
Para penjahat tak dikenal itu membawa Yeon dan Yuna ke sebuah gudang tua yang jauh dari tempat tinggal mereka di desa. Keduanya masih diikat dan disekap dalam satu ruangan kecil. Ikatan mereka dibuka dan pintu ruangannya dikunci dari luar. Yeon sih terlihat tenang karena ia sangat senang kalau dirinya berada dalam bahaya, sebab pamannya Refald, pasti akan datang menolongnya. Namun tidak dengan Yuna. Gadis itu gemetar ketakutan setengah mati bahkan ia tak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya kaku dan merasa kesakitan padahal tak ada yang memukulinya. Yeon yang melihat keadaan Yuna jadi tidak tega.
“Apa yang terjadi padamu?” tanya Yeon mencoba mendekat ke arah Yuna untuk memeriksa keadaannya.
“Ja-jangan dekati aku! Pergi kau!” erang Yuna katakutan dan tubuhnya semakin gemetar.
Mata Yuna memerah tapi ia hanya menatap tanah. Yeon terdiam dan mengamati seluruh tubuh Yuna dipenuhi dengan luka-luka terutama di bagian tangan dan kakinya.
“Siapa yang mengobati lukamu?” tanya Yeon lagi, kali ini ia jaga jarak dengan Yuna. Ia tidak menanyakan siapa dan bagaimana bisa Yuna terluka karena Yeon sudah bisa menebaknya setelah Yuna menceritakan kisah singkat hidup mirisnya.
Namun, Yuna tak mau menjawab. Gadis kecil itu hanya diam. Gaunnya yang cantik, kini jadi kotor. Yeon yang masih punya rasa belas kasih, melepas jaketnya dan memberikannya pada Yuna.
“Pakailah ini, supaya kau tidak sakit. Aku tidak mau ibu menyalahkanku jika sampai kau kenapa-napa. Pasti ibuku yang mengobati lukamu, mungkin kau benar. Ibu mengira kau sama sepertinya dulu.” Yeon membantu memakaikan jaketnya untuk Yuna.
Yuna tertegun mendegar ucapan Yeon tentang Shena. Seketika tubuhnya sudah tak gemetar lagi dan berganti dengan rasa penasaran.
“Apa maksudmu?” tanya Yuna bingung, rasa traumanya manjadi berkurang dan ia memilih menatap wajah tampan Yeon.
“Di Jerman, aku mendesak pamanku untuk menceritakan seperti apa masa lalu ibuku sehingga ia harus mengalami amnesia dan melupakan kami semua. Aku kira, ibuku selalu bahagia hidup bersama dengan ayah, tapi ternyata … masa kecil ibuku, tak jauh beda dengan apa yang kau alami saat ini.”
“Memangnya … seperti apa masa kecil bibi Shena?” tanya Yuna semakin ingin tahu.
“Sewaktu kecil, ia diperlakuakn berbeda oleh keluarganya sendiri, sama sepertimu. Seperti apa detailnya, aku rasa aku tak perlu menjelaskannya karen aku yakin, kau sudah tahu. Untungnya ibu sangatlah kuat, tak peduli seberapa kejam perlakuan keluarganya pada ibu, ibu tetap menyayangi mereka semua sampai sekarang. Dan yang aku tahu, orang yang berbuat jahat pada ibuku dulu, kini telah berubah menyayanginya bahkan sampai rela mengorbankan nyawanya demi ibu.” Yeon menatap sekeliling siapa tahu ada jalan keluar dari sini.
__ADS_1
Yuna tertegun, sungguh ia sangat terkejut mendengar cerita singkat tetang kehidupan idolanya yang ternyata tak jauh beda dengan dirinya. Ditambah lagi, Shena malah tak sakit hati seperti yang ia rasakan saat ini. Sebaliknya, Shena malah memaafkan mereka semua yang menyakiti Shena. Kini Yuna mengerti makna dibalik kata-kata Ibu Yeon saat itu, memaafkan … itu lebih baik dari pada membenci.
“Satu hal lagi yang harus kau tahu,” lanjut Yeon lagi. “Aku tidak membencimu, inilah aku, aku memang selalu seperti ini pada siapapun, buka hanya padamu.” Yeon menatap mata Yuna. Untuk sesaat, keduanya saling bertatapan.
“Terimakasih,” ujar Yuna lirih, ia memalingkan wajahnya dari tatapan mata Yeon.
“Tidak perlu, aku tak melakukan apapun untukmu.”
“Maksudku, jaketnya dan juga saputangannya. Akan kukembalikan setelah aku cuci nanti.”
Yeon berdiri mendekat kearah jendela. “Ehm, mengenai kau jadi pelayanku ….”
“Tidak jadi,” sela Yuna cepat sebelum Yeon menyelesaikan kalimatnya.
“Lupakan kata-kataku yang meminta menjadi pelayanmu. Tujuanku mengatakan itu hanya supaya aku bisa berada dekat dengan ibumu. Setidaknya, dari situ aku bisa belajar banyak hal darinya tentang arti hidup yang sesungguhnya. Tapi kau sudah memberitahuku. Maka permintaanku itu sudah tidak diperlukan lagi. Aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Begitu keluar dari sini, aku akan pergi dari kehidupan kalian semua ke tempat di mana seharusnya aku berada.”
Yeon terdiam mendengar ucapan Yuna. Entah kenapa hatinya jadi tidak enak sekali. “Terserah kau saja,” ujar Yeon jutek lagi.
“Ibumu, adalah satu-satunya wanita yang menjadi idolaku. Jika dia bisa melalui segala kesilitan yang menimpa hidupnya hinga akhirnya bisa bahagia bersama pangerannnya, maka aku juga harus bisa.” Entah muncul keyakinan darimana, tiba-tiba saja Yuna kecil bertekad untuk terus berjuang menghadapi segala masalah yang menimpanya. Apapun itu.
“Maksudmu … kau ingin punya pangeran tampan seperti ayahku?”
“Bukan, bukan seperti itu. Maksudku, aku harus menghadapi segala macam cobaan hidup yang sudah digariskan padaku tanpa pantang menyerah seperti ibumu, dan juga harus memaafkan mereka-mereka yang menyakitiku. Aku tidak peduli pada pangerannya, lagipula mana ada pangeran untukku, hanya wanita baik seperti bibi Shena saja yang pantas mendapatkan pangeran tampan seperti ayahmu.” Yuna tersenyum, sepertinya ia lupa akan trauma yang dialaminya. Sayangnya, senyum itu tak berlangsung lama, kerena ada orang datang menggebrak pintu dengan keras sampai terdengar bunyi ‘brak’.
__ADS_1
Yeon bergerak cepat melindungi Yuna dengan berdiri di depannya. “Siapa kalian?” bentak Yeon.
“Heh anak kecil! Kau tidak perlu tahu siapa kami. Dan kau bocah tengik! Ayo, ikut dengan kami!” bentak orang berbadan gemuk. Ia berjalan mendekat ke arah Yuna dan menarik paksa tangan gadis kecil itu untuk diseret keluar.
“Tidak! Lepaskan aku!” erang Yuna. Ia mencoba sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkeraman pria gemuk ini tapi uasahanya sia-sia. Tubuh mungil Yuna tak kuasa melawan orang berbadan besar ini.
Melihat hal itu, tentu saja Yeon kecil tidak tinggal diam. Dia menggigit kuat tangan orang yang mencekal tangan Yuna hingga orang tersebut berteriak kesakitan. Seketika, cekalannya terlepas. Yeon menggunakan kesempatan itu untuk mengajak berlari Yuna keluar ruangan setelah ia sempat menendang etalibun milik rekan pria gemuk tadi karena menghalangi langkahnya. Dua orang penjahat itu sama-sama mengerang kesakitan akibat ulah Yeon.
“Aaaaagghhh!” teriak dua pria itu bersamaan.
“Hentikan anak-anak itu! Jangan biarkan mereka berdua kabur dari tempat ini!” teriak pria satunya.
Yeon dan Yuna berhasil kabur dan mereka masuk ke lapangan terbuka. Otomatis mereka berdua mudah saja ditemukan karena tak ada tempat berlindung untuk keduanya. Beberapa orang langsung mengepung Yeon dan Yuna agar mereka berdua tak bisa berlari lebih jauh lagi.
Tanpa di duga, salah satu orang dari mereka yang tadi etalibunnya di tendang kuat oleh Yeon mengambil balok kayu dan melemparkannya langsung pada Yeon. Yuna yang melihat kejadian itu bergerak cepat ke depan tubuh Yeon berdiri sehingga yang terkena balok kayu tersebut bukanlah Yeon, melainkan Yuna.
Bruk!
Balok kayu itu menadarat mulus tepat dipunggung Yuna sampai gadis itu memuntahkan darah segar dan mengenai wajah Yeon. Tubuh gadis kecil itu ambruk tepat dipelukan Yeon yang tertegun atas apa yang dlihatnya barusan.
“Yu-yuna …” ujar Yeon dan iapun terduduk karena tak kuat menahan beban tubuh Yuna yang terjatuh dalam pelukannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***