Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)

Playboy Jatuh Cinta 2 (Kisah Shena Dan Leo)
episode 170


__ADS_3

Karena kondisi Shena sudah semakin membaik, maka ia diizinkan pulang malam itu juga dan untuk sementara, ia beserta seluruh keluarganya pulang ke rumah almarhum kedua orang tua Shena. Kebetulan besok adalah hari H pelaksanaan kontes yang akan diikuti Leo dengan kakaknya Refald. Kontes tersebut akan digelar di dekat tempat tinggalnya Shena sekarang.


Karena acaranya berlangsung besok malam, maka Refald dan Fey pun juga sudah tiba di lokasi yang jaraknya tidak jauh dari tempat Shena beserta keluarganya berada. Kabar pingsannya Shena juga sudah sampai ditelinga Refald dan Fey. Hanya saja, mereka berdua belum bisa menjenguk Shena karena ada banyak hal yang harus mereka lakukan untuk persiapan acara di kontes besok. Fey hanya bicara ditelepon dengan Shena serta menjelaskan alasan kenapa ia dan Refald belum bisa menjenguk Shena.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku sudah baikan makanya dokter mengizinkanku pulang. Sampai ketemu besok, Kak. Selamat malam," ujar Shena sebelum menutup panggilan teleponnya.


"Pakah tadi itu, kakak ipar?" tanya Leo.


"Ehm, dia minta maaf karena tak bisa segera menjengukku. Mereka sedang sibuk sekali sekarang, tidak seperti orang yang berada didekatku saat ini, santai habis. Padahal, besok dia mau kontes," sindir Shena tapi yang disindir tenang-tenang saja.


Bila Refald berusaha tampil maksimal, maka lain halnya dengan Leo yang memang sangat santuy seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan ia terkesan cuek bebek dengan persiapan kontesnya besok. Sebab, baginya menang atau kalah itu sama saja. Leo tetap mendapatkan cinta Shena, jadi untuk apa ia ngoyo.


"Kau tidak latihan?" tanya Shena saat keduanya sedang berada di dalam kamar. Malam ini, Shena tidak bisa tidur dan mendapati suaminya juga masih terjaga disisinya.


"Sudah," jawab Leo singkat. "Mau jalan-jalan malam denganku?" tanya Leo sambil menatap manik mata istrinya.


Shena tersenyum, Leo memang sangat sulit ditebak. Tapi tak dapat dipungkiri, sudah lama juga Shena tak jalan-jalan bersama dengan orang yang ia cintai. "Jika aku lelah, kau harus menggendongku."


"Siap, Tuan putri. Apa sih yang nggak buat kamu," ujar Leo sambil tersenyum. Ia membantu menarik tangan Shena hingga istrinya ini terbangun dari tidurnya.


"Pakai pakaian yang hangat, udara sangat dingin di malam hari." Leo memakaikan sebuah jaket tebal untuk Shena.


"Terimakasih," ucap Shena senang dan Leo langsung menghadiahi sebuah ciuman mesra untuk Shena.


"Sama-sama, Sayang. Ayo, mumpung semua orang sedang tidur, kau suka sekali menyelinap tengah malam, kan?" ganti Leo yang menyindir Shena dan iapun langsung mendapat lirikan tajam dari istrinya.


Leo menggandeng tangan Shena dan membimbingnya keluar jalan-jalan malam diperkebunan teh miliknya. Tentu saja, semua ini adalah pemberian dari Leo dulu sebelum ia menikah dengan suaminya yang keren ini. Menjadi bagian dari hidup seorang Leo, adalah hal terindah bagi Shena.


Bersama Leo, hidup Shena sempurna meskipun banyak sekali hal berbahaya yang harus ia alami sebagai bagian dari keluarga mafia. Untungnya, semua bahaya yang menghadang selalu bisa diatasi Leo dan keluarganya dengan baik sehingga Shena tak lagi takut dengan bahaya model apapun. Selama ia bersama Leo, Shena aman karena suaminya ini akan melindungi dan menjaganya dengan baik.

__ADS_1


"Kalau kau melihatku seperti itu, kau akan semakin jatuh cinta padaku, Sayang." Leo tersenyum senang.


"Bagaimana kau bisa tahu? Kau kan tidak melihatku."


"Aku melihatmu, meskipun mataku terpejam, aku tetap melihatmu. Kau saja yang tidak tahu." Keduanya terus melangkah bersama menikmati dinginnya udara di malam hari.


"Aku tahu, karena satu-satunya wanita yang kau lihat itu cuma aku seorang, tidak ada yang lain lagi."


"Kau benar, aaaahh ... lihatlah, Sayang. Pemandangan malam di tempat ini benar-benar indah sekali." Leo terus berjalan sambil menggenggam erat tangan istrinya.


Sepertinya, malam ini cuacanya sedang cerah sehingga bulan purnama, bersinar terang menerangi alam jagad raya. Shena dan Leo berhenti berjalan ketika keduanya sampai di ketinggian.


Dari sini, dua insan itu bisa melihat seluruh pemandangan di desa kelahiran Shena. Tak banyak yang bisa istri Leo ingat kecuali masa-masa indah yang ia alami bersama Leo di desa ini.


Tanpa terasa, waktu juga berlalu begitu cepat dan perjalanan kisah cintanya dengan Leo senantiasa diliputi kebahagiaan tiada tara. Apalagi, kini Shena sudah hamil anak kedua. Semakin lengkaplah kebahagiaan Shena dan Leo sekarang.


"Sedikit," ujar Shena sambil menghirup udara segar.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Leo lagi. Ia masih menempelkan wajahnya di pipi Shena.


"Banyak, ada banyak sekali hal yang kupikirkan. Terutama nama calon buah hati kedua kita." Shena mengelus lembut perut ratanya.


"Namanya Bima, Bimashena Bay Pyordova." Leo malah sudah menyiapkan nama untuk calon buah hati keduanya.


"Itu kan nama laki-laki? Bagaimana kalau dia perempuan?"


"Ehm, kalau perempuan, namanya Lea Leona Pyordova. Lea dan Leona adalah gabungan nama dari Leo dan Shena. Bagaimana? Kau setuju?" Leo tertawa.


Meski terdengar aneh, entah kenapa Shena menyukai nama itu. "Ya sudahlah, namanya unik. Aku suka kau pintar sekali memilih nama? Kapan kau menyiapkan nama-nama itu?" Shena penasaran

__ADS_1


"Sudah lama. Sejak kita belum menikah."


"Hah? Yang benar saja? Belum menikah denganku kau sudah memikirkan nama-nama anak kita?"


"Tentu saja, kita menikah kan untuk buat anak, jadi aku harus menyiapkannya begitu kau jatuh cinta padaku."


Shena sungguh terkejut, Leo sudah memikirkan banyak hal tentang masa depan mereka berdua termasuk soal nama anak. Dasar gengster nggak ada akhlak, batin Shena.


"Anak-anak kita akan menjadi luar biasa, nanti. Semoga saja mereka berdua tidak suka bikin onar sepertimu."


"Ehm, semoga saja. Ayo kita pulang, ini sudah mau pagi. Kau juga belum istirahat." Leo langsung menggendong tubuh Shena dan berjalan pulang.


"Tapi aku masih ingin di sini. Bagaimana kalau kita ngopi di sebuah kedai. Sekalian lihat orang ngeronda." Shena melingkarkan kedua tangannya di leher Leo.


"Kau ini seperti anak ABG saja, bisa-bisanya kau mengajakku nongkrong di kedai ditengah malam begini, hm?"


"Aku menikah denganmu di usia yang bisa dikatakan terbilang muda di zaman modern seperti sekarang. Masa mudaku kuhabiskan hanya untuk bersamamu dan beradaptasi menjadi istri seorang sultan. Apa salahnya jika sekarang kau beradaptasi denganku menjadi rakyat jelata dan berbaur dengan para penduduk desa."


Leo berhenti berjalan dan menatap tajam mata Shena. "Kau menyesal menikah muda denganku?" tandas Leo.


"Bukan begitu, Sayang. Aku sama sekali tidak menyesal justru aku sangat bahagia menjadi permaisuri di hidupmu. Kau sudah menunjukkan seperti apa duniamu padaku. Sekarang, giliranku, aku ingin menunjukkan duniaku padamu." Shena berharap Leo menuruti keinginannya.


Sudah sekian lama, istri Leo itu tak pernah nongkrong di kedai seperti yang biasa ia lakukan dulu saat masih tinggal di desa. Kalau dulu, Arga dan teman-temannyalah yang sering mengajaknya nongkrong, tapi kini, Shena ingin orang yang paling spesial dalam hidup Shena, juga bersedia menemaninya nongkrong di kedai sambil membicarakan banyak hal. Rasanya pasti menyenangkan.


Inilah salah satu kehidupan orang-orang di desa, kalau mau nongkrong itu di kedai atau warung kecil bukannya di kafe atupun diskotik ala orang-orang metropolitan.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2