
Karena mobil Leo melambat, otomatis mobil musuhnya melintasi mobil Leo dan disaat itulah Leo membuka pintu kaca mobilnya dan menembaki mobil yang lewat di samping kanannya dengan membabi buta. Tembakan Leo tak pernah meleset sehingga orang-orang yang ada di mobil itupun mati seketika. Mobil tersebut oleng dan menabrak tiang listrik. Asap tebal langsung keluar dari seluruh badan mobil.
Sementara 2 mobil lainnya, melaju kencang di depan dan sangat terkejut melihat salah satu mobil rekannya telah berhasil dikalahkan oleh Leo. Tak perlu menunggu waktu lama, Leo kembali menancapkan gasnya untuk mengejar laju mobil musuhnya yang tersisa. Lagi-lagi, Leo menembaki ban belakang mobil yang ada dihadapannya sehingga salah satu mobil dari dua mobil yang berjalan dihadapannya kehilangan keseimbangan dan menabrak pembatas jalan.
Sesuai rencana Leo, ia menyalakan korek api pematik milik ayahnya dan melemparkannya pada mobil yang menabrak itu lalu menembak korek api tersebut begitu korek apinya mendarat di atas mobil jeep yang berhenti dadakan itu. Beberapa detik kemudian mobil tersebut meledak hingga terdengar bunyi ‘duaaar’!
“Wuah, kau hebat sekali Sayang!” seru Shena melupakan rasa sakitnya karena ia telah mengingat masa lalunya. Namun ia tak memberitahu Leo karena suaminya itu sedang sibuk melawan musuh yang mencoba mengikuti mereka.
“Tinggal satu mobil lagi!”
“Kau hebat! Sungguh aku cinta padamu!” Shena memeluk leher Leo dan tanpa dimintapun ia mengecup mesra bibir suaminya meskipun hanya sebentar. “Cepat selesaikan dan kita harus menyelamatkan putra kita.”
“Siap tuan putri!” Leo tersenyum dan malah meletakkan senjatanya di bangku sebelahnya.
“Kenapa kau meletakkan senjata itu? aku bilang cepat habisi mereka supaya kita bisa menyelamatkan Yeon dan Yuna.” Wajah Shena yang tadinya riang gembira berubah menjadi bingung karena Leo bukannya menyerang malah meletakkan senjata disampingnya.
Yang lebih mengherankan lagi, Leo malah melingkarkan kedua tangannya dipinggang Shena dan memeluknya dengan erat. Ia terus menginjak pedal gas untuk mengejar mobil musuhnya yang tersisa.
“Adegan terakhir, bukan aku yang melakukannya, Sayang. Tapi kau!” ujar Leo sambil mengecup mesra pipi Shena.
Wajah Shena langsung tegang mendengar Leo berkata seperti itu, tiba-tiba saja kemudi mobil kembali dikendalikan oleh Leo dan mobilnya melaju sangat kencang mengimbangi kecepatan mobil musuhnya. Suami Shena itu membuka kaca mobil dan memegangkan senjata apinya pada Shena. Leo memeluk tubuh Shena dari belakang sambil membantu mengarahkan senjata itu pada musuhnya. Ia menyalakan kendali otomatis mobil agar laju mobilnya tetap stabil sementara kedua tangan Leo membantu Shena mengarahkan senjata pada musuhnya.
“Tembak! Perintah Leo begitu mobil Leo sejajar dengan mobil musuhnya.
Dor! Dor! Dor! Dor!
__ADS_1
Shena menarik pelatuknya dan menembaki seluruh orang-orang yang ada di dalam mobil tersebut dan ajaibnya, semua tembakan Shena tepat mengenai sasaran. Semua orang yang ada dalam mobil itu tumbang dan sebagai senjata pamungkasnya, Leo melemparkan granat pada mobil tersebut sampai meledak tak tersisa menjadi abu. Sedangkan ia dan Shena terus melaju kencang meninggalkan orang-orang yang sudah berhasil dikalahkan oleh Leo dan Shena.
“Aaaaahhh! Wau! Daebak, gila! Seru banget,” girang Shena teriak-teriak sendiri saking senangnya.
Hampir saja Shena melompat-lompat kalau saja Leo tak memeluk pinggangnya sejak tadi. Shena beralih memeluk leher Leo dengan tawa merekah ruah. Ia sangat senang bisa melakukan adegan action ala life streaming film Hollywood. Sedangkan Leo ikut tertawa melihat istrinya begitu gembira dipelukannya.
“Kau senang?” tanya Leo sambil terus menatap wajah sumringah istrinya.
“Sangat, aku sangat-sangat senang, eh tunggu! Kalau kau memelukku seperti ini, dan tanganku ada dilehermu, siapa yang mengendalikan kemudinya?” tanya Shena dan langsung menoleh kearah depan, ia terkejut karena mobil ini melaju dengan normal.
“Aku menyalakan mesin kendali otomatis, ini mobil rancangan Refald yang khusus diciptakan untukku. Ia mengantisipasi kalau-kalau kejadian yang dulu pernah terjadi pada kita terulang lagi. Dan benar saja, mobil ini sangat berguna untukku,” jelas Leo.
“Apa? Lalu kenapa tadi kau memintaku duduk dipangkuanmu kalau mobil ini bisa menyetir sendiri, ha?” tanya Shena jadi agak sedikit keki.
“Dasar kau ini menyebalkan! Lepaskan aku! aku mau duduk sendiri!” pinta Shena.
“Cium aku dulu, baru aku mau melepaskanmu?” Leo menyodorkan mulutnya didekat wajah Shena.
“Apa kau sudah gila? Masa ciuman disaat genting begini? Kau lupakah? Kalau putra kita sedang dalam bahaya?” tegas Shena setengah marah.
“Oke-oke, aku akan meminta jatahku setelah kita selesai menyelamatkan Yeon 2 ronde! Ingat itu baik-baik Sayang, du-a ron-de!” tandas Leo dan membantu meletakkan tubuh Shena dikabin sebelahnya.
Dasar nggak ada akhlak, sekali nggak ada akhlak tetap saja nggak ada akhlak! Batin Shena.
Setengah jam telah berlalu dan akhirnya Leo dan Shena sampai di lokasi tempat Yeon dan Yuna disekap. Leo mendapat laporan dari anak buahnya kalau putranya berhasil melarikan diri dari gudang dan sedang berlari bersama dengan Yuna.
__ADS_1
“Kalian semua cepat kepung seluruh wilayah ini dan tembak siapa saja orang yang mencoba menyakiti putraku. Bagaimana dengan kendali cctv nya?” tanya Leo.
“Sudah terkuasai, Tuan muda, kami akan membuka gerbangnya dan mematikan seluruh cctv. Anda bisa langsung masuk menuju lokasi Tuan muda Yeon berada.”
“Cepat! Aku sudah ada di depan gerbangnya!”
“Baik!” seru anak buah Leo dan tak lama kemudian, gerbang pintu masuk lokasi Yeon berada telah terbuka.
Leo menancapkan pedal gasnya dan melaju sangat kencang untuk menyelamatkan putranya. Dari kejauhan, Shena dan Leo melihat putranya dan Yuna yang berdiri berdampingan sedang terkepung. Shena juga melihat salah satu dari orang yang mengepung Yeon mengambil sebuah balok kayu berukuran besar dan langsung melemparkannya ke arah putra sulungnya.
“Tidak! Yeon!” teriak Shena menggelegar dari dalam mobil dan matanya terbelalak saat balok kayu itu menimpa punggung Yuna dan bukan putranya.
Seketika sebuah ingatan tentang Shena yang rela terkena tembak akibat melindungi Leo, terlintas dikepala Shena dan ia merasakan sakit yang amat sangat luar biasa. Apa yang dilakukan Yuna terhadap Yeon, sama persis seperti yang pernah dilakukan Shena saat ia rela menjadikan dirinya sebagai tameng tubuh Leo dari peluru yang terarah pada suaminya kala itu.
“Aaaargghh!” Shena berteriak histeris sambil memegangi kepalanya sehingga membuat Leo kebingungan melihat putra dan istrinya sama-sama dalam keadaan yang tidak baik.
“Sayang! Kau tidak apa-apa!” seru Leo dan menghentikan laju mobilnya untuk memeriksa kondisi Shena. Sementara anak buah Leo langsung menembaki kaki orang-orang yang mengepung Yeon sesuai perintah dari Leo agar orang-orang itu tak bisa menyakiti Yeon dan Yuna lagi.
Yeon sendiri tak percaya Yuna merelakan nyawanya hanya demi melindunginya. Seketika, hatinya berguncang hebat melihat tubuh lemah Yuna yang tergeletak tak bedaya dalam pelukannya. Baru kali ini Yeon merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya setelah tahu ada orang yang rela mati untuknya.
“Pamaaaaaan!” teriak Yeon sekencang mungkin dan tiba-tiba saja langit-langit yang tadinya cerah berubah menjadi gelap karena awan-awan hitam menutupi area lapangan terbuka ini.
Hujan petir mulai datang dan membuat takut semua orang yang ada di sini kecuali Leo dan keluarganya. Sebab, Leo tahu siapa orang yang membuat semua ini. Siapa lagi kalau bukan Refald, paman kesayangan Yeon.
***
__ADS_1