada dihadapannya.
"Leo," ujar Shena masih bingung dan tak percaya. Ia mengusap-usap matanya untuk memastikan kalau yang ia lihat ini nyata atau bukan. Bahkan Shena berulang kali menoleh kearah Leo yang terbujur kaku di ranjang lalu beralih menatap Leo yang ada dihadapannya.
"Lelucon apalagi ini? Bagaimana bisa Leoku ... ada dua?" Mata Shena terus saja bergantian memandangi kedua Leo yang berbeda kondisi. Satunya terbujur kaku seperti mayat, satunya lagi segar bugar dan berdiri tegap.
"Ini bukan lelucon, Sayang." Leo yang berdiri tegap meraih tangan Shena dan mencium kedua tangan itu dengan mesra.
Pria yang tak lain adalah Leo asli, mencoba mendekati Shena. Namun Shena yang terlalu shock akut, tak bisa membedakan manakah kenyataan dan manakah khayalan sehingga ia ragu pada orang yang berdiri didepannya meskipun orang ini adalah suami aslinya.
"Jangan sentuh aku! Siapa kau?" pekik Shena.
__ADS_1
Sepertinya rasa shock berat Shena telah membuatnya tak bisa terima tentang apa yang ia lihat sekarang. Shena mengira bahwa laki-laki, yang berdiri dihadapannya ini bukanlah suaminya. Bisa jadi orang itu adalah Kun, kembaran Leo.
"Aku suamimu Sayang, sungguh aku tidak bohong, pria yang terbaring kaku di ranjang itu adalah kloninganku." Leo berusaha menjelaskan.
"Apa?" rasa shock Shena bukannya berkurang tapi malah semakin bertambah. "Apa ... maksudku, orang itu ... adalah Kun? Jadi ... yang mati adalah ...."
"Tidak Sayang," sela Leo buru-buru supaya Shena tidak salah paham. "Dia bukan Kun, dia adalah boneka tiruan yang dibuat khusus agar mirip sepertiku. Para dokter diluar itulah yang membuatnya." Ponsel Leo tiba-tiba berdering di waktu yang tepat. "Lihatlah, ini dari Kun. Dia mungkin mengkonfirmasi berita tentang kematianku." Leo menunjukkan ponselnya yang berdering pada Shena.
Shena menatap layar ponsel Leo yang mendapat panggilan dari artis idolanya. Namun Leo tak ingin mengangkat panggilan itu dan malah melempar ponselnya ke sembarang arah. Tangannya fokus meraih tubuh Shena yang gemetar. Shena berpikir orang yang ada dihadapannya ini adalah arwah gentayangannya Leo.
Padahal sebenarnya Leo memang masih hidup dan belum mati. Namun, diluar ruangannya ini. Sedang heboh kabar meninggalnya seorang anak sultan putra tunggal dan pewaris tahta keluarga Pyordova. Yaitu Leopard Bay Pyordova.
"A-ada apa ini? Apa aku sudah gila sehingga berhalusinasi yang bukan-bukan?" Shena menepuk-nepuk pipinya sendiri dan ia merasakan sakit. Artinya yang sedang ia alami ini bukan mimpi.
"Ini bukan halusinasi Sayang. Aku suamimu, Leo. Aku bukan arwah ataupun setan. Orang yang terbaring kaku seperti mayat itu, sungguh hanya boneka yang dibuat persis seperti diriku. Kemarilah dan ikutlah denganku, akan aku jelaskan semuanya padamu." Leo mengulurkan satu tangannya agar Shena mau ikut dengannya.
Walupun Shena masih shock dan juga ragu, entah mengapa hatinya tergerak untuk menerima uluran tangan itu. Leo tersenyum karena istri tercintanya masih mau menuruti keinginannya. Tanpa menunggu waktu lama, Leopun menarik tangan Shena dan membawanya masuk ke sebuah pintu rahasia yang tak diketahui oleh siapapun.
"Shena sudah bersamaku," ujar Leo ketika ia berjalan bergandengan tangan dengan Shena. "Siapkan segalanya sesuai rencana. Kita akan beraksi malam ini, ah ... apa putraku aman?" tanya Leo pada seseorang yang ada diseberang sana melalui sambungan headset Leo. "Oke, temui aku di markas. Aku sedang dalam perjalanan kesana bersama istriku." Leo menutup sambungannya.
Shena masih belum bisa percaya semua ini dan tak mengerti apa yang sedang terjadi, walau tak dapat dipungkiri bahwa ia bahagia dan merasa lega, karena suaminya ternyata masih hidup dan terlihat baik-baik saja.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***