
Leo berjalan kearah Shena yang sedang sibuk mengamati robot mirip dirinya. Istrinya itu terlihat kagum sampai tak bisa lepas menatap robot itu. Bahkan Shena berinteraksi dengan robot tersebut karena selalu bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan Shena dengan tepat dan sesuai harapan Shena.
"Apa makana kesukaanmu?"
"Ravioli," jawab robot itu sehingga membuat Shena takjub.
"Kalau kesukaanku?"
"Mi ayam," jawab robot itu lagi.
"Wauw, robot menyerap segala hal yang ada di kepala Leo." Shena bicara pada dirinya sendiri. "Oke, satu pertanyaan terakhir, kalau kau bisa jawab ... aku akui kau robot paling luar biasa."
"Silahkan," ujar robot itu dan semakin takjublah Shena.
"Siapa wanita yang paling kau cintai?" tanya Shena pada robot itu.
"Kau," bisik Leo merdu ditelinga Shena sebelum robot itu menjawab pertanyaan istrinya.
"Kenapa kau yang menjawab? Aku bertanya pada robot itu, bukan padamu," sewot Shena
"Aku tidak akan membiarkan siapapun beromantis ria denganmu kecuali aku sekalipun itu hanyalah robot tiruanku."
Shena tersenyum pada Leo yang memeluknya dari belakang. " Kau sudah rapatnya?" tanya Shena mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, aku tak bisa konsentrasi karena kau terlalu asyik dengan robot ini."
"Hemm ... sepertinya Suamiku ini sedang cemburu ya?" goda Shena sambil mencubit kedua pipi suaminya. "Aku menyukai segala hal yang berhubungan denganmu. Termasuk robot ini, dia benar-benar mirip dirimu. Tak ada alasan bagimu untuk cemburu karena kau sangat tahu kalau aku hanya mencintaimu seorang." Shena mencium mesra bibir suaminya sehingga Leo terlihat senang
"Aku juga mencintaimu, kau mau jalan-jalan? Yeon sedang tidur diruangannya. Sambil menunggu dia bangun, ayo kita ke taman."
"Ngapain ke taman?" tanya Shena.
"Berkencanlah, atau ...kita ke kamar saja? Sebenarnya, lukaku sih belum sembuh benar, tapi tidak apalah ... kita bisa melakukannya sambil duduk." Leo menyeringai nakal pada Shena.
__ADS_1
"Hah? Kau ini bicara apa, sih?"
"Kau sangat tahu apa yang aku bicarakan, Sayang." Leo membelai lembut pipi Shena. "Apa perlu aku jelaskan? Ayo kita main bulan ...."
"Ayo kita ke taman saja, sepertinya pemandangan disana sangat indah." Shena sengaja memotong kata-kata suaminya.
Istri Leo itu pura-pura tidak ngeh sambil tersenyum manis dan menyeret paksa Leo pergi ke taman sebelum suaminya itu mulai kumat nggak ada akhlaknya. Keduanya berjalan beriringan ke taman halaman mension Leo.
Meski tak seluas rumah keluarga Pyordova yang ada di Indonesia, tempat ini tak kalah indah dan menyejukkan mata. Apalagi fasilitas di sini sangat lengkap melebihi fasilitas hotel ala bintang 5. Ditambah lagi, pemandangan yang asri dan indah sangat menyedapkan mata.
"Kau suka tempat ini?" tanya Leo setelah mereka berdua tiba di taman indah dan lumayan luas juga.
"Ehm, aku sangat suka. Pemandangannya bagus sekali. Oh iya? Bukannya kau harus bersiap-siap? Kau bilang, nanti malam ..."
"Aku sedang menunggu seseorang. Aku tak bisa meninggalkanmu sendirian di sini sebelum mereka datang," sela Leo.
"Seseorang? Mereka? Siapa?" tanya Shena penasaran.
"Oke, tapi jika aku mendengar kau dalam bahaya, jangan halangi aku jika aku ingin menyelamatkanmu." Shena menatap lurus wajah suaminya.
"Itu sangat berbahaya, Sayang."
"Kalau begitu berjanjilah kau akan pulang dalam keadaan selamat."
"Baiklah, aku janji. Aku pasti bisa kembali." Leo memeluk Shena dari belakang dan keduanya sama-sama menikmati pemandangan alam yang menakjubkan.
****
Bila Shena dan Leo masih bisa beromantis ria disela-sela berbagai macam peristiwa yang menimpa keduanya, lain halnya dengan Laura dan Roy. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, Roy hanya diam.
Sesekali ia mengamati keadaan sekitar jalan yang ia lewati dengan kewaspadaan yang tinggi agar jangan sampai ia dibuntuti oleh mata-mata musuh. Untuk mengatasi kejadian itu, Roy sengaja bertukar mobil dengan mobil anak buahnya begitu ia masuk ke dalam terowongan dan putar balik arah menuju ke markas yang sudah ia bangun beberapa bulan yang lalu.
Laura sendiri juga bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Harusnya mereka berdua saat ini menghadiri pemakaman sahabat-sahabat mereka, tapi Roy malah mengajaknya pergi bak melarikan dir seperti habis mencuri sesuatu yang besar dan takut ketahuan. Sebenarnya, Laura ingin bertanya, tapi ia terlalu sibuk dengan bayinya.
__ADS_1
Setelah bertukar mobil dan pergi ketempat yang berlawanan arah dengan jalur mobil yang pertama tadi, akhirnya Roy dan Laura tiba di tempat Leo dan Shena berada. Karena rumah ini adalah rancangan Roy, orang-orang Leo tak perlu melakukan banyak pemeriksaan pada sahabat Leo itu. Dengan mudah, Roy memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan pintu masuk.
"Rumah siapa ini?" Tanya Laura begitu keduanya keluar dari dalam mobil. Selama tinggal di Jepang, Roy tak pernah bilang kalau ia punya rumah semegah ini apalagi lokasinya ada ditengah hutan. "Apa ini rumahmu?" tanya Laura lagi karena Roy tidak menyahutinya.
"Bukan, tapi aku yang merancang rumah ini," jawab Roy dan iapun mengajak istrinya masuk kedalam.
"Lalu, kenapa kita kemari?"
"Untuk bertemu dengan seseorang. Kau tunggu di sini dulu, aku akan menghubungi orang itu." Roy melepas pelukannya dan berjalan menjauh dari Laura.
Sembari menunggu suaminya bertelepon ria, Laura mengamati sekitarnya. Pandangan matanya tertuju pada dua orang yang sedang berdiri dipinggir pagar air mancur kolam. Keduanya saling beradu pandang dengan mesra dan Laura tahu siapa orang-orang itu.
"Aaaaaggghhhh!" Spontan Laura langsung berteriak histeris dan mengagetkan Roy yang sedang menelepon Leo tapi belum sempat diangkat oleh Leo.
Buru-buru Roy memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan berlari menghampiri istrinya. Untung saja Laura tidak dalam keadaan menggendong putranya. Jika tidak, bayinya itu bisa saja dilempar saking kagetnya Laura.
"Ada apa, Ra? Kenapa teriak?" tanya Roy khawatir.
"I-itu ... a-ada ha-hantu," ucap Laura ketakutan.
"Dimana?" tanya Roy celingukan kesana kemari dan matanya tertuju pada Shena dan Leo yang sedang bersenda gurau di taman. "Oh ... itu hanya Shena dan Leo, mereka berdua bukan han ...." Roy berhenti berucap karena menyadari sesuatu. Sungguh Roy lupa kalau ia belum memberitahu Laura kalau Leo dan Shena tidak mati. Mereka berdua masih hidup dan sehat segar bugar.
Gawat, jangan-jangan Laura mengira Leo dan Shena yang ada disana adalah arwah gentayangan, batin Roy.
"Apa kubilang Roy, seharusnya kita menghadiri pemakaman mereka. Mungkin Leo dan Shena marah sehingga mereka mengikuti kita sampai kemari dan jadi hantu gentayangan begitu. Semua ini salahmu!" Laura sudah mulai berpikir yang bukan-bukan dan menyalahkan Roy.
"Sayang, dengarkan aku dulu ...." Roy mencoba menjelaskan.
"Mereka kemari!" Sela Laura memotong penjelasan suaminya. Tangannya menunjuk ke arah Leo dan Shena yang berjalan kearahnya. Sepertinya, sahabat yang dikira Laura meninggal itu mengetahui kedatangan teman-temannya dan sengaja menghampiri mereka.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1