
Melihat dua orang gila itu berciuman di depan Agne, ia merasa sedikit mendapat celah karena pengawasan Leo jadi lengah saking asyiknya bercumbu mesra dengan Shena. Kesempatan itu Agne gunakan untuk melarikan diri tepat disaat salah satu rekannya yang sekarat memberikan aba-aba dan Agne mengerti maksud dari aba-aba tersebut.
Rupanya teman Agne itu, masih memiliki kartu AS yang bisa membuat lolos Agne dari cengkeraman Leo. Pria yang sudah sekarat itu melempar sebuah bom asap disisa tenaga terakhirnya sebelum ia pergi ke alam baka selamanya. Itulah usaha terakhir yang bisa ia lakukan untuk membantu Agne agar bisa secepatnya kabur dari ekseskusi Leo.
Bom asap tersebut langsung mengeluarkan banyak asap sehingga orang yang menghirupnya jadi terbatuk-batuk. Dengan cepat, Leo mendekap wajah Shena kedalam pelukannya agar istrinya tak banyak menghirup asap beracun itu. Leo tak bisa mengejar Agne yang berhasil meloloskan diri karena tubuh Shena langsung lemas dipelukan Leo.
"Shena!" Seru Leo. Iapun menggendong istrinya dan berlari keluar ruangan supaya istrinya bisa menghirup udara segar. "Cepat nyalakan mobil, kita pergi ke rumah sakit terdekat!" Perintah Leo pada anak buahnya.
"Baik Tuan muda! Tapi bagaimana dengan wanita itu?" tanya pengawal Shena.
"Kita bereskan dia nanti saja. Biarkan dia lari sejauh mungkin karena begitu tertangkap, ia takkan pernah bisa menghirup udara segar lagi. Cepat siapkan mobilnya!" seru Leo lagi.
"Baik, Tuan muda!" tandas pengawal itu yang juga berlari lebih cepat mendahului Leo.
"Bertahanlah, Sayang." Leo menatap wajah Shena dengan cemas.
"A-pa itu tadi, Leo?" tanya Shena terbata-bata dalam gendongan suaminya. "Rasanya, sesak sekali."
"Itu bom asap, tapi jangan khawatir, selama ada aku ... kau aman. Kita harus pergi kerumah sakit karena sepertinya kau tak sengaja menghirup bom asap itu."
Mata Shena berkunang-kunang dan kepalanya jadi pening. Ia tidak tahu apa saja yang dikatakan Leo. Sebab, perlahan-lahan kesadarannya mulai pudar dan wajah Shena memucat.
Untunglah, Leo dan seluruh pasukannya sigap membawa Shena kerumah sakit sehingga ia bisa langsung mendapat perawatan.
"Segera lacak keberadaan wanita itu dan awasi saja gerak geriknya. Jangan lakukan apapun sebelum aku memberi perintah!" ujar Leo setelah Shena dibawa masuk ke ruang UGD.
"Baik, Tuan muda. Permisi." Pengawal Leo dan beberapa rekannya pergi melaksanakan apa yang diperintahkan Leo pada mereka semua.
Sementara Leo sendiri hanya bisa menunggu kabar dari kondisi Shena. Ia marah dan kesal tapi juga tak bisa berbuat apa-apa. Leo sama sekali tak menduga, kalau rekan Agne ternyata memiliki bom asap yang sepertinya sudah ia siapkan sebelumnya. Kejadiannya begitu cepat sehingga baik Leo ataupun anak buahnya yang lain tak bisa menghindari bom asap itu ketika dilemparkan.
Saat ini, yang terpenting adalah kesehatan Shena. Setelah itu, baru Leo akan buat perhitungan dengan wanita yang bernama 'madam Agne'.
__ADS_1
Satu jam kemudian, dokter yang merawat Shena keluar dan Leo langsung menyongsongnya. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Leo.
"Dia baik-baik saja. Anda melakukan hal terbaik dengan membawa istri anda kemari secepat mungkin sehingga racunnya tidak menyebar. Janin yang dikandungnya juga sehat. Selamat, ya Tuan." dokter itu menjabat tang Leo yang bernapas lega mendengar kabar baik ini.
"Bolehkah saya menemuinya, Dok?" tanya Leo.
"Silahkan, tapi tunggu sampai istri anda di pindah diruang inap dulu. Ia juga harus banyak istirahat karena istri anda masih mengalami fase trimester pertama."
"Baik, Dok. Terimakasih banyak!"
"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Silahkan, Dok." Leo tersenyum senang dan menunggu Shena keluar dari ruang UGD.
***
Sebuket besar bunga mawar merah mendadak muncul dari balik pintu ruang inap Shena. Kebetulan, istri Leo itu sudah terjaga dari pingsannya dan sedang bersandar di sandaran ranjang tempat tidurnya.
"Terimalah bunga cantik secantik dirimu ini, Sayang.Aku memilih bunga ini, sebagai tanda cintaku padamu," Leo tersenyum penuh pesona dengan mengeluarkan jurus gombalan andalannya untuk menggoda Shena sambil menyerahkan buket bunga mawar merah tersebut.
Shena menerima bunga mawar itu lalu menciumnya. Istri Leo itu sangat menyukai bau bunga mawar yang sepertinya baru saja dipetik dari tangkainya. Ia menikmati wangi bunganya dan secara tak langsung membuat Shena jadi rileks.
"Terimakasih," ujar Shena balas tersenyum pada Leo. "Bunganya indah sekali." Shena mencium lagi bunganya dan itu membuat Leo agak sedikit iri.
"Kau hanya mencium bunga itu? Tidakkah kau ingin mencium pemberinya juga, Sayang?"
"Terakhir kali aku mencium pemberi bunga ini, aku berakhir di sini. Tidakkah kau menanyakan bagaimana kondisiku? Daripada harus meminta cium begitu?" Sindir Shena dan Leo menundukkan wajahnya menahan senyum.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Apa yang kau rasakan?" tanya Leo menatap tajam mata istrinya. Salh dia juga karena ngebet minta jatah, Leo jadi lengah dan terpaksa harus membawa Shena kemari. Syukurlah semua baik-baik saja dan Shen tidak sampai kenapa-kenapa.
"Lumayan baikan. Oh tidak!" Tiba-tiba saja Shena teringat sesuatu. Wajahnya langsung tegang seolah telah melupakan sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Leo jadi ikutan bingung.
"Aku tak bisa lama-lama ada di sini, Leo. Yeon ada di rumah bersama Bibi. Cepat bawa aku pulang, Leo. Bibi pasti sangat mengkhawatirkan aku." Shena hendak melepas paksa selang infus yang menempel di tangannya, tapi Leo mencegahnya sebelum Shena benar-benar melepas selang infus tersebut.
"Jangan dilepas, Sayang. Kau tak perlu khawatirkan Yeon. Sebentar lagi, ia akan tiba kemari bersama dengan bibi Egha. Aku susah menyuruh pengawal untuk menjemput mereka." Leo memegang kedua bahu istrinya agar ia sedikit lebih tenang. "Kau harus banyak istirahat. Jika kondisimu semakin sehat, maka dokter bisa mengizinkanmu pulang malam ini."
Shena bisa bernapas lega. Rupanya Leo sudah mengatur semuanya. "Kau memberitahu Bibi?"
"Aku juga memberitahu ayah dan ibuku," ujar Leo santai.
"Apa?" pekik Shena mengangetkan Leo.
"Kenapa kau berteriak begitu, Sayang? Aku sampai jantungan!"
"Kenapa kau memberitahu mereka semua?"
"Memangnya kenapa? Mereka semua mencemaskan keadaanmu, dan langsung bilang mau ke sini begitu mendengar kau masuk ruang UGD!"
"Gawat!" gumam Shena lirih tapi Leo bisa mendengarnya.
"Keadaanmu waktu itu memang gawat Sayang, makanya kau di bawa ke UGD!"
"Bukan aku yang gawat, Leo. Tidakkah kau menyadari sesuatu, jika ayah ibu dan bibiku bertemu? Akan ada perang dunia ke-4 disini!" Mata Shena menatap tajam suaminya yang juga menatapnya. Sepertinya Leo tak menyadari bahwa apa yang ia lakukan bisa menimbulkan masalah besar.
"Lah! Iya juga, ya? Aku lupa ..
kalau mereka pernah terlibat cinta segitiga!" Leo menepuk jidatnya sambil tersenyum-senyum sendiri membayangkan kedua orangtuanya dan bibi Shena bertemu kembali setelah sekian lama. "Pasti seru, Sayang." Leo kembali menatap wajah cemas Shena.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1