
Aksi mengejutkan Shena yang baru saja ia lakukan membuat ibu Yuna jadi semakin penasaran siapakah Shena sebenarnya. Ada ribuan pertanyaan yang ada dibenak wanita yang ternyata bernama Larasati ini. Salah satunya adalah bagaimana bisa surat perjanjian itu ada pada Shena? Dan berani-beraninya ia merobek surat perjanjian tersebut seenak jidatnya.
Sekali lagi, Larasati memandangi Shena dari atas kepala hingga ujung kaki. Dilihat dari penampilannya, tak ada yang istimewa dalam diri Shena. Istri Leo itu tampak biasa saja layaknya wanita desa pada umumnya. Shena juga tak memperlihatkan kalau ia berasal dari keluarga sultan. Tapi mengapa wanita ini berkata seolah-olah ia adalah orang yang bisa melakukan apa saja termasuk mendapatkan Yuna sebagai menantunya. Bahkan wanita asing ini juga berani mengancamnya.
“Aku masih belum yakin dengan apa yang anda katakan, Nyonya? Siapa anda? Dan darimana anda mendapatkan surat perjanjian itu? Setahuku, Datuk bukanlah orang sembarangan yang bisa memberikan surat perjanjian itu pada orang lain. Dia sangat berbahaya, dia juga penjahat kelas kakap yang paling ditakuti di desa ini. Tidak ada yang berani melawannya. Dan mengenai kematiannya, aku yakin, tidak akan ada yang percaya dengan ucapanmu yang menyatakan kalau dia sudah mati. Itu tidak mungkin terjadi,” ujar Larasati menyanggah semua kata-kata Shena.
Shena hanya menghela napas panjang mendengar sanggahan calon besannya. “Kau sungguh tidak ingin mempersilakan aku masuk dulu?” tanya Shena. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian banyak orang.
Entah Shena tahu atau tidak, di seberang jalan, berdiri dua pria berbeda usia sedang mengamati gerak gerik Shena dan bersiap siaga bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Dua pria itu, siapa lagi kalau bukan Leo dan Yeon.
Sejauh ini, Leo tidak ingin ikut campur dulu obrolan para emak-emak. Ia hanya mengamati, dan mencuri dengar apa yang sedang mereka bicarakan melalui headsed yang terpasang di telinga Leo sambil senyam-senyum sendiri. Leo semakin bangga memiliki istri seperti Shena, sebab Shena sudah hampir mirip dirinya. Sedangkan Yeon memilih diam saja, dan mengikuti apa yang direncanakan Leo walau ia tidak tahu apa itu.
“Mari masuk ke dalam Bi,” ajak Yuna yang jadi merasa tidak enak pada Shena. Ibunya benar-benar tidak bisa menghargai seorang tamu.
“Eeeh,” teriak Larasati sambil mencegah langkah Yuna. “Siapa yang mengizinkanmu membawanya masuk, ha? Memangnya siapa kau? Kau saja tidak diterima dikeluraga ini. Dan kenapa kau kembali kemari? Pergi sana!” usir Larasati dengan kasar. Matanya memelototi Yuna sehingga membuat Shena langsung geram.
__ADS_1
“Apa seperti ini caramu memperlakukan putrimu? Ibu macam apa kau?” ganti Shena yang meneriaki ibu Yuna.
“Aku bukan ibunya dan dia bukan anakku? Dia hanya pembawa sial dikeluarga ini! Ayah dan ibunya meninggal dan memaksa kami menjadi walinya untuk menghidupinya. Hidup kami ini sudah susah! Ditambah dengan kehadirannya, semakin menambah susah kami saja! Bawa pergi saja dia! Aku tak sudi melihat mukanya lagi! sudah bagus di bawa peri datuk malah balik lagi kemari! Lihat saja, kalau si kakek tua itu menemukanmu di sini, habislah kau!”
Deg!
Jantung Shena langsung mendidih mendengar ucapan wanita yang berdiri dihadapanya. Entah ini kebetulan atau apa, kisah Yuna benar-benar mirip dengan dirinya. Untungnya ia tak dijual ke orang lain oleh bibi dan pamannya dulu. Tapi wanita ini … benar-benar tidak punya hati dan juga kejam. Bagaimana bisa ia menganggap gadis baik hati seperti Yuna sebagai pembawa sial?
Berbagai macam rutukan memenuhi ruang hati Shena. Orang yang berdiri dihadapannya ternyata jauh lebih jahat bila dibandingkan dengan bibinya dulu. Seketika Shena menoleh ke arah Yuna dan menatap sendu wajah gadis cantik malang itu. Shena mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Yuna kecil.
“Kau yakin kau akan tinggal dengan orang seperti dia? Kau akan menderita Yuna. Wanita itu tidak pantas mendapat kasih sayang darimu. Ikutlah dengan kami sekarang juga.” Shena berusaha meyakinkan Yuna, ia tak ingin apa yang terjadi pada Shena terjadi juga pada gadis kecil ini. Apalagi perlakukan wanita itu sangat keji. Belum apa-apa, Yuna sudah di usir dari sini.
“Tapi Yuna ….”
“Kita sudah membicarakan ini sebelumnya.” Ganti Yuna yang meyakinkan Shena. “Bibi, aku sangat menyukaimu … aku sangat terkejut Bibi ingin aku menjadi menantu Bibi. Sungguh, aku sangat senang karena aku akan memiliki ibu luar biasa seperti Bibi. Tapi … aku merasa aku bukanlah wanita yang tepat untuk Yeon …”
__ADS_1
“Siapa bilang kau bukan wanita yang tepat? Kau adalah satu-satunya wanita yang pantas untuknya. Kau penyelamat Yeon. Aku dan Leo sangat menyukaimu. Kami merasa … hanya kaulah yang pantas bersanding dengan Yeon.”
“Tetap saja Bi, ada banyak perbedaan jauh diantara kita. Dan untuk mengimbangi perbedaan itu … aku … harus manjadi wanita kuat sepertimu. Karena itulah, biarkan aku menghadapi jalan takdirku sendiri. Dengan begitu … aku bisa merasa bangga pada diriku bila aku bisa melewatinya sampai kalian kembali untuk menjemputku. Saat itulah … aku baru bisa siap menjadi bagian dari keluargamu, Bi.” Mata Yuna berkaca-kaca begitupula dengan Shena.
Keyakinan kuat Yuna membuat Shena tak bisa lagi memaksa calon menantunya ini untuk ikut bersamanya. Dalam hati, Shena benar-benar bangga akan tekad Yuna yang luar biasa. Shenapun memutuskan untuk tetap menjalankan rencana yang sudah ia dan Leo siapkan sebelumnya tanpa perlu mengubahnya.
“Baiklah, kita memang sudah membicarakan ini. Tapi aku juga tidak akan biarkan siapapun melukaimu selagi kami tak ada di sini nanti. Aku turuti keputusanmu, Yuna. Tapi sebagai gantinya, jangan halangi aku untuk memberi pelajaran pada ibu … ah, bukan … maksudku … si nenek sihir itu!” Mata Shena langsung beralih menatap marah wanita yang berdiri didekat Shena.
Wanita itu membalas tatapan mata Shena sambil tersenyum sinis menyaksikan drama ikan terbang antara Yuna dan Shena. “Dasar sok ngedrama!” gumam wanita itu. Iapun pergi hendak masuk ke dalam rumah meninggalkan Shena dan Yuna tanpa mau mempersilahkan Shena masuk juga. Dasar tidak tahu etika.
“Mau kemana kau?” teriak Shena menghentikan langkah Larasati. “Urusanku denganmu belum selesai. Aku belum memberitahumu siapa pembunuh Datuk itu.”
Larasati balik badan dengan sikap malas dan enggan mendengar bualan Shena lagi. “Sudahlah Nyonya, jangan akting drama lagi? Kenapa hidupmu itu penuh dengan drama sih? Pergilah dari sini dan bawa juga gadis pembawa sial itu! Aku tak mau dengar apapun darimu.” dengan langkah gontai, wanita yang ternyata hanyalah ibu angkat Yuna itu kembali masuk ke dalam rumah.
Namun, baru saja beberapa langkah Larasati berjalan, tiba-tiba saja dua anak perempuannya berlari kencang keluar rumah menuju kearahnya sambil berteriak-teriak seolah ingin menyampaikan sesuatu hal yang genting.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***